NovelToon NovelToon
Fattah Possessive Badboy

Fattah Possessive Badboy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kapten cantik

DI LARANG MENJIPLAK CERITA INI!!!

"Jangan pernah berpikir buat bisa keluar dari dunia gue! Kalau sampai lo nekat kabur, berantakan hidup lo.

Ngerti?"

"Who are you? Siapa lo berani ngancam gue?"

"Kalau lo nggak amnesia, gue suami lo sekarang. Gue cuma mau lo nurut. Gampang, kan?"
_____________________________________

Fattah Andara Fernandez-badboy utama SMA Taruna Jaya Prawira yang memegang bidak king. Di kenal kasar dengan karisma menindas.

Fattah memiliki segalanya. Membuat dia dengan mudah mengikat sesuatu dan menghancurkan apapun yang dia mau.

Kecuali satu...

Aqqela Calista.

Karena pembalasan dendam atas kematian Sandrina -kekasihnya, ayah Aqqela tewas. Tidak puas, Fattah justru menarik Aqqela dan menjeratnya dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan.

Membawa Aqqela ke Jakarta Selatan dan meninggalkan segalanya di Jakarta Pusat termasuk Oliver Glenn Roberts-pacarnya sekaligus musuh Fattah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kapten cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Bersama Kamu

TOK TOK TOK!!!

"Fattah, elo masih hidup nggak di dalam?" serunya mengetuk pintu.

Karena tak kunjung ada jawaban, Aqqela memilih memutar knop pintu dan melongok kecil ke dalam.

"Fattah!" panggilnya pada Fattah yang sudah tertidur pulas di karpet bersama PS-nya dan banyak sekali bungkus snack berserakan.

Aqqela ternganga, "Pantesan snack di dapur sama kulkas habis semua, orang di umpetin sama dia."

Aqqela mendengus dan berjongkok di sebelah cowok itu.

"Fattah!" serunya mengguncang lengan Fattah.

Cowok itu malah mengeratkan pelukannya pada guling.

"He, bangun nggak?" Ancam Aqqela menekan-nekan pipi Fattah dengan jari telunjuknya, "Gue laper."

Aqqela melengos sebal karena Fattah tetap tidur.

"Lo nggak mau bangun? Ya udah, nggak usah kalau gitu."

Aqqela ingin beranjak, tapi menjerit kaget saat tangannya di tarik Fattah kencang, membuat gadis itu terjatuh ke dada Fattah hingga wajah keduanya berhadapan.

Aqqela tersentak. Untuk sesaat, dia kehilangan satu tarikan napasnya, saat ujung hidung keduanya bersentuhan samar. Terlebih ketika mata coklat madu milik Fattah berhasil mengunci matanya, dengan jarak teramat dekat.

"Langsung cium aja, nggak usah di lihatin mulu!" katanya serak sambil merengkuh pinggang gadis itu.

Aqqela melotot dan menarik tubuhnya ke belakang kaget, "Emang rese lo, ya!"

Fattah mendecih, kemudian duduk.

"Mau apa?"

"Gue laper. Beli makan, kuy!"

"Jam 11 gini?" pekiknya dan kembali merebahkan tubuhnya, "Ogah. Sana balik kamar!"

"Yah Fat..." Aqqela menggeram sebal, sambil menarik-narik lengannya, "Gue lapar banget."

Fattah malah memejamkan mata, "Tahan aja sampai besok. Gue ngantuk."

Aqqela mendengus, "Elo tuh emang suami jahat," hardiknya sambil beranjak.

Fattah mendelik kecil, "Ya nggak usah ngambek gitu, dong!" katanya sewot sambil berdiri meraih dompet dan menyusulnya.

"Pengen makan apa?" tanyanya menghampiri Aqqela yang melengos ke dapur.

"Nggak usah, nggak jadi. Mau bikin susu aja." Aqqela membuka kulkas mengambil air.

"Marah ya, sayangku? Sedih deh, di cuekin gini." Fattah langsung merangkul pundaknya dan mengguncang gemas tubuhnya.

Aqqela mendelik, "Elo kenapa? Merinding gue," katanya bergidik geli.

Fattah mendengus, "Elo gue baikin merinding, gue kasarin kabur."

