Dafsa Ramadan (30 tahun), ASN biasa aja yang siangnya sibuk urusan negara dan sorenya membuka lapak biro jodoh di Blok M. Tangannya “dingin” soal jodoh. Banyak testimoni pasangan yang ia jodohkan nyaris selalu berhasil.
Sampai satu anomali bernama Arcila Astoria (31 tahun) datang.
Seorang CEO perempuan yang cerdas, tajam, cepat bosan, dan mengalami emosi malfungsi minta dicarikan jodoh. Arcila terpaksa kesana karena Ayahnya mengancam akan menjodohkannya sama duda anak lima kalau sampai tahun ini belum menikah.
Dafsa mulai bekerja. Memasangkan dengan banyak kandidat unggulan, tapi semua pria yang ditawarkan ke Arcila gagal total. Bukan karena mereka nggak layak, tapi karena Arcila emang dari awal nggak pernah benar-benar niat cari jodoh.
Untuk pertama kalinya Dafsa merasa ini mustahil. Dan tanpa disadari malah dia sendiri yang mulai terjebak perasaan absurd itu.
Cover Ilustrasi by ig pixysoul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
"Kamu kenal sama Dafsa, Nia?" tanya Rama penasaran.
"Kenal dong, Om! Di Jaksel ini, siapa sih yang nggak kenal sama Mas Biro? Dia terkenal tau, Om!" Tania masih heboh. Kehebohannya itu mengingatkan Dafsa pada Diva.
"Mas Biro?" Hani pun ikut bersuara. Ia nggak paham kenapa keponakannya nyebut Dafsa pake panggilan lain.
"Sebentar." Tania duduk di gazebo. "Kenapa Mas Dafsa ada di sini?"
"Dia pacarnya Cila," jawab Hani.
"Lho?!" Kali ini bukan cuma Tania yang super kaget, tapi sepupu yang lain juga sama kagetnya. Mereka kompak berpindah ke Arcila.
"Serius dia pacar lo? Kalian kenal dari mana? Kok bisa, sih?!" Suara Tania melengking tajam. Bukan karena kesel, tapi murni karena kaget. Super duper kaget!
Arcila menelan ludah, tanpa sadar merapat pada Dafsa. Dia ngerasa kayak lagi diserang tiba-tiba, dan dia harus berlindung di balik punggung Dafsa yang lebar dan kokoh.
"Sebentar dulu, kita uraikan semuanya satu-satu." Rama bingung. Padahal dia belum sempat tanya-tanya, tapi keponakannya udah heboh duluan. Kehebohan inilah yang bikin Rama makin penasaran. Kayaknya, Dafsa bukan ASN biasa.
"Biar Om tanya sama Dafsa, apa kamu kenal dengan Tania?"
"Tidak, Om," jawab Dafsa jujur. Ia emang nggak kenal sama Tania. Sumpah demi Tuhan!
"Ya ampun, Mas Dafsa ... kok bisa lupa sama aku? Aku ini yang pernah jadi klien Mas Dafsa! Inget nggak, aku yang minta dicariin suami pilot?"
Dafsa mengorek ingatannya dengan sebaik mungkin. Oke, dia inget. Setahun lalu, ada satu perempuan datang ke kiosnya, cerita dia baru patah hati, alias diselingkuhin sama pacarnya yang seorang masinis.
"Mas, tolong saya, Mas! Carikan saya jodoh yang suka bawa-bawa kendaraan," pinta Tania sambil tersedu-sedu. Saat itu Dafsa sampai nggak paham apa yang Tania omongin. Tania sibuk nangis sambil maki-maki mantan pacarnya.
Awalnya Dafsa bingung. Orang yang suka bawa-bawa kendaraan? Sopir truk, sopir angkot, sama sopir bajaj juga masuk 'kan? Tapi dia nggak ngomong asal. Dafsa tahu Tania mau calon yang lebih unggul dari mantannya.
Butuh dua minggu buat Dafsa keliling Jaksel, sampai akhirnya dia kenalan sama seorang pilot yang baru keluar dari bandara. Iya, Dafsa sampai nongkrong di bandara supaya dapet kandidat berkualitas. Dia emang setotalitas itu.
"Jadi Dafsa yang ngenalin kamu sana Harun?" Hani tak percaya.
"Iya, Tante. Berkat Mas Biro ini, akhirnya aku bisa ketemu terus nikah sama Mas Harun. Jasa Mas Biro nggak mungkin terlupakan gitu aja."
"Mas Biro." Rama bergumam. "Bukannya kamu kerja di kecamatan, Daf, kenapa Tania bisa minta tolong soal jodohnya sama kamu?"
"Mas Biro punya jasa makcomblang di Blok M, Om, namanya Kios Makcomblang Dafsa. Sumpah deh, kalau Om sama Tante sebut sekali aja nama Mas Dafsa di sana, semua orang yang ada di Blok M pasti bakalan tau!" Tania membanggakan, saking besar rasa terima kasihnya sama Dafsa.
"Kalau Dafsa seorang makcomblang, dari mana dia dan Arcila bisa bertemu?"
Itu bukan pertanyaan Tania, Rama, Hani, maupun keluarga lain yang sejak tadi hanya menyimak penuh minat, melainkan suara dari Suseno, yang datang bersama istrinya, Ratna.
