NovelToon NovelToon
Senja Di Ruang Kelas

Senja Di Ruang Kelas

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Laila Kim

Mengangkat sudut pandang unik dari perspektif guru yang terjebak dalam hubungan dengan dua murid sekaligus, mempertanyakan apakah dirinya korban atau pemangsa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika masa Lalu Datang Kembali

Dua tahun telah berlalu sejak pernikahan Ima dengan Ustadz Rahmat. Hidup berjalan dengan ritmenya masing-masing. Rizky semakin menikmati kesendiriannya, meskipun sesekali ia merasa ada yang kosong di hatinya. Kirana kini berusia 9 tahun, semakin cantik dan cerdas. Sasha dan Doni dikaruniai anak kedua, seorang laki-laki yang mereka beri nama Bima.

Wira dan Laras juga baik-baik saja. Setelah melewati badai dalam rumah tangga mereka, hubungan keduanya justru semakin kuat. Mereka rutin menjalani konseling pernikahan dan belajar menjadi pasangan yang lebih baik. Rakha tumbuh menjadi anak yang penyayang, dekat dengan Laras maupun Ima, ibu kandungnya.

Ima sendiri menjalani hidupnya dengan tenang di pesantren. Ustadz Rahmat adalah suami yang baik, sabar, dan penuh pengertian. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan yang lucu, diberi nama Aisyah. Ima merasa hidupnya kini lengkap, meskipun kadang bayang-bayang masa lalu masih sesekali datang menghampiri.

Namun, takdir selalu punya cara untuk mempertemukan kembali orang-orang yang pernah terikat oleh masa lalu.

---

Suatu sore, Rizky menerima telepon dari Wira. Suaranya terdengar berbeda—tegang, cemas, seperti ada yang disembunyikan.

"Zky, lo bisa ke Balikpapan?" tanya Wira tanpa basa-basi.

Rizky yang sedang duduk di kantornya langsung waspada. "Ada apa lagi, Ra? Lo sama Laras baik-baik aja kan?"

"Baik. Bukan kami." Wira diam sejenak. "Ini tentang Ima."

Rizky merasa dadanya berdesir. "Ima kenapa?"

"Suaminya... Ustadz Rahmat... meninggal."

Dunia Rizky serasa berhenti sejenak. "Apa? Meninggal? Karena apa?"

"Serangan jantung. Seminggu yang lalu." Suara Wira bergetar. "Ima hancur, Zky. Gue nggak pernah lihat dia sesedih ini. Bahkan waktu cerai sama gue dulu, nggak sehancur ini."

Rizky diam. Pikirannya melayang pada Ima, pada perempuan yang pernah sangat ia cintai, yang kini harus kehilangan suami yang baru membawanya pada kebahagiaan.

"Lo bisa ke sini?" tanya Wira lagi. "Gue nggak tahu harus ngomong apa ke dia. Mungkin lo bisa... entahlah."

Rizky menghela napas panjang. "Gue usahain, Ra. Cari tiket dulu."

---

Dua hari kemudian, Rizky tiba di Balikpapan. Wira menjemputnya di bandara dengan wajah lelah.

"Makasih udah datang, Zky."

"Gimana keadaan Ima?"

Wira menggeleng. "Nggak baik. Dia nggak mau makan, nggak mau ketemu siapa-siapa. Cuma ngurung diri di kamar. Aisyah dititipin ke tetangga."

Rizky merasa hatinya perih. Ima, yang dulu begitu kuat, begitu penuh semangat, kini hancur lebur.

Mereka langsung menuju rumah Ima—bukan rumah lamanya, tapi rumah baru di kompleks pesantren. Sederhana, bersih, dengan taman kecil di depan. Tapi sekarang terasa sepi, dingin, tanpa nyawa.

Wira mengetuk pintu. Tak ada jawaban. Ia mencoba membuka pintu, ternyata tidak dikunci.

"Ma, ini aku, Wira. Sama Rizky. Boleh masuk?"

