Selama ini Nana selalu mengalah pada tunangannya, dia bagaikan gadis bodoh yang tidak ingin kehilangan cinta Tris. Sampai Tris mempermalukan Nana di depan orang banyak, karena kejadian itu Nana dihujat di internet. Lalu Nana mulai berubah usai mendapatkan uluran tangan acuh tak acuh dari abangnya Tris, yaitu Aska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Benturan ego.
Pagi itu, udara di sekitar gedung Stellar Komik Studio terasa sedikit lebih lembap dari biasanya. Sisa hujan semalam masih meninggalkan genangan kecil di aspal parkiran.
Nana melangkah masuk dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Di dalam tasnya, ia membawa tablet grafis yang kini berisi sketsa-sketsa terbaru yang jauh lebih berani.
Pertemuannya dengan Aska semalam, meskipun singkat dan dingin seperti biasanya, telah memberikan suntikan energi yang luar biasa. Baginya, diterima masuk ke ruang pribadi Aska, meski hanya untuk menyerahkan sebuah pena, adalah pengakuan implisit bahwa ia bukan lagi sekadar "sampah" yang perlu dikasihani.
Namun, di belahan kota yang lain, ketenangan itu sama sekali tidak dirasakan oleh Tris.
Tris duduk di tepi ranjangnya, menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya masih sedikit pucat pasca keluar dari rumah sakit, tapi matanya menyalang merah karena amarah yang terpendam. Ucapan ibunya dan sindiran tajam Ria kemarin terus terngiang seperti kaset rusak. Aska memuji Nana. Nana sukses. Nana sudah tidak butuh kamu.
"Sialan," desis Tris sambil menyambar kunci mobilnya. "Dia pikir dia siapa bisa mengabaikan aku begitu saja? Dia itu milikku. Selama setahun dia merangkak di kakiku, sekarang dia mau bergaya jadi wanita karier?"
Ego Tris yang terluka adalah api yang membakar logikanya. Ia tidak peduli lagi dengan peringatan ibunya atau ancaman tersirat dari Aska. Dalam kepalanya, Nana hanyalah sedang melakukan aksi "mogok kerja" sebagai tunangan, dan ia harus menjemputnya kembali ke dapur, tempat yang menurutnya paling pantas untuk wanita seperti Nana.
***
Di dalam kantor, suasana sangat kontras. Nana sedang duduk berdampingan dengan Gani. Mereka sedang meninjau bab berikutnya yang akan segera naik cetak digital.
"Garis ekspresi di panel ini ... kau membuatnya seolah-olah karakter ini sedang menatap kematiannya sendiri," komentar Gani, nadanya datar tapi ada binar kekaguman di matanya. "Bagaimana kau bisa mendapatkan emosi sekuat ini, Na?"
Nana tersenyum tipis sambil terus menggoreskan penanya. "Aku hanya membayangkan rasa sesak saat seseorang yang paling kau percayai menganggapmu tidak ada. Itu adalah jenis kematian yang paling sunyi, Gani."
Gani terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Kau gila. Tapi kegilaanmu ini yang membuat komik kita laku keras. Hadi bilang investor mulai melirik proyek kita untuk dijadikan serial live action."
Nana hampir saja menjatuhkan penanya. "Live action? Secepat itu?"
"Nama Aska & Co. yang kau sebut di kredit sebagai konsultan hukum riset itu punya pengaruh besar, tahu," Gani terkekeh. "Orang-orang pikir kita punya koneksi tingkat tinggi. Padahal itu cuma kau yang bertanya pada 'kenalan' pengacaramu itu, kan?"
Nana hanya tersenyum simpul. Ia tidak ingin mengoreksi bahwa "kenalan" itu adalah orang yang paling ia segani di dunia ini. Namun, pembicaraan mereka terputus saat seorang resepsionis dari lobi depan masuk dengan wajah panik.
"Nana ... maaf mengganggu. Ada ... ada seorang pria di bawah yang memaksa masuk. Dia bilang dia tunanganmu Nana, dan ingin menjemputmu pulang sekarang juga," lapor resepsionis itu dengan suara berbisik, takut terdengar staf lain.
