NovelToon NovelToon
A MotoGP Rebirth Story

A MotoGP Rebirth Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat / Kelahiran kembali menjadi kuat / TimeTravel
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: meylisa

Michael Chandra Dinata adalah keajaiban yang lahir dari keterbatasan. Berasal dari Indonesia, dibesarkan oleh seorang ibu tunggal dalam kemiskinan, ia menembus batas yang dianggap mustahil—menjadi satu-satunya pembalap Asia Tenggara yang berhasil bertahan di kerasnya dunia MotoGP, di era ketika nama-nama besar seperti Valentino Rossi masih merajai lintasan. Balapan adalah hidupnya, satu-satunya cara untuk bertahan, satu-satunya tempat di mana ia merasa utuh.

Namun pada usia dua puluh tujuh tahun, di sebuah balapan yang seharusnya menjadi titik balik kariernya, Michael mengalami kecelakaan fatal. Aspal yang selama ini ia cintai merenggut nyawanya—dan segalanya berakhir di sana.

Atau begitulah yang ia kira.

Michael terbangun kembali di dunia lain, dalam tubuh seorang pemuda Inggris bernama Julian Ashford—anak tunggal dari keluarga konglomerat kelas dunia. Kaya raya, dicintai kedua orang tuanya, dan dikelilingi kemewahan yang tak pernah ia miliki sebelumnya. (bagus sinopsis lama:)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meylisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SAAT DUNIA MULAI MENARIKMU KE ARAH BERBEDA

CHAPTER 17

Tidak ada pengumuman besar saat Julian kembali ke paddock.

Tidak ada kamera menunggu.

Tidak ada headline sensasional.

Hanya satu nama di daftar peserta.

Julian Ashford — fit to race.

Ia berjalan masuk garasi dengan langkah yang sama seperti sebelumnya, tapi ada sesuatu yang berubah. Cara ia menatap motor. Cara ia menyentuh setang. Tidak ada rasa lapar berlebihan—yang ada hanya fokus yang tenang.

Marco memperhatikannya dari kejauhan.

“Bagaimana bahumu?” tanya Marco.

Julian memutar bahunya pelan. “Tidak sempurna. Tapi jujur.”

Marco tersenyum. “Itu jawaban yang tepat.”

Sesi latihan bebas pertama dimulai.

Julian keluar pit lane tanpa target waktu. Ia tidak mengejar sektor hijau. Ia mengejar rasa.

Motor Moto2 itu masih berat. Masih kasar. Tapi sekarang, Julian tidak lagi mencoba mengendalikannya dengan tangan saja.

Ia menggunakan tubuh sebagai jangkar.

Masuk tikungan, ia menekan paha ke tangki, membiarkan inti tubuh menahan deselerasi. Bahunya tidak lagi jadi titik tumpu utama. Saat pengereman keras, ia memanfaatkan engine braking + rear brake tipis—kombinasi yang menstabilkan motor tanpa membebani bahu kanan.

Hasilnya?

Motor terasa… patuh.

Bukan cepat.

Tapi selaras.

Di pit wall, Clara—kembali dengan headset analis—melihat grafik telemetri.

“Input remnya lebih konsisten,” katanya. “Dan lihat ini—sudut rebahnya turun dua derajat, tapi kecepatan keluar tikungan naik.”

Marco mengangguk. “Dia tidak lagi memaksa sudut. Dia memaksa alur.”

Julian kembali ke pit.

Wajahnya tidak menunjukkan euforia. Hanya anggukan kecil.

“Bagaimana?” tanya mekanik.

Julian membuka helm. “Aku bisa bicara dengan motor ini sekarang.”

Kualifikasi datang.

Tekanan kembali terasa—tapi berbeda.

Julian tahu ia belum siap bertarung untuk pole. Dan itu tidak apa-apa.

Ia fokus pada satu hal: clean lap.

Satu lap tanpa koreksi.

Tanpa over-commit.

Ia masuk tikungan dengan pendekatan slow-in, fast-out yang ekstrem—lebih lambat di masuk, tapi membuka gas lebih awal dengan motor lebih tegak.

Teknik ini membuat waktu lap-nya tidak mencolok…

tapi konsisten.

Posisi start: P9.

Bukan depan.

Bukan belakang.

Tempat yang aman untuk membaca balapan.

Malam sebelum balapan, Julian duduk di balkon hotel.

Clara mengirim pesan.

Besok aku di pit wall. Tapi hari ini… kau baik-baik saja?

Julian mengetik lama, lalu menjawab.

Iya. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa dikejar apa pun.

