Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kertas Keramat Vanderbilt
Pintu ruangan Mr. Kennedy tertutup dengan bunyi dentum yang berat, meninggalkan keheningan mencekam di dalam sana. Greta melangkah keluar dengan bahu merosot dan wajah yang sangat sayu. Bekas tamparan di pipinya masih tampak kemerahan, kontras dengan kulitnya yang pucat. Ia berjalan menelusuri lorong sekolah yang sepi, tangannya sesekali meraba saku seragamnya, merasakan kertas undangan dari Eleanor Vanderbilt yang terasa seperti bom waktu.
Namun, tepat saat ia berbelok di tikungan koridor yang menuju ke arah laboratorium, sebuah suara yang sangat ia kenali menghentikan langkahnya.
"Halo, tikus kecil..."
Sesosok bayangan muncul dari balik pilar beton. Norah berdiri di sana dengan senyum kemenangan, didampingi oleh Revelyn yang melipat tangan di dada. Mereka jelas sudah menunggu Greta sejak tadi.
"Apa yang ibuku katakan di dalam sana denganmu? Katakan!" bentak Norah sambil melangkah maju dan mendorong bahu Greta hingga punggungnya membentur dinding.
Greta hanya terdiam, ia menunduk dalam-dalam, mencoba menyembunyikan wajahnya yang sembab. Keheningan Greta justru membuat Norah semakin geram.
"Mungkin tikus kecil ini harus diberi makan agar mau berbicara," sahut Revelyn dengan nada keji.
Norah memberikan isyarat mata yang dingin kepada Revelyn, melirik ke arah sesuatu yang tersembunyi di balik pilar besar di samping mereka. Revelyn mengangguk paham, lalu menarik keluar sebuah ember plastik hitam.
Bau busuk yang menyengat langsung menyeruak ke seluruh penjuru lorong. Ember itu berisi air selokan yang keruh, berwarna hitam kehijauan, lengkap dengan lumut dan sampah-sampah busuk yang mengapung di atasnya. Baunya begitu menjijikkan hingga membuat perut siapa pun yang menciumnya mual seketika.
Greta yang melihat pemandangan itu membelalak ketakutan. Ia mencoba memutar tubuh untuk kabur ke arah berlawanan, namun Norah dengan cepat mencengkeram kedua lengannya dan menguncinya ke dinding.
"Cepat, Rev!" seru Norah dengan nada memerintah yang sadis.
Revelyn mengangkat ember itu tinggi-tinggi, bersiap menyiramkan cairan busuk itu ke seluruh tubuh Greta yang sudah tidak berdaya.
"Makan ini...!!" teriak Revelyn dengan wajah penuh kebencian, mengayunkan ember itu sekuat tenaga ke arah kepala Greta.
Greta memejamkan mata rapat-rapat, sudah pasrah jika tubuhnya akan basah kuyup oleh air selokan yang menjijikkan itu. Namun, detik-detik berlalu dan ia tidak merasakan apa-apa. Hening. Hanya ada suara napas tertahan dari Revelyn.
Greta perlahan membuka mata dan terpana.
Tangan Revelyn membeku di udara, tertahan oleh sebuah cengkeraman tangan yang besar dan kokoh. Leon berdiri di sana. Wajahnya sedatar biasanya, namun sorot matanya yang gelap memberikan aura intimidasi yang sangat kuat. Ia memegang pinggiran ember itu seolah benda berat tersebut tidak lebih berat dari selembar kertas.
"Le... Le... Leon..?!!" ucap Revelyn dengan suara bergetar karena kaget. Ia mencoba menarik ember itu kembali, namun benda itu tetap tak bergeming, seolah-olah sudah menyatu dengan tangan Leon.
Norah yang melihat rencananya terhambat langsung melepaskan cengkeramannya pada bahu Greta. Ia ikut memegang sisi ember yang lain, mencoba membantu Revelyn dengan mengerahkan seluruh tenaganya untuk menumpahkan isinya ke arah Greta.
