NovelToon NovelToon
SURAT HATI

SURAT HATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah langit California yang selalu cerah, keluarga Storm adalah simbol kesempurnaan. Namun, di dalam kediaman megah mereka, dua badai yang berbeda sedang bergolak.
Luna Storm adalah anak emas. Cantik, lembut, dan selalu menempati peringkat tiga besar dalam daftar pesona konglomerat kota. Hidupnya adalah rangkaian jadwal ketat antara balet dan piano, sebuah pertunjukan tanpa henti untuk memuaskan ambisi sang ayah. Di balik senyum porselennya, Luna menyimpan rahasia patah hati dari masa SMA dengan Zayn Karl Graciano, satu-satunya lelaki yang pernah membuatnya merasa hidup, namun pergi karena Luna lebih memilih tuntutan keluarga daripada cinta.
Di sisi lain, ada Hera Storm. Kembaran tidak identik Luna yang mewarisi fitur wajah tajam ibunya dan jiwa pemberontak sejati. Hera adalah antitesis dari Luna, ia jomblo sejati, penunggang motor sport, dan lebih suka bergaul di bengkel daripada di aula dansa. Ia bebas, sesuatu yang sangat dicemburui oleh Luna.
.
.
SELAMAT BACA DEAR 🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#17

Hujan di luar mansion Storm semakin deras, seirama dengan isak tangis Luna yang pecah di balik bantal sutranya. Kamar yang biasanya terlihat megah itu kini terasa seperti peti mati bagi Luna. Di sudut ruangan, Hera berdiri dengan tangan bersedekap, menatap kakaknya dengan campuran antara iba dan frustrasi. Hera tidak pernah suka melihat Luna hancur, terutama karena pria yang sama yang juga menjadi pusat dunianya, seorang Graciano.

Hera berjalan mendekat, duduk di tepi ranjang yang luas itu. Ia menarik paksa bantal yang menutupi wajah Luna.

"Berhenti menangis, Luna. Wajahmu sudah seperti bengkak terkena sengatan lebah. Mana harga diri seorang Storm yang selama ini kau banggakan?" suara Hera terdengar tajam, namun tangannya bergerak lembut mengusap rambut pirang kakaknya.

Luna bangkit, duduk bersandar pada headboard ranjang dengan napas yang masih tersengal. "Dia sudah bahagia, Hera. Aku melihatnya sendiri. Matanya... matanya berbinar saat ibunya menyebut nama Zella. Aku tidak pernah melihat Zayn sebahagia itu, bahkan saat bersamaku dulu."

Luna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Sakit sekali, Hera. Rasanya seperti jantungku ditarik paksa dari dadaku. Selama dua tahun ini aku hidup dalam bayang-bayang ketakutan pada Ayah, sementara dia... dia menemukan wanita lain di London yang bahkan sudah sangat akrab dengan ibunya."

Hera mengembuskan napas panjang. Ia meraih segelas air di nakas dan memberikannya pada Luna. "Minum dulu. Kau bicara seolah dunia sudah kiamat."

"Duniaku memang sudah kiamat!" seru Luna tiba-tiba, suaranya naik satu oktav.

"Tahu tidak apa yang paling menyedihkan? Aku tidak bisa marah padanya. Aku pengecut yang tidak berani melawan Ayah untuk menemaninya saat ayahnya meninggal. Jadi wajar kalau dia mencari wanita yang lebih berani, wanita yang bisa diterima ibunya tanpa ada dendam keluarga di tengah-tengah mereka. Zella... nama itu terdengar sangat cantik, bukan?"

Hera terdiam sejenak. Ia teringat sesuatu. Kemarin, saat ia sedang bersama Arlo secara sembunyi-sembunyi, ia sempat melihat Arlo menertawakan sebuah foto di ponselnya. Foto seekor anjing berbulu emas yang sedang memakai pita merah. Arlo menyebut nama 'Zella'.

Hera hampir saja tertawa, namun ia melihat betapa hancurnya Luna. Ia ingin memberi tahu kebenarannya, tapi sisi nakal di dalam dirinya muncul. Ia ingin melihat sejauh mana kakaknya ini akan berjuang jika ia mengira ada saingan nyata.

"Jadi, kau menyerah?" tanya Hera dingin. "Kau akan membiarkan Zella ini memenangkan Zayn sepenuhnya? ehem, Kau akan membiarkan anak yang ada di perutmu ini lahir tanpa pernah tahu kalau ayahnya lebih memilih wanita London?"

