Akibat fitnah kakak sepupunya, Sierra Moore dibuang keluarganya keluar kota Cragstone yang sangat jauh dan terpencil tanpa dibekali uang sepeserpun di usia 15 tahun. Tiga tahun kemudian, Tobias Moore, kakek Sierra yang baru mengetahui kalau Sierra telah didepak dari keluarga Moore sangat marah dan meminta anak dan menantunya untuk membawa Sierra kembali atau dia akan melongsorkan anaknya itu dari posisi CEO Moore Company. Sepupu Sierra, Nora Moore tentunya tidak senang dengan hal ini dan mengupayakan segala cara untuk bisa menyingkirkan Sierra dari keluarga Moore.
Apa yang membuat Nora tidak menyukai Sierra?
Hanya dengan dukungan kakeknya, akankah Sierra bisa bertahan dan mengambil kembali posisinya di keluarga Moore?
Akankah Sierra balas dendam pada orang-orang yang sudah menyakitinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Kenapa Kau Menatap Sierra
Sejak rahasia kecerdasan Sierra terungkap, atmosfer di Metropolia International School terasa berbeda setiap kali gadis itu melintas. Sierra, yang biasanya dijauhi karena dianggap sebagai pembuat onar dan pembawa sial di sekolah, kini mendadak seperti selebriti di sekolahnya.
Setiap pagi, saat Sierra berjalan menuju lokernya, wajah-wajah yang dulu selalu memalingkan muka kini mendadak ramah. "Pagi, Sierra! Tidur nyenyak semalam?" sapa seorang siswa laki-laki dari tim basket yang dulu bahkan tidak tahu Sierra ada di daftar absen kelas.
"Hai, Sierra, apa kau bisa mengajariku cara menyelesaikan soal fisika ini? Siang nanti aku ke kelasmu ya? Please..."
"Pagi, Sierra! Terima kasih atas bantuanmu kemarin, ini ada thai tea untukmu!"
Sierra hanya mengangguk tipis menanggapi semuanya, ia masih merasa asing dengan semua keramahan yang datang tiba-tiba ini.
Bukan hanya sapaan, meja Sierra kini tak pernah sepi. Saat jam istirahat, beberapa siswa datang mendekat dengan langkah ragu namun penuh harap. Mereka menyodorkan buku latihan matematika atau fisika yang penuh dengan coretan.
"Sierra, maaf mengganggu tidurnya. Bisa bantu aku menjelaskan konsep logaritma yang ini? Aku benar-benar buntu," ucap seorang siswi sambil meletakkan sekotak susu stroberi dingin dan sebungkus makaron mahal di pojok meja Sierra. "Ini untukmu, sebagai ucapan terima kasih karena sudah mau meluangkan waktu."
Kejadian seperti itu terulang berkali-kali. Upeti dalam berbagai wujud mulai menumpuk di laci meja atau lokernya. Sierra tidak benar-benar butuh semua itu, tapi dia juga tidak punya energi untuk menolak. Kadang Sierra membagikannya pada Anastasia, Eugene, atau Melissa.
Tentu saja tidak semua memberi tanggapan positif atas kepopuleran Sierra ini. Nora dan gengnya adalah pengecualian itu.
Setiap kali melihat ada orang yang mengerumuni meja Sierra, Nora akan mendengus keras atau memutar bola matanya dengan sinis. Baginya, Sierra tetaplah gadis aneh yang kebetulan sedang beruntung.
"Lihatlah si jalang itu, sekarang dia merasa seperti artis hanya karena bisa mengerjakan beberapa soal," bisik Gwen pada Nora dan teman-temannya yang disambut tawa kecil yang dipaksakan.
"Jangan berkata begitu pada saudaraku. Mungkin Sierra memang jenius. Lagipula sudah dipastikan di depan semua orang kalau Sierra tidak berbuat curang saat ujian", ucap Nora.
"Nora, kau jangan terlalu baik padanya atau kau akan ditindas. Bagaimana hubunganmu dengan Mr Girard? Aku dengar dia sudah kembali, kapan kalian akan bertunangan?", timpal yang lain.
