Kita akan mulai perjalanan novel panjang ini perlahan, dengan emosi yang dalam, masa lalu yang kelam, dan takdir yang kelak berubah menjadi cahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finda Pensiunawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 — Darah dan Penyesalan
Lampu merah ruang operasi masih menyala terang.
Waktu terasa berjalan lambat, seperti sengaja memperpanjang penderitaan semua orang yang menunggu di luar.
Di dalam ruang operasi, suara alat medis kembali terdengar cepat.
“Tekanan turun lagi!”
“Perdarahan belum berhenti sepenuhnya!”
“Stok darahnya habis!”
Kalimat terakhir itu membuat udara di ruangan terasa membeku.
Dokter utama menoleh pada perawat.
“Berapa cadangan darah tipe O negatif yang tersisa?”
Perawat menelan ludah.
“Tidak ada, Dokter. Bank darah rumah sakit kosong. Pengiriman baru datang pagi.”
“Pagi?!” suara dokter meninggi. “Dia tidak punya waktu sampai pagi!”
Tubuh Valeria yang pucat semakin kehilangan warna. Darah yang keluar dari luka dalamnya tak bisa ditahan sepenuhnya. Organ-organ vitalnya mulai melemah satu per satu.
“Jika tidak ada transfusi sekarang, kita akan kehilangan dia!”
Di luar ruang operasi, seorang perawat berlari keluar dengan wajah tegang.
“Keluarga pasien Valeria!”
Semua berdiri serempak.
“Apa yang terjadi?!” Miguel hampir roboh.
“Dia kehilangan terlalu banyak darah. Kami butuh donor segera. Golongan darah O negatif.”
Keheningan sepersekian detik.
Miguel langsung berkata, “Ambil darah saya!”
Perawat menggeleng cepat setelah melihat data.
“Maaf, Pak. Golongan darah Anda tidak cocok.”
Alexander maju.
“Saya O positif.”
“Tidak cocok.”
Wajah Alexander memucat.
Daniel melangkah ke depan.
“Saya O negatif.”
Semua menoleh padanya.
Dan hampir bersamaan—
Suara berat lain terdengar.
“Saya juga.”
Itu Vincenzo.
Daniel menoleh pada ayahnya.
Vincenzo menatap lurus ke arah perawat.
“Ambil sebanyak yang dibutuhkan.”
Perawat terlihat lega.
“Cepat ikut saya!”
Daniel dan Vincenzo berjalan berdampingan menyusuri lorong menuju ruang donor.
Miguel menatap mereka dengan mata penuh harap.
“Terima kasih…”
Vincenzo hanya mengangguk.
Alexander berdiri diam, merasa tidak berdaya karena tubuhnya tak bisa membantu.
Di ruang donor, Daniel duduk di kursi, lengan kirinya dibuka. Di sampingnya, Vincenzo melakukan hal yang sama.
Jarum ditusukkan.
Darah merah mengalir melalui selang transparan.
Daniel menatap cairan itu dengan perasaan campur aduk.
Jika gadis itu benar adiknya—
Maka darah yang mengalir dari tubuhnya sekarang… akan kembali ke tubuhnya.
Vincenzo memejamkan mata.
Dalam hidupnya, ia pernah menumpahkan darah untuk mempertahankan kekuasaan.
Namun malam ini—
Ia menyerahkan darahnya untuk menyelamatkan satu nyawa.
Dan entah kenapa, ia merasa sedang mengembalikan sesuatu yang pernah direnggut darinya.
Kabar menyebar cepat.
Mahasiswi terbaik.
Primadona kampus.
Calon dokter bedah termuda.
Valeria kritis.
Dalam waktu kurang dari satu jam, lorong rumah sakit dipenuhi wajah-wajah cemas.
Profesor anatomi datang dengan jas yang masih setengah terpasang.
Dosen bedah berdiri dengan tangan terlipat, wajahnya pucat.
Beberapa mahasiswa berkumpul sambil berdoa.
“Dia yang selalu paling siap di ruang operasi…”
“Dia yang selalu bantu kita…”
Tangis kecil terdengar di sudut lorong.
Nama Valeria bukan hanya sekadar mahasiswa.
Ia adalah inspirasi.
