Ariana Dewi, 24 tahun, seorang desainer grafis freelance yang hidupnya berantakan setelah tunangan sekaligus bosnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Terlilit utang almarhum ayahnya dan hampir kehilangan rumah, ia menerima tawaran gila dari Revano Aldrich, 29 tahun, CEO muda Aldrich Group yang dingin dan penuh misteri.
Tawarannya sederhana: menikah kontrak selama satu tahun.
Revano butuh istri untuk meredam tekanan sang kakek agar tidak menyerahkan kendali perusahaan ke tangan paman yang licik. Ariana butuh uang untuk melunasi utang dan menyelamatkan rumah ibunya.
Tidak ada cinta. Tidak ada perasaan. Hanya kontrak.
Tapi aturan paling ketat sekalipun bisa retak ketika dua orang terpaksa hidup dalam satu atap, menanggung luka yang sama, dan perlahan mulai melihat satu sama lain bukan sebagai rekanan bisnis — melainkan sebagai manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Malam itu tidak ada yang benar-benar tidur.
Dokumen yang dikirim Arsen masih terbuka di layar laptop. Cahaya biru monitor memantul di wajah Alya dan Bima, membuat ekspresi mereka terlihat lebih tajam, lebih serius dari biasanya.
Alya membaca ulang isi perjanjian itu dengan detail. Klausul demi klausul. Tanggal. Nomor registrasi. Saksi. Bahkan cap notaris.
Ini bukan dokumen palsu sembarangan.
Kalau ini rekayasa, maka rekayasanya dibuat dengan sangat rapi.
“Kalau ini asli,” gumam Alya pelan, “maka ada sesuatu yang tidak pernah diceritakan.”
Bima berdiri di belakangnya, kedua tangannya bertumpu di sandaran kursi Alya. Tatapannya tidak lagi sekadar fokus. Ada konflik di dalamnya.
“Ayahku tidak pernah membicarakan detail kegagalan proyek itu,” katanya akhirnya. “Hanya bilang bahwa itu risiko bisnis.”
“Dan keluarga Arsen hancur setelah itu,” jawab Alya pelan.
Hening.
Bukan hening canggung.
Tapi hening yang dipenuhi kemungkinan.
Pukul dua dini hari, Alya membuat keputusan.
“Kita tidak bisa menunggu,” katanya tegas. “Kalau Arsen memegang dokumen ini, berarti dia punya lebih dari sekadar salinan. Dia mungkin punya saksi. Atau bukti tambahan.”
Bima mengangguk perlahan. “Kau mau apa?”
“Kita cari arsip asli. Internal. Sebelum dia mempublikasikannya.”
Tanpa banyak kata, mereka menghubungi kepala divisi hukum perusahaan yang paling senior—Pak Rahmat—orang yang sudah bekerja sejak era ayah Bima.
Panggilan video dibuka.
Wajah pria tua itu tampak terkejut melihat mereka menelepon di jam segini.
“Maaf mengganggu, Pak,” kata Bima langsung. “Kami butuh akses ke arsip proyek merger lima belas tahun lalu. Semua dokumen. Tanpa terkecuali.”
Pak Rahmat terdiam cukup lama sebelum menjawab.
“Kenapa sekarang?”
Alya dan Bima saling berpandangan.
“Karena seseorang akan membukanya untuk publik,” jawab Alya jujur.
Ekspresi Pak Rahmat berubah.
“Kalau itu dibuka,” katanya pelan, “maka bukan hanya reputasi perusahaan yang dipertaruhkan.”
“Kami tahu,” jawab Bima tenang. “Justru karena itu kami ingin tahu kebenarannya dulu.”
Pagi datang dengan langit mendung.
Tidak ada hujan, tapi udara terasa berat.
Di ruang arsip pusat, Alya berdiri di antara lemari-lemari tinggi berisi dokumen lama. Bau kertas tua memenuhi udara. Debu tipis beterbangan ketika beberapa map besar dikeluarkan.
Proyek: Aurora International Merger.
Nama itu tertera jelas di map hitam besar.
Alya membuka perlahan.