"Aku dengar dia mantan pacar Sierra, jangan bilang kau merebut Mr Girard dari Sierra?"
"Mana mungkin Nora seperti itu! Aku yakin Sierra pasti mengecewakan Mr Girard hingga diputuskan. Kau ingat kan bagaimana kelakuan Sierra dulu? Dia pasti tidak hanya berpacaran dengan Mr Girard. Aku yakin dia pasti ditinggalkan karena dia murahan"
"Jangan mengungkitnya lagi, Sierra sudah berubah", ucap Nora.
"Apanya yang berubah? Bukankah selain dekat dengan Eugene, dia juga dekat dengan pria lain?", ucap Gwen.
"Itu tidak benar! Hubungan Sierra dan Eugene hanya teman sedangkan dengan pria bermobil mewah yang pernah mengantarkannya pulang malam-malam itu.... Em... Mungkin sedikit spesial ", ucap Nora.
Sierra tentu saja mendengar semuanya, tapi dia terlalu malas untuk peduli. Dia hanya memandang tajam ke arah Nora dan teman-temannya.
Sierra bahkan belum merancang upaya balas dendam pada Nora atas apa yang dia perbuat tiga tahun lalu, tapi Nora masih saja berulah dan berusaha memanipulasi orang-orang bodoh di sekitarnya.
Nora merasa merinding, ia ingat Sierra mengancam akan memotong lidahnya. Seketika ia pun terdiam dna mengajak teman-temannya pergi ke kantin.
Bukan hanya para siswa, bahkan sikap para guru terhadap Sierra pun ikut berubah. Dulu, Mrs Hogwarts atau guru-guru lainnya akan mengetuk meja Sierra dengan penggaris kayu jika melihatnya tertidur saat pelajaran berlangsung. Sekarang? Mereka justru berjalan perlahan saat melewati meja Sierra. Di mata mereka, Sierra adalah aset berharga. Mereka mulai memaklumi bahwa seorang jenius memiliki cara kerja otak yang berbeda, dan mungkin tidur adalah cara Sierra agar lebih mudah memproses materi pelajaran di dalam kepalanya.
Suatu siang, tepat saat bel pulang sekolah berbunyi, seorang siswa mendatangi Sierra. "Sierra, kau dipanggil ke ruang Kepala Sekolah sekarang. Mr. Lawson juga menunggumu di sana."
Sierra mengangguk sambil merapikan tasnya yang terasa lebih berat karena tumpukan cemilan pemberian teman-temannya. Saat memasuki ruang kepala sekolah, dia melihat Eugene dan Melissa sudah duduk di sofa kulit. Mr. Lawson, guru matematika mereka yang perfeksionis, berdiri di samping meja besar Mr. Jonas.
"Duduklah, Sierra," ujar Mr. Jonas dengan senyum lebar yang dipaksakan. "Kami memanggil kalian bertiga karena satu alasan besar. Bulan depan akan diadakan Olimpiade Matematika tingkat nasional. Kami ingin kalian bertiga mewakili sekolah kita."
Sierra langsung menggeleng. "Maaf tapi saya tidak tertarik."
"Tunggu dulu, Sierra," sela Eugene. "Olimpiade ini terdiri dari kategori individu dan kelompok. Kami membutuhkanmu setidaknya untuk kategori kelompok. Dengan adanya kau, peluang kita untuk meraih juara satu hampir seratus persen."
Melissa, yang duduk di samping Eugene, tampak menggenggam jemarinya dengan cemas. "Tolonglah, Sierra. Piagam dari olimpiade ini punya poin yang sangat tinggi untuk pendaftaran Ivy League. Bagi Eugene, mungkin itu hanya tambahan aksesori di CV-nya karena dia bisa masuk lewat jalur donasi. Tapi bagiku..." Melissa menunduk, suaranya sedikit bergetar. "Aku butuh beasiswa penuh. Keluargaku tidak akan sanggup membiayai kuliah di sana. Prestasi ini bisa menjadi tiketku. Memnag masih ada pilihan universitas bagus lainnya dengan nilaiku, tapi jika aku bisa masuk Ivy league, masa depanku lebih terjamin, aku juga bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik."