"Lepaskan, Leon! Jangan ikut campur! Lepaskan!" teriak Norah dengan wajah memerah karena mengejan.
Leon hanya berdiri diam di posisinya. Ia bahkan tidak terlihat mengerahkan tenaga atau menunjukkan ekspresi lelah. Meskipun Norah dan Revelyn menarik, mendorong, dan berusaha sekuat tenaga untuk merebut ember itu, mereka berdua sama sekali tidak kuasa menggerakkan tangan Leon barang satu inci pun. Kekuatan Leon terasa begitu mutlak dan tak tergoyahkan.
Leon memberikan isyarat singkat dengan lirikannya agar Greta segera menjauh dari tempat itu. Greta yang paham maksudnya, langsung mundur perlahan dengan wajah masih pucat.
"Baiklah kalau begitu, jika kalian sangat menginginkan ember ini..." ucap Leon dengan nada datar.
Lalu, tanpa aba-aba, Leon tiba-tiba melepaskan cengkeraman tangannya yang sekuat baja itu secara serentak. Akibatnya sangat fatal. Norah dan Revelyn yang sedari tadi menarik ember itu dengan sekuat tenaga menggunakan seluruh berat tubuh mereka, kehilangan tumpuan seketika karena beban yang mereka tarik mendadak tak tertahan lagi.
BYURRRR!
Tenaga tarikan Revelyn yang terlalu kuat membuatnya terhuyung ke belakang, namun sial bagi Norah yang berada tepat di jalur tumpahan. Ember itu terbalik sempurna di atas kepala Norah. Air selokan yang hitam, berlumut, dan berbau busuk luar biasa itu mengguyur rambut pirang mahal Norah, mengalir masuk ke dalam baju seragamnya, bahkan meninggalkan sepotong lumut besar di bahunya.
"AAAAAAAKKKKKKH!!!!" Norah menjerit histeris, suaranya melengking memenuhi lorong. "BAU! INI BUSUK! REVELYN, KAU GILA YA?!"
Revelyn yang memegang ember kosong itu langsung pucat pasi. Tangannya gemetar hebat melihat sahabatnya sudah basah kuyup oleh air selokan. "Ma-maaf Norah! Tadi Leon tiba-tiba melepaskannya! Aku tidak sengaja!"
"KAU MENUMPAHKANNYA PADAKU! LIHAT BAJUKU! LIHAT RAMBUTKU!" Norah murka, wajahnya yang cantik kini tertutup cairan hitam dan ia tampak ingin sekali mencekik Revelyn saat itu juga.
Di tengah kekacauan dan aroma busuk yang semakin menyengat itu, Leon berdiri di sana tanpa ekspresi sedikit pun. Tidak ada tawa, bahkan senyum tipis pun tidak muncul di wajahnya yang dingin. Ia hanya menatap mereka seolah-olah sedang melihat tumpukan sampah yang tidak sengaja terjatuh.
"Berisik sekali," ucap Leon pelan. "Sebentar, aku panggilkan cleaning service untuk membersihkan kekacauan ini."
Tanpa menunggu balasan dari Norah yang masih menjerit-jerit atau Revelyn yang sibuk meminta maaf, Leon berbalik dan melangkah pergi dengan tenang, menghilang di balik belokan koridor menuju arah Greta pergi tadi.
Greta masuk ke dalam kelas dengan napas yang memburu dan wajah yang masih menyisakan rona merah akibat kejadian tadi. Ms. Jennie yang sedang merapikan buku di mejanya mendongak, menatap muridnya itu dengan dahi berkerut.
"Kenapa kamu berlarian seperti itu, Greta? Apa ada sesuatu yang mengejarmu?" tanya Ms. Jennie kebingungan.