Aqqela terkekeh pelan.

"Ayo!" ajaknya meraih tangan Aqqela dan membawanya keluar.

"Ikhlas nggak?" tanya Aqqela.

"Ikhlas," jawabnya datar.

"Ikhlas masa datar? Ngamok?"

Fattah menoleh dan tersenyum lebar, "Nih-nih, senyum nih, senyum," pamernya.

"Elo nggak boleh marah! Ini kan kewajiban lo jadi suami kasih gue makan," kata Aqqela saat keduanya keluar dari unit apartemen.

"Gue tau."

Aqqela menipiskan bibir, melirik Fattah yang memencet tombol lift, "Kesel ya sama gue?"

"Enggak," kata Fattah sambil memasuki lift.

"Nggak bete gue bangunin malam-malam?" tanyanya sambil melirik pergelangan tangannya yang di genggam Fattah.

"Enggak, Aza."

"Tuh kan, jawab lo aja kayak gitu. Biasanya nge-gas sewot, tapi ini kalem. Pasti elo marah."

Fattah menarik pipi Aqqela gregetan, "Enggak marah."

Aqqela jadi tersenyum, "Kita mau beli apa?"

tanyanya sambil melangkah keluar dari lift, "Yang deket aja."

"Kalau yang deket, ya warung di jalan sebelah sana. Masuk gang."

Aqqela merekah, "Boleh. Ada apa aja?"

"Banyak. Tinggal lo mau apa? Nasi goreng?

Bakso? Ah...atau sate mau?"

"Mau banget." Aqqela mengangguk riang.

"Yee, giliran makanan aja cepet," ledek Fattah tertawa kecil sambil mengacak-acak poni gadis itu.

Aqqela meringis lebar, dan tanpa sadar membiarkan tangan Fattah turun-menautkan jari-jemari mereka dan membawanya keluar dari lobby apartemen.

***

"Lo yakin nggak mau makan? Enak tau."

Fattah menggeleng, "Lo aja. Gue kenyang lihat lo makan."

"Bilang aja lo lagi pengiritan."

"Weis, sorry? Duit bokap gue nggak habis tujuh turunan."

Aqqela mendelik, mengendus bau-bau sombong cowok ini, "Coba satu, deh! Di jamin nggak akan nyesel."

Fattah menatap sate itu dengan tak yakin.

"Ini bersih, kok. Aman, kasta sultan lo nggak akan turun cuma karena makan sate ginian doang."

Fattah membuka mulutnya ragu, membuat Aqqela menyuapinya.

Aqqela terkekeh melihat Fattah

memejamkan mata saat mengunyah sate itu, lalu matanya terbuka seakan ada efek, 'cling'.

"Eh, kok enak banget, ya?" tanyanya merebut piring Aqqela.

Aqqela mendelik, "Apaan sih? Punya gua," kesalnya jadi melotot, "Beli sendiri sana!"

"Nggak, ah. Males nunggunya."

Aqqela mendengus dan memasukkan satu tusuk sate ke mulut Fattah lagi, membuat cowok itu senang.

"Udah? Mau nambah lagi nggak?" Fattah berdiri hendak membayar.

"Nggak usah." Aqqela meneguk teh-nya.

"Ayo pulang!"

Keduanya melangkah di jalanan gang yang lebar menuju ke jalan raya besar.

"Eh, ada jagung bakar." Aqqela merekah dan langsung ngacir ke sana, "Pak, mau dua, ya!"

Fattah cuma bisa ternganga. Walau diam-diam, dia merogoh sakunya mencari HP.

Fattah: Jef, anjir. Ini gue lagi jalan sama Aqqela.

Jefan: Ya terus masalahnya sama gue apa???

???

Fattah: Anjing!

Fattah: Kan gue udah ngomong sama lo mau perbaiki hubungan gue sama Aqqela.

Jefan: Intinya, jangan kasar, bos! Lembut aja!

Tadi udah bahas apa aja?

Fattah: Bahas sate.

Jefan: NJING.

Fattah: Lo berani ngatain gue?

Jefan: HMMMMMM:")

Jefan: Selain sate, bahas apa?

Fattah: Nggak tau anjir, lupa.