Hening. Lalu suara lirih dari dalam, "Masuk."

Mereka masuk. Rumah itu gelap, tirai tertutup rapat. Di ruang tamu, Ima duduk di sofa dengan tatapan kosong. Ia mengenakan daster lusuh, rambutnya tak tertutup hijab—sesuatu yang tak pernah Rizky lihat sebelumnya. Wajahnya pucat, mata bengkak, bibir kering.

"Ima..." panggil Rizky pelan.

Ima menatapnya. Matanya kosong, tak ada cahaya. "Kamu datang, Rizky. Buat apa?"

Rizky duduk di sampingnya, menjaga jarak. "Aku denger kabar. Turut berduka, Ima."

Ima tertawa getir. "Berduka. Iya. Ima lagi berduka." Air matanya jatuh. "Rahmat... dia baik, Rizky. Sangat baik. Dia nerima Ima apa adanya, dengan segala dosa masa lalu. Dia bikin Ima bahagia. Dan sekarang... dia pergi."

Rizky meraih tangannya. "Ima, aku tahu ini berat. Tapi kamu harus kuat."

"Buat apa kuat?" Ima menarik tangannya. "Buat apa? Semua orang yang Ima sayang selalu pergi. Orang tua Ima pergi. Rakha direbut. Kamu... kamu pergi. Sekarang Rahmat juga pergi. Ima tinggal sendiri."

"Ima, kamu nggak sendiri. Ada Wira, ada Laras, ada Rakha, ada Aisyah. Ada... aku."

Ima menatapnya. "Kamu? Kamu ada buat Ima?"

Rizky mengangguk. "Aku ada."

Ima menangis tersedu-sedu. Rizky memeluknya, membiarkan Ima menangis di dadanya. Wira diam di pojok ruangan, menunduk, ikut menangis.

---

Hari-hari berikutnya, Rizky dan Wira bergantian menjaga Ima. Mereka memastikan Ima makan, minum, dan istirahat. Perlahan, Ima mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Ia mulai mau makan, mau bicara, meskipun matanya masih sering kosong.

Suatu sore, saat mereka duduk di teras belakang, Ima berkata, "Rizky, Ima mau minta maaf."

"Buat apa?"

"Waktu itu... Ima nelpon kamu, minta tolong. Ima egois. Ima tahu kamunudah punya hidup sendiri, tapi Ima tetap ganggu."

Rizky menggeleng. "Nggak ganggu, Ima. aku seneng kamu percaya sama aku."

"Tapi Ima tahu, kamu masih sendiri karena... karena Ima?"

Rizky diam. Jujur, ia tak pernah berpikir seperti itu. Tapi mungkin ada benarnya. Mungkin hatinya belum bisa benar-benar terbuka karena bayang-bayang Ima masih terlalu kuat.

"Bukan salah kamu, Ima. Ini pilihan aku sendiri."

Ima menatapnya. "Rizky, Ima mau kamu tahu. Ima udah ikhlas sama masa lalu. Ima udah nggak berharap apa-apa lagi sama kamu. Tapi Ima bersyukur, kamu masih mau ada buat Ima."

Rizky tersenyum. "Aku juga bersyukur, Ima."

---

Dua minggu Rizky di Balikpapan. Ia harus kembali ke Jakarta karena pekerjaan. Sebelum pergi, ia berpamitan pada Ima.

Ima sudah jauh lebih baik. Ia sudah kembali mengurus Aisyah, meskipun masih sesekali menangis diam-diam. Tapi ia berusaha bangkit, demi anaknya.

"Rizky, makasih buat semuanya," kata Ima di depan pintu.

"Sama-sama, Ima. Jaga diri."

Mereka berpelukan singkat. Lalu Rizky pergi.

---

Di pesawat, Rizky memikirkan semua yang terjadi. Ima kembali muncul dalam hidupnya, dalam situasi yang paling rentan. Dan ia merasa, ada sesuatu yang berubah dalam dirinya.

