(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 2)
Setelah menaklukkan Laut Selatan dan membawa Long Tian ke Ranah Inti Emas, Han Luo menuju Kekaisaran Pusat untuk Turnamen Raja Laut. Di sana, ia mendeteksi potongan Pedang Darah Iblis lain yang dipegang oleh monster Ranah Jiwa Baru Lahir yang juga mengincar Mata Iblis Es.
Turnamen Raja Laut tahun ini akan sangat meriah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puing-Puing Arena
Debu dan asap masih mengepul dari kawah raksasa yang dulunya adalah Arena Bawah Tanah Sekte Iblis Langit. Bau daging terbakar dan ozon menyengat hidung.
Di tribun VIP, kepanikan mulai mereda, digantikan oleh ketegangan yang menyesakkan dada. Para elit sekte menatap ke bawah, tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka saksikan.
Putra Suci mereka, harapan masa depan sekte, telah hancur berkeping-keping akibat Penyimpangan Qi yang ekstrem.
Ketua Sekte Iblis Langit, yang sedari tadi duduk diam di balik tirai manik-maniknya, akhirnya berdiri. Perlahan, tirai itu disibakkan. Wajah aslinya terlihat—seorang pria paruh baya dengan aura membunuh yang begitu kental hingga udara di sekitarnya terasa berat. Matanya, semerah darah segar, menatap tajam ke arah kawah.
"Turun," perintahnya singkat, namun suaranya bergema di seluruh arena, menggetarkan gendang telinga.
Para Tetua dan Penegak Hukum segera melompat turun dari tribun, mendarat di atas sisa-sisa lantai arena yang hancur. Mereka membentuk lingkaran, mengamankan area.
Di dasar kawah, Su Qingxue masih terkapar, terbatuk darah. Kepompong bayangannya telah hancur, dan gaun sutra hitamnya robek di banyak tempat. Dia mencoba untuk bangkit, namun organ dalamnya terasa seperti diaduk-aduk. Ledakan dari Jiwa Baru Lahir Awal dalam jarak dekat bukanlah sesuatu yang bisa ditahan tanpa luka serius.
Ketua Sekte melayang turun dan mendarat tepat di depan Su Qingxue.
"Jelaskan," perintah Ketua Sekte, suaranya sedingin es.
Su Qingxue mendongak, matanya berkaca-kaca (sebagian karena rasa sakit, sebagian akting). Dia tahu situasinya sangat buruk. Semua orang melihat Xue Mochen meledak saat bertarung melawannya.
"K-Ketua Sekte... saya tidak tahu," Su Qingxue berkata dengan suara bergetar. "Dia... dia tiba-tiba melepaskan seluruh Qi-nya, mencoba membunuhku dengan satu serangan. Lalu... dia meledak."
"Dia meledak karena Penyimpangan Qi," seorang Tetua Pemeriksa (yang ahli dalam spiritual) mendekat, memeriksa sisa-sisa daging dan darah Xue Mochen. "Aura di sini sangat kacau. Ada jejak benturan antara Qi Api dan Qi Es yang ekstrem di dalam tubuhnya."
Tetua itu menoleh ke arah tribun VIP, tempat Han Luo (Tabib Qiu) pura-pura pingsan.
"Tapi... Tabib Qiu bilang dia sudah menyembuhkannya! Tabib itu bahkan meyakinkan kita bahwa transisi elemennya sudah sempurna!"
Ketua Sekte menatap tajam ke arah Han Luo. "Bawa Tabib itu kemari."
Dua Penegak Hukum segera melompat ke tribun VIP, mengangkat tubuh Han Luo (yang dengan lihai membuat napasnya tersengal-sengal dan membiarkan sedikit darah menetes dari luka buatan di dahinya), dan membawanya turun ke arena.
Han Luo didudukkan dengan kasar di atas batu puing. Dia membuka matanya perlahan, memasang ekspresi bingung dan ketakutan yang luar biasa.
"A-Apa yang terjadi? Tuan Muda Xue... di mana dia?" Han Luo bertanya dengan suara gemetar, matanya berpura-pura mencari ke sekeliling kawah.
"Dia mati," jawab Ketua Sekte dingin. "Meledak karena Penyimpangan Qi. Dan kau... kau bilang kau sudah menyembuhkannya."
"S-Saya memang sudah menyembuhkannya!" Han Luo membela diri dengan panik. "Semua orang melihatnya pagi ini! Dia berlatih dengan sempurna! Saya sudah memperingatkan Tetua Mo Wu, saya sudah memberitahunya agar Tuan Muda tidak memaksakan diri melampaui batas!"
"Lalu kenapa dia meledak?!" bentak seorang Tetua faksi Xue Mochen, mencabut pedangnya. "Kau pasti meracuninya!"
Han Luo menatap Tetua itu dengan pandangan memelas. "Racun? Periksa sisa-sisa darahnya! Apakah ada jejak racun yang saya berikan? Metode saya murni akupunktur dan pengaturan Qi!"
