Puluhan tahun silam dunia persilatan mengalami kedamaian, Sembilan Master Naga berhasil membuat dunia menjadi lebih aman, para pendekar golongan hitam tidak ada yang membuat onar baik di dunia persilatan maupun di kerajaan yang di tinggali rakyat biasa. Namun semua itu kini tidak ada lagi, kini dunia persilatan mengalami kekacauan setelah sebuah partai golongan hitam muncul dan merajalela.
Wang Long yang hidup di sebuah desa bersama keluarganya juga mendapat perlakuan buruk dari anggota partai golongan hitam tersebut.
Semua keluarga dan orang-orang di desa Wang Long di bantai secara sadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Bunga Melati di Angin Gurun
Pagi itu, desa kecil yang semalam mereka bersihkan dari sisa-sisa pembantaian terasa memiliki nyawa kembali, meski samar. Kabut duka belum sepenuhnya hilang, namun beberapa penduduk yang selamat mulai merangkak keluar dari persembunyian bawah tanah dan celah reruntuhan.
Kabar tentang seorang pemuda perkasa yang menguburkan puluhan mayat dengan tangannya sendiri, tanpa meminta sekeping tembaga pun, menyebar lebih cepat daripada api di padang rumput kering.
Dan seperti aroma bunga melati yang tiba-tiba menyeruak di tengah debu gurun yang menyesakkan—nama "Bocah Naga" ikut terbawa angin, membisikkan harapan di telinga rakyat yang tertindas.
Wang Long sedang berlutut di tanah, menyalurkan sedikit hawa murni untuk menurunkan demam tinggi seorang lelaki tua, ketika sebuah suara lembut namun berwibawa memecah kesibukan pagi.
“Jadi... kau benar-benar ada di dunia nyata, bukan sekadar dongeng pengantar tidur.”
Wang Long menoleh perlahan. Seorang wanita muda berdiri anggun dengan jubah sutra berwarna kuning pucat yang berkilau lembut.
Sebuah kipas lipat dari kayu cendana bercorak gunung emas bergerak perlahan di tangannya, menebarkan aroma wangi yang kontras dengan bau amis desa itu. Di belakangnya, berdiri barisan pengawal bersenjata lengkap dengan sikap yang sangat disiplin.
Wajahnya cantik jelita, namun matanya tidak menyiratkan kelembutan; ada kilat kecerdasan dan wibawa seorang penguasa di sana.
“Namaku Lim Guan Yu,” ucapnya tenang, matanya tak lepas dari sosok Wang Long. “Aku adalah pemegang mandat di wilayah utara ini.”
Sin Yin, yang sedang membersihkan noda tanah di lengan bajunya, langsung menyipitkan mata. Aura kewaspadaan seorang Bidadari Maut bangkit seketika.
Wang Long bangkit berdiri dengan gerakan tenang. “Aku hanya seorang pengembara yang kebetulan lewat, Nona Lim.”
Lim Guan Yu tersenyum tipis, menutup kipasnya dengan bunyi klik yang tajam.
“Nama 'Bocah Naga' menyebar bagai aroma melati yang dibawa badai gurun, Tuan. Tak usah merendah. Dalam duniaku, aku tak suka melihat seorang pendekar hebat yang meremehkan dirinya sendiri.”
Wang Long tersenyum canggung, menggaruk belakang kepalanya. “Aku bukan Bocah Naga yang kau bayangkan. Aku hanya orang bodoh yang tidak tahan melihat penderitaan orang lain.”
Lim Guan Yu melangkah maju selangkah, menipiskan jarak. “Kerendahan hati yang berlebihan, Tuan Wang, terkadang justru terlihat seperti kesombongan yang tersembunyi dengan rapi.”
“Aku tidak bermaksud sombong. Tapi itulah faktanya,” jawab Wang Long jujur.
Sin Yin tidak bisa lagi hanya menjadi penonton. Ia melangkah maju, berdiri tepat di samping Wang Long dengan tangan di atas hulu pedang.
“Apa sebenarnya maksud kedatanganmu, Nona Penguasa?” tanyanya dingin, menatap Lim Guan Yu dengan tatapan yang sanggup membekukan air.
