Di malam Festival Bulan Darah yang kelam, klan kecil Lin di pinggiran Benua Timur Dunia Fana Bawah dibantai habis-habisan oleh pasukan elit Sekte Bayangan Abadi.
Sebuah Tanah Suci 8 bintang yang ditakuti seluruh alam rendah. Penyebabnya? Hanya sebuah cincin perak tua yang tampak biasa, namun menyimpan rahasia mengerikan.
Lin Xuan, pemuda berusia 17 tahun dengan bakat kultivasi biasa-biasa saja di Qi Condensation Lapisan 3, menyaksikan segalanya dengan mata terbuka lebar.
Ayahnya Kepala Klan Lin dibunuh di depan matanya. Ibunya, dalam keputusasaan terakhir, merobek jantungnya sendiri dengan tangan gemetar, menyerahkan cincin itu ke telapak tangan anaknya sambil berbisik.
“Jangan pernah menyerah… balas dendam… bahkan jika kau harus menjadi iblis.”
Lin Xuan dilempar ke jurang maut Laut Darah Terlarang, tubuhnya hancur, darah mengalir deras. Di ambang kematian, cincin itu bergetar hebat. Cahaya hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Suara tua yang dalam dan dingin bergema di benaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Eksekusi di Paviliun Api
Kehilangan tiga tetes Esensi Darah Jantung bukanlah harga yang murah.
Saat Lin Xuan berjalan menembus kegelapan malam menuju puncak gunung, wajahnya sepucat mayat, dan hawa dingin sesekali merambat di tulang belakangnya. Namun, di balik kelemahan fisik sementara itu, aliran Qi di dalam tubuhnya belum pernah terasa seringan dan sekuat ini.
Sembilan pilar hitam di Dantian nya tidak lagi memiliki retakan parasit. Setiap tarikan napasnya menarik energi spiritual alam secara langsung, memrosesnya menjadi Qi murni tanpa ada 'lintah' yang mencuri bagiannya.
"T-Tuan..." suara Gu Tianxie terdengar sangat pelan dan penuh hormat di dalam Lautan Kesadaran Lin Xuan. Tidak ada lagi sapaan 'Bocah', hanya ketundukan mutlak dari jiwa yang ketakutan.
"Bicara," jawab Lin Xuan datar.
"Paviliun Giok Api milik Tuan Muda Wang dilindungi oleh Formasi Tirai Api Penjaga tingkat menengah. Selain itu, ada dua murid senior di Lapisan 8 Qi Condensation yang berpatroli. Dengan vitalitas Tuan yang sedang menurun, menerobos formasi itu dengan paksa akan memancing perhatian seluruh sekte."
Lin Xuan menghentikan langkahnya di balik bayangan pohon pinus raksasa. Tiga ratus meter di depannya, Paviliun Giok Api berdiri megah, dikelilingi oleh pilar-pilar batu yang memancarkan pendar cahaya merah titik-titik formasi pelindung.
"Aku tidak berniat menerobosnya dengan paksa. Kau adalah monster tua yang hidup ribuan tahun," mata Lin Xuan menyipit dingin. "Beritahu aku di mana titik buta formasi ini, atau aku akan menguji apakah jiwamu bisa menahan Api Yang Murni."
Roh Gu Tianxie bergetar di dalam cincin. "B-Baik, Tuan! Formasi elemen Api di malam hari selalu memiliki kelemahan saat berbenturan dengan Qi Yin dari embun malam. Pada titik pilar ketiga dari arah barat, aliran apinya melemah setiap seperempat jam. Tuan hanya perlu menekan titik itu dengan Qi logam, dan sebuah celah selebar tubuh manusia akan terbuka selama dua detik."
Lin Xuan tidak membuang waktu. Ia melesat menembus semak-semak menggunakan Langkah Hantu Tanpa Jejak. Gerakannya kini nyaris menyatu dengan angin malam.
Dua penjaga sedang berdiri di depan gerbang paviliun, mengobrol pelan untuk mengusir kantuk.
Lin Xuan mengabaikan mereka. Ia melingkar ke sisi barat paviliun, menemukan pilar batu ketiga yang disebutkan Gu Tianxie. Tepat saat embun malam turun dan pendaran merah di pilar itu sedikit berkedip, jari telunjuk Lin Xuan yang dialiri sisa esensi Esensi Emas Putih menusuk pelan ke ukiran rune di batu tersebut.
