Sebuah kisah tentang seorang putri es yang bernama Aira Skypia. Ia memiliki kekuatan es yang luar biasa, tetapi juga memiliki hati yang penuh dengan dendam dan murka. Setelah keluarganya dibunuh oleh musuh yang kejam, putri es ini berusaha membalas dendam dan menghancurkan musuhnya dengan kekuatan esnya.
Namun, kekuatan luar biasa yang ia miliki kini lenyap seketika setelah musuhnya mengutuk seluruh keturunan es agar tidak ada yang menjadi penerus kejayaan kerajaan es.
Dalam perjalanan kultivasinya, ia harus berhadapan dengan bangsa vampir. Aira terpaksa harus hidup dan berlatih di dalam istana kerajaan Vampir.
Bagaimana cara putri es hidup setelahnya?
Seperti apa perjuangan Aira di dalan kerajaan Vampir yang dipenuhi oleh energi kegelapan?
Bagaimana cara ia membalas dendam tanpa kekuatan yang dimilikinya?
Pantengin terus ceritanya sampai akhir🗣️🗣️
Jangan lupa like, vote, dan komen biar author makin semangat....🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MellaMar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
...
Aira merasa sedikit tidak puas dengan jawaban Zarith. "Apa maksudmu, sampai mataku terbuka dengan sendirinya?" tanya Aira, suaranya sedikit frustrasi.
Zarith tersenyum, "Aira, kamu harus mencapai tingkat kesadaran yang lebih tinggi untuk mengontrol kekuatanmu. Bertapa akan membantu kamu mencapai itu."
Aira masih terlihat tidak yakin, tapi dia tahu bahwa dia harus melakukan ini. "Oke, Tapi, apa yang harus aku lakukan selama bertapa?"
Zarith menjawab, "Kamu harus meditasi, fokus pada energi dalam tubuhmu, dan mencoba mengontrolnya. Aku akan memberikan kamu beberapa instruksi tambahan."
Aira mengangguk, "Kapan kita mulai?"
Zarith tersenyum, "Kita mulai sekarang. Lyra, tolong bantu Aira menyiapkan tempat bertapanya."
Lyra mengangguk, "Baiklah, aku akan membantu.".
Lyra berjalan mendahului Aira, menuntunnya untuk mengikuti dari belakang tanpa perintah. Ingin sekali ia meraih tangan Aira, namun nyatanya ia urungkan karena masih sayang dengan nyawa.
Aira mengikuti Lyra ke sebuah gua yang tersembunyi di dalam ruangan bawah tanah. Gua itu gelap dan sunyi, hanya diterangi oleh beberapa lilin yang diletakkan di sekitar ruangan.
"Ini tempat bertapamu, Aira," kata Lyra, suaranya lembut.
Aira melihat sekeliling, merasa sedikit tidak nyaman dengan kesunyian gua itu. "Tempat ini agak menakutkan," katanya, mencoba untuk tidak menunjukkan rasa takutnya.
Lyra tersenyum, "Aira, tempat ini akan membantu kamu fokus. Aku akan meninggalkan kamu sekarang, tapi aku akan kembali untuk memeriksa kamu secara teratur."
Aira mengangguk, mencoba untuk menunjukkan keberanian. "Tapi kamu gak akan ninggalin aku sendirian kan?".
Lyra memberikan Aira sebuah bantal kecil dan sebuah selimut. "Aku akan mencari tempat untuk kita menghirup udara, diluaran sana. Semoga berhasil, Aira."
Lyra berjalan keluar menjauhi pertapaan Aira. Sesangkan Aira menatap punggung Lyra yang semakin menjauh, merasa sedikit takut jika harus sendirian. "Lyra, tunggu..."
Lyra berhenti di pintu gua, menatap Aira dengan rasa ingin tahu. "Apa, Aira?"
Aira menggulung tangannya, merasa sedikit tidak yakin. "Gak apa-apa. Aku hanya memintamu berhati-hatilah, oke?"
Lyra tersenyum, "Aku akan berhati-hati, Aira. Kamu juga, oke?". Lura melambaikan tangannya dengan senyum manis terlukis di wajahnya.
Aira mengangguk, menatap Lyra yang berjalan pergi meninggalkan gua itu. Ia mengalihkannya pada sebuah bantal yang terletak di tengah ruangan pertapaan. Dengan sesikit ragu, dia kemudian duduk di atas bantal, mencoba untuk fokus pada energi dalam tubuhnya.