Lim Guan Yu mengangkat alisnya yang tipis, memandang Sin Yin dengan nada meremehkan.
“Itu bukan urusanmu, Gadis Cantik. Aku bicara dengan Tuan Wang, dan di daerah ini, kata-kataku adalah hukum.”
“Tentu saja ini urusanku,” balas Sin Yin tanpa ragu, suaranya meninggi satu nada. “Sebab kau sedang mencoba menggoda kekasihku!”
Sunyi.
Angin gurun mendadak berhenti berdesir, seolah alam pun ikut terkejut mendengar pengakuan blak-blakan itu. Yue Liang Shu yang sedang memeriksa sumur hampir saja terjatuh karena kaget.
Lim Guan Yu tersenyum samar, menatap Wang Long dengan tatapan penuh selidik. “Oh? Apa benar begitu, Tuan Wang?”
Telinga Wang Long mendadak terasa panas, dan rona merah menjalar ke pipinya.
“Kau—!” suaranya tercekat. Tanpa berpikir panjang, ia meraih pergelangan tangan Sin Yin dan menariknya menjauh beberapa langkah ke bawah bayangan pohon kering.
Di Bawah Pohon Kering
“Apa? Memangnya perkataanku ada yang salah?” Sin Yin mendelik, matanya berkilat menantang meski pipinya juga bersemu merah.
“Sin Yin... kau tahu perkataanmu itu bisa memancing masalah besar di tempat asing seperti ini,” tukas Wang Long dengan suara tertahan.
“Apa kau tidak terima aku menyebutmu kekasihku?” balas Sin Yin cepat, napasnya sedikit memburu. “Atau jangan-jangan... kau memang terpesona melihat kecantikan gadis jubah kuning itu?”
Wang Long menghela napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup tidak keruan. “Aku bahkan tidak mengenalnya, Sin Yin.”
“Tapi kau tersenyum padanya!”
“Itu hanya sopan santun dasar antar manusia.”
“Kenapa padaku kau tak pernah tersenyum selembut dan sesopan itu?” cecar Sin Yin lagi.
Wang Long benar-benar dibuat bingung oleh logika sang Bidadari Maut. “Aku... aku merasa selalu tersenyum padamu setiap hari.”
“Tidak seperti tadi! Tadi itu senyum yang berbeda!”
Wang Long menatap mata Sin Yin yang tampak berkaca-kaca karena amarah—atau mungkin rasa takut yang tersembunyi. Ia melembutkan suaranya. “Sin Yin... sebenarnya kau marah karena apa?”
Sin Yin membuang muka, menatap hamparan pasir di kejauhan. “Aku tidak marah.”
“Wajahmu memerah sampai ke telinga.”
“Itu... itu karena hawa gurun yang panas!”
Wang Long menatapnya lama, lalu sebuah senyum kecil yang tulus muncul di bibirnya. “Aku tidak tahu sejak kapan... aku resmi menjadi kekasihmu.”
Tubuh Sin Yin menegang. Ia terdiam sesaat, lalu bertanya dengan suara yang sangat pelan, “Kenapa? Apa kau keberatan?”
Wang Long terdiam, menatap dahan pohon kering di atas mereka. Lalu dengan suara yang mantap, ia berkata, “Tidak. Aku tidak keberatan.”
Hening menyelimuti mereka berdua. Sin Yin menoleh dengan cepat, matanya membelalak tak percaya. “Tidak?”
“Jika sebutan itu membuatmu merasa aman dan nyaman di sampingku... maka aku sama sekali tidak keberatan,” lanjut Wang Long.
Wajah Sin Yin yang tadi memerah karena marah, kini benar-benar berubah menjadi semerah api senja. Ia tidak menyangka jawaban Wang Long akan seberani itu.
“Kau... kau ini benar-benar...!” Sin Yin kehilangan kata-kata dan hanya bisa memutar tubuhnya membelakangi Wang Long.
Di kejauhan, Lim Guan Yu memperhatikan interaksi mereka berdua dengan tatapan yang sulit diartikan, namun kipasnya kini bergerak lebih cepat.