Laporan korespondensi. Email cetak. Draf perjanjian. Catatan rapat.
Dan di bagian tengah dokumen, ada sesuatu yang membuat napasnya tercekat.
Sebuah memo internal.
Ditujukan kepada ayah Bima.
Isinya memperingatkan bahwa ada kebocoran informasi sensitif dari pihak internal sebelum pembatalan terjadi.
Nama yang dicurigai tercantum di sana.
Bukan ayah Bima.
Bukan juga keluarga Arsen.
Tapi seorang direktur lama… yang kini sudah pensiun.
Alya membaca ulang nama itu.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Bima,” panggilnya pelan.
Bima mendekat dan membaca memo tersebut.
Rahangnya mengeras.
“Ini tidak pernah disebut di publik.”
“Karena mungkin ditutup,” jawab Alya pelan.
Mereka membuka lembar berikutnya.
Surat keputusan investigasi internal.
Hasilnya: tidak cukup bukti untuk menuduh siapa pun secara resmi.
Kasus ditutup.
Proyek gagal.
Kedua keluarga saling menyalahkan.
Dan konflik dimulai.
Alya menutup map perlahan.
“Kalau memo ini benar,” katanya hati-hati, “maka konflik itu dibangun di atas asumsi.”
Bima terdiam.
Lalu perlahan berkata, “Atau ada yang sengaja membiarkan asumsi itu hidup.”
Sementara itu, di sisi lain kota, Arsen menerima laporan bahwa Alya dan Bima mengakses arsip lama.
Senyumnya tipis.
“Mereka akhirnya melihatnya,” katanya pelan.
“Tuan ingin kita percepat publikasi?” tanya asistennya.
Arsen berjalan ke jendela.
“Belum,” jawabnya tenang. “Biarkan mereka bertanya-tanya dulu. Keraguan adalah racun yang lebih efektif daripada tuduhan langsung.”
Sore harinya, Alya duduk sendirian di ruang kerja mansion.
Memo itu terus terbayang di kepalanya.
Kalau benar ada pihak ketiga yang membocorkan informasi…
Maka Arsen mungkin juga tidak tahu seluruh kebenarannya.
Dan kalau ia bertindak berdasarkan kebencian turun-temurun…
Maka yang sedang terjadi bukan hanya perebutan kekuasaan.
Tapi perang yang diwariskan tanpa fakta lengkap.
Bima masuk tanpa suara dan duduk di seberangnya.
“Apa yang kau pikirkan?” tanyanya pelan.
Alya menatapnya lama.
“Aku pikir… kita tidak hanya harus melawan Arsen.”
“Lalu?”
“Kita mungkin harus menyelamatkannya dari kesalahan yang sama.”
Bima terdiam.
Itu bukan jawaban yang ia perkirakan.
“Kalau ada pihak ketiga yang sengaja memecah dua keluarga ini,” lanjut Alya, “maka orang itu yang sebenarnya menang selama lima belas tahun terakhir.”
Ruangan terasa sunyi.
Logika itu masuk akal.
Dan berbahaya.
Karena kalau benar ada dalang lain…
Maka permainan ini jauh lebih besar dari Arsen.
Malam turun perlahan.
Tidak ada kilat. Tidak ada hujan.
Hanya langit kelabu dan kota yang tetap berdenyut.
Di balkon, Alya berdiri memeluk dirinya sendiri. Bukan karena dingin. Tapi karena beban kesadaran baru.
Bima berdiri di sampingnya.
“Kalau kau tahu kebenarannya bisa menghancurkan nama ayahku, apa kau tetap ingin membukanya?” tanyanya tiba-tiba.
Alya tidak menjawab langsung.
Ia menatap kota di bawah.
“Kalau fondasi kita dibangun di atas kebohongan,” jawabnya pelan, “maka cepat atau lambat ia akan runtuh juga.”
Ia menoleh pada Bima.
“Aku tidak menikah dengan bayangan masa lalu. Aku memilihmu. Dan aku memilih kebenaran, meskipun itu menyakitkan.”
Tatapan Bima melembut.