Melihat gurat kecemasan di wajah Melissa, benteng pertahanan Sierra sedikit goyah. Dia tidak peduli pada piagam atau semacamnya, tapi dia tidak setega itu untuk menghancurkan harapan seseorang yang sedang berjuang demi masa depannya.
"Baiklah," jawab Sierra singkat. "Aku ikut."
Mr. Lawson tampak sangat lega. "Bagus! Karena waktu kita tidak banyak, saya ingin kita mulai sesi latihan tambahan hari ini juga. Apakah kalian keberatan?"
Eugene dan Melissa serempak menjawab tidak. Sierra hanya mengangkat bahu sebagai tanda setuju. Hari itu, mereka menghabiskan waktu berjam-jam di dalam perpustakaan yang sepi, berkutat dengan soal-soal kalkulus tingkat lanjut dan teori peluang yang memusingkan kepala bagi orang awam.
Pukul enam sore, langit Metropolia sudah berubah menjadi jingga gelap saat mereka bertiga melangkah keluar dari gedung sekolah. Udara musim gugur mulai terasa menggigit. Saat mereka berjalan menuju gerbang depan, langkah mereka melambat secara bersamaan.
Di samping sebuah mobil Bentley hitam yang mengkilap, terlihat pemandangan yang cukup mencolok. Sepasang kekasih sedang asyik bermesraan, mengabaikan fakta bahwa mereka masih berada di lingkungan institusi pendidikan. Si pria menyandarkan punggungnya di pintu mobil, sementara si wanita memeluknya erat, menyandarkan kepalanya di dada pria itu dengan manja.
Tangan si pria tampak tidak bisa diam. Dia mulai meraba punggung si wanita, lalu perlahan turun ke arah pinggul hingga paha. Si wanita tidak menolak, dia justru tampak tersipu malu, menenggelamkan wajahnya lebih dalam ke dada pasangannya.
"Itu Gwen, kan?" bisik Melissa pelan.
Sierra memperhatikan wanita itu. Benar, itu Gwen Preston, salah satu teman dekat Nora. Sementara si pria, jika dilihat dari jaket varsity yang dikenakannya, jelas bukan berasal dari sekolah mereka. Dia adalah mahasiswa dari sebuah universitas swasta yang lokasinya beberapa blok dari Metropolia. Namanya tidak ada yang tahu, tapi wajahnya memiliki tipe tampan semacam playboy dengan senyuman nakal khasnya.
Tanpa niat untuk menyapa atau ikut campur, Sierra, Eugene, dan Melissa terus berjalan melewati mereka. Hubungan Gwen bukan urusan mereka, dan mereka tidak terlalu dekat untuk sekadar berbasa-basi.
Namun, saat mereka melintas, Dennis Ritchie, si pria itu tak sengaja mengalihkan pandangannya dari Gwen. Matanya menangkap sosok Sierra yang berjalan dengan langkah tenang dan ekspresi datar. Rambut Sierra yang sedikit berantakan dan tatapan matanya yang tajam memberikan kesan misterius yang berbeda dari gadis-gadis yang biasa Dennis temui.
Dennis terpaku. Dia menatap Sierra dengan pandangan lapar, seolah-olah sedang melihat mangsa baru yang jauh lebih menarik daripada apa yang ada di pelukannya saat ini.
Gwen, yang merasakan tubuh Dennis menegang dan perhatiannya teralih, segera mengangkat kepala. Dia mengikuti arah pandang kekasihnya dan seketika hatinya mencelos. Dia melihat Sierra. Dia melihat bagaimana mata Dennis tidak berkedip menatap gadis itu.
"Kenapa Dennis menatap Sierra seperti itu?" batin Gwen dengan rasa cemburu yang mulai membakar. "Apa karena aku terlalu membosankan? Apa karena aku belum memberikan apa yang dia mau?"
