Enam tahun pengabdian dan cinta jarak jauh (LDR) berakhir sia-sia bagi Aurora. Ia didepak begitu saja lewat pesan singkat, diblokir dari seluruh aspek kehidupan sang mantan, dan digantikan oleh sosok "penjual kesedihan" yang ahli memanipulasi simpati. Luka itu dibawa pulang ke Medan, terkubur di balik kesuksesan yang ia bangun dalam diam.
Tiga tahun berlalu, ego sang mantan akhirnya runtuh. Di bawah tekanan kebutuhan penelitian S3 ibunya di pedalaman Bukit Lawang yang keras dan rawan, ia terpaksa menelan ludah sendiri (mengubungi kembali nomor yg dulu ia blokir). Ia mengharapkan bantuan, mungkin sedikit rasa iba.
Namun, yg ia temukan bukanlah mantan kekasih yg meratapi nasib.
Aurora menerima permintaan itu dengan senyum paling tenang. Bukan dengan amarah, ia menyambut mereka dengan kemewahan yg tak pernah mereka bayangkan. Sebuah Hiace VVIP dengan kursi pijat elektrik menanti di bandara, dikawal oleh sahabat2 loyal dan seorang fotografer yg siap mengabadikan penyesalan sang mantan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penerimaan Aurora Terhadap Sherly
Malam itu, di tengah kesunyian perjalanannya bersama Bram, Aurora mengambil ponselnya. Ia tidak menghubungi Adrian, apalagi Sherly.
Ia menghubungi Rico, satu-satunya orang yang ia percayai untuk mengelola situasi di "garis depan."
Meskipun hatinya hancur dan muak, Aurora tetaplah Aurora.
Ia tidak bisa membiarkan orang tua Adrian dan Nenek telantar begitu saja. Ia tetap menghormati mereka sebagai orang tua yang pernah baik kepadanya, terlepas dari kebodohan anak mereka.
Instruksi Dingin Aurora
"Co," ucap Aurora saat panggilan tersambung.
Suaranya terdengar sangat profesional, hampir tanpa emosi.
"Sampaikan pada rombongan. Mereka tetap diperbolehkan menginap di rumahku di kota Medan. Jadwal kepulangan mereka masih lima hari lagi, dan tidak efisien kalau mereka harus mencari hotel atau mengubah tiket mendadak."
Rico di seberang telepon terdiam sejenak, mengagumi kebesaran hati sahabatnya.
"Kamu serius, Ra? Setelah apa yang Adrian lakukan malam ini?"
"Ini bukan soal Adrian, Co. Ini soal rasa hormatku pada Ibu Alice, Ayah, dan Nenek," jawab Aurora tegas.
"Tapi aku punya syarat mutlak. Kondisikan mereka semua. Tidak boleh ada satu kata pun yang bocor tentang kejadian di Deli ini kepada Ibuku. Ibuku tidak tahu kalau soal drama Sherly. Saat mereka sampai di rumahku besok lusa, mereka harus bersikap biasa saja. Seolah-olah ini hanya kunjungan wisata penelitian biasa."
Rico mengangguk, meski Aurora tidak melihatnya.
"Aku mengerti. Aku akan pastikan mereka tutup mulut. Tapi bagaimana dengan Adrian dan... ulat bulu itu?"
"Adrian boleh ikut demi orang tuanya." tegas Aurora.
"Siap, Bos. Aku akan sampaikan ini ke mereka sekarang juga," jawab Rico.
Setelah menutup telepon, Rico kembali menemui keluarga Adrian yang masih tampak kalut. Ia berdehem keras untuk menarik perhatian.
"Om, Tante, Nenek. Aurora baru saja menelpon," ujar Rico. Adrian langsung menegakkan duduknya dengan tatapan penuh harap.
"Dia bilang, kalian tetap diundang untuk tinggal di rumahnya di Medan sampai jadwal pulang kalian lima hari lagi. Aurora tetap ingin menjamu kalian dengan baik," lanjut Rico.