Jefan: Elo naksir banget, Fatt? Sampai salting gini?

Fattah: Gue nggak salting. Gue cuma mau memulai semuanya dari yang benar.

Jefan: Halah kambing. Udah lah, pelan-pelan aja! Aqqela bakalan luluh kalau lo baik-baikin. Mulai semuanya dari minta maaf dan akui kesalahan.

"Fattah!" panggil Aqqela membuat Fattah terlonjak.

"Y-ya? Kenapa?" Dia mendekat.

"Bayar!" suruhnya tanpa dosa sambil memakan jagung bakarnya.

"Berapa, pak?"

"Dua puluh ribu, den."

Fattah langsung merogoh saku dan mengeluarkan dompetnya untuk membayar.

"Mau nggak? Gue beli dua."

"Beli dua apa? Itu gue yang bayar." Fattah jadi sewot, sementara Aqqela menyudahi makannya dan lanjut berjalan.

"Sok banget anjir, bala-bala bayarin dua biji jagung doang. Eh, sekolah apa kabar, ya? Gila, gue murid baru udah bolos banyak banget."

Fattah melirik, "Pak Bondan udah nggak sabar mau cambuk lo katanya."

Aqqela mencuatkan bibir, "Nggak usah nakutin gitu, deh."

Fattah menggigit bibir sambil menggerakkan bola mata gelisah.

"Aza!"

"Hm?" Aqqela menoleh.

Fattah mengusap pangkal hidungnya, "Gue mau minta maaf!"

"Kemarin kan udah?"

"Kali ini buat semuanya. Sorry..." Fattah menipiskan bibir, "Pertemuan kita udah toxic sejak awal. Jadi gue pengen minta maaf! Mungkin pertemuan kita lebih banyak ngerugiin elo."

Aqqela melebarkan mata samar dan mengangguk, "Oke."

Fattah melihat HP-nya lagi.

Fattah: Gue minta maaf dan dia jawab oke.

Terus gimana? Jae, gue deg-degan :(

Jefan: Sedih gue punya temen kayak tempe ---

basi.

Jefan: Tanyain, udah makan belum? Basa-

Fattah menoleh, "Udah makan?"

"Hah?" Aqqela mendelik bingung, "Kan barusan makan sate sama lo."

Jefan mukamu kayak babi!

Fattah meruntuk karena bisa-bisanya dia lupa.

"Maksud gue...mau beli makan lagi nggak? Mumpung masih di luar," katanya ngeles.

"Oh, enggak." Aqqela menggeleng.

Fattah merunduk melihat HP-nya lagi.

Fattah: SETAN, BIKIN MALU AJA LO. DIA HABIS MAKAN SATE SAMA GUE, NGAPAIN GUE TANYA LAGI?

Jefan: Lah, kan nggak tau :(

Fattah: Gue tanya Noel aja, lah. Nggak guna lo.

Jefan: Sat^

Fattah mengetikkan chat ke Noel yang jago soal cewek dan mengatakan tujuannya.

Noel fast respon.

Noel: Intinya ya bos, harus stay cool! Jangan gugup! Masa bos geng gugup?

Fattah: Cepetan, gue harus ngomong apaan? Gue mumpung lagi jalan kaki sama dia.

Noel: Tanyain, "Elo capek nggak jalan kaki?"

Fattah menoleh, "Ca, nggak capek jalan kaki terus dari tadi?"

"Hm?" Aqqela menggeleng, "Enggak, kok. Udah biasa."

"Oh..." Fattah manggut-manggut dan buru-buru melihat ponselnya, membuat Aqqela mengeryit aneh.

Fattah: Udah biasa katanya. Apalagi?

Noel: "Kalau capek, mau aku gendong nggak?"

Fattah: GILA LO!

"Lo kenapa, sih?" tanya Aqqela membuat Fattah tersentak dan buru-buru memasukkan ponselnya ke saku celana.

"H-hah? Oh, enggak. Itu, anak basket bahas soal turnamen lusa."

"Oh." Aqqela mengangguk-angguk.

"Eh ya, kemarin Mattew sama Catu habis nonton film baru masa."

"Masa? Film apa? Ikatan Dakjal the movie?"

