Yohan, seorang pemuda urban, mewarisi rumah bobrok di Yalimo dan bertekad menjualnya. Rencananya terhalang oleh roh ibunya, Sumiati, yang terikat pada tanah itu oleh 'Janji Darah'. Dalam upaya investigasi yang membawanya jauh ke pedalaman Papua, Yohan harus mengorbankan identitas modernnya (Pertukaran Jiwa) demi membebaskan Sumiati. Setelah berhasil, ia secara tidak sengaja melepaskan Kutukan Primordial yang lebih tua—energi jahat yang sebelumnya ditahan Sumiati—dan dipaksa menjadi 'Penjaga Pusaka' sejati. Yohan memimpin komunitas melawan serangan hukum dan militer korporat, yang berpuncak pada kemenangan spiritual atas kekayaan. Perjalanannya berakhir ketika ia menyadari bahwa pengorbanan terbesar bukanlah aset, melainkan kemampuan untuk memimpin dengan kerendahan hati dan tanpa kepastian diri, mengubahnya dari pewaris sinis menjadi pemimpin spiritual yang utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konfrontasi Sang Anak
Roh Sumiati maju satu langkah, mengisi ruang sempit koridor dengan intensitas amarah yang begitu murni, mencoba secara paksa membuat Yohan takut akan kehidupan barunya, agar ia menyerahkan Pengorbanannya. Yohan menahan napas, siap menghadapi konfrontasi spiritual terakhir sebelum Ritual.
Roh Sumiati menjulang. Asap kehitaman di sekitar dirinya tampak berputar liar, menghapus garis-garis ruang dan waktu di koridor itu. Dinding kayu seolah bernapas, dipenuhi jeritan bisu keputusasaan ibunya yang tak tertahankan. Yohan, meskipun menggigil, tidak bergerak satu inci pun. Ia tahu, rasa takut ini kini bersifat kosmik, jauh melampaui konflik seorang anak dengan ibunya.
“Kau kembali dengan api lain, Yohan. Aku bisa mencium bau pengkhianatan dalam niat sucimu!” gema roh Sumiati di benaknya, suaranya berkarat dan dingin.
“Aku datang membawa kebenaran dan penebusan,” balas Yohan, tangannya erat memegang Jimat Tulang Ina yang kini memanas seperti perisai. Ia memaksa dirinya fokus pada pengetahuan yang didapatkan di Desa Api.
“Kau tahu apa itu Janji Darah, Ibu. Itu adalah rantai. Dan aku tahu harganya! Aku datang untuk Pertukaran Jiwa, untuk memutusnya.”
Manifestasi Sumiati tampak membeku. Ekspresi terkejut dan marah berpadu di matanya yang menghitam, memancarkan kebencian. Yohan baru saja memamerkan bahasa spiritual yang seharusnya asing baginya. Roh ibunya seolah terpojok.
“Aku sudah mengorbankan segalanya, Ibu. Pekerjaanku. Masa depanku. Kepastian bahwa aku bisa kembali dan menjalani kehidupan yang normal. Aku telah menukarnya dengan warisan ini,” Yohan menekankan setiap kata, memancarkan kesungguhan hati yang ia bawa kembali dari pedalaman.
“Aku tahu aku akan terikat selamanya. Tapi ini hargaku untuk membebaskanmu, agar kamu bisa tenang.”
Hening spiritual tiba-tiba melanda, jauh lebih mencekam dari amarah. Keheningan yang menimbang tulus atau tidaknya pengorbanan Yohan. Lalu, keheningan itu pecah, digantikan oleh serangan psikis yang terarah langsung ke inti kerentanan Yohan. Roh Sumiati tidak lagi menyerang batas fisik rumah, ia menyerang emosinya.
Yohan merasakan sebuah gelombang panas menyapu pikirannya, membawanya mundur bertahun-tahun ke belakang. Dia kembali ke kamar masa kecilnya yang pengap, bau kamboja yang terlalu manis, di hari kematian ibunya. Namun, yang diperlihatkan bukanlah kematian, melainkan kehidupan. Momen-momen di mana Sumiati masih hidup.
Aku melihat diriku, anak kecil, duduk di meja makan bobrok ini. Ayah sibuk dengan jurnalnya, dia selalu bergumam tentang Pusaka dan Tetua.
