Di khianati tunangan sampah, eh malah dapat pamannya yang tampan perkasa!
Cerita berawal dari Mayra andini kusumo yang mengetahui jika calon suaminya Arman, berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri.
Di hari pernikahannya mayra mengajak Dev-- paman dari Arman untuk menikah dengan nya, yang kebetulan menjadi tamu di pernikahan keponakannya. Dan mayra juga membongkar perselingkuhan arman dan Zakia yang di lakukan di belakangnya selama ini.
Cerita tidak sampai di situ, setelah menikah dengan Dev, Mayra jadi tahu sisi lain dari pria dingin itu.
Dapatkan mayra meluluhkan hati Dev yang sekeras batu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pura-pura bahagia
Mayra tidak ingat bagaimana dia bisa sampai di rumah dengan selamat malam itu. Yang dia ingat hanya air mata yang terus mengalir, tangan yang gemetar di setir, dan rasa sakit yang menusuk dada setiap kali dia menarik napas.
Saat mobil terparkir di garasi rumahnya, Mayra duduk terdiam selama sepuluh menit. Menatap kosong ke depan. Otaknya berputar cepat, memproses semua yang baru saja dia saksikan.
Arman dan Zakia.
Kakak tirinya dan tunangannya.
Berselingkuh.
Kata itu terasa asing dan menyakitkan di waktu yang bersamaan. Mayra tidak pernah membayangkan dia akan menjadi orang yang dikhianati seperti ini. Dia selalu berusaha menjadi pacar yang baik--perhatian, pengertian, mendukung. Apa yang kurang dari dirinya?
Atau mungkin... ini bukan tentang kekurangannya. Ini tentang kerakusan Zakia yang selalu ingin merebut apa yang Mayra miliki.
Mayra menghapus air matanya yang sudah hampir kering. Tidak. Dia tidak boleh menangis lagi. Menangis tidak akan mengubah apa-apa. Yang dia butuhkan sekarang adalah kepala dingin dan rencana yang matang.
Dia meraih ponselnya, membuka galeri, dan menatap foto-foto bukti yang dia ambil tadi. Jelas. Tidak bisa dibantah. Arman memeluk Zakia dan Zakia yang mencium pipi Arman. Mereka tertawa dengan intim.
Bukti sempurna untuk menghancurkan mereka.
Tapi tidak sekarang.
Mayra mengambil napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia harus tetap tenang. Dia harus berpura-pura tidak tahu apa-apa. Enam hari lagi sebelum pernikahan. Enam hari untuk mengumpulkan lebih banyak bukti. Enam hari untuk mempersiapkan kehancuran mereka di hari yang seharusnya jadi hari paling bahagia dalam hidupnya.
Dengan langkah gontai, Mayra keluar dari mobil dan masuk ke rumah. Lampu ruang tamu masih menyala, ayahnya pasti masih menonton TV seperti biasa.
"Mayra? Kamu baru pulang?" suara Bambang terdengar dari ruang keluarga.
Mayra berdehem, berusaha membuat suaranya terdengar normal. "Iya, Pa. Tadi ada urusan mendadak di kantor."
Dia berjalan cepat menuju tangga, tidak ingin ayahnya melihat wajahnya yang pasti masih sembab.
"Mayra, tunggu sebentar," panggil ayahnya lagi.
Mayra berhenti di tangga, membelakangi ayahnya. "Ada apa, Pa?"
"Mama Siska tadi bilang besok kita akan fitting gaun pengantin terakhir kali. Jangan lupa ya, sayang."
Gaun pengantin? Pernikahan? Semuanya terasa seperti lelucon paling kejam.
"Iya, Pa. Aku ingat," jawab Mayra dengan suara sepelan mungkin, lalu cepat-cepat naik ke kamar sebelum suaranya pecah.
Sesampainya di kamar, Mayra mengunci pintu dan bersandar di baliknya. Napasnya pendek-pendek. Dia merosot ke lantai, memeluk lututnya, dan membiarkan air mata yang ditahannya tadi akhirnya jatuh lagi.
