Setelah diselamatkan dari penculikan maut oleh Pratama, seorang penjual soto sederhana, Luna justru terjebak fitnah warga yang memaksa mereka menikah. Situasi kian pelik karena Pratama masih terikat pernikahan dengan Juwita, istri materialistis yang tanpa ragu "menjual" suaminya seharga Rp50 juta sebagai syarat cerai.
Demi menolong pria yang telah menyelamatkan nyawanya, Luna membayar mahar tersebut dan memilih menyembunyikan identitas aslinya sebagai putri tunggal seorang CEO kaya raya. Ia rela hidup dalam kesederhanaan dan mengaku hanya sebagai guru TK biasa. Di tengah rasa bersalah Pratama yang berjanji akan bekerja keras membalas kebaikannya, ia tidak menyadari bahwa istri barunya memiliki kuasa untuk membalikkan nasib mereka dalam sekejap mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Perlahan, kelopak mata Luna bergerak pelan. Cahaya lampu ruang perawatan yang temaram menyambut kesadarannya yang baru saja pulih sepenuhnya.
Hal pertama yang ia rasakan adalah hangatnya genggaman tangan yang sangat familiar di jemarinya.
Luna menolehkan kepalanya sedikit, mendapati sosok Pratama yang duduk setia di samping ranjangnya dengan wajah yang tampak lelah namun penuh syukur.
"Mas..." suara Luna terdengar sangat lirih, hampir seperti bisikan.
Pratama tersentak, ia segera mendekatkan wajahnya.
"Iya, Sayang? Mas di sini."
Bukannya mengeluhkan rasa sakit di dadanya, Luna justru menatap tubuh Pratama dari bawah ke atas dengan tatapan cemas.
"Mas, kamu tidak apa-apa? Kamu tidak luka, kan? Tadi Noah, dia mau menembakmu..."
Mendengar pertanyaan dari istrinya, air mata Pratama nyaris jatuh lagi.
Di ambang maut sekalipun, yang dipikirkan Luna tetaplah keselamatan suaminya.
Pratama menggelengkan kepalanya pelan sambil mengusap kening Luna dengan penuh kasih.
"Dik, seharusnya Mas yang tanya begitu," sahut Pratama dengan suara serak menahan haru.
"Kamu yang tertembak, kamu yang hampir kehilangan nyawa karena melindungi Mas. Kenapa malah tanya keadaan Mas?"
Luna tersenyum tipis, meski wajahnya masih pucat pasi.
"Karena Mas adalah hidupku. Kalau Mas tidak apa-apa, aku juga akan baik-baik saja."
Pratama mengecup punggung tangan Luna berkali-kali.
"Mas tidak apa-apa, Sayang. Sama sekali tidak luka. Berkat pengorbananmu dan izin Allah, kita berdua selamat. Noah dan Dirga sudah ditangkap, mereka tidak akan pernah bisa menyakiti kita lagi."
Mendengar suara percakapan itu, Papa Jati dan Arini yang berada di sofa depan segera bangkit dan mendekat.
Wajah mereka berbinar melihat sang CEO kesayangan telah kembali dari masa kritisnya.
Meskipun tubuhnya masih lemah, Luna rupanya tidak bisa membohongi selera asalnya.
Ia menatap Pratama dengan pandangan manja yang membuat suasana kamar VVIP itu terasa jauh lebih hangat.
"Mas, aku kangen soto ayam buatan kamu," gumam Luna pelan, membayangkan aroma kuah kuning segar dengan taburan koya yang biasa dibuat suaminya.
Pratama terkekeh pelan, ia mengusap lembut kepala istrinya.
"Iya, Sayang. Nanti kalau kamu sudah sembuh, sudah boleh pulang, kita masak bareng lagi ya. Mas siapkan resep spesial buat merayakan kesembuhanmu."
Papa Jati yang sejak tadi berdiri di ujung ranjang bersama Arini akhirnya ikut bersuara.
Ia melangkah maju sambil merangkul pundak Arini dengan percaya diri di hadapan putrinya.
"Makanya, kamu harus cepat sehat, Luna," ujar Papa Jati dengan nada penuh semangat.
"Sebab, kalau kamu sudah benar-benar pulih, Papa akan langsung meresmikan hubungan Papa. Papa akan menikahi Arini!"
Mata Luna membulat ceria, menatap Arini yang wajahnya kini sudah merah padam seperti kepiting rebus.
"Dan satu lagi, Papa akan memborong semua soto buatan suamimu untuk pesta pernikahan nanti. Biar semua tamu tahu kalau menantu Papa Jati adalah ahli soto terbaik di dunia!"
"Hahaha..." Luna tertawa kecil mendengar ambisi papanya. Namun, sedetik kemudian ia meringis sambil memegangi bagian bawah dadanya.
"Aduh, sakit, Pa. Jangan buat Luna ketawa dulu, jahitannya masih terasa narik-narik."
Pratama dengan sigap membantu Luna memperbaiki posisi tidurnya agar lebih nyaman.
"Tuh kan, jangan terlalu semangat dulu, Dik. Papa juga, jangan kasih kejutan bertubi-tubi, kasihan Luna."
Arini mendekat ke sisi Luna, menggenggam tangannya yang lain.
