NovelToon NovelToon
Sekretaris Pengganti Sang CEO Dingin

Sekretaris Pengganti Sang CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Langit

"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Labirin Kecurigaan

Suasana di dalam mobil Rolls-Royce yang membawa mereka kembali dari kediaman Bianca terasa mencekam. Alana masih bisa merasakan sisa adrenalin yang memompa jantungnya setelah berhasil mengamankan mikofilm berisi data intelijen Adrian. Namun, kemenangan kecil itu terasa hambar saat ia melirik Arkan yang duduk di sampingnya. Pria itu tampak lebih jauh dari biasanya, seolah jiwanya masih tertinggal di kedalaman Danau Jenewa yang ia ceritakan kemarin.

"Kau melakukannya dengan baik, Alana," suara Arkan memecah keheningan, rendah dan berat. "Bianca tidak curiga. Untuk saat ini, posisi kita aman."

Alana meremas tas kecilnya. "Sampai kapan, Tuan? Rahasia sebesar ini... semakin kita menutupinya, semakin banyak lubang yang terbuka. Tadi, Kevin terus menatapku. Tatapannya bukan lagi sekadar benci, tapi seperti pemangsa yang baru saja menemukan celah pada mangsanya."

Arkan menoleh, matanya berkilat di bawah lampu jalanan yang remang-remang. "Kevin hanyalah parasit. Dia tidak punya bukti, hanya kecurigaan. Selama kau tetap pada peranmu sebagai Elena, dia tidak akan bisa menyentuhmu."

Namun, ucapan Arkan terasa seperti janji kosong ketika mereka tiba di mansion. Di depan gerbang utama, sebuah mobil sport merah yang sangat dikenal Alana terparkir melintang, menghalangi jalan.

Kevin Arkananta.

Pria itu berdiri bersandar pada mobilnya, merokok dengan gaya angkuh. Saat lampu sorot mobil Arkan mengenainya, ia hanya tersenyum miring—sebuah senyum yang membuat bulu kuduk Alana berdiri.

Arkan mendengus sinis, membuka pintu mobil sebelum sopir sempat turun. "Apa yang kau lakukan di sini, Kevin? Ini sudah tengah malam."

Kevin membuang puntung rokoknya dan melangkah maju, tangannya masuk ke saku celana. "Aku hanya ingin menyapa sepupu kesayanganku dan... istrinya yang luar biasa." Kevin mengalihkan pandangan pada Alana yang baru saja turun. "Kau tahu, Arkan, aku baru saja kembali dari klub malam di pinggiran kota. Tempat yang sangat kumuh. Dan anehnya, aku bertemu dengan seseorang yang mengaku sebagai teman lama seorang gadis bernama Alana."

Jantung Alana seolah berhenti berdetak. Ia berusaha menjaga ekspresi wajahnya tetap datar, namun jemarinya mulai dingin.

"Aku tidak tahu siapa yang kau bicarakan," sahut Arkan dingin, melangkah maju hingga ia berdiri tepat di antara Kevin dan Alana—sebuah tindakan protektif yang tidak disadari namun sangat nyata.

"Benarkah?" Kevin terkekeh. "Gadis ini, Alana, dia sangat mirip dengan istrimu. Hanya saja, dia punya latar belakang yang... menyedihkan. Seorang kakak yang berkorban demi pengobatan adiknya yang gila di paviliun. Bukankah itu plot film yang bagus?"

"Cukup, Kevin," Arkan mencengkeram kerah kemeja Kevin dengan gerakan secepat kilat. Suaranya berubah menjadi geraman yang mematikan. "Jika kau datang ke sini hanya untuk membawa dongeng sampah dari tempat mabukmu, lebih baik kau pergi sebelum aku membuatmu kehilangan hak waris bulananmu."

Kevin tidak tampak takut. Ia justru tertawa tipis, matanya mengunci mata Alana di balik bahu Arkan. "Jangan terlalu tegang, Arkan. Aku hanya sedang mengumpulkan kepingan teka-teki. Dan saat kepingan terakhirnya terpasang... aku akan memastikan seluruh kota tahu bahwa Sang Monster Es sedang tidur dengan seorang penipu."

Dengan satu sentakan kasar, Arkan melepaskan Kevin. Tanpa sepatah kata lagi, Kevin masuk ke mobilnya dan memacu mesin, meninggalkan kepulan asap dan aroma ancaman yang kental di udara.

Sisi Rapuh Sang Monster

Setelah Kevin pergi, Arkan tidak langsung masuk ke dalam rumah. Ia berdiri mematung di halaman, menatap kegelapan malam. Alana mendekat dengan ragu.

