Di bawah langit California yang selalu cerah, keluarga Storm adalah simbol kesempurnaan. Namun, di dalam kediaman megah mereka, dua badai yang berbeda sedang bergolak.
Luna Storm adalah anak emas. Cantik, lembut, dan selalu menempati peringkat tiga besar dalam daftar pesona konglomerat kota. Hidupnya adalah rangkaian jadwal ketat antara balet dan piano, sebuah pertunjukan tanpa henti untuk memuaskan ambisi sang ayah. Di balik senyum porselennya, Luna menyimpan rahasia patah hati dari masa SMA dengan Zayn Karl Graciano, satu-satunya lelaki yang pernah membuatnya merasa hidup, namun pergi karena Luna lebih memilih tuntutan keluarga daripada cinta.
Di sisi lain, ada Hera Storm. Kembaran tidak identik Luna yang mewarisi fitur wajah tajam ibunya dan jiwa pemberontak sejati. Hera adalah antitesis dari Luna, ia jomblo sejati, penunggang motor sport, dan lebih suka bergaul di bengkel daripada di aula dansa. Ia bebas, sesuatu yang sangat dicemburui oleh Luna.
.
.
SELAMAT BACA DEAR 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#28
Suasana di apartemen Zayn yang tadinya tegang dan penuh air mata, tiba-tiba berubah menjadi medan perang batin yang unik. Zayn masih berlutut di hadapan Luna, wajahnya sejajar dengan perut yang kini menjadi pusat semesta baru bagi mereka. Saat Zayn bergerak untuk memeluk pinggang Luna lebih erat, handuk yang tersampir di bahunya terjatuh, mengekspos dada bidangnya yang selama ini tersembunyi.
Mata Luna yang masih basah tiba-tiba tertuju pada guratan tinta hitam yang tampak masih baru dan sedikit kemerahan di dada kiri Zayn, tepat di atas jantungnya. Di sana, terukir nama Luna dengan jenis huruf cursive yang sangat indah, dikelilingi oleh aksen garis kecil yang menyerupai detak jantung.
Luna tertegun. Kemarahannya seolah membeku sesaat. Dengan jari yang masih gemetar, ia menyentuh tato itu. Kulit Zayn terasa hangat dan sedikit kasar di bawah ujung jarinya.
"Kapan kau buat ini, Zayn?" bisik Luna, suaranya parau. "Saat kita bersama malam itu... aku tidak melihatnya. Dadamu masih polos."
Zayn menengadah, menatap mata Luna dengan kejujuran yang telanjang. "Malam setelah kita bersama, Luna. Keesokan harinya, saat kau meninggalkanku di markas waktu itu, aku merasa duniaku runtuh. Aku pergi ke studio tato langgananku. Aku ingin namamu menetap di sana, jadi jika Ayahmu membunuhku pun, dia akan tahu siapa pemilik jiwaku."
Luna merasakan dadanya berdenyut nyeri karena haru. Pria ini, yang baru saja membohonginya soal seekor anjing, ternyata mengukir namanya di tubuhnya sebagai bentuk pengabdian abadi. Namun, ingatan tentang kata "bosan" dan "Zella" kembali menyeruak.
Luna menarik tangannya dengan cepat, wajahnya kembali ketus. "Oh, jadi kau pikir dengan tato ini aku akan lupakan kalau kau menyebutku membosankan? Kau lebih memilih memuja anjing daripada bicara jujur padaku, Zayn!"
Zayn panik melihat Luna yang kembali meradang. Ia segera berdiri, mencoba merangkul bahu Luna yang bersikap sedingin es. "Maafkan aku, sayang. Sungguh. Aku hanya terlalu takut kehilanganmu jika Ayahmu tahu kita masih berhubungan. Aku panik, dan satu-satunya nama yang muncul di kepalaku saat Mami menelepon soal London adalah Zella. Aku tidak menyangka kau akan secemburu itu pada seekor Golden Retriever."