"Kakek." Arcila menelan ludah. Biar ia tebak, Suseno pasti sudah mendengar kehebohan di gazebo. "Itu ... Kakek," bisiknya pada Dafsa.
Dafsa cuma bisa ngangguk-ngangguk, padahal dia mulai gugup lagi. Inilah Suseno, lelaki berusia senja yang beberapa hari lalu diceritakan penuh semangat oleh Diva. Seorang lelaki tua yang masa mudanya dihabiskan membanting tulang di negara orang, demi bisa memberikan yang terbaik untuk keluarganya.
"Silakan duduk, Yah, Bu." Hani memberikan ruang kosong untuk mertuanya.
Suseno dan Ratna akhirnya ikut bergabung. "Siapa nama kamu tadi, Nak?" tanya Ratna pada Dafsa.
"Dafsa, Nek. Dafsa Ramadan," jawabnya sambil mencium tangan. Hal serupa dilakukan pada Suseno.
"Pertanyaan yang tadi belum dijawab, di mana kalian bertemu? Apa Arcila juga seputus asa Tania?" Suseno bertanya tegas, menandakan ia butuh jawaban sejujurnya.
Arcila hendak menjawab, tapi Dafsa menahannya. Sentuhan kecil diberikan di punggung tangan perempuan itu.
"Arcila tidak pernah datang ke kios saya." Dafsa berbohong lagi.
Wajahnya terlihat tenang, tapi di dalam hatinya, seperti ada tabuhan genderang perang. Kalau nggak inget sama uang 200 juta yang dijanjikan Arcila, Dafsa bakalan kocar-kacir ditatap keluarga konglomerat di sekelilingnya. Bukannya pengecut, tapi Dafsa nggak kuat bohong banyak-banyak.
Bohong 'kan dosa. Kalau banyak dosa, ya masuk neraka. Begitu kata ibunya Dafsa.
"Lima bulan lalu Arcila datang ke Blok M. Dia kelihatan bingung, maka dari itu saya tanya. Katanya Arcila mau kulineran. Jadi saya merekomendasikan beberapa makanan enak di sana," terang Dafsa, yang tentu saja adalah dusta.
Suseno beralih pada cucu semata wayangnya. Arcila malah nyengir, terus bilang, "waktu itu aku lagi stres, Kek, makanya coba-coba datang ke sana. Terus ketemu sama Mas Dafsa."
Dafsa tertegun mendengar nada bicara Arcila. Tidak kaku seperti biasa, malah terdengar ceria. Dafsa menyimpulkan kalau di depan keluarganya sendiri, Arcila bisa bertingkah normal, yang manja dan murah senyum.
"Tadi nama kamu Dafsa? Dafsa Ramadan?" Suseno bertanya lagi, seakan ingin memastikan sesuatu.
Dafsa mengangguk sopan.
Sudah, sesi tanya-tanya berakhir sampai sana. Betul apa kata Arcila, keluarganya nggak nuntut yang aneh-aneh. Dafsa cukup lega. Dan akhirnya, dia bisa keluar dari rumah besar keluarga Arcila dengan selamat.
Dafsa membuang napas saat mobil Lamborghini yang dibawa Arcila meninggalkan rumah.
"Terima kasih banyak, Mas Dafsa. Semuanya berjalan lancar, keluarga saya senang dengan kehadiran Mas Dafsa di acara makan malam tadi." Arcila kembali formal, sungguh profesional sekali.
Senyum Arcila kelihatan lebar, matanya berbinar-binar. Dafsa juga ikut seneng. Akhirnya dia berhasil menjalankan misi super berat ini.
"Saya transfer sisanya sekarang." Arcila meraih ponsel, bertepatan dengan mobil yang berhenti di lampu merah. Seperti waktu itu, mudah bagi Arcila mengeluarkan uang ratusan juga dengan sekali klik.
"Sudah ya, Mas, silakan dicek."
Kali ini Dafsa kelihatan semangat, nggak seperti di kiosnya waktu pertama kali Arcila transfer. Uangnya bertambah. Dafsa senyum, nggak sabar mau bawa ibu sama adiknya pindah rumah.
"Satu bulan lagi ada acara di keluarga besar saya. Acara ulang tahun keponakan kami yang paling kecil. Mas Dafsa mau tetap jadi pacar pura-pura saya? Saya nggak keberatan kalau Mas Dafsa mau menaikan rate."
Senyum Dafsa langsung hilang. Bukannya gampang puas terhadap apa yang dia dapetin, tapi Dafsa tahu kapan waktunya harus berhenti. Terlalu banyak bohong bakal jadi bumerang buatnya, buat usaha sama keluarganya. Dia nggak mau semuanya hancur.
"Maaf, Bu Arcila, saya rasa cukup sampai di sini," tolak Dafsa sesopan mungkin.
Binar di mata Arcila juga menghilang. Mobil melaju, tapi tatapannya tertuju pada Dafsa. "Kenapa? Bayaran saya kurang?"
"Ini bukan soal bayaran, tapi soal kebohongan yang entah sampai mana harus saya bawa," jawab Dafsa.
"Segeralah cari jodoh yang tepat, Bu, saya akan mendoakan yang terbaik."
Sesopan apa pun kalimat penolakan dari Dafsa, tetap saja efeknya luar biasa besar pada Arcila. Haruskah Arcila tegaskan, kalau dia mau sesuatu, maka dia harus dapetin itu!