Bukan cinta. Bukan hasrat. Tapi rasa tanggung jawab. Ima pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya, dan ia tak bisa membiarkan Ima jatuh sendirian.

Tapi di sisi lain, ada Sasha, ada Kirana, ada kehidupan yang telah ia bangun dengan susah payah. Ia tak boleh terperosok lagi.

Ponselnya berdering. Sasha.

"Rizky, gimana kabar Ima?"

"Lumayan membaik. Tapi masih sedih."

"Kamu baik-baik aja?"

Rizky tersenyum. Sasha selalu peduli. "Baik, Sha. Makasih."

"Hati-hati di jalan. Kirana udah nggak sabar ketemu papanya."

"Iya. Aku kangen dia."

Mereka bicara sebentar, lalu menutup telepon. Rizky merasa hangat. Sasha mungkin bukan istrinya lagi, tapi ia tetap menjadi keluarga.

---

Kembali di Jakarta, Rizky mencoba kembali ke rutinitas. Tapi pikirannya sering melayang ke Balikpapan. Bukan pada Ima, tapi pada pertanyaan-pertanyaan besar tentang hidup.

Apa yang sebenarnya ia cari? Kebahagiaan seperti apa yang ia inginkan?

Malam itu, saat ia duduk di balkon apartemen, Kirana menelepon.

"Papa, aku kangen."

Rizky tersenyum. "Papa juga, Sayang."

"Papa, kenapa Papa sedih?"

Rizky terkejut. Anak itu peka. "Papa nggak sedih, kok."

"Bohong. Mata Papa kelihatan sedih."

Rizky diam. Lalu ia berkata jujur, "Papa cuma mikir banyak hal, Sayang. Tapi Papa baik-baik aja."

Kirana diam sejenak. Lalu ia berkata, "Papa, kalau Papa sedih, bilang aja ke Kirana. Kirana bisa temenin Papa."

Rizky terharu. Air matanya jatuh. "Makasih, Sayang. Papa sayang kamu."

"Aku juga sayang Papa."

Mereka bicara lama malam itu. Tentang sekolah Kirana, tentang teman-temannya, tentang mimpi-mimpi kecilnya. Dan Rizky merasa, mungkin inilah jawabannya.

Kebahagiaan tak selalu datang dari pasangan hidup. Kadang, datang dari hal-hal sederhana—dari senyum anak, dari tawa sahabat, dari damainya hati.

---

Seminggu kemudian, Rizky mendapat kabar dari Wira. Ima mulai bangkit. Ia kembali mengajar di pesantren, meskipun belum sepenuhnya pulih. Tapi ia berusaha.

"Dia kuat, Zky. Gue kagum," tulis Wira.

Rizky membalas: "Iya. Dia perempuan kuat."

"Lo gimana? Masih sendiri?"

"Masih. Tapi gapapa."

"Lo nggak pernah kepikiran sama Ima?"

Pertanyaan itu membuat Rizky berpikir lama. Jujur, ia pernah. Tapi ia tahu, itu bukan jalan yang benar. Ima sedang berduka, rentan. Dan ia tak boleh memanfaatkan situasi itu.

"Pernah. Tapi gue tahu diri, Ra. Ima butuh teman, bukan pacar."

"Lo bijak, Zky."

"Gue belajar dari kesalahan."

---

Malam itu, Rizky menulis jurnal—kebiasaan baru yang ia mulai belakangan ini. Ia menulis tentang Ima, tentang perasaannya yang campur aduk, tentang keputusannya untuk tetap menjaga jarak.

"Mungkin suatu hari nanti, setelah lukanya sembuh, kita bisa bertemu lagi sebagai teman. Tapi untuk sekarang, biarkan dia pulih dengan caranya sendiri. Dan biarkan aku belajar untuk tetap menjadi manusia yang lebih baik."

Ia menutup jurnal, mematikan lampu, dan merebahkan diri.

Di luar, Jakarta tetap gemerlap. Tapi di dalam hatinya, ada kedamaian yang mulai tumbuh.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!