Sshhh.
Tirai energi merah di depannya memudar seukuran pintu kecil. Tanpa suara, Lin Xuan meluncur masuk sebelum celah itu menutup kembali.
Ia telah berada di dalam wilayah Wang Long.
Dari luar, Paviliun Giok Api tampak tenang, namun dari dalam ruang utama, terdengar suara pecahan barang pecah dan raungan marah.
"Sampah! Semuanya sampah!"
Suara Wang Long bergema dari balik pintu kayu berukir.
Lin Xuan melangkah mendekati pintu itu. Tidak ada keraguan di hatinya. Di Jalan Asura, membiarkan musuh yang memiliki niat membunuh tetap hidup adalah dosa terbesar terhadap diri sendiri.
Di dalam ruangan, Wang Long sedang menendang sebuah meja giok hingga hancur. Lengan kanannya yang cacat tergantung menyedihkan di sisinya. Mata pemuda arogan itu merah karena kurang tidur dan dipenuhi urat keputusasaan.
"Mu Chen... aku akan membunuhmu! Jika Gigi Hitam gagal, aku akan meminta kakek menyewa iblis dari sekte luar! Aku akan mencabut kulitmu hidup-hidup!" racau Wang Long kepada ruangan yang kosong.
Kriet.
Pintu kayu di belakang Wang Long terbuka pelan. Udara dingin malam menyusup masuk, membuat api lilin di dalam ruangan berkedip dan berubah warna menjadi sedikit kehijauan.
"Kau tidak perlu menyewa siapa pun untuk menemukanku."
Wang Long membeku. Suara datar yang sedingin es itu adalah mimpi terburuknya selama berhari-hari.
Ia berputar dengan kasar. Di ambang pintu, Lin Xuan berdiri dengan jubah hitam yang menelan cahaya ruangan. Topi caping bambunya menyembunyikan sebagian wajahnya, menyisakan sepasang mata yang menatap Wang Long layaknya menatap sebuah benda mati.
"Mu... Mu Chen?!" Jantung Wang Long nyaris berhenti berdetak. Matanya membelalak penuh teror. "Bagaimana kau bisa masuk?! Formasi kakekku—"
"Formasi kakekmu sama cacatnya dengan lengan kananmu," Lin Xuan melangkah masuk, menutup pintu kayu di belakangnya dengan rapat.
Wang Long mundur dengan panik hingga punggungnya menabrak dinding paviliun. Arogansinya hancur lebur di hadapan pemuda yang telah membantai elit pembunuh bayaran dengan tangan kosong.
"J-Jangan mendekat! Ini adalah Puncak Dalam! Jika kau membunuhku di sini, kakekku akan mencabik-cabik jiwamu! Balai Hukuman tidak akan melindungimu!" ancam Wang Long, suaranya melengking karena takut.
Tangan kiri Wang Long dengan gemetar merogoh kantung di pinggangnya, mengeluarkan sebuah jimat giok berwarna emas. Itu adalah Jimat Perisai Sisik Naga, artefak pelindung penyelamat nyawa tingkat tinggi yang diberikan oleh Tetua Wang.
Wang Long meremukkan jimat itu. Seketika, proyeksi puluhan sisik naga emas melayang mengelilingi tubuhnya, membentuk kubah pertahanan absolut yang memancarkan tekanan sekelas Core Formation tahap awal.
Mendapat perlindungan itu, sedikit keberanian Wang Long kembali. "Hahaha! Kau tidak bisa menyentuhku! Ini adalah pelindung tingkat Bumi! Begitu aku berteriak, seluruh sekte akan tahu kau ada di sini!"
Wang Long menarik napas dalam-dalam, bersiap berteriak.
Namun, Lin Xuan bahkan tidak berkedip melihat kubah emas tersebut.
Lengan kanan Lin Xuan, yang kini memiliki kerangka Tulang Tembaga Darah, ditarik ke belakang. Otot-ototnya mengembang, menyerap energi dari sembilan pilar Foundation Establishment miliknya secara sempurna dan tanpa hambatan. Permukaan kulit di lengannya memancarkan rona kemerahan yang mengerikan.