Lim Guan Yu kembali mendekat setelah drama kecil itu usai.
“Tuan Wang, suasana di sini terlalu berdebu untuk bincang-bincang yang serius. Aku mengundangmu ke kediamanku di Rumah Saudagar Lim. Kita bisa berbicara dengan lebih nyaman di sana.”
Wang Long menjura dengan hormat, namun wajahnya tetap teguh. “Terima kasih banyak atas kehormatan ini, Nona Lim. Namun, penduduk desa ini masih banyak yang sakit dan butuh pertolongan. Aku tak bisa meninggalkan mereka hanya demi kenyamanan pribadi.”
Lim Guan Yu menatap Wang Long dalam-dalam, mencari kebohongan yang tidak ia temukan. “Kau benar-benar berbeda dari pejabat-pejabat serakah yang kupelihara selama ini, Tuan Wang.”
“Mungkin jika mereka sedikit saja berbeda, rakyat di utara ini tidak perlu menderita seperti sekarang,” balas Wang Long tenang.
Gerakan kipas Lim Guan Yu berhenti seketika. Sin Yin menyilangkan tangan dengan senyum puas yang menghiasi bibirnya. “Dengar itu? Dia tidak tertarik dengan kemewahanmu,” ucap Sin Yin bangga.
Lim Guan Yu hanya tersenyum samar, matanya berkilat penuh rencana. “Kita lihat saja nanti, Nona Sin. Waktu di gurun ini punya caranya sendiri untuk mengubah pendirian seseorang.”
💥💥💥💥💥💥💥💥💥💥💥💥
Sepanjang sisa hari itu, Wang Long benar-benar membuktikan ucapannya. Ia mengobati warga satu per satu menggunakan ilmu pengobatan yang diwariskan gurunya.
Wang Long mengalirkan hawa murni Naga Langit secara perlahan untuk membuka meridian yang tersumbat akibat racun dan kelelahan, sembari mencampur ramuan sederhana dari tanaman gurun yang ia temukan.
Sin Yin memperhatikannya dalam diam, ada rasa kagum yang tumbuh semakin dalam. “Kenapa kau tidak pernah memamerkan kemampuan sehebat ini sebelumnya?”
“Tak semua kekuatan besar harus digunakan untuk menghancurkan, Sin Yin. Terkadang, membangun kembali jauh lebih sulit daripada merobohkan,” jawab Wang Long bijak.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Brak!
Pintu kayu rumah tempat mereka berada didobrak kasar. Sekitar dua puluh orang berjubah hitam merangsek masuk. Di dada mereka terpampang lambang sebuah pohon besar dengan akar-akar hitam yang menjulur mengerikan.
“Wilayah ini di bawah perlindungan mutlak Kuil Dewa!” teriak pemimpin mereka, seorang pria bermata tajam. “Siapa pun yang mencampuri urusan rakyat tanpa izin tertulis dari Pendeta Besar, harus segera pergi atau mati!”
Yue Liang Shu langsung berdiri tegak, pedangnya sudah setengah tercabut. Sin Yin tersenyum dingin. “Lagi-lagi orang-orang bertopeng dan berjubah. Apa kalian tidak punya gaya lain?”
Wang Long berdiri perlahan, wajahnya tampak kecewa. “Aku hanya mengobati orang-orang yang hampir mati ini.”
“Itu bukan urusanmu, Pengembara!”
“Ketika rakyat dibiarkan mati kelaparan dan kesakitan, maka itu otomatis menjadi urusanku sebagai sesama manusia,” balas Wang Long dengan nada yang mulai memberat.
Pemimpin berjubah hitam itu mendengus sinis. “Bicaramu terlalu tinggi! Serang! Usir mereka dari desa ini!”
Dua Puluh Tarikan Napas
Dua puluh orang pengikut Kuil Dewa itu bergerak serentak dengan senjata terhunus. Wang Long melangkah maju ke depan Sin Yin dan Yue Liang Shu.
Tak ada ledakan aura yang menghancurkan bangunan, tak ada teriakan yang memekakkan telinga. Ia bergerak dengan kesederhanaan yang mematikan.
