NovelToon NovelToon
Membawa Lari Benih Sang Mafia

Membawa Lari Benih Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Anak Genius / Romansa / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:6.8M
Nilai: 5
Nama Author: Senja

🏆 JUARA YAAW PERIODE 3 2025 🏆

Elise, seorang gadis keturunan bangsawan kaya, hidupnya terikat pada aturan keluarga. Untuk mendapatkan harta warisan, ia diwajibkan menikah dan segera melahirkan keturunan. Namun Elise menolak. Baginya, pernikahan hanyalah belenggu, dan ia ingin memiliki seorang anak tanpa harus menyerahkan diri pada suami yang dipaksakan.
Keputusan nekat membawanya ke luar negeri, ke sebuah laboratorium ternama yang menawarkan program bayi tabung. Ia pikir segalanya akan berjalan sesuai rencana—hingga sebuah kesalahan fatal terjadi. Benih yang dimasukkan ke rahimnya ternyata bukan milik donor anonim, melainkan milik Diego Frederick, mafia paling berkuasa dan kejam di Italia.
Ketika Diego mengetahui benihnya dicuri dan kini tengah berkembang dalam tubuh seorang wanita misterius, murka pun meledak. Baginya, tak ada yang boleh menyentuh atau memiliki warisannya.

Apakah Elise berhasil melarikan diri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18

Elise mondar-mandir di dalam kamar. Ia gelisah dan terus menatap wajahnya di cermin.

Tompel penyamarannya lenyap. Stok tempelan yang biasa ia gunakan pun habis.

Panik, Elise menepuk pipinya pelan, berharap wajahnya tampak berbeda tanpa harus menimbulkan curiga.

Tiba-tiba, suara ketukan di pintu membuat jantungnya hampir melompat dari tempatnya.

“Nona, aku masuk!” ucap Diego terdengar dari luar.

Belum sempat Elise menjawab, gagang pintu sudah berputar. Cepat-cepat ia meraih handuk mandi dan menutup sebagian wajahnya.

“Silakan masuk, Tuan,” ucapnya terbata.

Begitu pintu terbuka, Diego berhenti di ambang pintu. Tatapannya langsung tertuju pada Elise yang berdiri hanya dengan handuk melilit tubuh dan satu lagi menutupi sebagian wajahnya.

Matanya sempat membulat, tapi segera berubah datar kembali.

“Kenapa kau belum berganti pakaian?” tanyanya sambil menutup pintu dan menguncinya dari dalam.

Elise menelan ludah, lalu tersenyum canggung di balik handuk.

“Saya... ketiduran di bathtub, Tuan. Terlalu nyaman berendam, jadi tidak sadar waktu,” jawab Elise.

Diego menyilangkan tangan di dada. “Ketiduran? Di air?” alisnya terangkat. “Luar biasa.”

Elise hanya nyengir kikuk.

Tapi perhatian Diego lalu tertuju pada handuk yang menutupi wajah Elise.

“Kenapa menutupi wajahmu seperti itu?” tanyanya curiga.

“Oh, ini?” Elise menunjuk handuk di wajahnya, buru-buru mencari alasan. “Saya... flu. Terlalu lama berendam membuat hidung saya tersumbat.”

“Flu?” Diego mengulang dengan nada heran. “Kau tidak biasa berendam?”

Elise menggeleng. “Tidak, Tuan. Di rumah saya dulu tidak ada bathtub.”

Diego berdecak pelan. “Astaga. Norak sekali kau ini. Masa tidak punya bathtub?”

Elise mencebik, tapi tak berani membalas. Dalam hati ia mendengus. Tentu saja tidak punya.

Dulu, setiap hari ia dan Alex hanya mandi dengan air dingin dari ember. Tapi ia biarkan saja komentar pedas pria ini lewat begitu saja.

Diego mendekat. Refleks Elise mundur selangkah, memeluk handuk di tubuhnya erat-erat.

“Jangan terlalu dekat, nanti anda tertular flu,” katanya gugup.

Tapi Diego tidak berhenti. Ia mengambil handuk kering lain dari atas meja dan berkata datar, “Duduk!”

Elise menatapnya bingung. “Tuan?”

“Kubilang duduk. Rambutmu masih basah. Kalau kau benar-benar flu, itu bisa bertambah parah.”

Mau tidak mau, Elise menuruti. Ia duduk di tepi ranjang, dan Diego ikut duduk di sebelahnya.

Pria itu mulai mengeringkan rambut Elise dengan perlahan. Setiap sentuhannya membuat Elise kaku seperti patung.

“Kalau sedang flu, seharusnya kau tidak keramas,” gumam Diego tanpa menatapnya.

Elise hanya mengangguk kecil. Jantungnya berdebar hebat. Ini pertama kalinya ia berada sedekat ini dengan pria. Terlebih dengan pria seperti Diego.