Dan kini hidupnya tergantung pada kantong darah yang sedang dipindahkan ke ruang operasi.
Camille berdiri di ujung lorong.
Wajahnya hancur.
Matanya sembab.
Ia mendengar kabar itu dari grup kampus.
Valeria… kritis.
Ia berjalan perlahan mendekati ruang operasi.
Setiap langkah terasa berat.
Penyesalan menghantamnya tanpa ampun.
Ia belum sempat meminta maaf.
Belum sempat mengatakan bahwa ia menyesal atas rasa iri, atas sikapnya, atas semua kebencian kecil yang tak berarti itu.
“Jangan pergi…” bisiknya lirih.
Alexander melihat Camille dari kejauhan.
Ia tidak mengatakan apa-apa.
Malam ini bukan tentang persaingan.
Bukan tentang kecemburuan.
Semua orang hanya ingin satu hal—
Valeria hidup.
Di ruang operasi, kantong darah akhirnya tiba.
“Mulai transfusi sekarang!”
Darah segar mengalir masuk ke tubuh Valeria.
Monitor menunjukkan perubahan kecil.
Tekanan darah perlahan naik… meski masih lemah.
“Jangan berhenti sekarang,” gumam dokter utama.
Di luar, waktu terasa seperti siksaan.
Beberapa profesor duduk sambil membaca doa.
Miguel dan Sofía berpelukan erat.
Isabella menggenggam tangan Vincenzo yang baru keluar dari ruang donor dengan wajah sedikit pucat.
Daniel keluar tak lama setelahnya.
Wajahnya lelah, namun matanya penuh harap.
Camille melihatnya dan langsung berdiri.
“Daniel…”
Suara gadis itu pecah.
Daniel menatapnya.
Wajah Camille benar-benar berbeda dari biasanya. Tidak ada kesombongan. Tidak ada rasa iri. Hanya ketakutan yang tulus.
“Aku belum sempat minta maaf padanya,” katanya sambil menangis. “Aku jahat… aku iri… aku membuatnya tertekan… dan sekarang—”
Daniel memegang bahunya.
“Berhenti.”
Camille menatapnya dengan mata penuh air.
“Dia tidak pernah membencimu.”
Kalimat itu membuat Camille semakin hancur.
“Aku takut dia pergi sebelum aku bisa mengatakan semuanya…”
Daniel menelan emosinya sendiri.
“Aku juga takut.”
Keduanya berdiri saling menatap.
Dua orang yang sama-sama mencintai Valeria dengan cara berbeda.
Daniel menghela napas.
“Kalau dia bangun nanti… katakan sendiri. Dia pasti memaafkanmu.”
Camille menangis semakin keras.
“Bagaimana kalau dia tidak bangun?”
Daniel terdiam sejenak.
Lalu dengan suara bergetar ia berkata, “Maka kita akan terus hidup dengan membawa kebaikannya.”
Lampu ruang operasi masih menyala.
Setiap detik terasa panjang.
Di dalam ruangan, transfusi berjalan.
Monitor menunjukkan detak yang masih lemah… namun bertahan.
Dokter utama mengangkat wajahnya.
“Tekanan mulai stabil sedikit.”
Seorang perawat hampir menangis lega.
“Tapi kita belum aman,” lanjutnya. “Organ hatinya masih dalam kondisi kritis.”
Di luar, semua orang menunggu dalam doa yang sama.
Malam itu, bukan hanya darah yang mengalir.
Tapi juga penyesalan.
Cinta.
Harapan.
Dan ketakutan kehilangan.
Daniel berdiri memandang pintu operasi.
Camille berdiri di sampingnya.
Alexander tak jauh dari sana.
Vincenzo dan Isabella saling menggenggam tangan.
Miguel dan Sofía memejamkan mata dalam doa.
Dan di balik pintu itu—
Valeria berjuang.
Antara hidup dan mati.
Ditemani darah yang mengalir dari dua pria yang mungkin… memiliki hubungan lebih dalam dari yang mereka sadari.
Malam semakin larut.
Namun tak satu pun dari mereka berani pergi.
Karena jika Valeria membuka mata—
Mereka ingin menjadi orang pertama yang ia lihat.
Dan jika ia tidak—
Mereka tidak ingin ia pergi sendirian.