"Tuan... dia mulai mencium sesuatu. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Alana lirih.

Arkan berbalik. Cahaya lampu taman menyinari wajahnya, memperlihatkan gari-garis kelelahan yang luar biasa. Untuk pertama kalinya, Alana tidak melihat seorang CEO yang arogan. Ia melihat seorang pria yang sedang memikul beban seluruh dinasti di pundaknya yang mulai goyah.

"Kenapa Anda melakukan ini?" bisik Alana tanpa sadar. "Kenapa Anda tidak menyerahkan saja semuanya? Kekuasaan ini... bukankah ini hanya menyiksa Anda?"

Arkan menatap Alana cukup lama, sebelum akhirnya ia tertawa getir. "Menyerah? Jika aku menyerah, kakek akan memusnahkan apa pun yang tersisa dari kemanusiaanku. Aku melakukannya untuk bertahan hidup, Alana. Di keluarga ini, kau adalah predator atau kau adalah mangsa yang dihapus dari sejarah, seperti Adrian."

Ia melangkah mendekat, memperpendek jarak di antara mereka. Alana bisa mencium aroma wiski dan parfum mahal yang maskulin dari tubuh Arkan.

"Kau takut?" tanya Arkan, suaranya kini melunak, hampir terdengar seperti bisikan emosional.

"Saya takut kehilangan keluarga saya," jawab Alana jujur. "Dan... saya takut jika pada akhirnya, saya tidak tahu lagi siapa diri saya yang sebenarnya."

Arkan mengangkat tangannya, ragu sejenak, sebelum akhirnya menyentuh pipi Alana dengan punggung jarinya. Sentuhan itu sangat dingin, namun bagi Alana, itu terasa seperti api yang membakar.

"Kau adalah Alana," ucap Arkan tegas. "Dan aku tidak akan membiarkan Kevin atau siapa pun mengubah itu menjadi abu. Selama kau berada di sampingku, kau adalah bagian dari perlindunganku."

Momen itu terasa begitu intim hingga Alana lupa bahwa mereka hanya terikat kontrak. Di bawah langit malam yang sunyi, Arkan tidak lagi memandang Alana sebagai pengganti Elena, melainkan sebagai satu-satunya orang yang mengetahui kebenaran di balik topeng esnya.

Panggilan dari Paviliun

Keheningan mereka terputus saat ponsel Arkan bergetar hebat. Arkan melihat layar ponselnya dan raut wajahnya berubah menjadi pucat pasi.

"Ada apa, Tuan?"

"Dokter di paviliun," Arkan menjawab singkat. "Kondisi Elena memburuk. Dia mengalami kontraksi hebat."

Alana terbelalak. Sesuai road map, usia kehamilan Elena baru memasuki bulan ketujuh. Ini terlalu dini.

"Kita harus ke sana sekarang," ujar Arkan, kembali ke mode pragmatisnya.

Mereka berlari menuju paviliun rahasia yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon pinus di area belakang mansion. Di sana, suasana sudah sangat kacau. Tim medis pribadi Arkan tampak sibuk keluar masuk kamar.

Suara teriakan Elena terdengar dari dalam, menyayat hati siapa pun yang mendengarnya. Itu bukan hanya suara kesakitan fisik, tapi suara ketakutan seorang wanita yang jiwanya telah hancur.

Arkan berdiri di depan pintu kamar, tidak diizinkan masuk. Ia mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Alana berdiri di sampingnya, memberikan dukungan tanpa kata. Ia tahu, jika bayi ini lahir sekarang, segalanya akan berubah. Skandal ini akan menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja.

"Tuan," Alana memegang lengan Arkan yang gemetar. "Apapun yang terjadi di dalam sana, kita akan menghadapinya."

Arkan menoleh pada Alana, matanya menunjukkan kerentanan yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun sebelumnya. Di saat itulah, Alana sadar bahwa ia telah jatuh terlalu dalam ke dalam labirin kehidupan Arkananta—dan tidak ada jalan kembali.

1
Sweet Girl
Nikmati aja dulu kemewahan yang diberikan Arkan, toh kamu sendiri belum punya pacarkan...
Sweet Girl
Nah... ini gak enaknya...
Sweet Girl
Kok seperti nya Arkan sudah mengenal Alana ya Tor...
Sweet Girl
Dirantai kamu Alana...
Sweet Girl
Apa kau terpesona pada pandangan pertama dengan Sekretaris kecil pengganti, Tuan CEO...???
Sweet Girl
Bwahahaha bener tau dia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!