Gua itu sunyi, hanya diterangi oleh cahaya lilin yang lembut. Aira menutup matanya, mencoba untuk memulai bertapanya.
...
Lyra meninggalkan gua itu dengan berat hati, menutup pintu kayu yang tua dan berat di belakangnya. Lyra bisa merasakan napas Aira yang masih sedikit tidak tenang, tapi ia tahu kalau Aira akan baik-baik saja. Aira adalah orang yang kuat, dan ia percaya pada temannya.
Lyra berjalan keluar bawah tanah. Pergi untuk kembali ke permukaan menyusuri hutan, menikmati udara malam yang segar dan suara-suara alam yang menyambut kehadirannya. Iabisa merasakan energi alam yang kuat di sana, dan Lyra sangat yakin bahwa Aira akan bisa merasakan hal yang sama dengan kemampuannya.
Isi kepalanya masih dipenuhi untuk berpikir tentang Aira, tentang kekuatan yang dia miliki, dan tentang perjalanan yang dia harus tempuh. Jauh dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Lyra sangat ingin membantu Aira, tapi Lyra tahu bahwa dirinya tidak bisa ikut campur. Aira harus menemukan jalannya sendiri.
Sesampainya di puncak sebuah bukit, Lyerhenti sejenak, menatap bintang-bintang di langit. Ia bisa merasakan kehadiran Zarith yang datang dari arah belakangnya, dan Lyra tahu bahwa Zarith juga sedang memikirkan Aira.
"Bagaimana dia?" tanya Zarith, suaranya lembut.
Lyra menoleh, kemudian tersenyum, "Aira akan baik-baik saja. Dia kuat."
Zarith mengangguk, "Aku tahu. Aira akan menjadi sesuatu yang besar."
Lyra menatap Zarith, "Apa yang kamu lihat, Zarith? Apa yang kamu tahu tentang Aira?"
Zarith tersenyum, "Aira adalah kunci, Lyra. Aira adalah kunci untuk mengubah dunia ini."
Zarith menatap Lyra dengan mata yang dalam, membuat Lyra merasa bahwa dia melihat sesuatu yang tidak bisa Lyra lihat. "Aira memiliki kekuatan yang tidak bisa diukur, Lyra. Dia memiliki potensi untuk mengubah dunia ini.". Jelas Zarith menatap hamparan kegelapan di hadapannya
Lyra merasa bulu kuduknya berdiri, karena ia tahu bahwa Zarith tidak akan mengatakan hal seperti itu jika tidak ada alasan yang kuat. "Apa yang kamu maksud, Zarith? Apa yang akan terjadi?"
Zarith menarik napas dalam-dalam, "Aira akan menghadapi banyak tantangan, Lyra. Tapi pada akhirnya dia akan sendirian. Aku tidak akan ada di sampingnya, dan kamu juga."
Lyra tertegun mendengar ucapan Zarith, ia mengangguk, "Aku akan selalu ada untuk Aira."
Zarith tersenyum, tanpa menoleh ke arah Lyra sedikitpun. "Aku tahu, Lyra. Aira sangat beruntung memiliki kamu sebagai temannya. Tapi kamu juga akan meninggalkan Aira sendirian"
Lyra merasa sedikit tidak nyaman dengan pujian itu, tapi ia tahu bahwa Zarith hanya mengatakan yang sebenarnya. Mungkin, Lyra dan Aira belum melalui banyak hal bersama, dan Lyra tidak mengenal banyak seperti apa sosok Aira yang sebenarnya.
Tiba-tiba, Zarith menoleh ke arah gua tempat Aira bertapa. "Aira sudah mulai, Lyra. Aku harus pergi."
Lyra hanya mengangguk, "Aku akan menunggu kabar darimu, Zarith."
Zarith menghilang ke dalam kegelapan, meninggalkan Lyra sendirian di hutan. Tatapan Lyra tetap tertuju, menatap bintang-bintang di langit, merasa sedikit tidak sabar untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Lyra, aku menantikan kekalahan mereka. Para iblis tercela yang merusak tatanan dunia". Bisik Lyra pada hembusan angin.
Suara Lyra yang lembut dan penuh emosi menghilang ke dalam kegelapan, meninggalkan keheningan yang hanya dipecahkan oleh suara jangkrik dan desiran angin.