Fattah mengumpat sepenuhnya, "Bukan. Film biopik gitu, lagi rame. Cowok-cowok kelas gue pada ngajak ceweknya. Mau nonton nggak?"

"Kenapa lo ngajak gue?"

Aduh, Fattah bingung mau jawab apa.

Dia merogoh sakunya.

Fattah: Gue ajak dia nonton, tapi dia nanya kenapa gue ajak dia? Gue jawab apaan?

Noel: Bilang aja, elo dapat gratis dua tiket nonton dari promo Coca-Cola.

Fattah: Entar di sangka nggak modal.

Noel: Ya udah, bilang aja karena kepo film-

Fattah: Gue nggak kepo, biasa aja.

Noel: Ya udah, bilang aja mau ngajak Noel, tapi dia sibuk -_-

Fattah: Kenapa harus elo?

Noel: YA TUHANNNN!

"Fat, elo tipes, ya? Di tanyain jawabnya lama banget," omel Aqqela.

"Ya...gue penasaran, makanya pengen ajak elo. Kan gue nggak punya pacar, punyanya istri," jawabnya tenang.

Aqqela memicingkan mata, "Boleh, deh."

"Beneran?" tanya Fattah kaget, membuat Aqqela mengangguk.

"Besok, kan?"

Fattah mengangguk sambil mengulum senyum.

"Sekalian main ke time zone, boleh?" pinta Aqqela.

Fattah mendelik, "Gue cuma nraktir elo nonton, bukan main di time zone."

"Pelit lo."

"Bodo."

Aqqela yang malas berdebat, memilih mencibir doang.

"Takdir kadang itu lucu, ya? Gue masih nggak nyangka ketemu Fattah Fernandez di hidup gue," katanya sambil menoleh.

"Kenapa? Lo nggak suka ketemu gue?" tanyanya datar.

"Entahlah. Harusnya gue pengen selalu benci sama lo, karena elo dan bokap lo, jadi penyebab papa bunuh diri. Tapi rasanya, gue emang harus berdamai sama keadaan. Karena papa di sini lebih salah."

Fattah menatapnya dengan kerlipan berubah.

Aqqela menggigit bibir sambil menelan ludah samar, "Mungkin ini udah telat. Tapi gue mau minta maaf atas nama bokap gue."

Fattah mengatupkan bibir diam.

"Gara-gara papa...elo jadi kehilangan Sandrina buat selamanya."

Fattah mendesah berat dan mengangguk pelan, "Iya, nggak papa. Tapi bukan gue pembunuh bokap lo."

"Iya, tau. Oh ya, Sandrina itu cinta pertama lo, ya?"

Fattah mengangguk, "Gue ketemu dia di SMP."

"Ah...gitu?" Aqqela mengangguk pelan, "Pantesan lo se-sayang itu."

"Kenapa?"

"Karena kata orang... first love, neverdie. Cinta pertama, nggak akan pernah mati."

"Menurut lo gitu?"

"Nggak tau." Aqqela mengendihkan bahunya.

Fattah tersenyum samar, "Menurut gue enggak, kok."

"Hm?"

"Kalau cinta pertama nggak pernah mati, berarti gue nggak di kasih kesempatan buat sayang orang baru dong? Jadi gue nggak mau."

"Kenapa nggak mau?"

"Emang lo mau, gue sayang Sandrina terus? Kalau gue sih nggak mau nyakitin istri gue."

Aqqela mendelik curiga dan memicingkan mata, "Ck, dah gue duga lo tuh sebenarnya udah naksir sama gue. Ye, kan? Sok nggak mau nyakitin hati istri," sindirnya.

"Pede," sinis Fattah, "Eh, kalau Oliver, cinta pertama lo juga, ya?"

Aqqela diam sebentar.

Kemudian mengangguk pelan, membuat raut wajah Fattah langsung murung, "Oh."

Keduanya masih melangkah bersama di gang kecil tadi.

"Kok kayaknya kita nggak sampai-sampai, ya? Pegel juga."

Fattah melirik, "Apa? Lo ngode minta di gendong? Nggak mau."

"Idih?" Aqqela mendelik, "Lo kira gue sudi di gendong sama lo? Kagak."

"Bagus deh, lo tau diri."