Tetua Pemeriksa menggeleng pelan. "Tidak ada jejak racun luar di darahnya. Ledakannya murni karena tabrakan Qi di dalam dantian-nya."
"Tentu saja!" Han Luo melanjutkan aktingnya, suaranya sedikit meninggi. "Saya sudah membuatkan 'katup keseimbangan' di meridiannya. Selama dia tidak menarik 100% Qi-nya secara bersamaan, dia akan aman. Tapi dia... dia dibutakan oleh ambisi untuk menang! Dia memecahkan katup itu sendiri!"
Han Luo menoleh ke arah Su Qingxue.
"Dan... Nona Suci..." Han Luo menunjuk Su Qingxue dengan jari gemetar. "Dia... dia yang memprovokasinya! Dia menyudutkan Tuan Muda Xue, memaksanya menggunakan seluruh kekuatannya! Nona Suci sengaja memancingnya melewati batas!"
Su Qingxue membelalakkan matanya. Jantungnya berdetak kencang. ‘Bajingan tua ini! Dia memutarbalikkan fakta!’
"Itu bohong!" teriak Su Qingxue, mencoba berdiri. "Dia yang menyerangku duluan dengan niat membunuh! Aku hanya bertahan!"
"Bertahan?!" Han Luo membalas dengan nada yang lebih keras, penuh keyakinan palsu. "Semua orang di sini melihatnya! Nona Suci menggunakan sihir bayangan yang aneh, membuat Tuan Muda Xue frustrasi! Dan..."
Han Luo berhenti sejenak, membiarkan keheningan menggantung, lalu menjatuhkan bomnya.
"...dan tepat sebelum Tuan Muda meledak, aku merasakan fluktuasi aneh dari Nona Suci. Semacam... resonansi iblis yang mengganggu konsentrasi Tuan Muda Xue."
Itu adalah kebohongan yang sangat spesifik dan mematikan. Han Luo tahu persis apa yang dia katakan. Dia menuduh Su Qingxue menggunakan teknik iblis terlarang untuk memicu Penyimpangan Qi Xue Mochen.
Dan bagi para Tetua faksi Xue Mochen yang sedang mencari kambing hitam, tuduhan itu sangat masuk akal.
"Kau berani menuduhku?!" Su Qingxue murka. Dia mengeluarkan belatinya.
"Tahan dia!" perintah Ketua Sekte.
Dua Penegak Hukum tingkat Jiwa Baru Lahir Awal segera menekan Su Qingxue ke tanah, melucuti senjatanya, dan menyegel meridiannya.
"Ketua Sekte! Anda tidak bisa percaya pada tabib tua yang tidak jelas asal-usulnya ini!" Su Qingxue memberontak. "Dia yang menanam ledakan itu di tubuh Xue Mochen!"
"Tabib ini," Ketua Sekte berjalan mendekati Su Qingxue, matanya dingin, "Telah menyelamatkan pewaris Klan Ye dan membuktikan kemampuannya. Dia tidak punya motif untuk membunuh Mochen. Tapi kau..."
Ketua Sekte mencengkeram dagu Su Qingxue dengan keras.
"Kau punya motif yang sangat jelas, Qingxue. Takhta."
Su Qingxue menggigit bibirnya hingga berdarah. Dia menyadari posisinya. Han Luo telah menjebaknya dengan sangat rapi. Dia, Su Qingxue, baru saja dikalahkan dalam permainannya sendiri oleh pria tua bangka (yang sebenarnya adalah iblis yang sama yang menipunya di masa lalu).
Han Luo, di balik topeng ketakutannya, tersenyum sinis.
Skakmat.
"Kurung dia di Penjara Es Abadi," perintah Ketua Sekte. "Kita akan menginterogasinya setelah pemakaman Mochen."
Su Qingxue diseret pergi. Matanya menatap Han Luo dengan kebencian murni, menjanjikan balas dendam. Han Luo hanya membalas tatapan itu dengan wajah memelas dan ketakutan yang dibuat-buat, namun di dalam matanya yang abu-abu, tersirat sebuah pesan:
Belajarlah dari ini, Nona Suci.
Ketua Sekte berbalik menghadap Han Luo.
"Tabib Qiu. Kami akan menyelidiki kematian Mochen lebih lanjut. Untuk sementara, kau akan menjadi tamu kehormatan kami. Jangan tinggalkan area sekte."
Itu bukan undangan. Itu adalah tahanan rumah mewah.
"Baik, Ketua Sekte," Han Luo membungkuk hormat. "Saya hanya seorang tabib tua. Saya akan mematuhi aturan Anda."
Han Luo dibawa kembali ke kamar tamunya oleh para penjaga.
Begitu pintu ditutup dan dia sendirian, postur bungkuk dan ketakutannya menguap seketika. Dia berjalan ke jendela, melihat ke arah penjara es di kejauhan.
"Satu saingan (Xue Mochen) mati. Satu sekutu paksa (Su Qingxue) dipenjara. Dan aku... aku sekarang punya akses penuh ke sumber daya sekte ini selama mereka 'mengawasiku'."
tpi gw demen....