Tapi hanya beberapa menit. Hanya itu yang dia izinkan untuk dirinya sendiri.
Setelah itu, Mayra berdiri, berjalan ke kamar mandi, dan membasuh wajahnya dengan air dingin. Dia menatap pantulannya di cermin--mata merah, wajah pucat, bibir yang dia gigit sampai hampir luka.
"Kamu kuat, Mayra," bisiknya pada pantulan dirinya sendiri. "Kamu akan melewati ini. Dan kamu akan membuat mereka menyesal."
Mayra kembali ke kamar dan duduk di tepi tempat tidur. Dia membuka laptop dan mulai melakukan apa yang seharusnya dia lakukan sejak awal--riset.
Dev Armando.
Dia mengetik nama itu di Google dan puluhan artikel muncul. Profil Forbes Indonesia tentang pengusaha muda sukses. Artikel bisnis tentang ekspansi Armando Properties ke beberapa negara Asia Tenggara. Foto-foto Dev di berbagai acara gala dengan jas mahal dan jam tangan mewah.
Mayra mempelajari setiap detail. Dev Armando, 35 tahun, CEO Armando Properties, perusahaan properti terbesar di Indonesia dengan valuasi triliunan rupiah. Lulus dari Harvard Business School. Tidak pernah terlihat dengan wanita manapun. Dikenal sangat private dan profesional.
Ada satu artikel dari lima tahun lalu yang menyebutkan Dev sempat bertunangan dengan seorang wanita bernama Valerie, tapi pertunangan itu dibatalkan karena alasan yang tidak disebutkan. Sejak itu, Dev tidak pernah terlihat dekat dengan wanita manapun.
Menarik.
Mayra membaca lebih dalam. Dev adalah adik dari Hendra Prasetyo--ayah Arman. Tapi hubungan mereka dilaporkan agak renggang karena perbedaan visi bisnis. Dev membangun empirenya sendiri tanpa bantuan keluarga, sementara Hendra mewarisi bisnis dari ayah mereka.
Jadi Dev punya masalah dengan keluarga Prasetyo juga. Bahkan lebih baik.
Mayra membuka Instagram Dev--akun pribadinya private dengan hanya 200-an followers, tapi akun bisnis Armando Properties cukup aktif. Tidak banyak foto personal, kebanyakan tentang project dan achievement perusahaan.
Pria yang sangat private.
Lalu bagaimana Mayra bisa mendekatinya dan meyakinkannya untuk... menikah dengannya di altar seminggu lagi?
Kedengarannya gila. Sangat gila.
Tapi Mayra tidak punya pilihan lain. Kalau dia hanya membatalkan pernikahan dan membongkar skandal Arman-Zakia, dia akan terlihat sebagaij korban yang menyedihkan. Semua orang akan mengasihaninya. Dan Mayra benci dikasihani.
Tapi kalau dia datang ke pernikahan dengan pria yang lebih sukses, lebih tampan, lebih berkuasa dari Arman--dan itu adalah paman Arman sendiri--Mayra akan terlihat sebagai pemenang.
Dia menutup laptop dan meraih ponselnya. Dengan jari gemetar, dia membuka WhatsApp dan mencari kontak yang tersimpan sebagai "Dev Armando"--nomor yang dia dapat dari daftar tamu undangan pernikahan.
Mayra menatap layar kosong chatnya dengan Dev. Tidak ada history percakapan. Mereka tidak pernah berkomunikasi langsung. Dev hanya nama di daftar tamu yang harus diundang karena dia paman Arman.
Apa yang harus dia ketik?
"Halo, Pak Dev. Saya Mayra, calon istri keponakan Anda. Mau nggak nikah sama saya sebagai balas dendam?"
Tentu saja tidak.
Mayra butuh approach yang lebih jelas, dan halus. yang lebih masuk akal.
Setelah berpikir selama sepuluh menit, akhirnya jarinya mengetik:
"Selamat malam, Pak Dev. Saya Mayra Kusumo, calon istri Arman. Maaf mengganggu malam-malam. Saya ingin bertemu dengan Bapak untuk membicarakan sesuatu yang penting sebelum pernikahan. Apakah Bapak ada waktu besok? Terima kasih."
