NovelToon NovelToon
COLD MAFIA, WILD FLAME

COLD MAFIA, WILD FLAME

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Damian Alveros adalah CEO berwajah dingin yang memimpin jaringan mafia berbahaya di balik kekuasaannya. Hidupnya terkontrol, tanpa emosi, tanpa celah.

Semua berubah ketika ia bertemu Lyra Arsetha—gadis bar-bar yang tak sengaja menyelamatkannya di negara asing dan tanpa sadar terseret ke dunia gelap yang seharusnya tak pernah ia sentuh.

Ia adalah badai yang tak bisa dikendalikan.
Ia adalah es yang tak bisa dicairkan.

Namun di tengah pengkhianatan, kejar-kejaran maut, dan perang mafia internasional, mereka menemukan satu kebenaran berbahaya:

Semakin mereka mencoba menjauh…
semakin takdir memaksa mereka bertahan bersama.

Ketika cinta lahir di medan perang, hanya ada dua pilihan—
hidup berdampingan… atau hancur bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Malam turun perlahan di pelabuhan tua.

Lampu-lampu hanggar redup, menyisakan cahaya kuning pucat yang memantul di lantai beton. Udara laut membawa aroma garam dan besi, bercampur dengan ketegangan yang tak kasatmata.

Lyra berdiri di tepi platform atas hanggar, memandang ke luar melalui celah ventilasi logam. Kota di kejauhan tampak tenang, namun ia tahu ketenangan itu hanyalah ilusi tipis.

Langkah kaki pelan terdengar di belakangnya.

Damian.

Ia berdiri di samping Lyra tanpa menyentuh, tanpa berbicara. Kehadirannya terasa seperti bayangan yang menenangkan sekaligus menekan.

“Mereka menunggu kita bergerak,” kata Lyra akhirnya.

Damian menatap ke arah yang sama.

“Mereka berharap kita bergerak tanpa rencana.”

Lyra menoleh sedikit. “Dan kita?”

“Kita bergerak dengan rencana… yang terlihat seperti kesalahan.”

Lyra mengangkat alis. “Kau akan menjadikan seseorang umpan.”

Damian tidak menyangkal.

“Umpan yang sadar,” katanya pelan.

Lyra menatapnya lebih lama. “Aku?”

Hening sesaat.

Angin laut berembus melalui celah logam, membuat rambut Lyra bergerak pelan.

Damian akhirnya berkata, “Mereka menginginkan orang yang tidak mereka pahami.”

“Dan itu aku.”

“Ya.”

Lyra tidak marah. Tidak terkejut.

Ia hanya menarik napas panjang.

“Apa yang harus kulakukan?”

Di bawah platform, Kael, Aidan, Orion, Lucian, Elena, dan Draven berkumpul di sekitar meja taktis. Sierra, Raina, dan Zaya berdiri sedikit di belakang, mendengarkan dengan fokus.

Damian memberi isyarat agar Lyra turun bersamanya.

Semua mata beralih ketika mereka mendekat.

Elena menampilkan peta kota dengan beberapa titik bercahaya.

“Kita akan menciptakan pergerakan yang terlihat tidak terlindungi,” jelasnya. “Lyra akan muncul di area publik dengan pengawalan minimal yang sengaja terlihat.”

Lucian tersenyum tipis. “Kamera kota akan memastikan mereka melihat.”

Kael menambahkan, “Namun perlindungan sebenarnya tetap tersembunyi.”

Aidan menatap Lyra langsung. “Kau tidak berimprovisasi.”

Lyra menjawab tanpa ragu, “Aku tidak bodoh.”

Orion menyilangkan tangan. “Jika mereka bergerak, kita mengikuti jejak baliknya.”

Draven berkata datar, “Risiko tertinggi berada pada fase kontak pertama.”

Sierra menahan napas. “Lyra…”

Lyra menoleh padanya dan tersenyum tipis. “Aku tidak sendirian.”

Raina menggenggam tangan Zaya lebih erat. Zaya hanya mengangguk pelan pada Lyra—pengakuan tanpa kata.

Damian menatap timnya satu per satu.

“Tujuan kita bukan pertempuran terbuka. Kita menginginkan arah.”

Elena menggeser tampilan peta. “Jika mereka menggunakan pola lama, pengamat utama akan berada di radius tiga ratus meter.”

