Puluhan tahun silam dunia persilatan mengalami kedamaian, Sembilan Master Naga berhasil membuat dunia menjadi lebih aman, para pendekar golongan hitam tidak ada yang membuat onar baik di dunia persilatan maupun di kerajaan yang di tinggali rakyat biasa. Namun semua itu kini tidak ada lagi, kini dunia persilatan mengalami kekacauan setelah sebuah partai golongan hitam muncul dan merajalela.
Wang Long yang hidup di sebuah desa bersama keluarganya juga mendapat perlakuan buruk dari anggota partai golongan hitam tersebut.
Semua keluarga dan orang-orang di desa Wang Long di bantai secara sadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Pasir, Mayat, dan Hati Seorang Naga
Perjalanan menuju utara memakan waktu tujuh hari yang melelahkan. Semakin jauh mereka melangkah, warna dunia seolah memudar.
Langit biru berganti kelabu kusam, tanah yang semula subur berubah menjadi gersang dan pecah-pecah. Angin gurun bertiup kencang, membawa debu kasar dan bau getir yang menyesakkan napas—bau kemiskinan dan keputusasaan.
Saat mereka memasuki gerbang kota gurun pertama, langkah Sin Yin mendadak terhenti. Matanya yang tajam menatap nanar ke sekeliling. Pemandangan itu jauh lebih buruk dari medan perang mana pun.
Rumah-rumah reyot berdiri miring, seolah hanya menunggu waktu untuk ambruk. Orang-orang dengan tubuh tinggal tulang dan mata cekung bersandar di dinding bangunan, menatap kosong tanpa harapan.
Di sudut jalan, beberapa penjaga kota yang berpakaian compang-camping justru asyik berjudi di pos jaga, tertawa keras sembari mengabaikan seorang wanita tua yang sedang dipukuli oleh segerombolan perampok hanya beberapa depa dari sana.
Wang Long berhenti melangkah. Rahangnya mengeras, auranya yang tenang mendadak berubah menjadi berat. “Ini wilayah kekuasaan siapa?” tanyanya, suaranya rendah namun mengandung nada tuntutan.
Yue Liang Shu, yang wajahnya masih sedikit pucat, menjawab dengan nada pahit, “Gubernur bayangan dari Partai Tengkorak Hitam mengendalikan daerah ini sepenuhnya. Pejabat resmi di sini hanyalah boneka kayu yang digerakkan oleh benang-benang mereka.”
Tiba-tiba, seorang anak kecil berlari kencang dan menabrak kaki Wang Long. Bocah itu terjatuh, lalu buru-buru berdiri dan membungkuk berkali-kali sembari meminta maaf dengan suara gemetar. Wang Long menatap bocah itu; ia terlalu kurus, tulang pipinya menonjol, dan pakaiannya hanya berupa kain rongsokan.
Sin Yin menggenggam hulu pedangnya hingga buku jarinya memutih. Matanya berkilat marah. “Kota ini sudah busuk sampai ke akarnya.”
Wang Long tidak menjawab. Matanya terus mengamati ketidakadilan yang terpampang nyata di depannya. Di kejauhan, seorang pria berteriak parau, “Air! Airnya dijatah lagi! Anakku sekarat!” Namun, tak ada yang peduli. Orang-orang hanya melewatinya seolah teriakan itu hanyalah bising angin.
Sin Yin menoleh, menatap wajah profil Wang Long yang tampak tegang. “Wang Long, kita punya tujuan besar. Jangan terlibat terlalu jauh dengan urusan kota ini jika kita ingin mencapai Kuil Dewa Tanah tepat waktu.”
Wang Long menoleh perlahan, menatap Sin Yin dengan tatapan yang begitu lembut namun penuh keteguhan. “Sin Yin… jika bukan kita yang peduli, lalu siapa lagi yang akan melakukannya?”
Sin Yin tertegun. Ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa dunia ini memang kejam, namun kata-katanya tertahan di tenggorokan saat melihat ketulusan di mata pemuda itu.
Desa di Ujung Provinsi
Menjelang senja, ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat dengan warna merah darah, mereka tiba di sebuah desa terpencil. Sunyi menyerbu indra mereka. Terlalu sunyi untuk sebuah pemukiman manusia.
Pintu-pintu rumah terbuka lebar, berderit tertiup angin. Peralatan dapur berserakan di tanah. Dan kemudian, bau itu datang—bau kematian yang tajam dan memualkan.
Yue Liang Shu menghentikan langkahnya paling depan, tangannya memberi isyarat waspada. “Jangan masuk terlalu dalam. Baunya menunjukkan ini baru terjadi sehari atau dua hari yang lalu.”
Namun, Wang Long seolah tak mendengar. Ia terus berjalan menuju pusat desa. Dan di sana, pemandangan itu terbentang.
Mayat. Bergelimpangan di jalan tanah yang berdebu. Di depan sumur yang kering. Di teras rumah tempat mereka seharusnya beristirahat. Tua, muda, pria, wanita… bahkan anak-anak. Sebagian mulai membusuk di bawah terik matahari utara.
