Sepuluh tahun lalu, hujan merenggut segalanya dari seorang gadis lima belas tahun. Tanah longsor menelan kedua orang tuanya tanpa jejak, memaksanya tumbuh sebelum waktunya. Sejak hari itu, Nala belajar satu hal: hidup bukan tentang memilih, tapi tentang bertahan.
Bersama adiknya, Niskala, ia pindah ke ibu kota dengan harapan masa depan yang lebih baik. Namun kenyataan jauh lebih kejam. Pendidikan dirampas, masa kecil dipaksa hilang, dan mereka harus berdiri di lampu merah menjual tisu demi bertahan hidup. Hingga suatu malam, dengan uang receh yang dikumpulkan diam-diam selama bertahun-tahun, Nala memilih kabur—membawa satu-satunya hal yang tak boleh hancur: mimpi adiknya.
Di kota yang tak pernah benar-benar peduli, Nala bekerja tanpa henti. Pagi sebagai kasir, siang di minimarket, malam menjadi barista, bahkan memasak mi di warnet sempit yang pengap. Tubuhnya lelah, perutnya sering kosong, tapi satu hal tak pernah goyah: Niskala harus tetap sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saqila nur sasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penghilangan diri
“Dibalik tawanya, ia menyimpan rapuh. Seperti bangun tua yang dibairkan tak terurus. Perlahan lapuk, remuk dan meredam dalam diam”
***
Mobil yang menjemputnya berhenti tepat di depan gerbang tinggi rumah Baskara.
Gerbang itu terbuka perlahan, seolah menyambut sekaligus menelan. Rumah besar itu berdiri megah dan sunyi—dinding putih bersih, jendela tinggi, taman yang tertata sempurna tanpa satu daun pun terlihat berantakan.
Semua terasa rapi.
Terlalu rapi.
Nala turun dengan tas kecil di tangannya. Tas itu tampak tidak sebanding dengan rumah sebesar ini—seolah ia hanya tamu yang salah alamat. Pintu utama sudah terbuka ketika ia melangkah naik ke teras.
Kepala pelayan menyambutnya dengan sikap hormat.
“Selamat datang, Nona,” ucapnya formal. Bukan “Nala”. Bukan dengan kehangatan. “Tuan sudah menunggu Anda nanti siang. Untuk sementara, izinkan saya mengantar ke kamar.”
Nala mengangguk pelan.
Ia mengikuti langkah kepala pelayan melewati lorong panjang dengan lantai marmer yang mengilap. Lukisan-lukisan mahal tergantung di dinding. Udara di dalam rumah itu sejuk dan harum, namun terasa dingin—bukan karena suhu, melainkan karena tak ada kehidupan di dalamnya.
Mereka berhenti di depan sebuah pintu besar di lantai dua.
Kepala pelayan membukanya.
“Ini kamar Anda.”
Kamar itu luas. Terlalu luas untuk satu orang. Tempat tidur besar dengan seprai putih bersih, lemari pakaian penuh cermin, meja rias elegan, sofa kecil di dekat jendela yang menghadap taman belakang.
Semuanya sudah siap.
Bukan untuk Nala.
Untuk Arsha.
Nala melangkah masuk perlahan. Tas kecilnya terasa semakin tidak berarti di ruangan sebesar itu. Belum sempat ia benar-benar melihat sekeliling, kepala pelayan kembali berbicara.
“Nona.”
Nala menoleh.
Pelayan itu menyerahkan sebuah map tipis berwarna krem.
“Ini jadwal harian Anda.”
Nala menerimanya tanpa komentar.
Ia membuka map tersebut.
Di dalamnya terdapat lembaran yang sudah dicetak rapi:
06.00 – Bangun dan olahraga ringan (yoga/pilates)
07.00 – Sarapan bersama Tuan (jika dijadwalkan)
09.00 – Review desain studio
11.00 – Meeting klien / pelatihan etika sosial
14.00 – Kelas bahasa & public speaking
16.00 – Review arsip karya lama Arsha
19.00 – Makan malam formal / acara sosial
22.00 – Waktu istirahat
Bahkan ada catatan kecil di bawahnya:
Perhatikan postur duduk, cara berbicara, dan pilihan diksi sesuai karakter Nona Arsha. Nala membaca setiap baris dengan dada yang perlahan mengeras.
Ini bukan sekadar pindah rumah.
Ini pelatihan.
Pembentukan ulang.
Penghapusan diri.