Untuk pertama kalinya sejak dokumen itu muncul, ada sesuatu yang terasa lebih kuat dari ketegangan.
Kepercayaan.
Bukan kepercayaan buta.
Tapi kepercayaan yang siap diuji.
Ponsel Bima kembali bergetar.
Pesan masuk.
Dari Arsen.
Hanya satu kalimat.
“Sudah kau baca semuanya?”
Bima menunjukkan pesan itu pada Alya.
Alya tidak terlihat terkejut.
Justru sudut bibirnya terangkat tipis.
“Belum,” katanya pelan. “Dan itu yang membuatnya berbahaya.”
Angin malam berhembus lebih kencang.
Permainan ini tidak lagi soal saham.
Tidak lagi soal reputasi.
Ini tentang kebenaran yang tertunda lima belas tahun.
Dan ketika kebenaran itu akhirnya dibuka—
Seseorang pasti akan kehilangan lebih dari sekadar posisi.
Babak baru telah dimulai.
Dan kali ini, bukan badai yang mereka hadapi.
Melainkan rahasia yang siap mengguncang semuanya.
Dan rahasia itu tidak datang perlahan.
Ia datang seperti retakan kecil di kaca—nyaris tak terlihat, tapi cukup untuk menghancurkan seluruh permukaan jika ditekan sedikit saja.
Malam semakin larut, namun Alya dan Bima belum beranjak dari balkon. Kota di bawah tetap hidup, seolah tidak peduli bahwa di atas sana, dua orang sedang berdiri di ambang kebenaran yang bisa mengubah segalanya.
“Ada sesuatu yang tidak masuk akal,” ujar Alya pelan.
Bima menoleh. “Apa?”
“Kalau Arsen sudah memegang dokumen itu, kenapa dia belum mempublikasikannya?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Benar.
Jika tujuannya menghancurkan reputasi keluarga Wijaya, dokumen itu seharusnya sudah ada di semua media sejak tadi malam.
Tapi tidak.
Tidak ada bocoran.
Tidak ada headline.
Tidak ada skandal yang meledak.
Bima menyipitkan mata sedikit. “Dia menunggu.”
“Menunggu apa?”
“Reaksi kita.”
Alya memproses cepat.
Jika mereka panik, defensif, atau mencoba menutupinya secara terburu-buru—itulah yang akan digunakan Arsen sebagai bukti bahwa ada sesuatu yang memang salah.
Permainan psikologis.
Dan mereka hampir masuk ke dalamnya.
Alya menghembuskan napas perlahan. “Berarti kita tidak boleh bergerak gegabah.”
“Tidak,” jawab Bima tenang. “Tapi kita juga tidak bisa diam.”
Keesokan paginya, langkah pertama diambil.
Bima meminta pertemuan tertutup dengan ayahnya.
Bukan di kantor.
Bukan di ruang direksi.
Melainkan di rumah keluarga lama—tempat semua ini bermula.
Alya ikut.
Jika ini tentang masa lalu yang bisa mengguncang fondasi mereka, maka ia harus ada di sana. Bukan sebagai istri formal. Tapi sebagai partner yang memilih berdiri di tengah badai.
Rumah keluarga Wijaya terasa berbeda. Lebih sunyi. Lebih berat. Seolah dinding-dindingnya menyimpan lebih banyak cerita daripada yang terlihat.
Ayah Bima duduk di ruang kerja lamanya ketika mereka masuk.
Wajahnya tenang seperti biasa, namun matanya tajam membaca situasi.
“Kalian tidak datang tanpa alasan,” ucapnya datar.
Bima tidak berputar-putar. Ia meletakkan salinan dokumen di meja.
Ruangan mendadak sunyi.
Tatapan pria tua itu jatuh pada dokumen tersebut. Tangannya tidak gemetar, tapi napasnya berubah tipis.
“Dari mana kalian mendapatkannya?” tanyanya pelan.
“Arsen,” jawab Alya jujur.
Nama itu cukup untuk membuat rahang pria tua itu mengeras.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia bersandar di kursinya.