Greta tidak sanggup menceritakan kejadian di lorong tadi. Ia hanya memaksakan sebuah senyum tipis yang tampak kaku sebagai jawaban. Saat ia melangkah menuju bangkunya, suasana kelas mendadak hening. Semua mata tertuju padanya, terutama Clara yang tampak sangat cemas dan Luca Blight yang sudah menunggunya dengan raut wajah tegang.
Begitu Greta duduk, Luca langsung mencondongkan tubuhnya ke arah Greta. "Greta, kamu tidak apa-apa? Apa yang terjadi di ruang Kepala Sekolah tadi?" bisiknya dengan nada protektif.
Greta hanya mengangguk pelan tanpa menoleh, tangannya sibuk mengelap keringat dingin yang membasahi lehernya. Ia masih bisa merasakan sisa ketakutan saat dikepung Norah tadi. Beberapa menit kemudian, pintu kelas terbuka kembali. Leon melangkah masuk dengan langkah tenang dan wajah datarnya yang legendaris, seolah ia baru saja kembali dari perpustakaan dan bukan dari sebuah kerusuhan air selokan.
Luca melirik ke arah Greta, lalu beralih menatap Leon yang berjalan menuju bangku belakang. Ada kilatan kecurigaan di mata Luca; ia merasa ada sesuatu yang terjadi di antara mereka berdua yang tidak ia ketahui. Namun, Luca memilih untuk diam dan menyimpan pertanyaannya.
Keheningan kelas pecah ketika seorang petugas cleaning service mengetuk pintu dengan ragu. "Pe.. permisi.. Ms. Jennie," ucap petugas itu tergugup, wajahnya tampak sedikit pucat seolah baru saja melihat sesuatu yang menjijikkan. "Saya disuruh Norah dan Revelyn untuk mengambil tas mereka..."
Ms. Jennie mengernyit. "Mengambil tas? Kenapa mereka tidak mengambilnya sendiri?"
"Anu... mereka... ada sedikit 'insiden' di koridor, Ms," jawab petugas itu sambil buru-buru menyambar tas bermerek milik Norah dan Revelyn, lalu segera keluar kelas secepat mungkin.
Greta menunduk, berusaha menahan diri untuk tidak menoleh ke arah Leon. Di dalam saku seragamnya, kertas dari Eleanor Vanderbilt terasa semakin berat.
Hari pun berlalu dengan ketenangan yang langka di Jarvis High School. Tanpa kehadiran Norah dan Revelyn yang sibuk mengurusi "insiden air selokan" mereka, atmosfer sekolah terasa jauh lebih ringan.
"Wah... senangnya dua hari tanpa mereka," ucap Clara riang sambil menggandeng erat lengan Greta saat mereka berjalan menuju gerbang sekolah.
Greta hanya tersenyum tipis, meski pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana. Jemarinya tanpa sadar meraba secarik kertas di saku seragamnya. Pukul 07.30 malam. Waktu itu terus berputar di kepalanya seperti lonceng peringatan.
Tiba-tiba, PUK! sebuah tepukan mendarat di bahu mereka.
"Heii..!" seru Luca Blight yang muncul dengan cengiran khasnya, membuat kedua gadis itu melonjak kaget.
"Astaga, Luca! Kau mengagetkan kami!" omel Clara sambil mengelus dadanya.
Luca tertawa renyah, lalu menatap keduanya bergantian. "Kalian mau langsung pulang? Mumpung cuaca lagi bagus, gimana kalau kita main dulu ke Deep Cove? Kita bisa naik kayak sebentar atau sekadar beli donat madu di Honey Doughnuts. Pasti seru!"
Deep Cove adalah salah satu tempat tercantik di dekat kawasan Jarvis, North Vancouver. Pemandangan air laut yang tenang di bawah kaki pegunungan biasanya selalu berhasil menenangkan pikiran.
"Ide bagus..! Ayo Greta, kita harus ikut! Kamu butuh refreshing setelah seharian ini," ucap Clara antusias sambil menggoyang-goyangkan lengan Greta.