Mayra menatap pesan itu selama lima menit sebelum akhirnya memberanikan diri menekan tombol send.
Sent.
Jantungnya berdebar kencang. Tidak ada jalan kembali sekarang.
Mayra meletakkan ponselnya di nakas dan berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit kamarnya. Apa yang baru saja dia lakukan? Ini rencana paling gila yang pernah dia buat.
Tapi entah kenapa, ada perasaan lega. Setidaknya dia melakukan sesuatu. Dia tidak hanya diam dan menerima pengkhianatan ini.
Ponselnya bergetar.
Mayra hampir jatuh dari tempat tidur saat meraih ponselnya dengan tergesa.
Pesan dari Dev Armando.
"Besok jam 2 siang di kafe The Goods Diner, Senopati. Saya ada waktu 30 menit."
Singkat,dingin, dan tanpa basa-basi.
Tapi dia setuju bertemu.
Mayra merasakan campuran antara lega dan panik. Dia punya kesempatan. Tapi hanya 30 menit untuk meyakinkan pria yang bahkan tidak dia kenal untuk melakukan hal paling gila dalam hidupnya.
Mayra mengetik balasan:
"Terima kasih, Pak Dev. Saya akan datang tepat waktu."
Dia meletakkan ponselnya dan menarik napas panjang. Besok. Besok dia akan bertemu Dev dan mempresentasikan rencana gilanya.
Tapi sebelum itu, dia harus melewati hari esok dengan berpura-pura seolah tidak ada yang salah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi datang terlalu cepat.
Mayra hampir tidak tidur semalaman. Pikirannya terus berputar tentang apa yang akan dia katakan pada Dev nanti siang. Bagaimana dia akan menjelaskan situasinya tanpa terdengar seperti orang gila atau wanita putus asa?
Dia bangun jam enam pagi dengan mata panda dan tubuh lemas. Tapi hari ini dia harus bertemu Arman, mereka ada janji makan siang sebelum pertemuan Mayra dengan Dev.
Mayra berdiri di depan cermin, menatap pantulannya. Dia tidak bisa terlihat seperti orang yang baru menangis semalaman. Dia harus terlihat normal. Bahagia. Seperti calon pengantin yang excited dengan pernikahannya.
Dengan usaha ekstra, Mayra melakukan makeup untuk menutupi kantung matanya. Concealer tebal, foundation, blush on untuk memberi warna di pipinya yang pucat. Lipstik pink muda. Rambut dia ikal sedikit dan biarkan terurai.
Dia mengenakan dress putih selutut dengan cardigan krem, terlihat innocent dan manis. Penampilan sempurna untuk calon pengantin yang bahagia.
Tapi di dalam, Mayra merasa hampa.
Saat turun ke ruang makan, seluruh keluarga sudah berkumpul. Ayahnya membaca koran, ibu tirinya sibuk dengan ponselnya, dan Zakia--
Wanita itu duduk dengan santai sambil makan croissant, mengenakan silk robe pink dengan rambut masih berantakan, tapi entah kenapa tetap terlihat cantik. Saat melihat Mayra, dia tersenyum manis.
"Pagi, dek! Cantik banget hari ini. Mau kencan sama Arman ya?"
Mayra merasakan amarah mendidih di perutnya. Wanita ini--wanita yang semalam mencium pipi tunangannya--sekarang tersenyum padanya seolah tidak ada yang terjadi.
Tapi Mayra memaksakan senyum. "Iya, Kak. Mau lunch date."
"Wah, romantisnya! Sebentar lagi kalian nikah, harus banyak-banyak quality time ya," kata Zakia sambil mengedipkan mata.
Mayra ingin muntah.
"Oh iya, May," Zakia melanjutkan dengan nada riang yang dibuat-buat. "Nanti sore kita fitting gaun bridesmaid kan? Aku sudah tidak sabar!"
Fitting gaun, bersama Zakia? wanita yang berselingkuh dengan tunangannya akan berdiri di altar sebagai bridesmaid-nya.
Ironi paling menyakitkan.