Wajah Ibu Adrian seketika memerah karena rasa malu yang semakin mendalam; mereka baru saja menyakiti Aurora, tapi wanita itu justru masih memikirkan tempat tinggal mereka.
Rico menatap Adrian dengan tajam.
"Tapi ada syaratnya. Kalian semua harus tutup mulut di depan Ibu Aurora. Jangan buat Ibu Aurora sedih atau marah karena kelakuan kalian di sini. Dan satu lagi, Dri... rumah Aurora adalah tempat suci bagi kami. Jangan pernah bermimpi kau bisa memainkan drama murahan bersama Sherly seperti yg terjadi malam ini."
Adrian hanya bisa terdiam. Tawaran Aurora adalah bentuk kemurahan hati yang paling menyakitkan yang pernah ia terima.
Ia merasa seperti diberi tempat berteduh oleh orang yang baru saja ia tikam.
Aurora, dengan segala ketenangan dan keeleganannya, ternyata mengambil keputusan yang jauh lebih tak terduga.
Ia tidak melarang Sherly ikut.
Melalui Rico, ia menyampaikan bahwa jika Adrian merasa "tanggung jawabnya" terhadap Sherly begitu besar, maka Sherly diperbolehkan ikut menginap di paviliun tamu kediamannya di Medan.
Keputusan ini bukannya membuat Adrian lega, justru menjadi pukulan telak yang menghancurkan sisa-sisa harga dirinya.
Dua hari kemudian, rombongan tiba di sebuah rumah kolonial mewah di kawasan elit kota Medan.
Rumah itu berdiri megah dengan pilar-pilar putih dan taman yang sangat asri. Ibu Aurora menyambut mereka dengan senyum hangat dan pelukan tulus, benar-benar tidak tahu badai apa yang baru saja terjadi di Deli.
Saat rombongan turun dari mobil, Adrian melangkah dengan kepala tertunduk dalam. Di belakangnya, Sherly mengekor dengan wajah yang berusaha dibuat sesopan mungkin, meski matanya terus berkeliling liar mengagumi kemewahan rumah keluarga Aurora.
"Selamat datang, semuanya! Aduh, Alice, senang sekali akhirnya kalian mampir ke sini lagi," seru Ibu Aurora sambil memeluk Ibu Adrian.
Adrian merasa ingin ditelan bumi saat harus menyalami Ibu Aurora.
Ia merasa seperti seorang pengkhianat yang sedang menerima jamuan dari ratu. Kemurahan hati Aurora yang membiarkannya membawa Sherly ke rumah ini bukanlah sebuah bentuk "pemaafan", melainkan sebuah penghinaan halus.
Aurora seolah ingin menunjukkan: "Silakan bawa wanitamu ke rumahku, lihatlah betapa jauhnya perbedaan kelas dan dunia kita. Lihatlah betapa tidak berpengaruhnya kehadiran kalian terhadap ketenanganku."
Setiap kali pelayan rumah Aurora membawakan teh atau membantu mengangkat koper Sherly, Adrian merasa wajahnya ditampar.
Ia harus melihat Sherly berada di tengah-tengah keluarganya yang terhormat, menjadi noda yang sangat kontras di rumah yang begitu suci bagi Aurora.
Berbeda dengan Adrian yang sekarat karena rasa malu, otak Sherly justru berputar cepat. Melihat kemewahan rumah ini, ambisinya bukannya surut, malah semakin menggila.
"Aku baru menyadari kalau ternyata Aurora sekaya ini?" pikir Sherly sambil mengelus kain sprei sutra di paviliun tamu.
"Kalau aku bisa tetap berada di sisi Adrian, dan Adrian bisa kembali baik dengan keluarga Aurora, setidaknya aku bisa menikmati fasilitas ini lebih lama. Atau mungkin... aku bisa mencari celah untuk menjatuhkan citra Aurora di depan ibunya sendiri?"