"Cepat sembuh ya, Luna. Biar ada yang bantu aku mengurus Papa kamu yang makin hari makin cerewet ini."
Suasana hangat di dalam kamar itu mendadak berubah menjadi penuh tanya ketika pintu terbuka.
Dokter Yudha, sang spesialis yang memimpin tim operasi Luna, masuk untuk melakukan pemeriksaan rutin pasca-operasi. Namun, langkahnya terhenti tepat di depan brankar saat matanya tertuju pada sosok pria yang sedang duduk menjaga Luna.
Dokter Yudha menyipitkan mata, seolah berusaha menggali memori lama.
"Pratama? Kamu, Pratama kan? Lulusan terbaik Universitas Indonesia?"
Pratama mendongak, matanya membelalak tak percaya.
"Yudha? Ya Allah, Yud! Kamu dokter yang menangani istriku?"
Tanpa memedulikan status mereka di rumah sakit, Yudha langsung menghampiri dan memeluk Pratama dengan erat.
Pelukan dua sahabat lama yang telah lama hilang kontak.
Papa Jati dan Arini saling pandang, tampak bingung melihat "tukang soto" kesayangan mereka ternyata akrab dengan dokter spesialis ternama.
Yudha melepaskan pelukannya, lalu menoleh ke arah Papa Jati dengan senyum kagum.
"Bapak Jati, Anda dan Nyonya Luna sangat beruntung memiliki pria ini di samping kalian."
"Maksud Dokter?" tanya Papa Jati penasaran.
"Pratama ini dulu adalah primadona di kampus. Beliau bukan hanya cerdas, tapi dia lulusan S2 Psikologi dengan predikat Summa Cum Laude," ungkap Dokter Yudha yang membuat Luna hampir tersedak saking terkejutnya.
"Itulah kenapa Luna bisa melewati masa kritis dengan tenang. Sentuhan, kata-kata, dan kehadiran Pratama secara psikologis sangat membantu pasien untuk tetap berjuang bertahan hidup."
Luna menatap suaminya dengan tatapan tak percaya.
Selama ini ia hanya tahu suaminya adalah pria sederhana yang pandai meracik kuah soto, namun ternyata di balik kesederhanaan itu tersimpan otak yang sangat brilian.
"Mas, kamu S2 Psikologi?" tanya Luna lirih, masih dalam keterkejutan.
Pratama hanya tersenyum simpul, sedikit malu rahasianya terbongkar oleh sahabat lamanya.
"Gelar itu hanya di atas kertas, Dik. Yang paling penting sekarang adalah bagaimana Mas menggunakan ilmu itu untuk memahamimu dan menjagamu seumur hidup."
Luna masih menatap Pratama dengan pandangan yang tak berkedip, menanti penjelasan dari mulut suaminya sendiri.
Keheningan sesaat menyelimuti kamar VVIP itu sebelum akhirnya Pratama menarik napas panjang dan mulai bercerita.
"Maafkan Mas kalau selama ini tidak pernah cerita soal gelar itu, Dik, Pa," ujar Pratama pelan sambil tetap menggenggam tangan Luna.
"Mas memang menyelesaikan S2 Psikologi di Jakarta beberapa tahun lalu. Saat itu, rencana Mas adalah menjadi dosen atau membuka praktik konseling."
Pratama menunduk sebentar, sorot matanya menerawang ke masa lalu.
"Tapi, tepat saat wisuda, kedua orang tua Mas mengalami kecelakaan. Mereka berdua meninggal dunia di tempat. Mas hancur, dan Mas adalah anak tunggal. Satu-satunya peninggalan mereka yang paling berharga bukan rumah atau tanah, tapi gerobak soto itu."
Suasana kamar menjadi haru. Arini tampak menyeka sudut matanya, sementara Papa Jati mendengarkan dengan penuh hormat.
"Soto itu adalah hasil keringat mereka yang menyekolahkan Mas sampai ke jenjang tinggi. Mas tidak tega membiarkan resep dan perjuangan mereka hilang begitu saja. Mas merasa, dengan terus berjualan soto, Mas selalu merasa dekat dengan mereka setiap harinya. Mas ingin membuktikan bahwa tidak ada pekerjaan yang rendah, asalkan itu berkah dan dari sanalah Mas berasal," lanjut Pratama dengan nada yang sangat tulus.
Luna terenyuh dan langsung menarik tangan suaminya sambil menempelkannya di pipinya yang masih pucat.
Ia baru menyadari bahwa di balik kelezatan soto suaminya, ada rasa bakti yang luar biasa besar kepada orang tua.
"Jadi, selama ini Mas menggunakan ilmu psikologi Mas buat melayani pelanggan soto ya?" tanya Luna sambil tersenyum bangga.
Pratama terkekeh pelan. "Sedikit banyak begitu, Dik. Mendengarkan keluh kesah pelanggan sambil menyajikan soto hangat itu juga bagian dari terapi, kan? Tapi ilmu itu paling banyak Mas gunakan untuk memahami kamu, agar Mas bisa selalu jadi tempat yang tenang buat kamu pulang."
Papa Jati menepuk bahu Pratama dengan sangat bangga.
"Pratama, Papa tidak salah pilih. Gelarmu tinggi, tapi hatimu jauh lebih tinggi. Kamu pria hebat."
👍👍👍👍