Sin Yin berdiri kaku. Sebagai "Bidadari Maut", ia sudah terbiasa melihat darah mengalir dan nyawa yang melayang di ujung pedangnya. Namun ini berbeda. Ini bukan duel kehormatan. Ini bukan pertarungan antar pendekar.
Ini adalah pembantaian massal terhadap orang-orang yang tak berdaya.
“Siapa… siapa yang tega melakukan ini?” gumam Sin Yin, suaranya sedikit bergetar.
Yue Liang Shu berjongkok, memeriksa salah satu tubuh dengan teliti. “Luka tusuknya sangat rapi dan presisi. Banyak yang mati tanpa perlawanan karena diracun terlebih dahulu. Ini adalah pekerjaan yang sangat sistematis. Eksekusi dingin oleh kaum profesional.”
Wang Long tiba-tiba berlutut di samping tubuh seorang anak perempuan kecil yang masih memeluk boneka kain lusuh.
Tangan Wang Long bergetar hebat saat ia menyentuh jemari dingin anak itu. Untuk pertama kalinya sejak perjalanan ini dimulai, Sin Yin melihat naga yang perkasa itu gemetar karena duka.
Hati Sin Yin terasa seperti ditusuk ribuan jarum halus melihat kesedihan Wang Long. Ia melangkah mendekat, suaranya melembut. “Apa yang ingin kau lakukan?”
Wang Long menutup mata anak kecil itu dengan gerakan yang sangat lembut, seolah takut membangunkannya dari tidur panjang. “Kita harus menguburkan mereka semua.”
Sunyi sesaat. Yue Liang Shu terkesiap. “Wang Long, jumlah mereka puluhan. Kita tidak punya waktu dan tenaga sebanyak itu jika ingin mengejar pelempar belati.”
“Jika tidak dikubur sekarang, mereka akan habis dimakan anjing liar malam ini. Mereka manusia, bukan bangkai,” sahut Wang Long tanpa menoleh.
Sin Yin menatap punggung Wang Long cukup lama. “Kita adalah pengelana, Wang Long. Kita bukan penggali kubur.”
Wang Long berdiri perlahan, tubuhnya membelakangi cahaya senja yang merah. “Kita mungkin bukan penggali kubur, Sin Yin. Tapi kita juga bukan orang yang bisa berpura-pura tidak melihat penderitaan lalu pergi begitu saja.”
Tatapan mereka bertemu di tengah debu yang beterbangan. Angin gurun bertiup di antara mereka, membawa pasir tipis yang mengiris kulit.
Beberapa detik itu terasa seperti keabadian bagi Sin Yin. Ia melihat sisi kemanusiaan Wang Long yang begitu murni—sesuatu yang selama ini ia anggap sebagai kelemahan, namun kini tampak seperti kekuatan yang paling agung.
Tanpa sepatah kata lagi, Sin Yin berjalan melewati Wang Long. Ia menyarungkan pedangnya dengan denting yang tajam. “Aku sangat membenci aroma tanah dan menggali lubang,” katanya dengan nada dingin yang dipaksakan.
Namun, tangannya mulai bergerak, menarik tubuh-tubuh itu dengan hati-hati menuju satu area yang lebih tinggi di pinggir desa. Yue Liang Shu tersenyum samar, menggelengkan kepalanya. “Naga ini memang aneh… dan dia menular.” Ia pun bangkit dan mulai membantu.
Mereka menggali hingga larut malam. Tangan mereka penuh dengan tanah dan bekas darah kering. Sin Yin, yang biasanya selalu menjaga kebersihan pakaian dan kulitnya, kini berlumuran debu dari ujung rambut hingga kaki.
Wang Long mengangkat tubuh seorang pria tua dengan sangat hati-hati, menaruhnya di dalam lubang panjang yang telah mereka gali. “Pelan… pelan…” bisiknya lirih, seakan-akan pria tua itu masih bisa merasakan sakit jika ia kasar.
Sin Yin menghentikan kegiatannya sebentar, menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. “Kenapa?” tanyanya tiba-tiba, memecah kesunyian malam.
Wang Long berhenti sejenak. “Kenapa apa?”
“Kau bahkan tidak tahu nama-nama mereka. Kenapa kau begitu bersikeras memberikan penghormatan terakhir ini?”
Wang Long terdiam cukup lama. Matanya menatap gundukan tanah di bawahnya sebelum menjawab dengan suara rendah yang penuh luka lama.
“Orang tuaku juga mati dibantai. Mereka tergeletak di tanah tanpa ada yang menguburkan dengan layak… hingga aku kembali bertahun-tahun kemudian hanya untuk menemukan tulang belulang mereka.”
Sin Yin merasakan dadanya sesak. Ia baru menyadari bahwa setiap lubang yang digali Wang Long hari ini adalah upaya untuk menyembuhkan luka di hatinya sendiri.
“Aku tidak ingin ada anak lain di dunia ini yang bangun dan melihat orang tuanya membusuk di jalanan tanpa ada yang peduli,” lanjut Wang Long.