Aidan menambahkan singkat, “Aku akan mengawasi dari titik tinggi.”

Kael berkata, “Aku di perimeter dekat.”

Orion tersenyum samar. “Aku di jalur intersepsi.”

Lucian menutup perangkatnya. “Dan aku membuat mereka percaya mereka melihat celah.”

Semua rencana jatuh pada tempatnya seperti bagian mesin yang telah lama menunggu untuk berputar.

Lyra berdiri di tengah lingkaran itu.

Tidak lagi sebagai orang luar.

Damian mendekat setengah langkah.

“Begitu kita mulai,” katanya rendah, hanya untuk Lyra, “kau tetap pada jalur. Tidak ada aksi heroik.”

Lyra menatapnya lurus. “Aku tidak mencoba menjadi pahlawan.”

“Bagus,” jawab Damian. “Tetap hidup saja.”

Kalimat sederhana itu menggantung di antara mereka.

Untuk sesaat, dunia terasa mengecil hanya pada jarak satu langkah di antara dua orang itu.

Lucian berdeham pelan. “Baiklah, sebelum momen dramatis ini terlalu panjang, kita punya waktu tiga puluh menit.”

Kael mengatur waktu keberangkatan. Draven memeriksa jalur keluar. Elena menyiapkan jaringan pengawasan. Orion dan Aidan menuju posisi masing-masing.

Sierra mendekati Lyra.

“Kau yakin?”

Lyra menatap ke arah pintu hanggar yang perlahan terbuka, menampakkan malam pelabuhan yang dingin.

“Aku tidak yakin,” jawabnya jujur. “Tapi aku tidak akan mundur.”

Zaya berkata pelan, “Ketidakpastian bukan kelemahan. Itu ruang untuk memilih.”

Raina menambahkan dengan suara kecil, “Kita di belakangmu.”

Lyra mengangguk.

Damian berdiri di ambang pintu hanggar, bayangannya memanjang ke lantai.

“Kita mulai sekarang.”

Konvoi kecil bersiap bergerak—lebih kecil dari sebelumnya, lebih terbuka, lebih mudah terlihat.

Umpan harus meyakinkan.

Lyra melangkah keluar bersama Damian, Kael beberapa meter di belakang, sementara pengawasan lain tak terlihat oleh mata biasa.

Angin malam menyentuh wajahnya.

Jantungnya berdetak cepat.

Namun langkahnya stabil.

Di ketinggian gedung sekitar pelabuhan, mata tak terlihat mulai memperhatikan.

Di layar-layar tersembunyi di kota, pergerakan kecil mulai ditandai.

Dan di suatu tempat di balik bayangan—

Seseorang yang pernah dianggap mati… mulai memperhatikan kembali dunia yang dulu ia tinggalkan.

Permainan tidak lagi menunggu.

Permainan dimulai dengan kesadaran penuh dari kedua sisi.

Dan untuk pertama kalinya—

Lyra berjalan bukan sebagai korban tak sengaja.

Ia berjalan sebagai umpan… yang memilih perannya sendiri.

---

Konvoi bergerak pelan menyusuri jalan pelabuhan yang hampir kosong. Hanya suara mesin rendah dan gesekan ban dengan aspal lembap yang terdengar.

Lyra duduk di kursi penumpang depan. Tangan kanannya bertumpu di paha, jari-jarinya tak sadar mengetuk pelan mengikuti detak jantungnya sendiri.

Damian mengemudi tanpa bicara.

Lampu jalan melintas di wajahnya satu per satu, menciptakan bayangan bergerak yang membuat ekspresinya sulit dibaca.

“Aku tidak suka bagian menunggu,” kata Lyra akhirnya.

Damian melirik sekilas. “Itu karena menunggu membuat kita sadar bahwa kita tidak memegang kendali penuh.”

Lyra menghembuskan napas pelan. “Aku lebih suka bahaya yang jelas daripada ketidakpastian seperti ini.”

“Bahaya yang jelas biasanya sudah terlambat.”

Lyra menoleh, menatap profil wajah Damian yang tegas di bawah cahaya redup dashboard.

“Kau selalu bicara seperti semuanya sudah dihitung.”

Damian tidak langsung menjawab. Tangannya sedikit mengencang di setir.

“Aku menghitung kemungkinan,” katanya pelan. “Bukan hasil.”

Hening lagi.

