NovelToon NovelToon
ENIGMA

ENIGMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Manusia Serigala / Dokter Genius / CEO Amnesia / Cinta pada Pandangan Pertama / Transformasi Hewan Peliharaan / Pengasuh
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ceye Paradise

Di sebuah fasilitas penelitian bawah tanah yang terisolasi dari peradaban, seorang peneliti jenius bernama Esmeralda Aramoa terjebak dalam dilema moral dan ancaman nyawa. Demi bayaran besar untuk kelangsungan hidupnya, ia setuju memimpin Proyek Enigma, sebuah eksperimen ilegal untuk menyatukan gen serigala purba ke dalam tubuh seorang pria bernama AL. Selama satu bulan, Esme menyaksikan transformasi mengerikan sekaligus memikat pada diri AL, yang kini bukan lagi manusia biasa, melainkan predator puncak dengan insting Enigma yang jauh lebih buas dari Alpha mana pun. Hubungan antara pencipta dan subjek ini menjadi permainan kucing dan tikus yang berbahaya, di mana batas antara benci, obsesi, dan insting liar mulai memudar saat AL mulai menunjukkan tanda-tanda perlawanan terhadap kurungan kacanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Kalkulasi Biaya Hidup

Paman Silas berdiri di ambang pintu dengan wajah yang penuh kerutan kekhawatiran, tangannya memegang sebuah keranjang kecil berisi telur ayam kampung. Mata tuanya sempat melirik ke arah pintu kamar Esme yang sedikit bergetar, namun Esme segera memosisikan tubuhnya untuk menutupi pandangan pria tua itu. Ia memaksakan sebuah tawa kecil yang terdengar sangat garing di telinga siapa pun yang mendengarnya.

"Oh, itu... itu cuma rak buku yang jatuh, Paman! Aku sedang mencoba menata ulang ruangan agar lebih estetis, kau tahu kan selera seni ilmuwan kadang-kadang memang agak aneh," ucap Esme sambil menerima keranjang telur itu dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Begitukah? Suaranya keras sekali, Nak Esme. Aku tadi berniat mampir untuk mengucapkan terima kasih karena pohon apel di ladangku sudah mulai menghijau lagi berkat cairan penyemprotmu itu," Paman Silas menggaruk kepalanya yang mulai botak. "Lalu, apakah kau punya stok obat untuk hama ulat? Tetangga di sebelah ladangku sedang mengeluh karena kebun jeruknya diserang."

Esme mengangguk cepat, otaknya mulai menghitung sisa stok pupuk dan obat organik di gudang samping. "Tentu saja ada, Paman. Nanti sore aku akan kirimkan ke bawah. Sekarang aku sedang ada urusan mendesak... urusan keluarga yang sangat mendesak!"

Begitu Paman Silas pergi, Esme segera menutup pintu dan menguncinya dengan tiga putaran kunci. Ia menyandarkan punggungnya di pintu, napasnya keluar dengan suara berisik. "Hampir saja. Kalau paman itu melihat Aleksander yang tingginya dua meter sedang menggeram tanpa baju, dia pasti akan pingsan di tempat dan aku harus mengubur mereka berdua di halaman belakang."

Esme segera membuka pintu kamar tidurnya. Di dalam sana, AL sedang duduk di tepi ranjang dengan posisi siap menerjang. Kuku-kukunya memanjang, hitam dan tajam seperti pisau belati, menggores kain seprai Esme hingga robek.

"Aleksander! Tenang! Musuhnya sudah pergi!" teriak Esme.

AL menoleh, napasnya masih menderu. "Bau itu... bau manusia tua itu... kenapa dia datang ke tempat kita? Aku ingin mencabut tenggorokannya agar dia tidak mengganggu Moa."

Esme berjalan mendekat, mencoba menenangkan pria itu. "Dia itu pelanggan, Aleksander! Pelanggan artinya uang, dan uang artinya makanan! Kalau kau bunuh semua pelangganku, kita akan makan rumput bulan depan!" Esme ngebatin dengan pedas, "Ya ampun, dia tidak tahu kalau biaya makan Ocan saja sudah setara dengan biaya hidup satu keluarga petani, apalagi ditambah porsi makan dia yang seperti raksasa kelaparan. Aku harus jualan pupuk sampai ke kota seberang kalau begini terus."

Esme mengambil sebuah pemotong kuku khusus hewan besar yang biasa ia gunakan untuk kuku sapi atau kuda, lalu duduk di lantai di depan AL. "Sini, berikan tanganmu. Kita harus merapikan cakar-cakar ini sebelum kau merobek seluruh isi rumahku."

AL memberikan tangannya dengan ragu. Saat Esme mulai memotong kuku-kuku hitam itu satu per satu, suasana menjadi sedikit lebih tenang. Esme sangat berhati-hati, menyadari betapa kuatnya tangan yang ia pegang ini. Namun, saat ia sedang asyik memotong, Ocan sang kucing oranye tiba-tiba melompat ke pangkuan Esme dan mulai mendengkur manja, menggosokkan kepalanya ke tangan Esme.

"Eh, Ocan... kau mengagetkan saja," bisik Esme lembut sambil mengelus bulu kucing itu.

