Mengangkat sudut pandang unik dari perspektif guru yang terjebak dalam hubungan dengan dua murid sekaligus, mempertanyakan apakah dirinya korban atau pemangsa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika dua dunia berbeda bertemu
Dua minggu setelah kelahiran Rakha, hubungan antara Wira dan Sasha berkembang menjadi sesuatu yang tak terduga. Awalnya hanya obrolan ringan tentang kabar masing-masing, lalu berkembang menjadi percakapan yang lebih dalam, lebih personal, lebih intim.
Sasha duduk di sofa apartemennya, memandangi ponsel dengan senyum tak jelas. Perutnya sudah sangat besar emasuki bulan kedelapan dan gerakannya makin terbatas. Tapi itu tak menghentikannya untuk terus membalas pesan Wira.
"Sasha, lo tahu nggak? Lo tuh orang yang paling asyik buat diajak ngobrol. Nggak pernah judgemental, selalu ngertiin."
Sasha tersenyum membaca pesan itu. Jempolnya menari di layar.
"Ah, lo lebay. Gue biasa aja. Lo juga asyik kok diajak ngobrol. Bedanya lo cowok, jadi lo bisa ngasih perspektif yang beda tentang banyak hal."
"Perspektif apa misalnya?"
"Ya tentang... hidup. Tentang pernikahan. Tentang jadi orang tua."
Percakapan itu berlanjut hingga larut. Wira bercerita tentang kelelahan mengurus bayi, tentang Ima yang masih dalam masa pemulihan, tentang rasa cemasnya sebagai ayah baru. Sasha mendengarkan dengan sabar, sesekali memberi semangat.
Tanpa sadar, mereka sudah menghabiskan dua jam hanya untuk ngobrol.
"Sayang, kamu belum tidur?" Rizky muncul dari kamar mandi, handuk melingkar di lehernya.
Sasha tersentak, refleks mematikan layar ponsel. "Eh, iya bentar lagi. Lagi baca artikel parenting."
Rizky mengangguk tanpa curiga. Ia mengecup kening Sasha. "Jangan kelamaan, ya. Istirahat."
"Iya, Sayang."
Setelah Rizky masuk kamar, Sasha membuka ponselnya lagi. Satu pesan baru dari Wira.
"Sasha, makasih ya udah mau dengerin cerita gue. Lo nggak tahu seberapa berarti ini buat gue."
Sasha menggigit bibir. Ada rasa hangat di dadanya. Juga rasa bersalah yang samar.
Ia membalas: "Sama-sama, Wira. Lo juga selalu ada buat dengerin cerita gue. Itu berarti banget."
---
Di Balikpapan, Wira juga mengalami hal serupa. Ia duduk di balkon rumah, memandangi bintang-bintang sambil memegang ponsel. Di dalam, Ima dan Rakha tidur nyenyak.
Percakapan dengan Sasha selalu membuatnya merasa... hidup. Bukan berarti ia tak bahagia dengan Ima. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Sasha mudah diajak bicara, mudah tertawa, dan selalu tahu apa yang harus dikatakan saat Wira sedang down.
Malam itu, setelah percakapan panjang, Wira mengetik sesuatu yang lebih berani.
"Sasha, jujur... gue seneng banget bisa deket sama lo lagi. Kayak dulu pas SMA, tapi sekarang beda. Lebih dewasa. Lebih... gue nggak tahu istilahnya."
Sasha membalas cepat. "Gue juga ngerasa hal yang sama, Wira. Aneh ya, padahal kita udah sama-sama nikah."
Pesan itu membuat Wira berpikir. Ya, mereka sudah sama-sama menikah. Sasha dengan Rizky. Wira dengan Ima. Tapi kenapa ada getar ini? Kenapa ada rasa yang tak seharusnya ada?
"Mungkin karena kita bisa jadi diri sendiri kalau ngobrol bareng," balas Wira. "Nggak ada beban. Nggak ada ekspektasi."
"Iya. Rizky baik, tapi kadang dia sibuk sendiri. Jarang ngobrol kayak gini."
"Ima juga baik. Tapi kadang gue ngerasa... ada jarak."
Mereka diam cukup lama. Lalu Wira mengetik sesuatu yang mengubah segalanya.