“Mulai hari ini, Anda akan sepenuhnya menjalani rutinitas Nona Arsha,” lanjut kepala pelayan dengan nada profesional. “Jika ada yang kurang jelas, saya atau staf lain siap membantu.”
Membantu.
Kata itu terdengar aneh.
Nala menutup map itu perlahan.
“Baik,” jawabnya singkat.
Kepala pelayan sedikit membungkuk lalu keluar, menutup pintu dengan pelan.
Kini ia sendirian.
Di kamar besar itu.
Nala berdiri di tengah ruangan, memandangi jadwal di tangannya sekali lagi. Setiap jamnya terasa seperti jeruji tak terlihat. Ia berjalan menuju jendela besar dan menatap taman yang tertata sempurna di bawah sana. Di rumah kecilnya, pagi biasanya diisi suara motor lewat dan aroma gorengan dari tetangga.
Di sini… hanya sunyi.
Dan disiplin.
Nala menarik napas panjang. Mulai hari ini, bukan hanya wajahnya yang harus menjadi Arsha.
Waktunya.
Geraknya.
Hidupnya.
Semua harus menyesuaikan.
Dan untuk pertama kalinya ia benar-benar merasakan— Ia bukan sedang tinggal di rumah ayah kandungnya. Ia sedang ditempatkan di dalam sebuah peran.
Nala masih berdiri di dekat jendela dengan map jadwal di tangannya.
Kamar itu terlalu sunyi untuk ukuran rumah sebesar ini. Tidak ada suara televisi, tidak ada bunyi pintu kamar dibanting, tidak ada langkah kaki tergesa seperti di rumah kecilnya bersama Kala.
Hanya keheningan yang rapi.
Ia menatap kembali lembar jadwal itu. Setiap jamnya terasa seperti keputusan yang sudah diambil tanpa persetujuannya.
Haruskah ia merasa senang?
Rumah besar. Fasilitas lengkap. Kehidupan yang secara kasat mata jauh lebih “baik”.
Atau harus sedih?
Karena semua itu datang dengan harga—identitasnya sendiri.
Sudut bibirnya terangkat pelan.
Senyum pahit.
Ironis sekali. Banyak orang mungkin bermimpi berada di posisi ini. Tapi ia justru merasa seperti sedang dipindahkan dari satu kandang ke kandang yang lebih mewah. Belum sempat pikirannya benar-benar tenang, ponselnya bergetar di atas meja.
Satu pesan masuk.
Nomor tak dikenal.
Nala mengerutkan kening sejenak, lalu membukanya. Temani aku hari ini ke acara klien. Singkat. Tanpa salam. Tanpa perkenalan. Namun gaya kalimatnya sudah cukup familiar.
Nala menarik napas perlahan.
Ia tidak perlu berpikir lama untuk tahu siapa pengirimnya.
Erlic.
Cara bicaranya selalu seperti itu—langsung, tegas, tanpa basa-basi. Seolah ia sudah yakin pesan itu akan dituruti. Jantung Nala berdetak sedikit lebih cepat. Ia bahkan belum benar-benar menata diri di rumah ini. Bahkan belum selesai menerima kenyataan bahwa hidupnya kini sepenuhnya diatur. Dan kini, Erlic kembali mengajaknya masuk ke dunia yang lebih dalam.
Acara klien.
Berarti publik.
Berarti sorotan.
Berarti ia harus semakin sempurna sebagai Arsha. Nala menatap layar ponselnya cukup lama. Ia bisa saja pura-pura tidak membaca. Atau membalas dengan alasan sibuk. Tapi ia tahu itu tidak akan menghentikan apa pun. Permainan ini tidak berjalan lambat. Ia sedang didorong untuk langsung berlari. Senyum pahit itu kembali muncul.
“Baiklah,” gumamnya pelan.
Tanpa ragu lagi, ia mengetik balasan singkat.
Jam berapa?
Kirim.
Begitu pesan terkirim, Nala meletakkan ponselnya dan menatap pantulan dirinya di cermin besar di seberang ruangan.
Wajah yang sama.
Tapi hidup yang berbeda. Ia tidak tahu apakah harus merasa terhormat karena Erlic terus melibatkannya… atau waspada karena pria itu jelas menikmati permainan ini.
Yang ia tahu hanya satu— Hari pertamanya di rumah Baskara belum benar-benar dimulai. Dan ia sudah kembali dipanggil untuk memainkan peran itu lagi.