Visi itu berubah. Kini dia melihat dirinya berlari menghampiri Sumiati. Bocah kecil yang memohon diperhatikan.
“Ibu, bisakah kita main? Lihat lukisanku, Ibu!”
Yohan (kecil) menarik-narik ujung kain Sumiati yang duduk termenung di sofa kulit usang, matanya kosong menatap ke luar jendela—seolah jiwanya sudah setengah terikat, bahkan saat ia masih hidup. Wajah Sumiati memancarkan kesedihan tak terukur. Dia tidak memukul. Dia juga tidak membentak. Dia hanya mengabaikannya, menepis tangan kecil Yohan dengan kejam.
“Ibu sedang sibuk, Yohan. Sana, main saja di luar. Jangan ganggu Ayah,” jawab suara halus yang dipenuhi kebencian, bergema di ingatan Yohan.
Kenangan lain menyambar: Sumiati menangis sendirian di kamar, mengunci diri. Yohan kecil berusaha membuka pintu itu, tetapi ibunya berteriak: “PERGI DARI SINI! JANGAN BICARA DENGANKU!”
Rasa sakit yang nyata menghantam dada Yohan yang dewasa. Bukan rasa sakit fisik, tetapi luka psikologis kuno: rasa diabaikan dan dibuang oleh cinta yang seharusnya menjadi sumbernya.
“Ini harga yang kuberikan padamu, Nak! Rasa diabaikan itu yang membuatmu menjadi sinis. Ini luka paling dalam. Kamu pikir pengorbanan materialmu bisa menebus lubang ini? Kamu membenciku sejak lama!” raung roh Sumiati dalam benak Yohan.
Yohan terjatuh ke lantai kayu berdebu.
“Tidak,” Yohan memaksakan diri berbicara, tenggorokannya tercekat oleh air mata trauma.
“Aku tidak membenci lukanya. Aku membenci rasa diabaikan itu, Ibu, saat itu. Tapi itu tidak mengubah niatku sekarang.”
Sumiati yang menjulang tinggi di koridor itu terlihat lebih tenang, mengawasi penderitaan putranya, seperti seorang Juri yang menunggu pembelaan terbaik. Ia menunggu pengakuan emosional yang tulus.
“Kau benar. Kau membuatku merasa tak berarti, sejak kau hidup dan terikat oleh janji Ayah. Aku lari ke Jakarta untuk melarikan diri dari ingatan akan kamu, dari bau kamboja busuk itu. Itu adalah kebebasan terbesarku—mengabaikan Yalimo,” Yohan terbatuk.
“Tapi perjalanan ke Ina mengubahku. Sekarang… sekarang aku melihat kamu bukan ibu yang kejam, melainkan korban yang disakiti oleh takdir Ayahku.”
Dia berusaha berdiri, lututnya gemetar, matanya merah. Yohan mendongak menatap hantu ibunya. Kehangatan pertama dari pengakuan sejati mengalir darinya, sebuah jembatan yang menghubungkan sinisnya kota dengan jiwa terikat di Yalimo.
“Aku melakukan Pertukaran Jiwa, bukan karena aku harus, tetapi karena aku tahu kau tersiksa,” Yohan berbisik.
“Pengorbananku tidak semahal pengorbananmu yang bertahun-tahun terikat oleh kegilaan pria. Aku memberikan seluruh jati diriku yang lama—semua kepastianku—agar Yalimo bebas. Aku memaafkan pengabaianmu, Ibu.”
Seketika itu, manifestasi Sumiati mulai berubah. Gelombang hitam kebencian dan keputusasaan di sekitarnya perlahan tersapu, digantikan oleh kesedihan murni yang Yohan rasakan sejak di Desa Api—kesedihan tanpa amarah. Ia bukan lagi hantu penjaga yang liar. Ia adalah Sumiati yang menderita.
“Anakku…” suara isakan roh terdengar seperti angin pelan, bukan lolongan menakutkan lagi. Sumiati mundur selangkah, melepaskan Yohan dari cengkeraman psikis. Ia menerima pengakuan itu.
“Niatmu murni,” bisiknya dalam hati Yohan.