Sherly mulai merencanakan akting baru.
Ia berniat bersikap sangat rajin, membantu di dapur, dan mencoba mengambil hati Ibu Aurora agar ia dianggap sebagai wanita yang lebih "shalehah" dan layak daripada Aurora yang jarang berada di rumah.
Di sisi lain, Rico yang melihat gerak-gerik Sherly hanya bersandar di pintu sambil bersedekap. Ia sudah mendapat instruksi dari Aurora melalui pesan singkat:
"Biarkan dia bermain, Co. Beri dia panggung seluas mungkin. Semakin tinggi dia memanjat dengan kebohongannya, semakin hancur dia saat jatuh nanti."
Suasana di paviliun tamu itu mendadak hening ketika Ibu Aurora, seorang wanita yang selalu tampak anggun dan tenang, berdiri di depan pintu kamar Adrian. Setelah memastikan tamu-tamu lainnya beristirahat, ia memutuskan untuk mencari jawaban yang sedari tadi mengusik batinnya.
Tok... Tok... Tok...
"Adrian, ini Tante. Bisa kita bicara sebentar?"
Adrian membuka pintu dengan wajah yang masih tampak pucat.
Melihat Ibu Aurora berdiri di sana, jantungnya berdegap kencang. Ia mempersilakan wanita itu masuk dengan tangan yang sedikit bergetar.
Ibu Aurora tidak duduk. Ia berdiri tegak, menatap Adrian dengan pandangan seorang ibu yang sedang menuntut keadilan.
"Dri, sebelum kalian berangkat ke puncak, kamu berjanji pada Tante bahwa kamu akan menjaga Aurora dengan nyawamu. Kamu bilang dia akan pulang tanpa kurang satu apa pun," suara Ibu Aurora terdengar tenang, namun getarannya sangat menuntut.
"Tante melihat luka di tangan Aurora tadi. Meskipun dia bilang itu hanya luka kecil karena ranting, Tante tahu itu bukan luka biasa. Sebagai ibunya, Tante bisa merasakan ada sesuatu yang lebih besar yang terjadi di sana. Sekarang, Tante menagih janjimu. Apa yang sebenarnya terjadi sampai tangan putriku terluka?"
Mendengar itu, pertahanan Adrian runtuh. Rasa malu, rasa bersalah, dan beban dosanya pada Aurora seolah meledak di depan wanita yang sudah menganggapnya seperti anak sendiri itu. Tanpa kata, Adrian langsung merosot ke lantai dan bersujud di kaki Ibu Aurora.
"Tante... maafkan Adrian. Maafkan Adrian..." isaknya dengan suara serak.
"Adrian gagal. Adrian pengecut. Adrian tidak bisa menjaga Aurora seperti janji saya. Saya membiarkan dia dalam bahaya, saya membiarkan dia disakiti oleh orang lain... Saya pantas mati karena gagal memegang janji itu, Tante."
Namun, saat Adrian bersujud, gerakan tubuhnya yang membungkuk dalam membuat kemeja tipis yang ia kenakan tertarik.
Ibu Aurora, yang awalnya ingin meluapkan kekecewaan, tiba-tiba mematung.
Matanya menangkap sesuatu yang mengerikan.
Di balik kain kemeja putih Adrian, tampak bercak merah darah yang cukup luas merembes keluar, tepat di area punggung.
Luka jahitan yang didapat Adrian di Deli rupanya terbuka kembali atau belum kering sempurna akibat ketegangan beberapa hari terakhir.
Kemarahan Ibu Aurora seketika berubah menjadi kekhawatiran yang tulus. Sebagai orang yang memiliki jiwa pengasih, ia tidak bisa mengabaikan luka itu.
"Adrian... berdiri, Nak. Berdirilah," ujar Ibu Aurora, nadanya melunak drastis. Ia memegang bahu Adrian dan membantunya duduk di tepi tempat tidur.
