seorang anak kecil yang baru berusia 5tahun, ia ingin melakukan dendam akibat tantenya meninggal karna menyelamat kan nya. setelah ia beranjak remaja ia memulai melakukan dendam tersebut, dan rencananya ia akan bikin anak dari sang pembunuh jatuh cinta padanya dan meninggalkan nya. tetapi ia malah jatuh cinta pada gadis itu, dan siapa sangka ia tidak bisa melanjutkan balas dendam tersebut. tetapi karna permintaan sang mamah dan tidak akan membuat mamahnya kecewa ia akan melakukan balas dendam itu, walaupun harus merelakan orang yang ia cintai. namun ia tidak bisa untuk menyakiti hati orang yang ia cintai tapi apalah dayanya mamahnya selalu memaksa ia untuk melakukan balas dendam. dan ia semakin di buat bingung oleh keadaan, ia harus memilih salah satu ANTARA CINTA ATAU BALAS DENDAM.
penasaran sama ceritanya? sini dibacaa
jangan lupa follow dan vote di setiap bab nya ya gayss
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 | DICULIK
happy reading all
disisi lain, lebih tepatnya di perusahaan
baskara group. Afan sedang mengerjakan
dokumen dokumen yang sedang
menumpuk di atas meja kerja nya. lalu
ia tiba tiba berfikir, "kira kira Devi lagi
apa?" gumamnya pelan
afan mengambil ponselnya, hendak mau
menelfon Devi. tetapi ia teringat jika hari
ini, hari pertama Devi kuliah.
tiba tiba saja, sebuah fikiran Afan
melayang ke hal negatif tentang keadaan
Devi di kampus barunya.
apakah Devi punya teman baru atau tidak?
Devi nyaman gak ya di kampus itu?
Devi tidak di bully kan?
fikiran negatif itu, terus saja menyerang
otak Afan. hingga Afan sendiri jadi
bingung, ia ingin menyusul kesana, tetapi
masih ada banyak dokumen yang harus
ia kerjakan.
tanpa banyak berfikir lagi, Afan menekan
tombol telfon di nomor Devi. tetapi tak
kunjung di jawab oleh devi.
memanggil
tidak biasanya nomor devi tak aktif
seperti ini, fikiran Afan langsung kembali
ke hal negatif.
tinggal Afan sudah menelfon Devi
sebanyak beberapa kali, namun hasilnya
nihil. masih sama, tak di angkat oleh
orangnya.
Afan pun menghela nafas pelan,
"mungkin Devi sibuk, positif thinking aja
fann" gumamnya
Afan kembali mematikan ponselnya,
dan menaruh kembali ponsel itu di meja
depannya. lalu ia mencoba kembali
fokus mengerjakan dokumen dokumen
perusahaan, tetapi fokusnya sudah tak
terkendali. karna fikiran nya terus saja
sibuk memikirkan Devi, "bahkan gua
gabisa berhenti mikirin Lo dev. di saat
gua sibuk kek gini" gumam Afan
Devi dan Cantika, kini sedang berada
di kantin. setelah bermain games
tadi, senior akhirnya mengakhiri dan
mengizinkan mereka semua untuk pergi
ke kantin.
Devi dan Cantika, membawa nampan
berisi makanan dan minuman dari yang
ia pesan ke ibu kantin tadi. dan sekarang
mereka tengah celingak-celinguk,
mencari tempat duduk yang kosong. dan
akhirnya mereka menemukan tempat
di ujung kantin, tanpa berfikir panjang,
mereka langsung menuju ke sana.
baru mereka menaruh nampan berisi
makanan dan minuman itu, ada seorang
gadis yang menghampiri mereka. gadis
itu juga sedang membawa nampan yang
berisi makanan dan juga minuman, sama
seperti Devi dan Cantika.
gadis itu tersenyum hangat ke arah Devi
dan Cantika, "eh hai? gua boleh gabung
duduk disini?" tanya gadis itu
Devi dan Cantika langsung tersenyum
gembira, "bolehh kokk" jawab mereka
berdua barengan
lalu mereka duduk bertiga, dan memakan
makanan mereka masing masing. sambil
sedikit sesekali bercerita dan bercanda
gurau.