“Jadi dia akhirnya membukanya,” gumamnya hampir pada dirinya sendiri.
Bima menatap ayahnya lurus. “Apakah ini benar?”
Pertanyaan itu sederhana.
Jawabannya tidak.
Keheningan memanjang.
Lalu akhirnya, ayah Bima berbicara.
“Ada kebocoran,” katanya pelan. “Tapi bukan dari pihak kami.”
Alya dan Bima saling bertukar pandang.
“Kami tahu ada kecurigaan terhadap salah satu direktur lama,” lanjutnya. “Tapi tidak pernah ada bukti kuat. Dan jika saat itu kami menuduh tanpa dasar, perusahaan bisa runtuh lebih cepat.”
“Jadi Anda memilih diam?” suara Bima terdengar lebih berat.
“Aku memilih menyelamatkan perusahaan.”
Jawaban itu tidak sepenuhnya salah.
Tapi juga tidak sepenuhnya benar.
Alya akhirnya angkat bicara, suaranya tenang namun tajam.
“Dan dengan keputusan itu, keluarga Arsen menanggung reputasi yang hancur.”
Tatapan pria tua itu beralih padanya.
“Bisnis tidak pernah bersih sepenuhnya,” jawabnya dingin.
Kalimat itu menggantung seperti pisau.
Untuk pertama kalinya, Alya merasakan bahwa konflik ini bukan hanya soal salah paham.
Tapi soal pilihan.
Pilihan untuk melindungi satu sisi meski sisi lain hancur.
Dalam perjalanan pulang, mobil terasa lebih sunyi dari biasanya.
Bima menatap lurus ke depan.
“Aku tidak tahu harus membelanya atau mempertanyakannya,” katanya pelan.
Alya tidak langsung menjawab.
“Yang aku tahu,” katanya akhirnya, “kalau kebenaran ini keluar setengah-setengah, Arsen akan menggunakannya untuk memutarbalikkan segalanya.”
Bima mengangguk pelan.
“Dan kalau kita membuka semuanya?”
“Kita mungkin kehilangan dukungan sebagian dewan,” jawab Alya jujur. “Tapi kita mendapatkan kendali atas narasi.”
Keheningan turun lagi.
Namun kali ini bukan keheningan penuh kebingungan.
Melainkan keheningan penuh keputusan yang mulai terbentuk.
Malam itu, sebuah email baru masuk.
Bukan ancaman.
Bukan sindiran.
Melainkan sebuah file rekaman audio.
Durasi: 12 menit 47 detik.
Tanpa pengirim yang jelas.
Alya dan Bima saling menatap sebelum memutarnya.
Suara di dalam rekaman itu membuat darah mereka terasa membeku.
Suara seorang pria.
Direktur lama yang namanya muncul dalam memo.
Dan ia tidak sendirian dalam percakapan itu.
Ada suara lain.
Suara yang sangat familiar.
Arsen.
Rekaman itu terputus sebelum konteksnya jelas.
Tapi satu kalimat terakhir terdengar jelas.
“Selama mereka saling menyalahkan, kita aman.”
Ruangan terasa mendadak terlalu sempit.
Alya menghentikan rekaman dengan tangan perlahan.
Ini bukan lagi konflik dua keluarga.
Ini konspirasi yang lebih dalam.
Dan kalau rekaman ini asli—
Maka Arsen mungkin tidak hanya korban warisan kebencian.
Ia mungkin tahu lebih banyak dari yang terlihat.
Alya menatap Bima.
“Sekarang ini bukan hanya tentang membela nama keluargamu,” katanya pelan.
Bima menatap balik, matanya berubah.
“Ini tentang membongkar semuanya.”
Di luar, angin malam kembali berhembus.
Tidak ada hujan.
Tidak ada petir.
Tapi ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada badai alam.
Kebenaran yang mulai menemukan jalannya ke permukaan.
Dan ketika rahasia itu benar-benar terbuka—
Tidak hanya reputasi yang akan runtuh.
Kepercayaan.
Aliansi.
Dan mungkin hubungan yang baru saja mereka bangun pun akan diuji sampai batas terakhir.