“Niat yang cukup tulus untuk membuatku bebas…”
Roh Sumiati melayang ke dekat ambang pintu yang dulunya gembok. Tempat ia berdiri dulu, kini dihiasi oleh lapisan debu hitam yang tebal, sisa dari energinya yang tegang.
“Jika kamu menerima pengorbanan jati diriku, kenapa kamu masih menolak Kunci Tulang Ina?” tuntut Yohan.
“Kenapa kau ingin aku kembali ke kota? Takut akan Kutukan Primordial yang dilepaskan, atau ada hal lain?”
Roh Sumiati menunduk. Bayangan keraguan mengalirinya, namun kesediaannya untuk menjawab kini terasa jelas. Dia tidak ingin diselamatkan dengan sia-sia.
Sumiati tidak ingin Yohan mewarisi bebannya dan jatuh seperti Yosef, pikir Yohan.
Yohan mengeluarkan Tulang Kunci dari Ina dan Jimat Perunggu Ayahnya, menaruhnya di atas lantai di depan Sumiati, memamerkan semua pusaka yang dia miliki.
“Pilih, Ibu. Kunci ini bisa membebaskanmu, asalkan niatmu terlepas dari tanah,” tantang Yohan.
Roh Sumiati berlutut di depan tumpukan pusaka itu, tampak begitu renta dan lelah. Tangannya yang spiritual melayang, tetapi tidak menyentuh. Dia kemudian menoleh ke belakang, ke potret Yosef yang tergantung miring di ruang tengah.
Roh Sumiati mengambil tangkai ranting kecil dari tanah, tangkai kecil kayu kamboja yang sempat ia cabut saat ia masih hidup. Dia membungkuk perlahan ke debu hitam tebal bekas auranya. Perlahan-lahan, dengan ujung ranting kamboja itu, Sumiati mulai mengukir huruf dan kata di debu, memastikan Yohan dapat melihatnya dengan jelas.
Yohan mendekat, membaca dengan cermat ukiran spiritual itu, setiap huruf seolah diukir dengan keputusasaan.
Yohan membacanya keras-keras, suaranya tercekat oleh kesadaran yang mengerikan.
“Dia menulis…” bisik Yohan.
“Dia menulis… BUKAN SAYA. AYAHKU.”
Pikiran Yohan langsung melayang sebelumnya. Janji Darah Yosef mengikat Sumiati secara paksa untuk menahan Pusaka. Tetapi inti Janji Darah bukanlah keinginan Sumiati, melainkan kehendak Yosef sebagai ‘pewaris pertama’. Ikatan Sumiati adalah efek. Penyebabnya adalah obsesi Ayahnya, yang bahkan setelah mati, kehendak fanatiknya masih menempel pada pusaka itu.
Yohan menyadari kesalahan fatal dalam rencananya. Pembebasan ibunya hanya setengah jalan. Ia harus memurnikan kehendak ayahnya dari ikatan itu, sebelum ia bisa melanjutkan Pertukaran Jiwa Total.
Roh Sumiati kembali berdiri, menjulang, tetapi kali ini hanya kesedihan yang tak tertahankan. Dia menunjuk potret Yosef, dan asap kehitaman tebal melayang keluar dari gambar ayahnya, memasuki koridor, seolah roh Sumiati memberitahunya, "Dia adalah ikatan yang harus kamu tangani!"
“Yosef… kaulah ikatan sesungguhnya yang menghalangi ibu bebas,” pikir Yohan. Roh Sumiati akhirnya tersenyum kecil, senyum pelepasan penuh kasih, yang membalas penerimaan pengorbanan Yohan yang sejati.
Roh itu mulai memudar, lenyap bukan karena usirannya, melainkan karena tugasnya telah dialihkan. Yohan tahu dia harus mengamankan Patung Pusaka Yalimo di Balik Air Terjun Terlarang. Tapi ia tidak boleh menyentuhnya sebelum memurnikan kehendak Ayahnya.
Yohan mengambil Jimat Perunggu dari lantai, lalu mengambil lagi Kunci Tulang Ina. Ia berdiri di koridor gelap. Kebenaran Ayahnya sudah ada di sana: sebuah janji obsesif yang terlalu kuat dan egois untuk dimurnikan. Yohan menyentuh potret Yosef yang tergantung.
Bagaimana cara bertukar jiwa dengan seseorang yang sudah mati dan dikontrol oleh Pusaka yang korup?