Telapak Pertama: Wang Long bergeser ringan, telapak tangannya menyentuh dada lawan. Orang itu terpental lima langkah dan langsung pingsan tanpa luka luar.
Siku Kedua: Ia memutar tubuh, sikunya menghantam ulu hati dua orang sekaligus yang terjatuh menabrak dinding kayu.
Putaran Kaki: Dengan satu putaran kaki yang rendah, tiga orang lainnya roboh bersamaan saat tulang kering mereka terhantam tenaga naga.
Sin Yin bahkan belum sempat menghunus pedangnya sepenuhnya ketika ia melihat gerakan Wang Long yang begitu efisien.
Dalam hitungan dua puluh tarikan napas saja—seluruh anggota Kuil Dewa itu sudah tergeletak di lantai. Mereka masih hidup, namun meridian mereka dikunci sementara sehingga tak mampu bangkit.
Wang Long menatap mereka dengan tatapan sedih. “Pergilah. Jangan ganggu rakyat yang sudah menderita ini lagi.”
Namun, pemandangan selanjutnya membuat Sin Yin dan Yue Liang Shu membeku.
Satu per satu, anggota berjubah hitam itu menggigit sesuatu di dalam mulut mereka dengan tatapan mata yang fanatik.
Retak.
Darah hitam kental mulai mengalir dari sudut bibir mereka.
“Apa—?!” Yue Liang Shu melompat maju untuk menahan salah satu dari mereka, namun terlambat. “Mereka bunuh diri!”
Tubuh-tubuh itu kejang sesaat dalam diam yang mengerikan, lalu tak bergerak lagi. Semuanya mati seketika.
Wang Long berlutut, memeriksa salah satu jenazah dengan tangan bergetar. “Ada kapsul racun yang disembunyikan di balik gigi geraham mereka... mereka sudah siap mati sejak awal.”
Sin Yin menggertakkan gigi, kemarahan membuncah di dadanya. “Mereka bahkan tidak diberi pilihan untuk tetap hidup. Organisasi macam apa ini?”
Yue Liang Shu berbisik pelan, wajahnya tampak sangat serius. “Kuil Dewa... mereka jauh lebih berbahaya dan fanatik daripada Partai Tengkorak Hitam. Mereka tidak takut mati demi keyakinan sesat mereka.”
Angin gurun kembali berembus, membawa debu tipis masuk ke dalam ruangan. Di kejauhan, dari atas balkon rumah besarnya, Lim Guan Yu berdiri tegak menatap ke arah desa. Matanya menyipit tajam, memperhatikan setiap detail kejadian.
“Sangat menarik... Bocah Naga ini punya kekuatan yang melampaui dugaanku,” gumam Lim Guan Yu pada dirinya sendiri.
Kembali di desa, Wang Long berdiri di tengah mayat-mayat itu dengan wajah yang terlalu tenang—ketenangan yang menandakan badai besar akan segera datang. “Kita sudah semakin dekat ke pusat sarang mereka, Sin Yin.”
Sin Yin menatap Wang Long, lalu menatap sekeliling. “Aku benar-benar tidak suka wilayah utara ini.”
Wang Long menoleh padanya, mencoba mencairkan suasana. “Kenapa? Kau takut dengan Kuil Dewa?”
Sin Yin mendengus, menyarungkan pedangnya dengan kasar. “Aku tidak takut pada mereka. Aku hanya tidak suka melihat ada wanita lain yang memanggilmu ‘Tuan’ dengan nada menggoda seperti tadi!”
Wang Long hampir saja tertawa mendengar kecemburuan Sin Yin yang meledak-ledak. Namun sebelum ia sempat menjawab, matanya menangkap sesuatu.
Di atas atap rumah kayu terdekat, sebuah bayangan hitam melintas secepat kilat. Seseorang telah mengawasi mereka sejak tadi. Dan kali ini, nampaknya bukan hanya satu kekuatan besar yang sedang mengincar nyawa Sang Naga di wilayah utara yang gersang ini.
Bersambung… 🐉