"Sasha, gue mau jujur. Gue suka ngobrol sama lo. Lebih dari sekedar teman. Gue nggak tahu ini salah apa nggak, tapi gue nggak bisa bohong."
Sasha membaca pesan itu berulang kali. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu ini berbahaya. Tapi ia juga tak bisa memungkiri perasaan yang sama.
"Wira... kita nggak boleh kayak gini. Kita udah punya pasangan masing-masing."
"Gue tahu. Tapi gue juga tahu apa yang gue rasa."
Hening. Sasha tak membalas.
Wira menghela napas. Ia sudah keterlaluan. Tapi saat ponselnya bergetar dan melihat balasan Sasha, dadanya berdesir.
"Gue... juga ngerasa hal yang sama, Wira. Tapi kita harus hati-hati."
---
Sejak malam itu, hubungan mereka berubah. Bukan sekadar teman, bukan sekadar sahabat lama. Tapi sesuatu yang lebih sesuatu yang berbahaya.
Mereka mulai mengirim pesan lebih sering. Bangun tidur, sebelum tidur, di sela-sela kesibukan. Cerita-cerita kecil yang seharusnya untuk pasangan, kini mereka bagikan satu sama lain.
Wira kirim foto Rakha yang sedang lucu. Sasha kirim foto perutnya yang makin besar. Wira cerita tentang bosnya yang menyebalkan. Sasha cerita tentang tetangga yang suka bergosip.
Semua terasa alami. Terasa benar. Padahal salah.
Suatu malam, saat Rizky sedang lembur dan Ima sedang tidur, Wira nekat melakukan video call dengan Sasha.
"Lo gila?" Sasha berbisik, tapi wajahnya tersenyum. "Ini berisiko banget."
Wira tertawa kecil. "Santai. Rizky kan lembur, Ima udah tidur. Cuma kita berdua."
Mereka ngobrol lewat video selama hampir satu jam. Melihat wajah satu sama lain, tertawa bersama, berbagi cerita. Dan di akhir percakapan, Wira berkata pelan, "Sasha, cantik banget malam ini."
Sasha tersipu. "Lo jangan gitu."
"Aku serius. Lo cantik. Selalu cantik."
Sasha diam, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan. "Wira... kita harus ingat posisi kita."
"Ingat. Tapi perasaan nggak bisa diatur, Sha."
Mereka pamit setelah itu. Tapi di hati masing-masing, ada api kecil yang mulai membesar.
---
Seminggu kemudian, Wira dapat tugas ke Jakarta. Kebetulan sekali atau mungkin sudah direncanakan dalam hati. Ia tak memberi tahu Ima bahwa ia akan bertemu Sasha. Alasannya, urusan kerja dan ingin mengunjungi Rizky.
Ima yang masih dalam masa nifas tak curiga. "Sampaikan salamku buat Rizky dan Sasha, ya."
Wira mengangguk, merasa bersalah tapi tak bisa mundur.
Di Jakarta, Sasha juga punya rencana. Ia bilang pada Rizky ingin jalan-jalan sebentar sebelum melahirkan, ketemu teman-teman lama. Rizky yang sibuk dengan proyek besarnya tak banyak bertanya.
Mereka bertemu di sebuah kafe di kawasan Kemang. Kafe yang sama tempat Rizky dan Ima pernah bertemu dulu. Ironis.
Sasha datang lebih dulu. Ia memilih baju yang agak longgar untuk menyembunyikan perutnya yang besar, tapi tetap terlihat cantik. Riasan tipis, rambut terurai sebahu.
Wira datang lima menit kemudian. Begitu melihat Sasha, jantungnya berdegup kencang. Sasha memang cantik. Lebih cantik dari yang ia ingat.
"Wira!" Sasha melambai.
Mereka duduk berhadapan. Canggung di awal, lalu cair setelah beberapa menit.
"Lo tambah cantik, Sha," kata Wira jujur.
Sasha tersipu. "Lo tambah ganteng. Tapi kok tambah kurus? Ima nggak ngasih makan?"
Wira tertawa. "Ngasi, tapi aku lagi banyak pikiran."
"Pikiran apa?"