Wajah Nana mendadak pias. Goresan penanya di layar tablet melenceng jauh, menciptakan garis hitam panjang yang merusak gambar. Gani langsung menegakkan punggungnya, matanya berubah tajam.
"Siapa?" tanya Gani dingin.
"Namanya ... Pak Tris. Dia teriak-teriak di lobi, Na. Keamanan sudah mencoba menahan, tapi dia terus mengamuk."
Nana menarik napas panjang. Rasa mual yang dulu sering ia rasakan saat berhadapan dengan kemarahan Tris kembali muncul, tapi kali ini ia melawannya. Ia meletakkan penanya dengan perlahan.
"Aku akan turun," ujar Nana tegas.
"Aku ikut," sahut Gani. "Ini kantor profesional, Nana. Tidak ada tempat untuk drama rumah tangga di sini."
Begitu pintu lift terbuka di lantai lobi, suara teriakan Tris sudah menggema, memantul di dinding kaca gedung yang mewah.
"Nana! Keluar kau! Jangan sok sibuk di atas sana! Aku tahu kau cuma mau pamer karena sudah punya gaji sendiri, kan?" teriak Tris. Dua orang petugas keamanan sedang memegang lengannya, berusaha menyeretnya keluar, tapi Tris terus meronta.
Penampilan Tris berantakan. Rambutnya tidak disisir, dan kemejanya keluar dari celana. Ia terlihat seperti pria yang kehilangan akal sehat. Begitu ia melihat Nana keluar dari lift bersama Gani, matanya berkilat penuh amarah sekaligus kecemburuan.
"Oh, jadi ini alasan kau tidak mau pulang? Karena pria gondrong ini?" tunjuk Tris dengan kasar ke arah Gani. "Berapa dia membayarmu, hah? Sampai kau lupa jalan pulang ke rumah?"
Langkah Nana terhenti tiga meter di depan Tris. Ia menatap pria yang dulu ia cintai itu dengan pandangan yang sangat asing. Tidak ada lagi rasa takut, tidak ada lagi keinginan untuk menjelaskan. Hanya ada rasa jijik.
"Tris, pergi dari sini. Ini kantor tempatku bekerja, bukan taman bermainmu," suara Nana tenang namun dingin, sangat mirip dengan nada bicara Aska saat sedang mengintimidasi klien.
"Kerja? Kau menyebut menggambar coretan bodoh ini sebagai kerja?" Tris tertawa sinis, melepaskan diri dari pegangan petugas keamanan dengan paksa. "Pulang sekarang. Ibu sedang sakit memikirkanmu. Jangan jadi anak durhaka hanya karena sedikit uang."
"Ibu sakit karena perbuatanmu sendiri, Tris. Bukan karena aku," balas Nana. "Dan aku tidak punya tunangan lagi. Cincin itu sudah kukembalikan. Hubungan kita sudah mati."
"Belum mati sebelum aku bilang mati!" Tris melangkah maju, tangannya terangkat seolah ingin menarik paksa lengan Nana.
Namun, sebelum jemari Tris menyentuh kulit Nana, sebuah tangan yang lebih kuat dan kekar mencengkeram pergelangan tangan Tris. Gani berdiri di depan Nana seperti tembok baja.
"Dengar, Bung," suara Gani rendah dan penuh ancaman. "Kau mengganggu ketenangan kerja di sini. Kau menghina rekan kerjaku. Dan kau bersikap seperti binatang di properti pribadi. Pergi sekarang, atau aku akan memastikan kau bermalam di sel karena gangguan ketertiban umum."
"Kau siapa berani ikut campur?!" Tris mencoba memukul Gani, namun Gani dengan sigap menepisnya dan mendorong Tris hingga terjatuh ke lantai marmer lobi yang licin.
Beberapa staf kantor yang lewat mulai berbisik-bisik dan mengeluarkan ponsel untuk merekam. Reputasi Nana terancam, namun di saat itu juga, pintu otomatis gedung terbuka.
Seorang pria dengan setelan jas mahal dan koper kulit di tangan masuk dengan langkah berwibawa. Suasana lobi yang tadinya bising mendadak hening seolah udara tersedot habis.
Aska.