Balasan datang cepat.

Bagus. Kalau begitu, balapan besok bukan tentang membuktikan. Tapi tentang menikmati.

Julian tersenyum kecil.

Ia menutup ponsel.

Hari balapan.

Cuaca cerah. Grip tinggi. Kondisi ideal—tapi justru berbahaya bagi pembalap yang terlalu percaya diri.

Start dimulai.

Julian melesat bersih, menjaga motor tetap stabil di tengah rombongan padat. Di Moto2, lap pertama adalah soal selamat.

Ia kehilangan satu posisi.

Lalu mengambilnya kembali.

Tidak panik.

Lap ke-5.

Julian mulai menemukan ritme.

Ia membaca gaya balap pembalap di depannya—cara mereka masuk tikungan, cara mereka keluar. Ia tidak menyalip sembarangan.

Ia menunggu kesalahan struktural, bukan emosional.

Satu pembalap terlalu sering mengunci ban depan di pengereman pendek.

Julian menunggu satu lap.

Di lap berikutnya, ia masuk tikungan dengan jalur lebih lebar, menjaga kecepatan masuk, dan memotong exit.

Satu posisi naik.

Lap ke-9.

Tubuh Julian diuji.

Bahu kanan terasa tegang—tapi tidak sakit.

Ia menyesuaikan.

Lebih banyak counter-steering halus, bukan tekanan kasar. Ia membiarkan motor jatuh ke sudut secara alami, bukan dipaksa.

Di tikungan cepat, ia mengurangi koreksi mikro—gerakan kecil yang sering menguras energi.

Teknik ini terlihat lambat…

tapi menghemat stamina.

Masuk 5 lap terakhir, Julian berada di posisi 6.

Penonton mulai menyadari.

Komentator menyebut namanya lagi—bukan sebagai “juara Moto3”, tapi sebagai “pembalap yang naik perlahan tapi pasti”.

Di pit wall, Clara mengepalkan tangan kecil.

“Dia kembali,” gumamnya.

Lap terakhir.

Julian melihat peluang.

Pembalap di depannya mulai kehilangan traksi di exit tikungan terakhir. Ban mereka habis. Gas dibuka terlalu hati-hati.

Julian masuk tikungan dengan sabar.

Ia tidak mengejar sudut maksimum.

Ia mengejar akselerasi paling bersih.

Keluar tikungan, motornya lebih tegak.

Gas penuh.

Ia melewati satu pembalap tepat sebelum garis finis.

Posisi P5.

Julian melintas garis finis dan… tertawa kecil di dalam helm.

Bukan karena hasil.

Tapi karena tubuhnya masih utuh.

Di parc fermé, Marco menepuk pundaknya—hati-hati di bahu kanan.

“Itu balapan paling dewasa yang pernah kau jalani.”

Julian mengangguk. “Aku akhirnya mengerti… cepat itu bukan soal seberapa keras. Tapi seberapa lama kau bisa konsisten.”

Clara menghampiri.

“Kau kelihatan… ringan,” katanya.

Julian menatapnya, tersenyum.

“Mungkin karena sekarang aku punya lebih dari satu hal untuk dijaga.”

Malam itu, Julian kembali ke hotel tanpa pesta.

Ia makan malam sederhana. Meregangkan bahu. Mengirim pesan ke rumah.

Lalu duduk di tepi ranjang, memandang helmnya.

Moto2 masih panjang.

Tantangan masih banyak.

Rival masih menunggu.

Tapi sekarang, Julian Ashford tidak lagi hanya pembalap yang cepat.

Ia adalah pembalap yang tahu kapan menekan, kapan melepas.

Dan di dunia balap…

itu adalah kombinasi paling berbahaya.

.

.

.

CHAPTER 18

Popularitas tidak datang dengan suara keras.

Ia datang lewat perubahan kecil.

Julian menyadarinya bukan dari headline, tapi dari hal sepele—jumlah orang yang menoleh saat ia berjalan di paddock, jeda sepersekian detik sebelum orang menjawab pertanyaannya, cara kamera linger sedikit lebih lama ketika ia lewat.

Ia tidak menang.

Tapi ia diperhatikan.

Dan di dunia Moto2…

itu sering kali lebih berbahaya.

Artikel pertama muncul dua hari setelah balapan.

“Comeback Dewasa Julian Ashford — Apakah Ini Awal Kebangkitan?”

Julian membaca judulnya tanpa emosi.

Artikel kedua lebih tajam.

“Gaya Baru, Kepala Baru: Ashford Bukan Rookie Biasa.”