Setelah beberapa saat, Diego berhenti. Ia menatap wajah Elise yang masih tertutup sebagian handuk itu.

“Nama,” ucapnya tiba-tiba.

Elise mengerjap, tidak paham. “Maaf, Tuan?”

“Namamu,” ulang Diego. “Selama ini aku bingung harus memanggilmu apa. Aku bahkan belum tahu siapa kau sebenarnya.”

Elise menunduk. “Nama saya Elise, Tuan.”

Diego terdiam. Pandangannya mengeras sesaat. Nama itu terasa familiar di ingatannya.

Elise adalah mama wanita yang disebut-sebut membawa kabur benihnya.

Senyum tipis terlukis di bibirnya. “Elise, ya?” gumamnya pelan.

Namun, logikanya menolak.

“Tidak mungkin! Elise yang mengandung benihku adalah wanita cantik dengan wajah sempurna. Bukan perempuan polos dengan gaya bicara canggung dan penampilan aneh seperti ini.” batin Diego.

Suasana mendadak sunyi. Elise bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Ia ingin segera bangkit dan menjaga jarak, tapi tubuhnya seperti tak mau bergerak.

Saat akhirnya ia berdiri, kaki Elise terpeleset oleh ujung karpet. Ia terhuyung dan jatuh tepat ke arah Diego.

“Aw!” serunya spontan.

Diego yang refleks menahan tubuh Elise ikut terjatuh ke atas ranjang. Posisi mereka membuat mata mereka saling bertemu. Pandangan mereka terkunci dan waktu seolah berhenti.

Elise bisa merasakan hembusan napas Diego yang menerpa matanya.

Di sisi lain, Diego mendapati dirinya tidak mampu mengalihkan pandangan. Di balik handuk yang menutupi wajah Elise, ada sorot mata yang entah kenapa terasa lembut dan menenangkan.

Tangan Diego perlahan terangkat, hendak menyingkirkan handuk itu. Namun sebelum sempat menyentuhnya—

Tok! Tok! Tok!

“Diego! Buka pintunya!” suara nyaring Jenifer terdengar dari luar kamar.

“Sial!” umpat Diego.

Elise buru-buru bangkit dengan wajah memerah menahan malu. Ia menunduk dan pura-pura merapikan handuknya.

Sementara Diego berdiri sambil menekan pangkal hidungnya dengan jengkel.

“Perempuan itu... selalu datang di waktu yang tidak tepat.”

Tok! Tok!

“Diego! Aku tahu kau di dalam! Kenapa kau kunci pintunya, hah?” teriak Jenifer lagi.

Diego menatap Elise. “Jangan bicara apapun,” ucapnya singkat, kemudian berjalan ke arah pintu.

Sebelum Diego sempat membuka pintu, Elise berkata, “Tuan, terima kasih sudah mengeringkan rambut saya.”

Diego menoleh. Sekilas, senyum tipis menghiasi wajahnya. Bukan senyum ramah, tapi cukup untuk membuat Elise membeku di tempat.

“Lain kali, jangan sampai aku menemukanmu ketiduran di air lagi. Aku tidak ingin menjelaskan pada Alex kenapa ibunya mati konyol di bathtub,” ujarnya datar.

Elise menyandarkan tubuh ke dinding dan menatap bayangan dirinya di cermin.

“Nyaris saja. Mulai sekarang, aku harus lebih berhati-hati,” bisiknya pelan sambil bernafas lega.

Dan di balik pintu yang kini tertutup separuh, suara pertengkaran antara Diego dan Jenifer mulai terdengar.

1
adisty aulia
Alur ceritanya selalu bagus..🌺🌺🌺🌺
adisty aulia
Alur ceritanya selalu bagus..🌺🌺🌺🌺
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
bagus ceritanya 👍👍👍👏👏👏😘😘😘
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
happy ending 🤗🤗
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
ngakak bet ah 😂😂😂
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Leana jd putri kesayangan Alex dan Leonard 🤗🤗
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
hrsnya Kaylin umurnya lbh muda dr si kembar kok ini malah sama umurnya sama si kembar
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
randomnya kalian 😂😂
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
jngn lebay deh Diego 😏😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
ortunya Theo keterlaluan
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
apa ada kongkang likong keluarga Theo
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
pd rebutan
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
kasihan Jennifer dn Theo bayinya meninggal
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
kejutan buat Diego
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Diego ngidamnya lama sampai mau lahiran msh ngidam 😏😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
terlalu lebay deh kl lakuin hubungan suami istri di setiap tempat dan tak kenal waktu dan gak th malu walau sdh bnyk yg liat mereka gituan 😏😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
kasihan Alex matanya sdh ternoda😏😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
nyesel pun gak guna Jonathan
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Diego jd berhati hello Kitty 😂😂
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Alex nasehatinnya damage banget 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!