***
Di lantai tertinggi gedung perusahaan Erlic, pagi itu berjalan seperti biasa—rapat singkat, tanda tangan dokumen, instruksi yang disampaikan tanpa banyak kata. Namun setelah ia mengirim pesan pada Nala, suasana di ruang kerjanya berubah menjadi lebih pribadi.
Lebih sunyi.
Erlic berdiri di dekat jendela besar, memandang kota yang mulai sibuk oleh aktivitas pagi. Ponselnya masih berada di tangannya, layar sudah gelap setelah pesan itu terkirim.
Ketukan pelan terdengar di pintu.
“Masuk.”
Pras masuk dengan map hitam di tangannya. Wajahnya tetap datar seperti biasa, profesional, tanpa emosi berlebih.
“Saya sudah mendapatkan informasi yang Anda minta, Tuan.”
Erlic tidak langsung menoleh. “Tentang Arsha… atau yang sekarang menggantikannya?”
“Keduanya.”
Pras melangkah mendekat dan menyerahkan map tersebut.
Erlic mengambilnya, lalu duduk di kursinya. Ia membuka map itu perlahan, membiarkan setiap lembar informasi tersaji rapi di hadapannya.
Foto.
Data pribadi.
Riwayat pendidikan.
Alamat lama.
Pras mulai menjelaskan dengan nada tenang, sistematis.
“Nona Arsha memang dikirim ke luar negeri beberapa waktu lalu. Keberadaannya saat ini tidak tercatat secara terbuka. Namun mengenai perempuan yang kini berada di rumah Tuan Baskara…”
Ia berhenti sepersekian detik.
“Namanya Nala. Tinggal di daerah kaki gunung di wilayah pinggiran kota. Riwayat pendidikan terakhir SMP. Tidak ada catatan khusus selain pekerjaan serabutan—kasir, membantu di warung internet, dan pekerjaan informal lainnya.”
Erlic membaca tanpa ekspresi.
Namun matanya semakin tajam.
Pras melanjutkan.
“Ia tinggal bersama kedua orang tuanya pria dianggap ayah kandung dan sang ibu yang benar ibu kandungnya . Namun pria tersebut bukan ayah biologisnya.”
Erlic mengangkat pandangannya sedikit.
“Orang tuanya meninggal 10 tahun lalu akibat longsor di kebun mereka. Jasadnya tidak pernah ditemukan.”
Hening.
Suara pendingin ruangan terdengar samar.
Pras menambahkan dengan nada tetap netral, “Sejak kejadian itu, Nala menjadi tulang punggung bagi adiknya. Tidak ada catatan kriminal. Tidak ada koneksi khusus. Kehidupannya… sederhana.”
Sederhana.
Kontras yang terlalu jauh dari kehidupan Arsha Andhikara. Erlic menutup map itu perlahan. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Senyum miring yang sulit diartikan.
“Menarik,” gumamnya pelan.
Seorang gadis dari kaki gunung.
Kehilangan orang tua dalam longsor.
Tumbuh dalam kesederhanaan.
Dan kini duduk di meja makan elite, menjawab pertanyaan bisnis tanpa gemetar. Permainan ini ternyata lebih kompleks dari yang ia kira. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, mengetukkan jarinya pelan di atas map tersebut.
“Dia kehilangan ayahnya… dan sekarang kembali pada ayah kandung yang memperlakukannya seperti pion,” katanya lirih, lebih pada dirinya sendiri.
Pras diam. Ia tahu itu bukan pertanyaan.
Erlic menatap kembali berkas itu, lalu berkata dengan nada tenang namun tegas, “Terus awasi. Jangan sampai Baskara tahu sejauh mana kita sudah memahami situasinya.”
“Baik, Tuan.”
Pras membungkuk sedikit lalu keluar ruangan.
Kini Erlic kembali sendirian. Ia memutar kursinya menghadap jendela, memikirkan pesan yang tadi ia kirim.
Temani aku hari ini ke acara klien.
Bagi Nala, mungkin itu hanya undangan formal. Namun bagi Erlic, itu langkah berikutnya. Ia bukan hanya ingin melihat seberapa baik Nala berperan. Ia ingin melihat seberapa jauh perempuan itu bisa bertahan. Senyum miring itu kembali muncul.
Bukan senyum kejam. Lebih seperti seseorang yang baru menemukan bagian paling menarik dari sebuah permainan yang awalnya ia anggap biasa saja. Dan kini, setelah mengetahui masa lalu Nala— Permainan itu terasa jauh lebih personal.