Aqqela ternganga, "Sumpah ya, ada gitu orang se-ngeselin elo gini?"

"Biarin."

"Heran gue, kenapa Sandrina mau sama cowok siluman kayak lo?"

"Halah, gini-gini juga lo mau nikah sama gue." Fattah tersenyum sinis.

"HA HA di paksa keadaan." Aqqela tertawa sarkas.

"HA HA, yang penting kan sah," balas Fattah tak mau kalah.

Aqqela mendengus, "Kenapa sih hih, gue harus nikah sama lo? Apa karena gue temenan sama Jolina jadinya ketempelan sial mulu?"

Fattah mendelik, dan dengan kesal memiting leher gadis itu dengan lengannya membuat Aqqela meronta-ronta sambil tertawa.

"Gue juga, ya. Kenapa gue harus nikah sama cewek nyebelin kayak lo."

"Fattah, lepasin!" Aqqela meronta kegelian dan memukuli punggungnya.

"Apa? Apa? Nggak denger."

Keduanya masih sibuk bergulat di sana dengan Fattah menyeringai puas.

"Lepas! Gue nggak bisa napas."

"Minta maaf dulu! Fattah yang ganteng, gue minta maaf! Ayo bilang!"

"Ogah. Nggak mau."

"Kenapa?"

"Lo jelek soalnya."

"Enak aja," protes Fattah, "Gue ganteng."

Aqqela melirik aneh, "Jelek. Udah lepasin!"

Fattah mencebikkan bibirnya dan mengalah.

"Ck, sakit leher gue," kata Aqqela mendorong sebal muka Fattah dengan telapak tangannya.

Cowok itu malah tertawa tanpa dosa, walau ekspresinya kini berubah serius lagi.

"Aza!"

"Apa?" balas Aqqela masih kesal.

"Gue sekarang udah mulai sadar, kalau gue dari awal maksa elo buat sama gue."

Aqqela menoleh sepenuhnya, "Ya?"

Fattah menggigit bibir, "Gue nggak mau maksa lo lagi. Jadi, elo maunya gimana?"

Aqqela terdiam dan tertegun, "Elo mau lepas gue jadi istri lo?"

"Nggak lah, gila lo." Fattah langsung memprotes kesal, "Enak aja."

"Lah, terus?"

"Katanya lo pinter? Masa gini aja nanya?"

"Serius!" Aqqela melotot.

"Gue pengennya kita damai dan jadi suami istri

Fattah mendelik melihat Aqqela menyilangkan kedua tangannya di dada, sambil menatapnya horor.

"Maksud gue nggak gitu. Mesum ya otak lo," decak Fattah kesal.

"Terus apa?"

"Gue pengen kita mulai semuanya dari awal sebelum kenal. Anggap aja semua yang kita lewati belum pernah terjadi. Jangan berniat buat pergi atau minta cerai-cerai gitu! Gue nggak suka dengernya."

Aqqela tertegun begitu saja dan menatap Fattah dengan kerlipan berubah.

"Gue tetep maksa lo jadi istri gue, karena itu mutlak, nggak bisa di ganggu gugat."

"Kenapa lo segitu pengennya jadi suami gue?" tanya Aqqela polos.

Fattah mendelik lagi, "Nggak usah kepedean! Walaupun bandel, gue nggak suka main-main sama pernikahan. Lagian, gue Fattah Fernandez. Gue bakalan ngikat sesuatu yang gue suka, dan ngehancurin apapun yang gue mau."

"Kalau gue? Lo pengen ikat dan ngehancurin gue di waktu bersamaan?"

"Awalnya gitu. Tapi sekarang enggak."

"Kenapa?"

Fattah mendengus jengkel, "Jangan buat gue bingung. Karena gue sendiri nggak tau jawabannya."

Mereka saling berpandangan sekarang.

"Saat gue udah ikat lo jadi istri gue, semua jadi aneh. Gue seneng karena akhirnya nggak sendirian lagi, gue ada temennya sekarang. Gue seneng berdebat sama lo, gue suka senyum-senyum nggak jelas karena berhasil bikin lo kesel. Gue juga marah lihat lo sama Oliver karena gue ngerasa elo udah milik gue."