Lin Xuan tidak menggunakan teknik pedang. Ia tidak menggunakan Seni Jari. Ia menggunakan kekuatan paling purba dari seorang kultivator tubuh: Pukulan fisik murni.
BOOOOOOM!
Tinju kanan Lin Xuan menghantam kubah sisik naga emas itu.
Suara benturan yang memekakkan telinga meledak di dalam ruangan, namun karena dinding ruangan itu dilapisi rune kedap suara untuk kenyamanan kultivasi, suara itu tidak terdengar hingga ke luar paviliun.
Kubah emas yang diklaim mampu menahan serangan Core Formation itu bergetar hebat. Retakan seukuran jaring laba-laba menyebar dengan sangat cepat dari titik benturan tinju Lin Xuan.
"T-Tidak... Tidak mungkin!" Mata Wang Long nyaris melompat keluar dari rongganya.
"Di Jalan Asura," bisik Lin Xuan, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari kubah yang mulai hancur. "Tidak ada pelindung yang tidak bisa dihancurkan."
PRAAAANG!
Kubah sisik naga itu meledak menjadi ribuan serpihan cahaya emas.
Sebelum Wang Long sempat berkedip, tangan kanan Lin Xuan melesat menembus pecahan cahaya itu dan mencengkeram leher Wang Long dengan tenaga baja. Lin Xuan mengangkat tubuh pemuda itu dari lantai hanya dengan satu tangan, mencekiknya hingga kaki Wang Long menendang-nendang udara dengan sia-sia.
"Kau yang memulai perburuan ini," kata Lin Xuan datar, menatap mata Wang Long yang mulai memutih karena kehabisan napas. "Aku hanya datang untuk menyelesaikannya."
Wang Long mencoba mencakar lengan Lin Xuan dengan tangan kirinya, namun kukunya patah saat menggores kulit pucat yang kini didukung oleh Tulang Tembaga Darah itu. Air mata keputusasaan mengalir di pipi sang Tuan Muda yang dulunya sangat angkuh.
Lin Xuan tidak mengakhiri hidup Wang Long dengan mematahkan lehernya. Ia punya rencana lain untuk memukul mental Tetua Wang hingga hancur.
Cincin Samsara Darah di jari Lin Xuan menempel pada kulit leher Wang Long.
"Makan," perintah Lin Xuan di dalam benaknya.
Cincin kuno itu bereaksi dengan buas. Cahaya merah pekat menyelimuti tubuh Wang Long. Pemuda itu bahkan tidak bisa menjerit saat meridiannya, esensi darahnya, dan energi spiritualnya disedot keluar dari pori-porinya bagaikan air yang ditarik pusaran laut.
Dalam sepuluh tarikan napas, tubuh Wang Long yang tadinya berisi mulai menyusut. Kulitnya kehilangan warna, menempel erat pada tulangnya. Rambutnya memutih dan rontok.
Wang Long mati dalam penderitaan terburuk, berubah menjadi mayat kering kerontang persis seperti korban-korban Hantu Malam sebelumnya.
Lin Xuan menjatuhkan mayat kering itu ke lantai dengan bunyi gedebuk pelan.
Ia memutar pergelangan tangannya. Qi yang baru saja diserap dari tubuh Wang Long sedikit memulihkan kelemahan akibat kehilangan Esensi Darah Jantungnya tadi.
"Sempurna," puji Gu Tianxie dari dalam cincin, nada suaranya menjilat. "Meninggalkan mayat dengan gaya Hantu Malam akan membuat Tetua Wang mengira cucunya dibunuh oleh iblis yang sama yang meneror Puncak Dalam. Tidak akan ada yang mencurigai murid rendahan dengan meridian 'cacat' sepertimu."
Lin Xuan tidak menanggapi pujian budaknya. Ia membungkuk, mengambil cincin penyimpanan milik Wang Long yang terjatuh di lantai, lalu berjalan keluar melewati jendela tanpa meninggalkan satu sidik jari pun.
Malam kembali sunyi, seolah Paviliun Giok Api tidak pernah kedatangan tamu pencabut nyawa.
Keesokan paginya.
Sekte Awan Hijau diguncang oleh badai terbesar dalam sepuluh tahun terakhir.
Bukan badai alam, melainkan raungan amarah yang membuat langit di atas Puncak Awan Dalam bergetar hebat. Tekanan spiritual Nascent Soul setengah langkah meledak dari Paviliun Giok Api, menekan napas ribuan murid hingga mereka berlutut di tanah.