"eh nama Lo siapa?" tanya Devi di sela
sela makan nya
Cantika mengangguk, menyetujui tanya
nya Devi. "jadi kelupaan nanya nama Lo
sendiri perkara keasikan ngobrol kita
nya"
gadis itu menghentikan makan nya,
dan menatap Devi dan Cantika. lalu
tersenyum, "panggil aja gua Clare"
Devi dan Cantika mengangguk dan
tersenyum kembali ke arah Clare, "gua
Devi, dan ini Cantika"
clare menatap kedua nya, "ternyata
Cantika lebih tinggi dari kita"
"ya iyalahh, gua gitu lohh" jawab cantika
dengan bangga nya.
"dih you sinting?" tanya Devi tiba tiba
"gausah terlalu kepedean cann, gua bilang
gitu karna ya emang Lo tinggi sii" sahut
Clare
Devi mendengus, "eh tutor tinggi dong"
"2in" sahut Clare
"lah ngapa pada natap gua kek gitu
dah?" tanya cantika terheran heran
"tutor dongss" ucap Devi dan clare
barengan
"kapan kapan" jawab Cantika enteng
"dihh, apa apaan bangett Lo" Devi
memutar vola matanya malas di akhir
"wlee" Cantika menjulurkan lidahnya ke
arah Devi, mengejek.
"CANN!" kesal devi
pukul 15.00 sore, akhirnya ada bel pulang
berbunyi.
devi Cantika dan clare, mereka tengah
berpamitan satu sama lain.
"bye bye guyss, jangan kangen Ama
princess yahh" ucap Devi dengan
menyebut dirinya sebagai princess
"eh jangan kangen juga sama tuan putri"
ucap Clare ikutan
"apa bedanya tuan putri sama
princess?" tanya cantika
"gatau juga sii" jawab devi
"gua mah asal sebut aja" jawab Clare
"sama Clare, soalnya gelar princess tuh
cocok banget di gue, aww 🍊"
"dih Lo kenapa dev? waras?" tanya
cantika sambil pura pura bergidik ngeri
"dihhh" Devi memutar bola matanya
malas
"udah deh gua mo pulang duluan ya byee"
pamit Clare
"BYEE clareee" Devi dan Cantika
melambaikan tangan nya ke arah Clare,
dengan senyuman yang merekah.
"eh gua juga mau pulang, mau bareng
gak?" tawar Cantika
"boleh, yaudah ayo" jawab devi
mereka berdua pulang bareng.
sesampainya di rumah, "anyeonggg
BUNDAA AYAHH" teriak Devi
"udah kuliah masih aja sama kek anak
SMA" gumam Salma, mendengar teriakan
putrinya.
Devi masuk ke dalam rumah, dan tiba
tiba duduk di samping bundanya.
"bundaaa, aku punya teman baru taukk,
seru bangett" ucap Devi senang
"serius sayang? kamu betah kan kuliah
disitu?" tanya Salma
"betah dongg bunn, kan devia punya
temen yang asik"
"iya deh iya, kalo gak betah bilang sama
bunda dan ayah yaa?"
"siap bundaa"
lalu Devi bercerita panjang lebar,
mengenai hari pertamanya di kampus.
dan bagaimana ia bisa kenal Cantika dan
juga clare, Salma mendengar kan cerita
putrinya dengan seksama dan senyum
bahagia nya.
malam harinya, di atas ranjang king size
yang empuk itu. Devi sedang rebahan.
Dan ia baru ingat jika, ia dari tadi
belum mengaktifkan data handphone
nya. setelah ia nyalakan kembali, ada
beberapa rentetan pesan dan telfon dari
Afan.
"buset baru juga gak on setengah hari,
udah khawatir aja nih orang" gumam Devi
terheran heran
tiba tiba terlintas satu ide di kepala Devi,
"kerjain ahhh"
dev Lo gapapa kan?
Lo dimana dev?
Devi segera membalas pesan itu dan
mengerjai Afan.
maaf ini siapa? pemilik handphone ini
sedang mengalami tabrak lari
Devi cekikikan sendiri, melihat pesan itu
langsung di baca oleh Afan.
sepertinya, rencanannya akan berhasil.
"kerjain sekali sekali gapapa kalik yaa"
gumam Devi sembari terus menatap
ponselnya, yang tak kunjung di jawab
oleh Afan.
di dalam ruangan nya, Afan mematung. ia
terkejut dengan balasan pesan itu.
devi, jangan bercanda, gak lucu.
afan mengirim balasan pesan itu, dan
langsung ada balasan selanjutnya, yang
semakin membuat Afan gelisah dan tak
tenang.
iya beneran, tadi pemilik ponsel ini
mengalami tabrak lari. sekarang sedang di
rumah sakit.
hati Afan semakin tak tenang di buatnya,
Afan menelfon nomor Devi, dan langsung
di angkat olehnya.
suara tawa devi meledak begitu saja,
begitu panggilan telfon terhubung ke
Afan.