Di radio komunikasi kecil di dashboard, suara statis pelan terdengar.

“Posisi tinggi aman,” suara Aidan masuk tenang.

“Perimeter bersih,” sambung Kael.

Elena berbicara berikutnya, “Beberapa kamera publik aktif merekam. Mereka pasti melihat.”

Lyra tersenyum tipis. “Bagus. Aku harap aku terlihat cukup ceroboh.”

Damian menoleh cepat. “Jangan berlebihan.”

“Tenang saja,” jawab Lyra santai. “Aku cuma berpura-pura bodoh, bukan benar-benar bodoh.”

Sudut bibir Damian terangkat tipis—hampir tak terlihat.

Mobil berhenti di sebuah plaza kecil dekat dermaga lama. Tempat itu terbuka, terlalu terbuka.

Lampu-lampu tinggi berdiri berjajar, tapi beberapa mati, menciptakan area gelap di antara cahaya.

Umpan sempurna.

Lyra membuka pintu mobil.

Udara malam langsung menyergap kulitnya. Dingin, tajam, hidup.

Ia melangkah turun tanpa ragu.

Damian ikut turun di sisi lain mobil. Jarak mereka hanya beberapa langkah, tapi rasanya seperti ada garis tak terlihat yang mengikat posisi mereka.

“Dua menit,” suara Elena di alat komunikasi kecil di telinga Lyra.

Lyra berjalan perlahan ke tengah plaza. Sepatunya berderap ringan di beton kosong.

Ia sengaja berhenti di bawah lampu paling terang.

Menjadi pusat perhatian.

“Kalau aku jadi mereka,” gumam Lyra pelan, cukup untuk mikrofon di telinganya, “aku akan menunggu sampai aku benar-benar yakin.”

“Terus bicara,” kata Lucian. “Suaramu membuat pola gerak terlihat natural.”

Lyra terkekeh pelan. “Baik, kalau begitu… Damian.”

“Ya.”

“Kau sebenarnya selalu seperti ini? Dingin, serius, menakutkan?”

Hening sesaat di jalur komunikasi.

Kael tertawa kecil di kejauhan.

Damian menjawab datar, “Aku praktis.”

Lyra memutar mata. “Itu bukan jawaban.”

“Fokus, Lyra.”

“Ini bagian dari peran,” balasnya ringan. “Orang santai lebih mudah dijebak.”

Angin laut berembus lebih kencang. Rambut Lyra bergerak menutupi sebagian wajahnya.

Lalu—

Aidan berbicara tiba-tiba.

“Ada pergerakan di atap barat.”

Semua suara di jalur komunikasi langsung senyap.

Jantung Lyra berdetak lebih keras, tapi wajahnya tetap tenang.

“Jangan menoleh,” bisik Damian.

Lyra tetap menatap lurus ke depan, seolah menikmati pemandangan laut gelap.

“Jumlah?” tanya Kael.

“Satu… tidak. Dua bayangan,” jawab Aidan pelan.

Elena berkata cepat, “Sinyal tak dikenal aktif di radius dua ratus meter.”

Orion masuk dengan suara rendah, “Jalur intersepsi siap.”

Lyra menarik napas pelan.

Jadi ini dia.

Kontak pertama.

“Damian,” katanya lirih.

“Aku di sini.”

Hanya dua kata itu.

Tapi cukup untuk membuat ketegangan di dadanya tidak meledak.

Langkah kaki pelan terdengar dari arah belakang plaza.

Bukan terburu-buru.

Bukan sembunyi.

Percaya diri.

Lyra tidak berbalik.

Namun seluruh indranya terfokus pada suara itu.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga.

Seseorang mendekat.

Dan untuk pertama kalinya malam itu—

Lyra merasakan sesuatu yang berbeda dari sekadar ancaman.

Ia merasakan… pengakuan.

Seolah orang itu tidak hanya datang untuk menangkap.

Tapi untuk melihatnya lebih dekat.

Suara itu berhenti hanya beberapa meter di belakangnya.

Lalu terdengar suara pria yang tenang, dalam, dan asing.

“Akhirnya aku melihatmu secara langsung.”

Di jalur komunikasi, semua orang menahan napas.

Dan Damian—

Untuk pertama kalinya sejak operasi dimulai—

Melangkah keluar dari posisi yang seharusnya tidak ia tinggalkan.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!