Selama tiga tahun pernikahan, Dimas Alvaro rela menjadi "bayangan" di rumahnya sendiri. Sebagai suami dari Reina Darmawanti, seorang pemilik cafe yang sukses namun angkuh, Dimas setiap hari menelan hinaan. Ia dianggap pria tak berguna, pengangguran yang hanya bisa memasak, dan menumpang hidup pada harta istri. Demi menjaga perasaan orang tua mereka dan sebuah rahasia masa lalu, Dimas memilih diam, meski Reina bahkan tak sudi disentuh olehnya.
Namun, di luar pagar rumah itu, Dimas adalah sosok yang berbeda. Ia adalah pemilik jaringan Rumah Sakit Medika Utama, seorang dokter jenius yang memegang kendali atas ribuan nyawa.
Kehidupan ganda Dimas mulai goyah saat takdir mempertemukannya dengan Kathryn Danola. Gadis mahasiswa yang ceria, sopan, dan tulus itu memberikan apresiasi yang tidak pernah Dimas dapatkan dari istrinya sendiri. Pertemuan tak sengaja di koridor rumah sakit saat Kathryn menyelamatkan keponakannya, Sean, membuka babak baru dalam hidup Dimas.
Ketika Reina akhirnya mengu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Retakan di Langit-Langit Dharmawangsa
Suasana di dalam taksi yang membawa Kathryn pulang terasa begitu pengap, meski pendingin udara menyala maksimal. Kata-kata Dimas di taman rumah sakit tadi terus bergema di kepalanya, seperti kaset rusak yang memutar memori tentang kebohongan demi kebohongan. Kathryn menyandarkan kepalanya di kaca jendela, membiarkan air matanya mengalir tanpa suara. Ia merasa dikhianati, bukan hanya oleh identitas Dimas, tapi oleh perasaannya sendiri yang masih berdenyut nyeri setiap kali mengingat wajah pria itu.
Namun, kejutan pahit belum berakhir hari ini.
Begitu Kathryn melangkah masuk ke ruang tamu rumahnya, ia mendapati Paul berdiri di dekat jendela dengan ponsel di tangan. Wajah kakaknya merah padam, rahangnya mengatup rapat ekspresi yang hanya muncul saat Paul sedang benar-benar murka.
"Sudah puas kamu mempermalukan Dokter Dimas di rumah sakitnya sendiri, Kathryn?" suara Paul menggelegar, memecah kesunyian rumah.
Kathryn tersentak. Ia menghentikan langkahnya di anak tangga pertama. "Kak Paul... apa maksud Kakak? Dan bagaimana Kakak tahu aku ke sana?"
Paul melemparkan ponselnya ke atas sofa dengan kasar. "Dimas baru saja meneleponku. Suaranya hancur, Kath! Dia menceritakan semuanya. Dia menyatakan cintanya padamu, dan kamu menolaknya mentah-mentah seolah dia adalah penjahat kelamin yang baru saja keluar penjara!"
Darah Kathryn mendidih. Rasa kecewa yang tadi sudah menumpuk kini meledak menjadi kemarahan baru. "Dia menelepon Kakak? Benar-benar kekanakan! Jadi sekarang dia mengadu pada Kakak karena aku menolaknya? Luar biasa. Ternyata Tuan Besar Alvaro itu hanya seorang pengecut yang tidak bisa menerima penolakan!"
"Jaga bicaramu, Kathryn!" bentak Paul. Ia melangkah mendekati adiknya, menatapnya dengan pandangan tajam. "Kamu ini kenapa jadi keras kepala sekali? Selama sebulan terakhir, siapa yang merawatku saat aku demam karena ulah Becca? Siapa yang menjaga Sean setiap malam saat kamu sibuk belajar untuk ujian? Dimas! Dia mengabaikan rapat miliaran rupiah hanya untuk memastikan kita makan dengan layak!"
Kathryn tertawa getir, air mata kembali jatuh. "Itu semua bagian dari sandiwaranya, Kak! Dia melakukan itu untuk membuat kita merasa berhutang budi! Apa Kakak tidak sadar kita sedang dijadikan bidak dalam permainannya untuk mencari 'cinta sejati' yang naif?"
"Permainan apa?!" Paul berteriak frustrasi. "Dia itu tulus! Aku pria, aku tahu kapan seorang pria sedang bersandiwara atau sedang sekarat karena cinta. Kamu itu terlalu berlebihan, Kathryn. Terlalu lebay! Hanya karena dia kaya dan sedikit berbohong soal statusnya agar tidak diremehkan seperti saat bersama Reina, kamu menganggapnya iblis? Kamu lupa bagaimana dia memperlakukan kita?"