Ibu Aurora menatap punggung Adrian yang memerah.
"Dri, Tante minta izin... bisakah Tante melihat apa yang terjadi di punggungmu? Kamu terluka parah, Nak. Jangan disembunyikan lagi."
Adrian sempat ragu, namun tatapan keibuan itu membuatnya tidak bisa menolak.
Dengan perlahan, ia membuka kancing kemejanya dan membiarkan Ibu Aurora melihat luka jahitan besar yang masih basah dan meradang di punggungnya—luka yang ia dapatkan saat mempertaruhkan nyawa untuk melindungi Aurora dari hantaman benda tumpul di hutan belantara pada hari kedua penelitian ibunya.
Ibu Aurora menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca.
Ia menyadari satu hal: Meskipun Adrian telah melakukan kesalahan bodoh karena membawa Sherly, namun luka di punggung ini adalah bukti nyata bahwa di detik-detik paling berbahaya, Adrian tetap memberikan tubuhnya sebagai perisai untuk Aurora.
Dengan telaten, Ibu Aurora mengambil kotak P3K yang selalu tersedia di paviliun. Beliau duduk di belakang Adrian, perlahan membuka perban yang sudah menempel dengan darah kering itu.
Suasana menjadi sangat intim dan emosional, hanya ada suara rintik hujan di luar dan helaan napas Adrian yang menahan perih saat cairan antiseptik menyentuh kulitnya.
"Bicaralah, Adrian. Tante tidak akan marah, Tante hanya ingin tahu kebenarannya," ucap Ibu Aurora lembut sembari mulai membersihkan pinggiran luka.
Adrian menarik napas panjang, menatap lantai dengan tatapan kosong.
"Kejadiannya di hari kedua perjalanan kami menuju puncak, Tante. Jalur yang kami lalui sangat licin karena cuaca ekstrem. Aurora... dia terperosok ke area jurang yang cukup curam."
Suara Adrian bergetar saat melanjutkan,
"Saat itu saya panik, tapi insting saya hanya satu: jangan sampai dia jatuh lebih dalam. Saya berhasil menariknya, tapi posisi saya tidak seimbang. Saya menghantam akar pohon besar dan bebatuan tajam untuk menahan berat tubuh kami berdua agar tidak terjun ke bawah. Luka di tangan Aurora... itu terjadi saat dia mencoba berpegangan pada dahan berduri saat terperosok."
Adrian menunduk lebih dalam.
"Luka di punggung saya ini tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa takut saya kehilangan dia saat itu, Tante. Saya benar-benar takut tidak bisa membawa dia pulang kembali ke hadapan Tante."
Meskipun Adrian jujur tentang kecelakaan fisik di hutan, ia tetap memegang teguh sumpahnya untuk menutup rapat rahasia tentang Gavin.
Ia tahu bahwa menyebut nama anak itu sama saja dengan membuka kotak pandora yang akan menghancurkan kewarasan Aurora dan ketenangan keluarga ini selamanya.
Ia membiarkan Ibu Aurora percaya bahwa luka-luka ini murni akibat kecelakaan pendakian, bukan karena pengejaran emosional akibat bayang-bayang masa lalu yang kelam.
Ibu Aurora menghentikan gerakannya sejenak, matanya berkaca-kaca melihat betapa parahnya luka di punggung Adrian.
"Jadi... kamu mempertaruhkan nyawamu untuk dia?"
"Saya akan melakukannya lagi jika perlu, Tante. Tanpa ragu," jawab Adrian tulus.
Tepat saat Ibu Aurora sedang membalutkan perban baru dengan penuh kasih sayang, pintu kamar yang sedikit terbuka itu terdorong.
Sherly berdiri di sana dengan wajah yang sengaja dibuat cemas, tangannya memegang segelas air hangat.
"Tante... biar Sherly saja yang lanjutkan. Adrian pasti butuh istirahat," ujar Sherly dengan nada suara yang sangat lembut, mencoba masuk ke dalam momen intim tersebut untuk membangun citra sebagai wanita yang perhatian.