Fattah menggigit bibir, "Kata papi, kalau gue ngerasain itu, berarti gue normal. Karena cuma suami bodoh aja yang biarin istrinya jalan sama cowok lain."

Aqqela mengangkat sebelah alis dan tetap diam.

"Oh."

"OH?" Fattah ternganga sepenuhnya.

"Udah kan ngomongnya? Ayo pulang!"

"Lo..." Fattah hampir mengumpat saat melihat Aqqela melangkah pergi menjauh darinya.

"Elo serius nggak mau ngomong apapun?" tanyanya geram, "Ya udah, gini aja terus..." gerutunya ngambek.

Fattah benar-benar frustasi menghadapi Natusa.

"Udah malam, Ka. Ayo balik!" Aqqela berbalik badan melihatnya.

Dari jarak 3 meter, Fattah menatap Aqqela sengit.

"Gue ngomong panjang lebar seenggaknya lo jawab sedikit aja, bukan kayak gini," katanya langsung marah-marah.

"Intinya yang mau lo omongin itu apa?" tanya Aqqela dewasa.

"Gue nggak mau cerai dan gue nggak mau lo pergi lagi. Kurang jelas?" tanya Fattah benar-benar kesal.

"Gue kan nggak bilang mau cerai."

Fattah menatapnya sinis, "Tapi kemarin lo ngajak cerai," protesnya naik pitam.

"Tapi kan hari ini gue nggak bilang gitu lagi, ya berarti kita masih bareng-bareng."

Fattah mati-matian menggigit bibir bawahnya, menahan senyum dan hampir meledak girang. Tapi dia mencoba stay cool.

"Elo nggak pengen meluk gue? Nggak dosa kok peluk suami sendiri."

Aqqela malah menahan tawanya dan menjulingkan sebelah matanya meledek.

"Tinggal bilang udah sayang aja kok susah banget," ejek Aqqela membuat Fattah mendelik jengkel.

"Sorry? Mbaknya nggak usah percaya diri."

"Mau di peluk nggak?" tanya Aqqela mengangkat alis.

Fattah mengangguk, "Mau."

Aqqela tertawa pelan, "Tangkap dulu baru bisa peluk!" katanya dan berlari kabur, membuat Fattah berkacak pinggang.

"Aza!" serunya lantang.

Aqqela menoleh lagi, "Apa?"

"Mulai hari ini, jangan terlalu benci gue.

Emang lo nggak tau, di novel, cerita yang kayak gini udah ketebak ending-nya. Elo yang terlalu benci gue, elo yang akan cinta mati di akhir cerita."

"Oh, ya? Buktiin dong, kalau lo bisa bikin gue jatuh cinta," kata Aqqela meremehkan.

Fattah merunduk dengan kedua sudut bibirnya reflek tertarik ke atas membentuk senyuman.

"Wah, ngeremehin ya lo!" Fattah langsung berlari mengejar, membuat Aqqela memekik dan langsung kabur.

Aqqela tertawa juga menjerit histeris saat Fattah berhasil menangkap tubuhnya dan di gendong dengan kedua tangannya.

Aqqela menjerit panik, "Fattah gila, turunin gue!" katanya menggeplak bahu cowok itu.

Fattah yang mendongak, melihat Aqqela yang lagi dia gendong malah tertawa puas.

"Gue banting, mantul nggak?"

"Awas lo ya, berani banting gue! Gue laporin ke pak Bondan," ancam Aqqela dengan kedua tangan menumpu di kedua bahu Fattah.

"Bodo amat. Pak Bondan mana mau ngurusin murid baru bandel, yang langsung bolos seminggu?" ledeknya balik membuat Aqqela mencuatkan bibir.

"Turunin nggak?!"

"Kalau nggak mau?" kata Fattah iseng.

Aqqela mengerutkan kening berpikir, "Gue bakalan-"

"Bakalan ap-AGHRRR!" umpatnya saat rambutnya di remas tiba-tiba oleh Aqqela dengan gadis itu melompat turun sambil kabur.

"Yang duluan sampai gapura dia pemenangnya!" teriak Aqqela sambil melesat cepat meninggalkan Fattah yang mendelik dan spontan mengejar.

