NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dewa Kehampaan

Reinkarnasi Dewa Kehampaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nnot Senssei

Di fajar zaman purba, semesta mengenal satu nama yang sanggup membekukan waktu: Dewa Kehampaan.

Ia adalah pemuncak segala eksistensi, penguasa tunggal yang titahnya menjadi hukum alam dan langkah kakinya adalah nubuat bagi kehancuran.

Di bawah bayang-bayang jubahnya, jutaan pendekar bersujud dan raja-raja siluman gemetar dalam ketakutan.

Namun, takhta yang dibangun di atas keagungan itu runtuh bukan oleh serangan musuh, melainkan oleh racun pengkhianatan.

Di puncak kejayaannya, pedang yang menembus jantungnya adalah milik murid yang ia kasihi. Jiwanya dihancurkan oleh sahabat yang pernah berbagi napas di medan laga.

Dan benteng pertahanannya yang tak tertembus diserahkan kepada maut oleh wanita yang merupakan pelabuhan terakhir hatinya.

Dalam kepungan pengkhianat, Dewa Kehampaan jatuh, namun kehendaknya menolak untuk padam.

Jiwanya yang retak terlempar menembus celah kehampaan, melintasi ribuan tahun untuk kemudian terjaga dalam raga yang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Singgasana dan Darah yang Terikat Takdir

Langit Dunia Bawah pagi ini tampak lebih luas dari biasanya, seolah-olah kubah kelabu yang menindas itu telah menarik napas panjang dan memberikan ruang bagi takdir untuk meregangkan sayapnya.

Awan berputar dalam spiral lambat, memantulkan cahaya perak pucat yang suram, menciptakan suasana hening yang sakral.

Di puncak tebing hitam yang menjorok tajam seperti ujung tombak purba, Ye Chenxu berdiri mematung. Angin dingin menyapu jubah hitamnya, namun tubuhnya tetap tegak, tak tergoyahkan.

Untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di tanah terkutuk ini, Ye Chenxu melihat pemandangan di bawahnya bukan lagi sebagai medan pertempuran tempat ia harus merangkak demi bertahan hidup.

Di matanya yang kini mengandung semu hitam pekat, lembah-lembah curam, sungai darah yang mengalir di kejauhan, dan benteng-benteng yang tersebar, semuanya membentuk sebuah peta kekuasaan yang rumit.

Ia menyadari satu hal yang mendalam, dirinya bukan lagi sekadar bidak yang digerakkan oleh ketakutan atau nasib buruk. Ia telah menjadi anomali, sebuah variabel bebas yang mampu menggetarkan papan catur Dunia Bawah.

Sayangnya ketenangan itu pecah saat sebuah giok transmisi di dalam saku jubahnya bergetar hebat.

Saat Ye Chenxu menyentuhnya, sebuah proyeksi suara tua, berat, dan penuh wibawa menggema langsung di dalam kesadarannya, menggetarkan struktur jiwanya.

"Ye Chenxu. Aku mengundangmu ke Istana Darah."

Kalimat itu singkat, namun bobotnya setara dengan jatuhnya sebuah gunung. Itu bukan sebuah permintaan, melainkan perintah mutlak dari penguasa tertinggi yang tidak mengenal kata "tidak".

Ye Shulan, yang berdiri beberapa langkah di belakang putranya, langsung merasakan perubahan atmosfer. Wajahnya yang masih pucat tampak menegang, jemarinya meremas ujung pakaiannya dengan cemas.

"Xu’er ... ada apa? Wajahmu ... kau tampak melihat hantu."

Ye Chenxu memutar tubuh dan memaksakan senyum tipis yang menenangkan di bibirnya. Ia menyembunyikan giok itu dengan cepat.

"Tidak ada apa-apa, Bu. Hanya masalah kecil terkait urusan perdagangan dengan Paviliun Senyap. Jangan khawatir."

Namun, di dalam dadanya, gelombang tekanan perlahan menguat.

Siapa pun yang hidup di Dunia Bawah tahu bahwa Istana Darah adalah jantung dari segala teror dan kekuasaan Paviliun Darah. Pergi ke sana berarti sukarela masuk ke dalam sarang harimau yang sedang lapar.

Tapi mengabaikannya? Itu sama saja dengan memicu perang total tanpa batas dan mengundang seluruh kekuatan Dunia Bawah untuk meratakan persembunyian ini dalam semalam.

Ia menatap ibunya dengan tatapan yang dalam, seolah ingin menyimpan setiap detail wajah wanita itu sebagai jangkar kewarasannya.

"Ibu, tetaplah di sini bersama Senior Luo Yan. Jangan bergerak dari area formasi pelindung, apa pun yang terjadi."

Ye Shulan hendak memprotes, bibirnya bergetar ingin melarang, namun melihat keteguhan di mata putranya, ia akhirnya hanya bisa mengangguk lemah.

"Jangan ceroboh, anakku, kau adalah satu-satunya yang tersisa bagiku."

Ye Chenxu mendekat, menepuk bahu ibunya pelan sebelum berbalik menuju kegelapan jalur setapak.

"Sekarang ... justru aku yang tidak boleh ceroboh. Aku akan segera kembali."

Perjalanan menuju Istana Darah adalah sebuah ziarah menuju pusat kegelapan. Istana itu berdiri megah di tengah lembah raksasa yang dikelilingi oleh tujuh gunung hitam menjulang.

Seolah memang diletakkan di sana dengan sengaja untuk membentuk formasi segel raksasa yang menyedot energi alam sekitar dan memadatkannya di pusat lembah.

Di tengah-tengah formasi itu, sebuah bangunan megah berwarna merah gelap tampak mengambang di udara, seolah-olah gravitasi telah tunduk pada kehendak arsiteknya.