"devi?" gumam afan, yang masih bisa di
dengar oleh Devi.
"dev?" panggil Afan
"Lo percaya fann??" tanya Devi sambil
terus terus cekikikan
"devv, gak lucu bercanda nya. gua udah
khawatir sama Lo"
"hehe iya iya sorry, gua tadi lagi gabut aja
fann. jangan marah yaaa"
"kenapa nomor Lo dari tadi gak
aktif?" tanya Afan
"gua lupa nyalain data" jawab devi enteng
"oh ya hari pertama Lo di kampus
gimana?"
"SERUU BANGETTT" jawab devi
semangat
"gua punya dua temen baru taukk, sama
sama frekuensi" lanjut Devi
"oh ya fan hari pertama Lo di perusahaan
bokap Lo gimana?" tanya devi
"aman aman aja" jawab afan
"susah gak?" tanya Devi lagi
"gak terlalu"
"kerennn" puji Devi
"jelas lah, ceo muda gitu loh"
"dih, terlalu kepedean gak baik ya pak
ceo" ledek devi"iyaa dehh"
"eh fan udah dulu ya, gua pengen ke
minimarket. pengen beli camilan, tiba
tiba banget gua pengen beli camilan."
"mau gua anter gak?" tawar Afan
"gausah fan, lagian Deket kok"
"yaudah hati hati yaa"
"okee"
"jangan bercanda kek tadi lagi"
"iya iya, makanya jangan di anggap
serius"
Afan menghela nafas sabar, kalah sudah
jika ia sedang mengobrol dengan Devi.
"bye bye fann"
"bye juga"
panggilan di matikan, dari Devi.
"bundaaa, aku ke supermarket Deket sini
bentar yaaa" izin Devi ke bundanya
"malem malem gini dev?" tanya ayah
Fathir
"iya yah lagi pengenn" jawab devi
"yaudah hati hati dev" ucap bundanya
Devi hanya mengangguk, dan berjalan
keluar rumah.
sesampainya di supermarket, devi
langsung mengambil keranjang yang
sudah di sediakan. dan memilih berbagai
camilan yang ada, tak lupa juga ia
membeli coklat.
selesai memilih camilan, Devi langsung
menuju ke kasir dan membayar.
Devi keluar dari area supermarket, dan
berjalan menuju ke rumahnya kembali.
tetapi di tengah jalan, tiba tiba ada kelima
pria berbadan besar. dan rambutnya pada
gondrong gondrong, tengah menghadang
jalan Devi.
"malem malem gini sendirian aja nengg"
salah satu dari mereka berucap
Devi tak memperdulikan ucapan mereka,
ia hendak ingin melanjutkan langkahnya
namun di hadang lagi oleh yang satunya.
sehingga Devi sekarang benar-benar
terkepung.
"mau apa sih kalian sama gue?" tanya
Devi kesal
salah satunya maju ke depan, dan mau
memukul punggung Devi dengan kayu
yang ada di sekitar mereka.
dan itu membuat tubuh devi linglung
dan jatuh ke tanah, lalu salah satu dari
mereka mengambil sapu tangan. dan
menyemprotkan sesuatu ke sapu tangan
tersebut, lalu membekap hidung Devi
dengan sapu tangan itu.
Devi mencoba melepaskan diri namun
hasilnya nihil, pandangan nya mulai
buram dan berkunang kunang. lalu dalam
hitungan detik matanya tertutup, Devi
pingsan tak sadarkan diri.
lalu salah satu di antara mereka
membopong tubuh devi, dan
membawanya masuk ke dalam mobil. lalu
melakukan mobilnya pergi dari area ini.
di gudang yang waktu itu, Clarissa duduk
dengan santainya di kursi yang sudah di
sediakan khususnya.
ia menatap Devi di bawah yang masih
tak sadarkan diri, tangan dan kaki Devi
terikat oleh tali dan mulut Devi di lakban.
Clarissa tersenyum licik.
"gimana bos, berhasil kan?" tanya preman
tersebut
Clarissa mengangguk puas, tak sia sia ia
membayar mahal mereka.