Gwen merasa panik. Mereka baru berpacaran satu bulan. Baginya, menyerahkan keperawanan adalah keputusan besar yang masih terus dia timbang-timbang. Tapi melihat tatapan Dennis pada Sierra, dia merasa posisinya terancam. Dia sangat mencintai Dennis. Pria itu tahu cara memujinya, cara menyentuh hatinya, dan cara membuatnya merasa spesial, sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh gadis yang haus kasih sayang itu karena keluarganya terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
"Dennis?" panggil Gwen dengan nada bergetar. "Kenapa kau menatap Sierra? Apa kau mengenalnya?"
Dennis berdehem, mencoba menetralkan ekspresinya meski matanya masih sempat melirik punggung Sierra yang kian menjauh. "Sierra? Jadi itu namanya. Nama yang cantik. Sangat sesuai dengan orangnya," ucapnya dengan suara berat.
Wajah Gwen memerah karena marah sekaligus takut. "Dennis! Apa yang kau katakan?! Aku ini kekasihmu! Bagaimana bisa kau memuji wanita lain tepat di depanku?"
Dennis terkekeh pelan, mencubit pipi Gwen dengan gemas yang terasa merendahkan. "Jangan marah, sayang. Aku hanya jujur. Apa salahnya memuji kecantikan? Tidak mungkin aku bilang dia tampan, kan? Lagipula, aku adalah kekasihmu, hal itu tidak akan berubah hanya karena aku memuji orang lain."
Gwen menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Logikanya mengatakan ada yang salah dengan sikap Dennis, tapi rasa takut kehilangan pria itu jauh lebih besar. Dia merasa harus melakukan sesuatu yang drastis agar Dennis tidak lagi melirik Sierra atau wanita mana pun.
"Dennis..." Gwen berbisik, jemarinya meremas jaket pria itu. "Aku... aku sudah siap."
Dennis menaikkan satu alisnya, senyum tipis mulai terukir di sudut bibirnya. "Apa? Siap untuk apa?"
"Itu... aku sudah siap memberikan semuanya untukmu. Aku mencintaimu, Dennis. Aku ingin kau menjadi yang pertama," ucap Gwen dengan suara nyaris hilang karena malu, namun ada tekad penuh keputusasaan di sana.
Mendengar itu, Dennis tidak membuang waktu. Dia langsung melingkarkan tangannya di pinggang Gwen, menariknya sangat rapat hingga tidak ada celah di antara mereka. Dia mencium bibir Gwen dengan penuh nafsu, sebuah ciuman yang tidak mengandung kasih sayang, melainkan kepuasan karena telah berhasil menaklukkan benteng terakhir gadis itu.
"Gadis pintar," bisik Dennis di sela ciumannya. Dia membuka pintu mobil Bentley-nya dengan satu tangan. "Ayo masuk. Kita ke apartemenku sekarang. Aku mencintaimu Gwen."
"Kau... Tidak akan meninggalkan aku setelah ini kan?" tanya Gwen sedikit cemas.
"Mana mungkin. Aku sangat menyayangimu Gwen. Percayalah"
Gwen masuk ke dalam mobil dengan perasaan campur aduk antara takut dan lega. Dia merasa telah memenangkan kembali perhatian kekasihnya.
Namun, saat Dennis berjalan memutar menuju kursi pengemudi, dia menyempatkan diri melirik sekali lagi ke arah Sierra sudah menghilang dari pandangan. Di dalam kepalanya, Dennis sudah menyusun rencana baru. "Gwen adalah hidangan yang sudah tersaji di depan mataku, mana mungkin aku menolak. Tapi Sierra... Tunggulah... Kau yang selanjutnya..."
Dennis tidak akan menyia-nyiakan Gwen yang menawarkan diri, tapi dia juga tidak akan melepaskan target barunya begitu saja.
Bagi Dennis, mendapatkan Sierra hanyalah masalah waktu dan taktik yang tepat.
Dennis selalu menyukai tantangan baru.