Greta melirik jam tangannya dengan perasaan yang makin tidak tenang. Angka-angka di sana seolah berdetak lebih cepat dari biasanya, mengingatkannya pada ancaman Eleanor Vanderbilt. Ia punya waktu sekitar empat jam, tapi pikirannya sudah penuh sesak dengan bayangan rumah besar Vanderbilt yang dingin.
"Ma.. maaf Luca.. lain kali saja ya..?" ucap Greta dengan nada menyesal. "Aku.. sedang ingin istirahat.."
"Ah.. tidak seru Greta.." keluh Clara dengan wajah cemberut, meskipun ia tahu sahabatnya itu baru saja melewati hari yang berat.
Luca terdiam sejenak, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil memasang tampang bingung sekaligus khawatir. "Apakah kamu sakit, Greta? Wajahmu pucat sekali," tanyanya sambil mencoba menatap mata Greta untuk memastikan.
Greta hanya menggelengkan kepala dengan cepat, berusaha menutupi kegugupannya. Ia harus segera pergi dari hadapan Luca sebelum pria itu mendesaknya lebih jauh dengan pertanyaan-pertanyaan cerdasnya.
"Umm, begini saja... ayo kita ke taman depan sekolah sebentar dan beli es krim saja!" usul Greta mencoba mengalihkan pembicaraan.
Mendengar kata es krim, mata Clara langsung berbinar, kekecewaannya sirna seketika. "Ide bagus! Aku rasa aku mau rasa strawberry..!" seru Clara bersemangat. Ia langsung menarik tangan Greta menjauh, meninggalkan Luca yang masih mematung di tempatnya dengan sejuta kecurigaan.
Luca memperhatikan punggung Greta yang menjauh. Ia tahu ada yang salah. Greta bukan tipe orang yang menolak ajakan bermain tanpa alasan yang sangat mendesak.
Setelah mereka bertiga menghabiskan waktu sejenak di taman dan menghabiskan es krim, suasana sore yang tenang itu akhirnya harus berakhir. Mereka pun berpamitan di dekat halte bus. Luca masih tampak menatap Greta dengan raut wajah yang sedikit tidak tenang, namun ia tidak bisa memaksa lebih jauh.
Begitu bus datang, Greta segera naik dan mencari kursi di dekat jendela. Di dalam bus, ia tidak bisa berhenti melihat ke arah jam tangannya.
2 jam lagi.
Hanya tersisa waktu dua jam sebelum janji dengan Eleanor Vanderbilt dimulai. Sepanjang perjalanan, fokus Greta benar-benar hancur. Ia hanya punya waktu sesingkat itu untuk mempersiapkan diri—bukan hanya soal pakaian, tapi juga soal mental untuk menghadapi apa yang mungkin terjadi di kediaman mewah yang penuh intimidasi itu.
Sesekali ia memejamkan mata, kepalanya bersandar pada kaca bus yang bergetar. Muncul keinginan kuat untuk menyerah saja. Ingin rasanya aku pulang ke rumah dan langsung tidur saja, pikirnya dalam hati. Jika ia tidur dan mengabaikan kertas itu, setidaknya ia bisa merasa aman untuk beberapa jam ke depan.
Namun, kenyataan pahit langsung membuyarkan keinginannya. Ancaman Eleanor untuk mengeluarkan dirinya dari sekolah terus berputar-putar di kepalanya dan itu sangat mengganggunya. Greta tahu betul posisinya; ia hanya hidup sebatang kara di Kanada. Tidak ada orang tua, tidak ada tempat bersandar. Jika ia dikeluarkan dari Jarvis High School karena ulah Eleanor, ia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk bertahan hidup.
Dengan perasaan campur aduk antara takut dan terdesak, Greta meraba kertas di sakunya. Ia harus pulang secepat mungkin untuk bersiap, karena waktu terus berjalan mundur.
oke lanjut thor.. seru ceita nya