Ibu Aurora menoleh perlahan, menatap Sherly dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu kembali menatap Adrian.
Ada keheningan panjang yang tercipta, di mana Adrian merasa terjepit di antara rasa syukur atas kebaikan Ibu Aurora dan rasa muak pada kehadiran Sherly yang merusak suasana.
Ibu Aurora menunjukkan kelasnya sebagai wanita ningrat yang menjunjung tinggi tata krama dan syariat.
Dengan gerakan yang sangat tenang namun cepat, beliau menarik kain selimut di dekat tempat tidur dan menyampirkannya ke bahu Adrian, menutupi tubuh bagian atas Adrian yang masih terbuka.
Beliau kemudian berdiri dan melangkah perlahan menuju Sherly yang masih mematung di ambang pintu. Senyum di wajah Ibu Aurora tetap ada—sangat sopan dan lembut—namun sorot matanya memberikan tekanan yang membuat siapa pun akan segan.
"Terima kasih atas perhatiannya, Nak Sherly," ucap Ibu Aurora dengan nada bicara yang sangat tertata.
"Tapi, Adrian dan kamu kan belum muhrim. Tidak elok dipandang mata jika kamu berada di dalam kamar ini, apalagi melihat Adrian dalam kondisi tidak berpakaian lengkap seperti tadi."
Beliau menjeda sejenak, menatap mata Sherly dengan dalam.
"Meskipun bagi laki-laki itu bukan aurat besar, tapi bagi seorang wanita yang belum menikah, menjaga pandangan dan etika itu adalah perhiasan yang paling mahal. Tante rasa, akan lebih bijaksana jika kamu menunggu di luar atau kembali ke kamar."
Kata-kata "perhiasan yang paling mahal" itu terasa seperti sindiran halus yang menghujam jantung Sherly.
Ibu Aurora secara tidak langsung sedang mengingatkannya tentang harga diri dan kesopanan yang selama ini Sherly abaikan.
Adrian mengembuskan napas lega. Ia merasa terlindungi oleh wibawa Ibu Aurora yang sangat kuat. Namun bagi Sherly, penolakan itu adalah tamparan yang membuat dadanya terasa terbakar amarah.
Di dalam kepalanya, ia sudah mengumpat habis-habisan. Ia merasa Ibu Aurora sengaja menghalanginya untuk "berbakti" pada Adrian agar posisinya tetap rendah.
Namun, sebagai wanita licik yang sudah terlatih, Sherly tidak membiarkan emosinya pecah di permukaan. Ia justru menundukkan kepala dengan takzim, memamerkan senyum palsunya yang paling tulus.
"Ah... maafkan Sherly, Tante. Sherly tadi terlalu khawatir dengan keadaan Adrian sampai lupa soal itu. Terima kasih sudah mengingatkan Sherly," ucapnya dengan nada yang dibuat menyesal.
Ia kemudian menyodorkan nampan kecil di tangannya.
"Kalau begitu, ini ada air hangat untuk Tante dan Adrian. Biar badan Tante juga lebih rileks setelah mengobati Adrian."
Ibu Aurora menerima gelas itu dengan anggukan kecil.
"Terima kasih. Sekarang, kembalilah istirahat. Hari sudah sangat malam."
Sherly berbalik dan melangkah pergi. Begitu pintu tertutup dan ia berada di kegelapan lorong menuju paviliunnya, wajah manisnya langsung berubah menjadi seringai penuh kebencian.
Tangannya terkepal kuat hingga kuku-kukunya memutih.
"Tua bangka sok suci," desisnya dalam hati.
aurora ni kepribadian ganda ato gimana sih kadang dingin kadang welcome😭
nyesel banget deh tu si adrian lebih milih ulet bulu kaya sherly
semoga endingnya aurora gak usah balikan sama adrian deh...