"uang tambahan nya mana bos?" tanya
salah satunya
"lihat ke meja belakang kalian"
mereka berlima menoleh ke belakang,
dan menampaki segepok uang merah.
"makasih bos" jawab mereka serentak
"cewek ini, kalian bisa siksa dia, sepuas
kalian. tapi jangan sampai buat dia mati
dengan mudah. buat dia mengalami hal
yang sangat menyakitkan di hidupnya,
dan luka itu akan membekas di ingatan
dan fikiran nya. lalu dia depresi dan
mungkin bisa juga dia bakal jadi
trauma?" Clarissa berucap panjang lebar,
dan di akhiri senyuman miring nan licik.
"aman bos, serahkan saja pada kita."
Clarissa mengangguk
Devi perlahan membuka matanya,
Clarissa menyadari itu jika Devi akan
sadar.
ia tak panik, memang ini rencana
awalnya.
Devi menyesuaikan pandangan nya, dan
sekarang ia bisa melihat dengan jelas. di
hadapan nya, ada Clarissa yang tengah
berdiri dan kelima orang yang telah
menculik dirinya tadi.
"Clarissa?" gumam devi
"dah sadar dev?" tanya clarissa basa basi
"bagus deh kalo udah"
"Lo yang nyulik gue?!" emosi Devi
langsung meledak
"kalo iya kenapa?" sahut Clarissa enteng
"Lo gak puas apa? udah ambil Afan
dari gue!" emosi Devi semakin tak
terkendalikan, "sebenarnya mau Lo tuh
apa sih clar?!"
"Lo udah ngehancurin hubungan gue,
sekarang Lo culik gue?" tanya Devi
"Lo mau tau? apa maksud gua nyulik Lo
kesini?" tanya Clarissa
Clarissa berjongkok, tepat di hadapan
Devi, dan mengangkat dagu Devi dengan
jari telunjuk nya.
"alasan gua nyulik Lo kesini supaya Lo
gak bisa Deket sama Afan lagi Devi! dan
akan gagalin rencana gua dan keluarga
gua!" hardik Clarissa
"dan gak ada yang boleh dapetin Afan
selain gue! bukan Lo dan bukan orang
lain, dan itu hanya gue yang boleh milikin
afan."
"ngarep" Devi menghempaskan wajahnya
ke arah samping
Clarissa mengepalkan tangan nya, emosi.
lalu ia melayangkan tamparan yang
sangat keras ke arah pipi Devi, sebanyak
tiga kali.
"gua peringatin ke Lo! supaya Lo gak
berani macam macam ke gua" tegas
Clarissa
"Lo siapa gua? kok ngatur?" tanya devi
pipinya sekarang sudah memerah, akibat
tamparan Clarissa.
"kalo Lo gak nurutin ucapan gua! gua
gak bakal lepasin Lo dari sini, dan kalo lu
bakal nurut sama gua, gua bakal lepasin
Lo."
"Lo pikir gue bodoh? ya enggak lah"
"Devi Lo" Clarissa menunjuk devi, dengan
emosi yang memuncak.
"gua itu gak anak mama, gak kek lu. apa
apa mamaaa, apa apa pasti mamaa" ejek
devi
"Lo berani ngejek gue?"
"berani lah, kan sama sama manusia"
Clarissa berdiri dari jongkok nya,
dan mengambil gelas, lalu ia lempar
ke bawah. gelas itu pecah, Clarissa
mengambil pecahan gelas itu. lalu ia
menatap ke arah pecahan tersebut
dan menatap Devi dengan senyuman
miringnya.
"bagaimana jika pecahan gelas ini akan
menancap di wajah cantik Lo?" tanya
Clarissa dengan senyum licik
"sepertinya, itu akan buat Lo jadi gak
akan sesempurna ini. Dan gua yakin,
Afan pasti gak akan cinta sama Lo lagi."
Devi terdiam, tetapi ia tak takut.
Clarissa mendekat ke arah Devi, dan
kembali jongkok. lalu menggores kan
pecahan kaca itu ke lengan devi, sebagai
permulaan. darah segar mulai keluar,
Devi meringis pelan. merasakan lengan
nya serasa perih.
"bagaimana dev? sakit? nyerah atau mau
disini?"
"gua gak bakal nyerah kek gitu aja clar!"
Clarissa yang sudah emosi, ia langsung
menggores ke bagian leher Devi.
"CLARISSA!" teriak devi
"Lo bakal mati Devi. mati."