Dalam sekejap, AL yang tadi mulai tenang kembali menegang. Matanya berkilat kuning tajam menatap Ocan yang dianggapnya sebagai saingan mendapatkan perhatian Moa. Dan di depan mata kepala Esme sendiri, kuku AL yang baru saja ia potong hingga pendek tiba-tiba tumbuh kembali dengan suara "krek" yang halus, memanjang dalam hitungan detik hingga mencapai ukuran semula.

Esme terbelalak, mulutnya menganga lebar. "Apa-apaan... aku baru saja memotongnya lima detik yang lalu!"

Ia mencoba memotongnya lagi, namun setiap kali AL merasa waspada atau emosinya naik karena melihat Ocan, kuku itu tumbuh kembali. Begitu juga dengan taringnya; taring itu akan memanjang melewati bibirnya saat AL merasa terancam, lalu akan memendek dan bersembunyi kembali saat AL merasa rileks atau saat Esme mengelus lengannya.

"Jadi... ini bukan hanya soal fisik statis," gumam Esme, insting penelitinya mulai bekerja meski ia sedang dalam mode panik. "Ini adalah respons biologis instingtif. Kukunya dan taringnya bereaksi terhadap emosi dan adrenalin. Jika dia tenang, dia terlihat seperti manusia biasa, tapi jika dia merasa menjadi predator, semua senjata alaminya keluar."

AL menatap kukunya sendiri dengan bingung. "Mereka keluar lagi, Moa. Mereka ingin mencakar makhluk berbulu oranye itu."

"Jangan! Ocan ini anggota keluarga!" Esme menepuk tangan AL dengan gemas. "Dengar ya, Aleksander. Kalau kuku ini keluar lagi, kau harus belajar menarik napas dalam-dalam dan membayangkan padang rumput yang indah. Kau tidak boleh terlihat seperti monster di depan orang lain!"

Esme terduduk lesu di lantai, menatap botol cairan penyemprot yang terletak di atas meja. Ia sangat ingin melanjutkan penelitiannya untuk mengubah formula itu menjadi penawar permanen bagi AL. Ia ingin mematikan gen Enigma yang liar itu agar AL bisa benar-benar menjadi manusia yang stabil. Namun, kenyataan pahit menghantamnya.

Uang tabungannya menipis. Biaya makan AL yang sangat banyak, vitamin tambahan agar selnya tidak merusak organ dalamnya, hingga biaya perawatan Ocan yang manja, membuat Esme tidak punya pilihan lain.

"Aku harus kerja lembur," keluh Esme sambil bicara pada dirinya sendiri. "Aku harus memproduksi pupuk organik lebih banyak, mencari tanaman obat langka di hutan untuk dijual ke kota, dan mungkin menjadi dokter keliling untuk hewan-hewan ternak. Mana sempat aku duduk di depan mikroskop kalau harus jualan obat ulat setiap hari?"

AL melihat Esme yang tampak sedih, ia ikut duduk di lantai dan menyandarkan kepalanya yang besar ke bahu Esme. Rambut nya yang baru dipotong dan wangi lavender terasa halus di pipi Esme. "Moa lelah? Apakah aku harus pergi mencari makan sendiri di hutan agar Moa tidak perlu bekerja?"

Esme segera menggeleng kuat. "TIDAK! Jangan pernah ke hutan sendirian! Kalau kau pergi dan tidak kembali, atau malah kau memakan orang di sana, aku yang akan dipenjara!" Esme menatap wajah AL yang polos itu. "Kau harus tetap di sini. Belajar jadi manusia yang sopan. Nanti, kalau kau sudah bisa bicara dengan benar dan tidak menggeram pada semua orang, baru aku akan memperkenalakanmu pada penduduk desa sebagai... sebagai sepupuku yang agak terganggu mentalnya."

"Tadi kau bilang aku suamimu, sekarang sepupu? Moa, kau ini bicaranya berubah-ubah seperti arah angin," protes AL dengan wajah bingung yang sangat konyol.

"Itu... itu demi keamanan kita bersama, Aleksander! Sudahlah, jangan banyak tanya! Pokoknya kau harus membantuku mengaduk pupuk di gudang sore ini. Gunakan otot besarmu itu untuk sesuatu yang produktif, jangan cuma untuk merusak seprai!"

Esme berdiri, menarik AL untuk ikut bangkit. Ia menyadari satu hal: hidupnya saat ini adalah sebuah kekacauan total. Ia adalah seorang ilmuwan buronan yang menjadi penjual pupuk, merawat seorang predator yang mengira dirinya adalah suaminya, dan dihantui oleh rasa bersalah serta ketakutan bahwa suatu saat nanti AL akan menyadari bahwa seluruh hidupnya saat ini hanyalah sebuah kebohongan besar.

"Satu hari lagi, Esme... kau hanya perlu bertahan satu hari lagi tanpa mati," bisiknya pada diri sendiri sambil menuntun AL menuju gudang pupuk, sementara Ocan sang kucing oranye mengikuti mereka dari belakang dengan ekor yang tegak, seolah mengejek kerumitan hidup majikannya.

1
Ceye Paradise
🫶😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!