Tetua Wang berdiri di tengah ruang kultivasi cucunya. Matanya merah berdarah, urat-urat di wajahnya menonjol mengerikan.
Di lantai, tergeletak mayat kering kerontang Wang Long.
"LONG'ER!!" raungan Tetua Wang penuh dengan penderitaan dan kebencian yang merobek jiwa. Ia memeluk mayat kering cucunya, tak peduli pada debu yang menempel di jubah mewahnya.
Pintu paviliun didobrak dari luar. Tetua Mo, Pemimpin Balai Hukuman, melesat masuk diikuti oleh belasan algojo elit. Melihat mayat di lantai, wajah Tetua Mo berubah sangat suram.
"Kondisi mayat ini... Hantu Malam menyerang lagi," gumam Tetua Mo, rahangnya mengeras. "Dan kali ini, dia berhasil menembus formasi paviliun Tetua Utama."
Tetua Wang meletakkan mayat cucunya dengan gemetar. Ia berdiri, berbalik menatap Tetua Mo dengan Niat Membunuh yang meluap-luap.
"Ini bukan sekadar iblis malam!" teriak Tetua Wang, menunjuk ke arah Tetua Mo. "Ini adalah konspirasi! Ada seseorang di dalam sekte ini yang memiliki dendam pada klanku! Seseorang yang memiliki kekuatan setara dengan kita namun bersembunyi di balik bayangan!"
"Tenangkan dirimu, Wang Tua," kata Tetua Mo dingin, meski ia memahami kepedihan pria itu. "Pelindung formasi tidak dihancurkan secara paksa, melainkan dibuka dengan sangat presisi. Pelakunya sangat menguasai seni formasi dan memiliki metode penyerap Qi yang jahat. Balai Hukuman akan menggeledah seluruh Puncak Dalam—"
"TIDAK PERLU!" bentak Tetua Wang. Air matanya mengering, digantikan oleh kegilaan mutlak. "Aku tahu siapa yang memiliki dendam paling besar pada cucuku. Pemuda yang tangannya dipatahkan oleh Long'er di arena... dan satu-satunya orang yang kembali hidup dari Pegunungan Seribu Pedang!"
Tetua Mo mengerutkan kening. "Mu Chen? Konyol. Meridian kanannya hancur, dan auranya—"
"Persetan dengan aura! Persetan dengan cermin pelacakmu!" Tetua Wang meledakkan Qi apinya, menghancurkan sisa-sisa perabotan di ruangan itu. "Di dunia ini, ada pusaka iblis yang bisa menyembunyikan kultivasi! Aku akan menyeret bocah itu ke sini, membelah dadanya, dan memeriksa Dantian nya dengan mataku sendiri!"
Tetua Wang melesat keluar dari paviliun, meluncur melintasi udara seperti bintang jatuh berwarna merah, langsung menuju tebing utara.
Tetua Mo mendecakkan lidah. "Kematian cucunya telah membuatnya kehilangan kewarasan. Pasukan Algojo! Ikuti dia! Jangan biarkan Tetua Wang membunuh murid tanpa pengadilan resmi!"
Di saat yang sama, di dalam Gua Nomor 99.
Lin Xuan sedang duduk bermeditasi. Ia sudah mendengar raungan Tetua Wang dari kejauhan. Wajahnya tidak memucat, tidak pula panik. Ia membuka matanya pelan, menatap pintu guanya.
Ia sudah merencanakan langkah pembunuhannya dengan sempurna. Meninggalkan mayat gaya Hantu Malam memang akan menyamarkan identitasnya dari investigasi logis. Namun, Lin Xuan tidak pernah meremehkan ketidaklogisan seorang kakek yang kehilangan cucu kesayangannya.
Ia tahu Tetua Wang akan datang mencarinya dalam keadaan gila. Dan justru itulah bagian terakhir dari rencananya.
"Kau datang, Rubah Tua," bisik Lin Xuan, tangan kanannya meraih gagang pedang besinya. "Mari kita lihat, apakah kau bisa menembus jaring yang telah kusiapkan untukmu."
BOOOOOOM!
Pintu Gua Nomor 99 meledak menjadi debu. Sosok Tetua Wang melangkah masuk. diselimuti api yang berkobar.