Aura darah yang amis berpadu dengan aroma tajam energi kehampaan, menciptakan tekanan spiritual yang begitu pekat hingga kultivator di bawah tahap Pembentuk Inti mungkin akan langsung berlutut karena sesak napas.

Saat kaki Ye Chenxu menginjakkan kaki di pelataran utama yang terbuat dari marmer hitam, suasana mendadak membeku.

Puluhan ahli tahap Transformasi Roh yang bermeditasi di balkon-balkon istana secara serentak membuka mata. Tekanan dari tatapan mereka terasa seperti ribuan jarum yang menusuk kulit Ye Chenxu.

Ratusan kultivator Pembentuk Inti yang berjaga di sepanjang koridor menatapnya dengan pandangan dingin dan meremehkan, seolah-olah ia hanyalah bangkai yang belum menyadari kematiannya sendiri.

Namun, Ye Chenxu tetap berjalan. Setiap langkahnya mantap, menghasilkan bunyi ketukan yang bergema di aula luas itu, seolah-olah sedang memijak di atas jembatan tipis di atas jurang tak berdasar, di mana satu kesalahan kecil akan melenyapkannya selamanya.

Seorang penjaga bertopeng emas dengan jubah yang ditenun dari sutra darah melangkah maju, menghalangi jalannya sejenak sebelum membungkuk kaku.

"Bayangan Kehampaan. Raja telah menunggumu. Ikuti aku, dan jangan sekali-kali melepaskan auramu kecuali kau ingin menjadi bagian dari fondasi istana ini."

Ye Chenxu hanya mengangguk dan tidak menjawab sedikit pun.

Aula utama Istana Darah adalah definisi dari kemegahan yang menindas. Pilar-pilar raksasa yang diukir dengan relief peperangan kuno menjulang tinggi ke kegelapan atap.

Di ujung ruangan, sebuah singgasana darah raksasa mengapung diam, dikelilingi oleh pusaran kabut merah yang berdenyut seirama dengan jantung istana.

Di atas singgasana itu duduk seorang pria dengan penampilan yang mengejutkan. Ia memiliki rambut perak panjang yang tergerai hingga ke bahu jubah merah keunguannya.

Wajahnya tampak muda, hampir abadi, namun sepasang matanya menyimpan kedalaman ribuan tahun penuh darah dan pengkhianatan.

Auranya begitu dalam hingga nyaris tak terasa—sebuah tanda bahwa ia telah mencapai tingkat pengendalian energi yang sempurna.

Namun, justru karena ketiadaan aura yang bocor itulah, tekanan mental yang dihasilkannya jauh lebih mengerikan bagi Ye Chenxu.

Orang yang dimaksud itu adalah Cao Tianxu. Raja Wilayah Dunia Bawah!

Tatapan mereka bertemu. Keheningan membentang panjang, begitu tebal hingga suara tetesan air di luar aula pun terdengar seperti dentuman meriam.

"Kau lebih muda dari perkiraanku," ujar Cao Tianxu akhirnya. Suaranya halus, namun mengandung vibrasi yang membuat Dantian Ye Chenxu bergetar.

Ye Chenxu membungkuk tipis, sebuah gestur penghormatan minimal yang tetap menjaga harga dirinya.

"Dan Tuan lebih tenang dari yang aku bayangkan untuk seseorang yang baru saja kehilangan begitu banyak ahli di tanganku."

Beberapa tetua yang berdiri di sisi aula tersentak, tangan mereka bergerak menuju senjata. Namun, Cao Tianxu justru tertawa ringan, sebuah tawa yang kering namun tulus.

"Menarik. Sangat menarik," Cao Tianxu menyandarkan kepalanya pada satu tangan. "Kau tahu berapa banyak penguasa yang gemetar hingga membasahi lantai saat berdiri di posisi itu? Dan kau malah berdiri di sana seraya memberikan penilaian padaku."

"Aku sudah berdiri di ambang kematian terlalu sering untuk merasa takut pada sekadar tekanan aura. Jika Tuan ingin membunuhku, aku akan mati terlepas dari apakah aku takut atau tidak. Jadi, buat apa aku gemetar?" Ye Chenxu menjawab datar, suaranya tak bergetar sedikit pun.

Keheningan kembali turun, namun kali ini atmosfernya berubah. Penindasan murni yang tadi ia rasakan perlahan mencair, digantikan oleh tatapan pengamatan yang intens, seolah Cao Tianxu sedang membedah setiap lapisan jiwa Ye Chenxu.

1
Daryus Effendi
bertele tele,kebanyakan penjelasan
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
alurnya terlalu cepat 🤔
Optimus prime
ad cincin ruang kenapa di simpan dlm jubah ..aduh thor2...
iwakali
ga dpt 1000 koin dong
Mommy Dza
Menarik ditunggu kelanjutannya 👍💪
Mommy Dza
Semakin sulit rintangannya💪
Mommy Dza
Kasihan Ibunya Chenxu 😩
Mommy Dza
Bayangan kehampaan yg menanen jiwa dalam diam 💪
Mommy Dza
tekanan adalah tungku terbaik untuk menempa emas sejati ❤️
Mommy Dza
Up 💪
Mommy Dza
Menarik 👍👍💪
Mommy Dza
Semangat up author 👍💪
Mommy Dza
Selamat datang pewaris 💪
Mommy Dza
Semangat author 👍💪
Mommy Dza
Chenxu semakin kuat 👍💪
Semangat
Mommy Dza
Ditunggu up nya 👍
Mommy Dza
Pembantaian dimulai 💪
Habiskan
Mommy Dza
Terus bergerak maju
Ye Chenxu 💪💪
Mommy Dza
Up 👍💪
Mommy Dza
Ceritanya menarik 👍💪
Tdk sabar menunggu kelanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!