Wira menatapnya dalam. "Pikiran tentang kamu."
Sasha diam. Matanya berkaca-kaca.
"Wira, jangan..."
"Aku tahu ini salah. Tapi aku nggak bisa bohong, Sha. Setiap hari aku mikirin kamu. Setiap malam sebelum tidur, aku baca chat kita berulang kali. Aku kangen suara kamu, kangen tawa kamu, kangen... kamu."
Sasha menunduk. "Aku juga, Wir. Aku juga ngerasa hal yang sama. Tapi kita nggak boleh."
"Kenapa?"
"Kita udah nikah. kamy punya Ima, aku punya Rizky. Ima itu istri kamu, dan dia juga mantan Rizky. Ini udah kayak sinetron murahan."
Wira meraih tangannya di atas meja. "Tapi perasaan nggak bisa dibohongin, Sha. Aku sayang Ima, tapi aku juga... suka sama kamu."
Sasha menggigit bibir. Air matanya jatuh. "Aku juga. Tapi aku takut."
"Takut apa?"
"Takut kehilangan Rizky. Takut kehilangan keluargaku. Takut anakku nanti tumbuh tanpa ayah."
Wira menghela napas. Ia melepas genggamannya. "Aku ngerti. Dan aku nggak akan maksa kamu."
Mereka diam cukup lama. Suasana kafe yang ramai terasa seperti tak ada artinya.
"Aku mau pulang," kata Sasha akhirnya.
Wira mengangguk. "Aku anter."
"Nggak usah. Aku naik taksi aja."
Sasha berdiri. Sebelum pergi, ia menatap Wira sekali lagi. "Wira, tolong jaga diri. Dan jangan hubungi aku dulu. Aku perlu waktu."
Wira mengangguk pasrah. "Iya. Aku ngerti."
Sasha pergi. Wira duduk sendiri di kafe itu, merenungi semua keputusan bodoh yang baru saja ia ambil.
---
Di apartemen, Rizky sudah pulang lebih awal. Ia kaget melihat Sasha datang dengan mata sembab.
"Sayang, kamu kenapa?" tanyanya cemas.
Sasha menggeleng. "Nggak papa. Ketemu temen lama, trus inget masa lalu. Sedikit nangis."
Rizky memeluknya. "Kamu sensitif karena hamil. Istirahat, yuk."
Sasha mengangguk, masuk ke kamar. Tapi di balik pintu tertutup, ia menangis lagi. Bukan karena hormon. Tapi karena hatinya terbelah antara suami dan pria lain.
---
Di Balikpapan, Ima sedang menyusui Rakha saat ponselnya bergetar. Pesan dari Rizky.
"Ima, gue perlu ketemu kamu. Penting."
Ima membaca pesan itu dengan jantung berdebar. Setelah sekian lama mencoba menjauh, Rizky kembali menghubunginya.
"Ada apa?" balasnya.
"Aku nggak bisa jelasin lewat chat. Aku perlu ketemu langsung. Bisa?"
Ima menatap bayinya yang sedang menyusu. Lalu mengetik: "Kapan?"
"Seminggu lagi. Aku ada tugas ke Balikpapan."
Ima menghela napas panjang. Ia tahu ini salah. Tapi seperti Wira, ia tak bisa mengendalikan hatinya.
"Iya. Kabari aja nanti."
Ia mematikan ponsel, lalu memeluk Rakha erat. Bayinya tak tahu apa-apa tentang kekacauan yang sedang terjadi di sekitarnya.
---
Empat insan. Empat rahasia. Satu lingkaran setan yang semakin mengikat mereka dalam pusaran dosa yang tak berujung.
Rizky diam-diam ingin bertemu Ima.
Ima diam-diam menyambut rencana itu.
Wira diam-diam jatuh cinta pada Sasha.
Sasha diam-diam merasakan hal yang sama.
Dan di tengah semua ini, ada dua bayi yang tak bersalah—Rakha dan calon anak Sasha—yang akan menjadi korban jika semua rahasia ini terbongkar.
Namun tak satu pun dari mereka yang bisa berhenti. Api itu sudah terlalu besar. Dan mereka semua, dengan caranya masing-masing, siap terbakar.
---