"Iya, Kak. Nanti sore," jawab Mayra dengan suara semanis mungkin sambil menuang kopi ke cangkirnya.
Siska ikut nimbrung. "Mayra, jangan lupa nanti kita juga harus ngecek souvenir pernikahan. Vendor-nya mau kirim sample hari ini."
"Baik, Mama."
Bambang menurunkan korannya dan menatap putrinya dengan senyum hangat. "Papa sangat bangga sama kamu, sayang. Sebentar lagi kamu akan jadi istri dari pria baik-baik. Papa senang kamu bahagia."
Mayra merasakan dadanya sesak. Ayahnya yang polos tidak tahu apa-apa. Tidak tahu bahwa calon menantunya adalah pria sampah yang berselingkuh dengan putri tirinya. Tidak tahu bahwa pernikahan yang sudah dia persiapkan dengan susah payah akan berakhir dengan skandal.
"Terima kasih, Pa," bisik Mayra sambil memeluk ayahnya sekilas.
Setelah sarapan yang terasa seperti siksaan, Mayra bersiap untuk bertemu Arman. Ponselnya berbunyi, ada pesan dari pria yang seharusnya jadi suaminya seminggu lagi.
("Sayang, aku jemput jam 12 ya. Kita makan di Union, favorite kamu kan? Love you ❤️")
Union. Restoran tempat Arman melamarnya setahun lalu. Tempat yang penuh kenangan manis.
Sekarang kenangan itu terasa pahit.
Mayra mengetik balasan:
("Oke, sayang. Aku tunggu. Love you too ❤️")
Emoji hati yang terasa sangat palsu.
Jam 11.45, Mayra sudah ready. Dia menatap pantulannya sekali lagi di cermin. Wanita yang terlihat cantik, bahagia, penuh harapan.
Tapi di dalam, dia merasa kosong.
Mayra turun saat mendengar klakson mobil Arman--BMW putih mewah. Dia berjalan keluar dengan senyum yang dipaksakan.
Arman keluar dari mobil, mengenakan kemeja putih dengan celana jeans, tampan seperti biasa. Dia membukakan pintu untuk Mayra dengan senyum lebar.
"Halo, calon istriku," sapanya sambil mencium kening Mayra.
Mayra merasakan perutnya mual. Bibir yang semalam mencium pipi Zakia, sekarang menyentuh keningnya.
"Halo, sayang," balasnya dengan suara manis yang dipaksakan.
Di dalam mobil, Arman menyalakan musik, lagu-lagu romantis yang biasa mereka dengarkan bersama. Tangannya sesekali meraih tangan Mayra, menggenggamnya dengan lembut.
"Kamu cantik sekali hari ini," puji Arman.
"Terima kasih, sayang."
"Excited nggak seminggu lagi kita nikah?"
Mayra menatap profil wajah Arman--rahang tegas, hidung mancung, mata yang dulu membuatnya jatuh cinta. Sekarang wajah itu hanya membuatnya muak.
"Sangat excited," jawabnya sambil tersenyum-- senyum paling palsu yang pernah dia buat.
Arman tidak menyadari apa-apa. Dia terus berbicara tentang honeymoon mereka ke Edinburgh, tentang rumah yang sudah dia beli untuk mereka, tentang masa depan mereka yang "indah".
Semua bohongj.
Saat mereka sampai di Union, Arman memarkir mobil dan membukakan pintu untuk Mayra seperti gentleman. Mereka berjalan masuk dengan tangan bertautan--pasangan sempurna di mata orang lain.
Tapi Mayra tahu kebenarannya.
Mereka duduk di meja yang sama dengan setahun lalu saat Arman melamarnya. Arman memesan steak dan pasta, makanan favorit mereka. Dia tersenyum, tertawa, bercanda seperti biasa.
Dan Mayra memainkan perannya dengan sempurna. Tersenyum. Tertawa. Berpura-pura bahagia.
Tapi di dalam kepalanya, dia terus mengulang satu kalimat;
"Enam hari lagi. Enam hari lagi kalian akan hancur."
****
Bersambung....
menunggu mu update lagi