Luna tersentak Dan memukul Adiknya. Tangannya secara refleks turun menyentuh perutnya yang masih rata.

"Aku tidak punya pilihan, Hera," lirih Luna. "Zayn sudah menganggapku asing. Di kantin, di kafe tadi... dia menatapku seolah aku adalah debu yang mengganggu pemandangannya. Dia sudah setia pada Zella."

"Setia?" Hera mencibir. "Lalu apa yang kalian lakukan malam itu di markas The Pit? Itu yang kau sebut setia? Luna, Zayn itu masih menginginkanmu. Pria tidak akan melakukan penyatuan sebuas itu jika dia tidak memiliki perasaan yang tertinggal. Soal Zella... mungkin itu hanya caranya untuk melindungimu. Atau mungkin saja, Zella hanyalah pelarian."

Luna menggeleng kuat. "Tidak, Hera. Kau tidak melihat tatapannya tadi. Tatapan itu tulus. Dia sangat merindukan Zella. Ibunya bilang Sella maksudku Zella selalu menunggu di depan pintu kamarnya di London. Itu bukan pelarian. Itu adalah rumah baginya."

Hera memutar bola matanya. Tentu saja dia menunggu di depan pintu, dia ingin diajak jalan-jalan ke taman, Luna! batin Hera gemas.

"Luna, dengarkan aku," Hera memegang kedua bahu kakaknya, memaksa Luna menatap matanya. "Kita ini kembar Storm. Kita tidak diciptakan untuk menangis di pojokan kamar. Jika kau memang mencintainya, dan jika...Mungkin kau mengandung darahnya, kau harus memastikan apakah Zella itu benar-benar ancaman atau hanya imajinasimu yang sedang depresi."

"Tapi Ayah—"

"Lupakan Ayah sejenak!" potong Hera. "Ayah tidak tahu apa yang kita lakukan malam ini. Ayah tidak tahu soal malam itu. Kau selalu saja takut. Ketakutanmu itulah yang membuat Zayn pergi. Dia tidak butuh boneka cantik yang hanya bisa menangis, dia butuh wanita yang berani berdiri di sampingnya."

Luna menunduk, air matanya kembali menetes, membasahi daster sutranya. "Aku mencintainya, Hera. Sangat mencintainya sampai rasanya aku ingin mati saat tahu dia memiliki orang lain. Aku ingin memeluknya lagi... bukan sebagai yang terakhir, tapi sebagai satu-satunya."

Hera menarik Luna ke dalam pelukannya. Di kamar yang sunyi itu, hanya terdengar isak tangis Luna yang memilukan. Luna terus meracau tentang betapa sempurnanya Zella dalam imajinasinya, seorang gadis London yang modis, penyayang, dan direstui oleh Ibu Zayn.

"Zella pasti sangat cantik," bisik Luna di bahu Hera. "Zella pasti bisa memberikan kebahagiaan yang tidak bisa kuberikan selama tiga tahun ini."

Hera mengelus punggung Luna, menahan tawa yang hampir meledak sekaligus rasa kasihan yang mendalam. Ia memutuskan untuk membiarkan Luna dalam kesalahpahaman ini sedikit lebih lama. Ia ingin Luna merasakan cemburu yang membakar, karena hanya dengan begitu, sisi pemberontak Luna yang selama ini tertidur akan bangun.

"Ya, Zella memang sangat setia dan manis, Luna," ucap Hera dengan nada misterius.

"Tapi ingat, kau punya sesuatu yang tidak dimiliki Zella. Kau punya sejarah dengan Zayn yang tidak bisa dihapus oleh siapapun. Dan bisa saja kau punya ikatan hidup di dalam rahimmu."

Hera mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat pada Arlo.

“Arlo, beritahu sahabatmu yang bodoh itu. Kakakku sedang menangis hebat karena mengira Zella adalah kekasih barunya."

🌷🌷🌷🌷🌷

1
durrotul aimmsh
i just can say...wow
shabiru Al
apa yang akan terjadi ya jika ayahnya luna tau kehamilan ini
shabiru Al
mampir ya thor,, kayaknya menarik nih ceritanya
ros 🍂: Happy Reading 🥰
total 1 replies
Nurhasanah
ini fl nya luna apa hera ?? lebih suka hera sih badas nggak menye2 😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!