Seorang penguntit telah dua kali menyusup ke rumah Stella. Ia merasa membutuhkan bantuan profesional. Karena itu, Kayson Sheridan, musuh bebuyutannya semasa kecil sekaligus pendiri Sheridan Securities, pun hadir untuk membantunya.
Kayson berjanji akan melindunginya serta menugaskan penyelidik terbaik untuk menangani kasus tersebut.
Mungkin Kayson tidak seburuk yang selama ini ia kira. Semakin lama bersama pria itu, Stella menyadari bahwa perasaannya jauh menjadi lebih rumit daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Namun, di sisi lain, seseorang telah mengincar Stella dan bertekad bahwa jika tidak dapat memilikinya, maka ia akan menghancurkannya.
୨ৎ SHERIDAN SECURITIES SEASON I ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Stevanus Igor
Kayson membukakan pintu untuk adiknya, dan Riggs masuk dengan langkah cepat, penuh amarah, dan pertanyaan.
“Gimana keadaan Stella? Astaga, dia bisa tidur nggak semalam? Galerinya ... Galerinya hancur. Polisi sudah tahu kapan si brengsek itu masuk? Tim lo dapat apa? Bilang kalau kita punya rekaman kamera orang itu ....”
Kayson mengangkat tangan. Ia sempat mengenakan kaus untuk dipadukan dengan jeans sebelum turun ke bawah. Ia tidak repot memakai sepatu atau kaus kaki, dan ia tahu janggut tipis masih menghiasi rahangnya. “Santai dulu. Gue bahkan belum minum kopi.”
Mata biru Riggs berkilat. “Bodo amat sama kopi. Gue perlu tahu soal Stella. Dia gimana?”
Kayson menutup pintu depan dan menguncinya.
Bagaimana keadaan Stella?
Jelas sekarang jauh lebih baik.
“Dia lagi mandi. Lagi siap-siap. Sebentar lagi turun.”
Kayson harus menyiapkan kopi untuknya. Perempuan itu menyukai minuman paginya. Kayson berbalik menuju dapur, Riggs mengikuti di belakangnya.
“Gue seharusnya datang semalam. Gue merasa kayak orang tolol karena nggak bisa ada di sampingnya.”
“Kan gue udah bilang jangan datang." Karena ia pikir Stella kelelahan.
Butuh istirahat.
Ternyata ia menginginkan hal lain. Dan Kayson juga.
“Ini parah banget.” Riggs duduk di kursi bar. “Gue tahu betapa berharganya galeri itu buat dia. Bajingan itu bakar tempatnya, hancurin karya-karyanya. Ini udah keterlaluan, dan itu bikin gue takut.” Ia melirik ke belakang, memastikan Stella belum turun. “Lo perlu tahu lebih banyak soal Igor. Kemarin gue cuma cerita sedikit, tapi masih ada lagi.”
Igor.
Timnya sudah mulai menyelidiki pria itu.
“Sejak mereka putus, dia masih muter-muter di sekitar Stella. Bahkan … dia pernah nyariin gue beberapa kali.”
Tangan Kayson menekan meja dapur. “Apa?”
Riggs meringis. “Begini … cowok-cowok yang dia tolak biasanya mikir itu karena Stella lagi dekat sama orang lain. Dan siapa cowok yang selalu ada di dekatnya?”
“Lo.”
Sial.
Riggs mengangguk pelan. “Kalau Stella nolak mereka, lalu mereka lihat dia jalan bareng sama gue … mereka pikir gue lah masalahnya. Mereka kira gue yang ngahalangin mereka.” Ia mengembuskan napas. “Igor nyariin gue dua kali. Pertama setahun setelah mereka putus. Bajingan itu nemuin gue di bar dan mulai ngomong macam-macam.” Riggs menggeleng.
“Terus?” Tegangan menumpuk berat di perut Kayson.
“Waktu itu Stella lagi tinggal di rumah gue. Dia sering begitu, kan?”
Ya.
Kayson tahu.