"Siapa yang tidak cemburu jika kau bilang kau tidak mau mengkhianatinya?!" teriak Luna sambil memukul dada Zayn kesal.
"Maaf, oke? Maafkan aku," Zayn mencoba menahan tawa melihat wajah Luna yang cemberut namun terlihat sangat menggemaskan dengan pipi chubby-nya. "Ayo, jangan marah-marah terus. Anak-anak di dalam sana pasti tidak suka melihat ibunya seperti singa lapar begini. Aku khawatir mereka tertekan punya ibu yang..."
Zayn menggantung kalimatnya, menyadari ia berada di ambang bahaya.
"Ibu yang apa, Zayn Graciano?" tantang Luna dengan mata menyipit. "Ibu yang pemarah? Ibu yang gemuk? Ibu yang membosankan?"
"Ibu yang... oh astaga, aku salah bicara lagi," Zayn menepuk dahinya sendiri, lalu dengan cepat ia menggendong Luna ala bridal style menuju sofa. "Maksudku, ibu yang sangat bersemangat! Aku hanya takut mereka pusing karena kau berteriak terus."
"Turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri, Zayn! Perutku berat!"
"Justru karena berat makanya aku gendong, Nona Storm," goda Zayn. Ia mendudukkan Luna di sofa empuknya, lalu dengan sigap berlari ke dapur kecilnya.
Tak lama kemudian, Zayn kembali dengan sepiring besar biskuit cokelat dan segelas susu hangat. "Arlo bilang kau makan banyak sekali di kantin belakangan ini. Ini, makanlah. Jangan sampai pasukan di dalam sana kelaparan."
Luna awalnya ingin menolak, tapi aroma cokelat itu meruntuhkan pertahanannya. Ia menyambar biskuit itu dan mulai mengunyah dengan lahap. Zayn duduk di lantai, bersandar di kaki sofa, sambil memandangi Luna yang makan dengan pipi menggembung.
"Kau tahu, Lun," Zayn memulai dengan nada geli, "kalau dipikir-pikir, lucu juga. Kau hampir saja menghancurkan reputasimu sebagai mahasiswi teladan hanya karena cemburu pada anjing peliharaan Mami. Kau bahkan membentak anak culun di kampus waktu itu."
Luna tersedak kecil, wajahnya memerah karena malu. "Itu karena aku stres! Aku pikir kau sudah punya wanita London yang modis!"
Zayn tertawa lepas, suara tawa yang sangat Luna rindukan. "Zella memang modis, Mami sering memakaikannya pita merah di leher. Dia sangat cantik, bulunya pirang... hampir mirip rambutmu kalau sedang berantakan begini."
"ZAYN!" Luna melempar bantal sofa ke wajah Zayn.
Zayn menangkap bantal itu sambil tertawa, lalu ia meraih tangan Luna dan mengecupnya lama. Suasana berubah menjadi hangat dan penuh bahagia. Kegelapan sebulan terakhir seolah sirna dalam sekejap.
"Aku janji, Luna," Zayn menatap perut Luna dengan penuh cinta, "mulai detik ini, tidak ada lagi kebohongan. Tidak ada lagi Zella, tidak ada lagi kata bosan. Hanya ada aku, kau, dan mereka. Aku akan melindungimu dari Ayahmu, apa pun caranya."
Luna tersenyum tipis, akhirnya ia membiarkan Zayn menyandarkan kepalanya di perutnya. Di dalam apartemen kecil itu, di sela tawa dan sisa sisa amarah Luna, mereka mulai merencanakan masa depan yang tak lagi asing. Meskipun mereka tahu tantangan berat menanti saat orang tua Luna pulang, malam itu mereka hanya ingin merayakan satu hal, bahwa Zella hanyalah anjing, dan cinta mereka jauh lebih nyata dari apa pun.
"Zayn?" panggil Luna pelan.
"Ya, sayang?"
"Besok belikan aku burger tiga porsi. Anak-anak yang minta."
Zayn tertawa lagi, mencium perut Luna dengan gemas. "Siap, Yang Mulia Ratu Storm."
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