Kathryn terperangah. Ia menatap kakaknya dengan pandangan tidak percaya. Selama ini, Paul adalah pelindungnya, orang yang selalu berdiri di depannya saat siapa pun menyakitinya. Namun sekarang, kakaknya justru berdiri di pihak pria yang telah membohonginya.
"Kakak membelanya?" bisik Kathryn parau. "Kakak lebih membela pria yang baru kita kenal beberapa bulan daripada perasaan adik Kakak sendiri? Kakak tahu betapa malunya aku saat tahu uang tabunganku itu tidak ada artinya bagi dia? Aku merasa seperti badut, Kak!"
"Uang tabunganmu itu sangat berarti bagi dia karena itu satu-satunya hal jujur yang pernah dia terima selama bertahun-tahun!" balas Paul, suaranya kini sedikit melunak namun tetap tegas. "Dengarkan aku, Kath. Kamu akan menyesal jika kehilangan pria seperti Dimas. Jangan biarkan egomu menghancurkan kebahagiaanmu sendiri."
Kathryn mengepalkan tangannya. Rasa sakit hati karena dibohongi Dimas kini ditambah dengan rasa dikhianati oleh kakaknya sendiri. Ia merasa tidak ada lagi tempat yang aman bagi perasaannya di rumah ini.
"Cukup, Kak Paul. Cukup," ujar Kathryn dengan nada yang tiba-tiba menjadi dingin dan datar.
Ia menatap Paul langsung ke matanya, sebuah tatapan yang membuat Paul sedikit tertegun karena tidak pernah melihat adiknya seberani ini.
"Mulai detik ini, aku minta Kakak jangan pernah ikut campur lagi dalam urusan percintaanku. Jangan pernah sebut nama Dimas di depanku, dan jangan pernah mencoba menjadi makcomblang untuk pria itu," tegas Kathryn. "Ini hidupku, ini perasaanku. Jika Kakak lebih memilih berteman dengan miliarder itu daripada menghargai luka adiknya, silakan. Tapi jangan paksa aku untuk mengikuti kemauan Kakak."
Paul terdiam, mulutnya sedikit terbuka namun tidak ada kata yang keluar. Ia terpaku melihat Kathryn yang biasanya lembut dan penurut kini berubah menjadi sosok yang begitu keras.
"Aku akan pergi ke kamar. Dan tolong, jangan ada yang mengetuk pintuku malam ini," tambah Kathryn.
Tanpa menunggu jawaban Paul, Kathryn berlari menaiki tangga. Suara langkah kakinya yang terburu-buru bergema di lorong lantai dua, disusul oleh dentuman pintu kamar yang tertutup sangat keras.
Paul berdiri mematung di ruang tamu. Ia menatap tangga dengan perasaan campur aduk antara marah, sesal, dan bingung. Ia meraih ponselnya kembali, melihat nama 'Dimas' di daftar panggilan terakhir. Ia ingin menelepon Dimas untuk memberi tahu bahwa situasinya malah semakin buruk, tapi ucapan Kathryn tadi menahannya.
"Sial," gumam Paul seraya mengusap wajahnya dengan kasar. "Dua-duanya sama-sama keras kepala."
Di dalam kamar, Kathryn melempar tasnya ke lantai dan menjatuhkan diri ke tempat tidur. Ia membenamkan wajahnya di bantal, mencoba meredam teriakan frustrasinya. Ia merasa sangat sendirian. Dimas dengan kebohongannya, dan Paul dengan pembelaannya, seolah-olah bersekongkol untuk memojokkan dirinya.
"Kalian tidak mengerti..." isak Kathryn di balik bantal. "Bukan soal uangnya, tapi soal kejujuran yang tidak kalian hargai."
Malam itu, kediaman Danola yang biasanya hangat berubah menjadi sunyi dan dingin. Di sudut kota yang lain, Dimas duduk di balkon apartemen mewahnya, menatap lampu-lampu kota yang berkilauan namun terasa hampa. Ia menyesali tindakannya menelepon Paul, ia baru menyadari bahwa mencari sekutu justru akan membuat Kathryn merasa semakin terintimidasi.
Perselisihan antara kakak dan adik itu menjadi jurang baru yang semakin dalam. Dimas yang awalnya berharap bantuan Paul bisa meluluhkan hati Kathryn, justru harus menelan pil pahit bahwa ia baru saja memicu perang dingin di dalam rumah yang sangat ia sayangi.
terlalu berlebihan
terlalu berlebihan kalau kata aku...
seolah2 dia paling korban disini padahal sama2 sakit juga
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