“Kayaknya Igor ngikutin dia. Dia datang ke rumah gue, gedor-gedor pintu tengah malam. Gue buka pintu, dan dia langsung mukul gue.”
Seluruh tubuh Kayson menegang. “Dan waktu itu lo nggak kepikiran buat bilang langsung soal ini ke gue?”
“Lagian dia tinggal di luar negeri! Sekarang dia di Jakarta! Malam itu gue balas pukul dia. Gue bilang dia harus jauhin Stella. Jangan pernah hubungi gue atau dia lagi.” Riggs mengusap dagunya.
Kayson meraih HPnya dan mengirim pesan pada Joel.
^^^"Gue mau tahu sekarang juga Stevanus Igor ada di mana. Dia naik ke urutan teratas daftar tersangka."^^^
“Stella itu selalu lihat sisi baik orang.” Riggs mendengus. “Astaga, dia bahkan masih lihat sisi baik lo. Percaya nggak? Padahal dia tahu lo brengsek, tapi dia tetap bilang ke gue kalau gue beruntung punya kakak kayak lo.”
Genggaman Kayson pada HPnya makin erat. “Stella nggak punya keluarga.”
“Ya, Papanya yang brengsek itu masih ada di luar sana entah di mana.”
Kayson tahu persis di mana pria itu berada.
“Dia nggak pernah hubungi Stella lagi sejak ninggalin Mamanya. Lo tahu kan dia bahkan nggak datang ke pemakaman? Stella nggak punya saudara atau sepupu …” Riggs mengangkat bahu. “... tapi dia punya gue. Gue keluarganya. Satu-satunya keluarga yang dia butuhin.”
“Bukan Lo!”
HP Kayson berbunyi. Pesan dari Joel masuk.
^^^"Sudah gue tangani. Dari yang gue dapat, dia seharusnya ada di Jakarta. Lagi gue pastiin sekarang."^^^
Kayson mendengar suara gesekan pelan di dekat pintu. Bunyi langkah sepatu ringan. Tatapannya langsung terarah ke sana.
Stella berdiri di ambang pintu. Wajahnya agak pucat, rambut pirangnya masih sedikit basah, pasti habis mandi kilat. Ia mengenakan jeans dan sweater hijau longgar yang jatuh sampai paha. Ia menatap Kayson.
“Riggs itu keluarga gue.” Suara Stella datar. “Cuma karena kita nggak sedarah, bukan berarti gue nggak sayang sama dia seperti keluarga gue sendiri.”
“Dengar tuh,” Riggs langsung turun dari kursi dan menghampirinya. Ia menarik Stella ke dalam pelukan erat. “Gue bakal selalu ada buat lo.”
Stella mencintai Riggs seperti keluarga.
Lalu … bagaimana perasaannya pada Kayson?
Stella jelas tidak mencintainya, tapi semalam ia tetap memberikan tubuhnya. Ia merintih di bawah Kayson. Di atasnya. Orgasmenya membuatnya berteriak menyebut nama Kayson.
Riggs mundur sedikit dan menatap Stella. “Lo bisa tidur? Bisa istirahat?”
Tatapan Stella melompat ke arah Kayson. Kayson hanya mengangkat satu alis.
“Atau lo gelisah semalam?”
Pipinya memerah. “Malamnya panjang.”
“Ya jelas!” gumam Kayson.
Riggs mengerutkan kening dan menatapnya penuh tanya.
Kayson berbalik, mengangkat bahu, lalu mulai menyiapkan kopi. Dari belakang, ia mendengar langkah ringan Stella mendekat, lalu suara pelan saat ia menarik kursi bar.
Pikirannya langsung teringat terakhir kali ia menidurkannya di atas meja dapur itu. Tiba-tiba ia ingin makan es krim.
“Gue sudah cerita soal Igor ke dia,” kata Riggs cepat. “Gue tahu dulu lo pikir dia baik banget, tapi dia punya temperamen, Stella. Dan cemburuan banget.”
Kayson tahu ia juga punya rasa cemburu yang sama. Ia harus mengendalikannya.