Ia baru saja kembali dari pertemuan dengan direktur gedung tersebut untuk urusan hukum, dan pemandangan pertama yang ia lihat adalah adiknya sendiri yang terduduk di lantai seperti pecundang, berhadapan dengan rekan kerja Nana.
Aska melangkah mendekat. Setiap langkahnya terdengar sangat berat di telinga Tris. Aska tidak menatap Nana, tidak juga menatap Gani. Ia menatap lurus ke arah Tris dengan pandangan yang seolah bisa menguliti orang hidup-hidup.
"Bang... Bang Aska..." suara Tris bergetar. Keberaniannya menguap seketika.
Aska berdiri tepat di atas Tris, menunduk dengan tatapan yang sangat rendah. "Apa yang kau lakukan di sini, Tris?"
"Aku ... aku cuma mau jemput Nana pulang, Bang. Dia keras kepala sekali."
"Aku bertanya sekali lagi," potong Aska, suaranya pelan namun sangat tajam hingga membuat para petugas keamanan pun menunduk. "Apa hakmu membuat keributan di kantor orang lain? Apa kau ingin menghancurkan reputasi keluarga kita lebih dalam lagi?"
Aska berpaling ke arah petugas keamanan. "Lepaskan dia. Biar saya yang bawa dia keluar."
Aska kemudian menoleh ke arah Nana. Matanya berhenti sejenak pada wajah Nana yang tampak tegang, lalu beralih ke Gani. Aska memberikan anggukan kecil yang sangat tipis kepada Gani, sebuah tanda terima kasih karena telah melindungi Nana, sebelum ia mencengkeram kerah jaket Tris dan menariknya berdiri dengan kasar.
"Ikut aku. Sekarang," perintah Aska pada Tris.
Tris tidak berani membantah. Ia mengikuti langkah Aska keluar gedung seperti anjing yang baru saja dipukul.
Di lobi, Nana masih berdiri mematung. Gani menepuk bahunya pelan. "Kau tidak apa-apa?"
Nana mengangguk, meski tangannya sedikit bergetar. "Maaf, Gani. Aku benar-benar minta maaf atas kekacauan ini. Aku akan bicara pada Hadi agar ini tidak mempengaruhi citra tim."
"Jangan khawatir. Semua orang bisa melihat siapa yang gila di sini," sahut Gani. "Dan kakak iparmu itu ... maksudku, pria pengacara itu ... dia sangat menyeramkan jika sedang marah."
Nana menatap pintu kaca yang baru saja dilewati Aska. Di dalam hatinya, rasa kagumnya pada Aska semakin berlipat ganda. Di saat ia terpojok, Aska muncul bukan hanya sebagai penyelamat, tapi sebagai penegak keadilan yang membuat Tris terlihat sangat kecil.
Namun, di dalam mobil SUV hitamnya, Aska sedang memaki Tris dengan kata-kata yang sangat pedas.
"Kau benar-benar tidak punya martabat, Tris," desis Aska sambil menyetir dengan kecepatan tinggi. "Kau mendatangi kantor wanita yang sudah mencampakkanmu hanya untuk mengemis perhatian? Di mana harga dirimu?"
"Bang, Nana itu berubah karena pengaruh orang-orang di kantor itu! Dia jadi sombong!" bela Tris.
"Dia tidak sombong. Dia berkembang!" bentak Aska hingga Tris terdiam. "Dan jika kau berani menginjakkan kaki di kantor itu lagi atau mengganggu Nana, aku sendiri yang akan mencoret namamu dari daftar ahli waris rumah itu. Aku tidak main-main, Tris."
Tris tertegun. Ia menyadari satu hal: Aska sudah benar-benar berada di pihak Nana. Dan yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa ia kini telah kehilangan segala akses untuk mendekati Nana kembali.
Di sisi lain kota, Elli yang sedang memantau media sosial, melihat sebuah video viral singkat tentang keributan di lobi gedung Stellar Komik. Ia melihat Aska di sana. Senyum licik mengembang di wajahnya.
"Oh, Nana ... kau pikir dengan perlindungan Aska kau akan aman?" bisik Elli sambil menatap foto Aska di layar ponselnya. "Mari kita lihat seberapa kuat Aska akan membelamu jika dia tahu 'sisi gelap' yang akan aku buat untukmu."
Bersambung....