Aroel Mahardika kembali ke desa setelah lima tahun pergi, diam-diam tanpa memberi tahu siapa pun. Tujuannya hanya satu: menenangkan hati yang selalu gelisah. Tapi desa itu menyimpan lebih dari sekadar ketenangan.
Di Saung Langit, tempat yang pernah menjadi saksi masa lalunya, Aroel dipukul secara misterius. Tidak ada saksi, tidak ada jejak, hanya rasa sakit yang nyata. Di tengah sawah, seorang bocah kecil muncul dan menghilang dengan tatapan yang penuh teka-teki. Warga desa terlalu tenang, terlalu diam, seolah menyimpan sesuatu yang tidak ingin mereka ungkapkan.
Siapa yang memukulnya?
Apa maksud bocah itu selalu muncul di tempat yang salah?
Dan rahasia apa yang selama ini disembunyikan oleh desa dan Saung Langit?
Setiap langkah Aroel menimbulkan pertanyaan baru, dan setiap jawaban yang ia dapat justru menimbulkan lebih banyak ketegangan. Dalam atmosfer yang menekan, emosinya meledak antara marah, takut, salah tingkah, dan penasaran. Masa lalu yang kelam, rahasia yang tersembunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arroels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kopi Manis Sang Putri
Rahman berdiri di depan pintu sambil mengenakan jaketnya.
“Aku keluar sebentar. Ada yang harus diberesin,” katanya santai.
Aroel mengangguk. “Lama?”
“Nggak. Paling siang sudah balik.”
Rahman melirik Putri sekilas, lalu tersenyum tipis. “Jangan ribut ya kalian.”
Putri mengernyit. “Siapa yang ribut?”
Rahman tidak menjawab. Ia hanya tertawa kecil lalu pergi.Pintu tertutup.Sunyi.Beberapa detik terasa aneh.
Putri berdiri di dapur kecil, menatap panci kosong seperti sedang berpikir keras.
Aroel duduk di kursi kayu, memperhatikan.
“Kamu biasanya ngapain kalau Rahman nggak ada?” tanya Putri tanpa menoleh.
“Bernapas,” jawab Aroel santai.
Putri menghela napas panjang. “Maksudku yang normal.”
“Oh. Biasanya aku bikin kopi.”
Putri menoleh cepat. “Kamu bisa bikin kopi?”
Aroel mengangkat bahu. “Lebih bisa dari kamu.”
Putri menyipitkan mata. “Masih trauma ya?”
“Masih ingat rasanya.”
Putri mendekat dan menyodorkan toples kopi ke arahnya. “Baik. Tunjukkan kemampuanmu.”
Aroel berdiri dengan tenang, mengambil gelas dan sendok.Putri menyandarkan diri ke meja, memperhatikannya seperti pengawas ujian.
“Kenapa kamu lihat aku seperti itu?” tanya Aroel.
“Takut kamu salah takar.”“Tenang. Ini ilmu dasar.”
Ia menuang air panas, menambahkan kopi secukupnya, lalu sedikit gula.
Putri memperhatikan serius.
“Cuma segitu gulanya?”
“Iya.”
“Kamu pelit.”
“Bukan pelit. Seimbang.”
Putri menyilangkan tangan. “Kalau hidupmu terlalu seimbang, nanti hambar.”
Aroel berhenti sebentar. “Kalau terlalu manis, nanti enek.”
Putri terdiam satu detik, lalu tertawa kecil. “Kamu ini selalu ada jawabannya.”
Aroel menyerahkan gelas ke arahnya. “Coba.”
Putri meniup permukaannya pelan lalu menyeruput sedikit.Ia tidak langsung bereaksi.
Aroel menunggu.Putri menatapnya.
“Gimana?” tanya Aroel.
Putri meneguk lagi. “Hmm.”
“Hmm itu artinya apa?”
Putri mengangguk pelan. “Lumayan.”
“Lumayan?”
“Iya. Masih bisa diperbaiki.”
Aroel pura-pura tersinggung. “Kamu susah dipuaskan ya.”
Putri hampir tersedak kopi. “Ngomongnya dijaga sedikit.”
Aroel tertawa pelan. “Maksudku kopi.”
Putri menatapnya tajam, tapi sudut bibirnya tertarik naik.Mereka duduk berhadapan sekarang.
Pagi terasa lebih terang.
Tanpa Rahman, suasana jadi lebih sunyi… tapi juga lebih jujur.
“Kamu lebih banyak bercanda sekarang,” kata Putri tiba-tiba.
Aroel mengangkat alis. “Dulu nggak?”
“Dulu kamu lebih… kaku.”
“Mungkin karena kamu selalu lihat aku seperti tersangka.”Putri menunduk sedikit. “Maaf soal itu.”
Aroel menggeleng pelan. “Aku juga nggak gampang percaya.”
Hening sesaat.
Putri memutar gelasnya perlahan.
“Kalau Rahman nggak ada,” katanya pelan, “rasanya beda ya.”
“Lebih sepi?”
Putri mengangguk kecil.
Aroel tersenyum tipis. “Atau lebih jujur?”
Putri tidak menjawab.
Ia hanya menatap kopi di tangannya.
Aroel memperhatikannya beberapa detik lebih lama.
“Kamu nyaman nggak sekarang?” tanyanya pelan.
Putri mengangkat pandangannya.
Untuk pertama kalinya pagi itu, ia tidak bercanda.
“Iya,” jawabnya jujur.
Aroel tidak tersenyum lebar. Hanya anggukan kecil.
“Bagus.”
Putri menatapnya lagi, lalu berkata dengan nada lebih ringan,
“Tapi jangan besar kepala.”
“Sudah telat.”
Putri tertawa kecil.
Suasana kembali ringan.
Di luar, suara motor Rahman sudah tidak terdengar lagi.
Dan untuk pertama kalinya,
pagi itu bukan tentang kecurigaan.
Bukan tentang masa lalu.
Hanya tentang dua orang yang mulai belajar duduk berdampingan tanpa jarak.
“Kopi besok aku yang bikin lagi,” kata Putri.
Aroel menatapnya. “Ancaman?”
Putri tersenyum kecil.
“Tergantung kamu mau tetap di sini atau nggak.”
Aroel tidak langsung menjawab.
Ia hanya mengangkat gelasnya sedikit.
“Kalau kopinya begini, aku mungkin betah.”
Putri menggeleng pelan, tapi senyumnya tidak hilang.
Pagi itu sederhana.
Tapi cukup untuk membuat sesuatu di antara mereka terasa… lebih hangat.
Bersambung.....