Angin malam berdesir lembut, membawa dingin yang menusuk. Sin Yin menundukkan kepala, menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca.
Ia kembali menggali dengan lebih cepat. Beberapa saat kemudian, ia bergumam pelan, hampir seperti bisikan, “Kau… kau benar-benar terlalu baik untuk dunia yang kejam ini, Wang Long.”
Wang Long tersenyum tipis, sebuah senyum lelah namun tulus. “Dan kau terlalu dingin hanya untuk mengakui bahwa kau juga punya hati yang lembut, Sin Yin.”
Sin Yin mendengus kecil, membuang muka. Namun ketika Wang Long sedang sibuk dengan jasad berikutnya, ia diam-diam menyeka sudut matanya yang basah.
Cinta yang Diuji
Setelah tugas berat itu selesai, mereka duduk di dekat sebuah gundukan tanah panjang yang menjadi nisan masal penduduk desa. Api kecil menyala di tengah kegelapan, memberikan sedikit kehangatan.
Yue Liang Shu, yang tenaganya terkuras habis karena lukanya belum pulih benar, sudah tertidur lebih dulu dengan napas yang teratur.
Sin Yin duduk di samping Wang Long, memeluk lututnya sendiri sembari menatap api yang menari.
“Aku telah membunuh banyak orang tanpa ragu,” ucap Sin Yin tiba-tiba, suaranya terdengar rapuh. “Aku dijuluki Bidadari Maut. Orang-orang gemetar mendengar namaku. Aku menganggap kematian hanyalah angka.”
Wang Long menatap api, mendengarkan dengan saksama. “Aku tahu.”
“Tapi hari ini,” Sin Yin menoleh pada Wang Long, matanya memantulkan cahaya api. “Aku merasa sangat kecil berada di sampingmu.”
Wang Long tampak terkejut.
“Kecil? Kenapa?”
“Kau peduli pada orang asing yang bahkan sudah mati. Kau bisa merasakan amarah pada ketidakadilan yang bukan urusanmu. Sedangkan aku, aku hanya tahu cara membalas rasa sakit dengan darah,” lanjut Sin Yin.
Wang Long menggelengkan kepala perlahan. Ia menatap Sin Yin dengan tatapan yang sangat dalam, membuat jantung gadis itu berdegup kencang.
“Sin Yin, jika bukan karena ketajaman pedangmu, aku mungkin sudah mati berkali-kali di tangan musuh. Kebaikan tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya kekuatan untuk melindunginya.”
Ia menggeser duduknya sedikit lebih dekat. “Aku bisa menjadi kuat seperti sekarang karena aku tahu ada kau yang berdiri di sisiku.”
Hening. Udara di sekitar mereka seolah berhenti bergerak. Pipi Sin Yin memanas hebat di bawah cahaya api. “Jangan… jangan mengatakan hal-hal seperti itu secara tiba-tiba…”
“Kenapa?” tanya Wang Long dengan kepolosan yang membuat Sin Yin gemas.
“Aku bisa salah paham, bodoh!”
Wang Long menggaruk pipinya, tampak bingung. “Salah paham bagaimana? Aku hanya mengatakan apa yang kurasakan.”
Sin Yin menoleh cepat, menatap wajah polos itu dengan perasaan campur aduk antara kesal dan bahagia.
“Kau benar-benar tidak sadar dengan apa yang kau lakukan pada perasaanku?”
“Sadar apa?”
Sin Yin mendesah panjang, merasa kalah. “Lupakan saja. Kau memang bocah Naga yang bebal.”
Wang Long mendekat lagi, suaranya melembut, menusuk langsung ke hati Sin Yin.
“Jika kau ingin tahu, aku tidak peduli dunia menyebutmu Bidadari Maut atau apa pun. Bagiku, di mataku, kau hanyalah Sin Yin. Gadis yang menemaniku menembus badai ini.”
Jantung Sin Yin seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Ia berdiri mendadak hingga debu berterbangan.
“A-aku yang berjaga malam ini! Tidurlah!”
Wang Long berkedip heran. “Tapi tadi bukannya Yue Liang Shu yang sudah dijadwalkan?”
“Sekarang aku yang berjaga! Titik!” Sin Yin melangkah cepat menjauh ke kegelapan, tangannya menangkup pipinya yang terasa seperti terbakar.
Di belakangnya, Wang Long hanya tersenyum kecil melihat tingkah laku gadis itu.
Sementara itu, Yue Liang Shu yang sebenarnya hanya setengah tertidur, bergumam lirih nyaris tak terdengar, “Naga yang terlalu polos… dan Bidadari yang sedang jatuh hati setengah mati… dunia persilatan ini benar-benar tempat yang aneh.”
Di kejauhan, di balik bayang-bayang bukit pasir yang tinggi, sesosok bayangan hitam mengamati desa yang baru saja sunyi itu. Angin malam meniup jubahnya yang gelap, menyamarkannya dengan kegelapan malam.
“Jadi, inikah bocah 'Naga' yang membuat kekacauan itu?” gumam sosok itu. Sebuah senyum tipis yang dingin terukir di bibirnya.
Bersambung...