Marco meletakkan tablet di meja. “Media mulai membentuk narasi.”

Julian mengangkat alis. “Narasi apa?”

Marco menatapnya. “Bahwa kau siap naik.”

Julian tidak langsung menjawab.

Naik… ke mana?

Di luar balap, hidupnya juga bergerak pelan.

Sore itu, Julian dan Clara duduk di kafe kecil dekat kampus. Tidak ada pembahasan data, tidak ada grafik. Hanya kopi, hujan tipis di luar jendela, dan suasana yang nyaman tanpa usaha.

“Kau berubah sejak cedera,” kata Clara sambil mengaduk minumnya.

“Ke arah yang lebih baik?” tanya Julian.

“Ke arah yang lebih… hadir.”

Julian tersenyum. “Aku dulu selalu hidup di lima lap ke depan.”

“Sekarang?”

“Sekarang aku bisa duduk di sini tanpa merasa bersalah.”

Clara menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Itu langka buat pembalap.”

Julian tidak menjawab.

Ia hanya menyadari… ia tidak ingin momen ini cepat berlalu.

Tekanan media meningkat.

Wawancara datang lebih sering. Pertanyaan mulai menusuk.

“Apakah Julian Ashford menahan diri demi kontrak besar?”

“Apakah Moto2 hanya batu loncatan baginya?”

“Seberapa dekat Ashford dengan tim pabrikan?”

Julian menjawab sopan. Netral. Aman.

Tapi dunia tidak puas dengan jawaban aman.

Undangan itu datang tanpa banyak basa-basi.

Satu pertemuan.

Satu ruangan tertutup.

Satu nama besar.

Tim papan atas Moto2—dengan jalur langsung ke MotoGP—ingin berbicara.

Marco duduk di seberangnya saat tawaran itu dijelaskan.

Kontrak menggiurkan.

Motor terbaik.

Teknisi kelas dunia.

Tapi ada satu kalimat yang membuat Julian diam.

“Kami ingin Julian… lebih agresif. Lebih menjual.”

Julian menautkan jari.

“Menjual bagaimana?”

Perwakilan tim tersenyum profesional. “Gaya balap yang lebih menyerang. Rivalitas yang jelas. Narasi yang kuat.”

Dengan kata lain:

bukan hanya pembalap—

tapi produk.

Malam itu, Julian tidak langsung pulang.

Ia berjalan tanpa tujuan, sampai akhirnya duduk di taman kampus yang sama tempat ia dan Clara pernah berbincang.

Clara datang beberapa menit kemudian. Seolah tahu.

“Kau kelihatan berat,” katanya.

Julian menghela napas panjang. “Aku ditawari jalan cepat.”

“Dan?”

“Dan jalannya tidak sepenuhnya milikku.”

Clara terdiam, lalu bertanya, “Kau takut kehilangan apa?”

Julian menatap lampu taman.

“Arah.”

Ia menceritakan semuanya.

Tentang tawaran.

Tentang ekspektasi.

Tentang rasa takut kembali menjadi orang yang memaksa dirinya sendiri demi hasil.

Clara mendengarkan tanpa memotong.

Setelah lama, ia berkata, “Kau tahu kenapa aku suka bicara denganmu?”

Julian menoleh.

“Karena kau tidak berlomba saat sedang diam.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi menghantam tepat.

Julian pulang malam itu dengan pikiran lebih jernih.

Ia membuka laptop. Membaca ulang kontrak. Membaca ulang klausul.

Lalu menutupnya.

Ia tidak menolak.

Tapi ia juga tidak menerima.

Belum.

Beberapa hari kemudian, di lintasan latihan, Julian kembali naik motor.

Ia melaju dengan gaya yang sama seperti comeback-nya—tenang, presisi, efisien.

Beberapa orang di paddock memperhatikan.

“Dia bisa lebih cepat,” kata seseorang.

“Ya,” jawab yang lain. “Tapi dia memilih tidak.”

Dan itu… membuat banyak orang penasaran.

Julian berhenti di pit, melepas helm.

Clara menatapnya dari balik pit wall.

Mata mereka bertemu.

Tidak ada janji.

Tidak ada label.

Tapi ada pemahaman diam-diam:

apa pun yang Julian pilih nanti, ia tidak sendirian.

Dunia mulai menarik Julian Ashford ke berbagai arah.

Karier.

Citra.

Kecepatan.

Tapi untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan…

Julian tidak terburu-buru memilih.

Karena ia tahu sekarang:

yang paling berharga bukan seberapa cepat ia naik.

Tapi siapa dirinya saat sampai di atas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!