Aqqela menoleh ke belakang, "YANG KALAH ANAKNYA MONYET!"

Fattah mengumpat seketika, "Elo curang anjir," omel Fattah.

Aqqela tertawa meledek, "Kan nggak-"

BUKKKK!

Fattah membelalak saat melihat melihat Aqqela sudah tersuruk dan nyungsep dengan sempurna.

Fattah tertawa puas, "Karmanya langsung instan ya, pakai kurir si cepat."

Aqqela mengumpat pelan, merasa di ledek begitu.

Setelah puas menertawai, Fattah baru mendekat.

"Aw!" ringis Aqqela merasakan lutut dan sikunya berdenyut sakit.

"Siapa yang suruh lari-larian?" omel Fattah berjongkok di depannya, membuat Aqqela merenggut, "Sakit nggak?"

"Namanya jatuh ya sakit," kesal Aqqela melihat lututnya yang sudah berdarah.

"Mau nambah lagi nggak?" tanyanya membuat Aqqela melotot, "Makanya jangan kebanyakan tingkah!"

Aqqela mendengus dan membuang muka kesal. Tapi terkejut saat Fattah sudah berjongkok memunggunginya.

"Mau ngapain lo?"

"Ayo naik!" suruhnya meraih lengan Aqqela.

"Gue berat, loh."

"Lo kurus. Nggak usah sok semok!"

Aqqela membelalak dan menabok punggung Fattah sebal, sebelum akhirnya naik ke punggung cowok itu sambil merintih.

Fattah langsung berdiri dengan tangannya ke belakang lutut Aqqela memperbaiki gendongan.

Cowok itu tersenyum begitu saja.

"Pegangan yang bener!" kata Fattah merasa Aqqela hanya memegang bahunya pakai tangan, tidak benar-benar memeluknya.

"Nanti dada gue nyentuh punggung lo. Udah gini aja, bawel."

"Ok-eh-eh awas, pesawatnya mau oleng."

Fattah dengan sengaja oleng ke samping, seakan ingin menjatuhkan Aqqela, membuat gadis itu tersentak dan reflek memeluk lehernya erat.

"Eit, satu kosong," kata Fattah terkekeh puas.

"Gue jambak ya lo!" kata Aqqela geram, walau begitu, dia tetap memeluk leher Fattah takut cowok ini iseng lagi.

Aqqela mengeratkan dekapannya pada leher Ryshaka, membuat cowok itu menoleh, merasakan pipinya dan pipi Aqqela bersentuhan samar.

"Ca, lo mau denger sesuatu nggak?"

"Apa?"

"AQQELAA, HABIS INI JADI ISTRI YANG BAIK, YA!" teriak Fattah lantang sambil mendongak ke langit membuat Aqqela membelalak.

"Dih?" Aqqela tertawa lepas.

"Jawab dong!"

Aqqela menarik napas panjang, lalu menaruh satu tangan mendekat ke mulutnya, "NGGAK MAU, SOALNYA LO PALING JELEK SEDUNIA," teriaknya lantang.

Fattah mendelik dan menoleh sengit ke Aqqela, membuat gadis itu tertawa lepas sambil memeluk leher Fattah lagi.

"Eh, kita mulai dari awal, yuk!"

"Gimana?"

"Hai, nama lo siapa? Kalau gue Fattah Fernandez," katanya sok cool.

Aqqela langsung tersenyum-senyum, "Gue Aqqela Calista. Senang bertemu dengan anda! Mohon bapak, buat kerja samanya, ya!"

Fattah mengalihkan wajah dan jadi tersenyum begitu saja.

Senyum malu.

Keduanya mengobrol dan tertawa bersama sampai tiba di apartemen.

Fattah merogoh sakunya melihat HP.

Noel: Bos, gimana? Masih butuh ilmu nggak?

Fattah: NGGAK JADI, UDAH BASI.

Noel: Huft:(

***

1
Amanda Safira
Mirip cerita Natusa&Rhysaka di pf sebelah kak, Aku termasuk followers penulisnya 😂
Langit Biru
kamu terinspirasi dari sinet agz ya? semangat menulis nya, ntar kalau udh tamat aku kemari lagi😍
Kapten Cantik: Terima kasih kk suportnya🙏😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!