Kayson mengembuskan napas pelan, lalu menoleh pada Stella. Ia duduk di kursi bar, dan Riggs berdiri tepat di belakangnya. “Terakhir kali lo dengar kabar dari Igor kapan?”
Stella menggigit bibirnya. “Setelah … eh, setelah Riggs mukul dia. Itu berapa tahun lalu?” Ia melirik Riggs.
Riggs mengangguk.
“Igor kirim pesan ke gue. Katanya dia minta maaf. Katanya dia nggak bakal ganggu gue lagi.” Riggs mengangkat bahu. “Habis itu nggak ada kabar.”
“Dia ada di urutan teratas daftar tersangka. Lo harusnya bilang kalau dia pernah jadi orang kasar.”
“Dia nggak—”
Kayson memotong. “Dia nyerang Riggs. Itu namanya apa kalau bukan kasar?”
Tatapan Stella terkunci pada matanya. “Itu sudah lama. Kenapa dia harus nunggu bertahun-tahun lalu tiba-tiba neror gue sekarang? Nggak masuk akal.”
“Semua cowok yang pernah lo kencani. Semua yang pernah dekat sama lo. Gue perlu tahu semuanya, Stella.” Kemarahannya mendidih. “Lo nggak bisa sembunyiin apa pun dari gue. Ini bukan permainan.” Kayson mencondongkan tubuh ke arahnya. “Hidup lo yang dipertaruhkan.”
Napas Stella jadi lebih cepat. “Gue nggak pernah anggap ini permainan.”
“Ya? Kalau begitu jangan ada rahasia. Jangan sampai lo lupa bilang kalau mantan lo yang katanya manis itu pernah mukul adik gue.” Kayson menggeleng, teringat lukisan-lukisannya yang rusak. Kebakaran di rumahnya. “Apa lagi yang lo sembunyiin?” Suaranya merendah.
“Tenang,” Riggs memperingatkan.
Kayson menggeleng. “Nggak bisa. Kalian berdua nyembunyiin sesuatu dari gue. Itu nggak boleh terjadi." Tatapannya tertuju penuh pada Stella. “Gue nggak bisa lindungi lo kalau gue gak tahu semuanya. Apa lagi yang belum lo bilang? Apa lagi yang lo sembunyiin?”
“Nggak ada.”
“Cowok lain? Ada lagi yang mau dekat sama lo tapi lo tolak?”
Riggs meletakkan tangan di bahu Stella dengan sikap melindungi. “Udah, santai dulu. Kita tarik napas dulu.”
Stella berdiri mendadak. “Lo ngomong seolah-olah semua ini salah gue. Seolah-olah gue penyebab semua kekacauan ini.”
“Bukan!”
Sial.
Kayson mengusap rambutnya kasar. Stella berbalik hendak pergi. Ia langsung menyusulnya, mencengkeram bahunya dan memutarnya agar menghadapnya lagi.
“Seseorang terobsesi sama lo. Lo nggak lihat itu? Dia mau nyakitin lo. Gue nggak bisa biarin lo kenapa-kenapa.”
Di belakangnya, Riggs terdiam.
Kayson menarik napas panjang, tapi tidak melepaskannya. “Gue harus tahu apa yang gue hadapi. Kalau masih ada rahasia, kalau ada mantan-mantan sempurna lo itu pernah ngelakuin sesuatu yang perlu gue tahu, bilang sekarang. Gue butuh kebenaran, bukan cerita yang enak didengar.”
“Nggak ada yang sempurna,” balas Stella.
Dan jelas Kayson juga tidak.
HPnya bergetar. Dengan satu tangan, ia menarik HP itu dan membaca pesan dari Joel.
"Stevanus Igor sekarang ada di Kota Tua. Katanya mau ke pameran dagang. Tapi gue baru bicara sama manajer hotelnya. Dia booking untuk seminggu penuh, tapi sudah empat hari terakhir nggak muncul."
Sial.
“Kayson? Ada apa?” tanya Stella tegas.
Kayson menatapnya. “Igor balik ke Kota Tua.”