Cerita ini adalah season dua dari karya "Cinta Masa Kecil Ustadz Athar"
***
"Abid... Kamu gak perlu merasa bertanggung jawab karna kemarin kita udah dalam posisi yang tak pantas, kita gak perlu menikah. Kita bisa menolak dan mengatakan itu pada kakek kamu dan semua orang. Kita gak harr-"
"Harus." Athar memotong ucapan Azzura cepat. "Kamu harus tanggung jawab."
"Loh kok aku? Dimana-mana yang dimintai pertanggungjawaban itu laki-laki, masa perempuan!" Azzura makin sewot.
"Ya udah ayo kita nikah kalau gitu. Aku mau tanggung jawab kok, meski kamu yang kemarin cium aku duluan."
"Ya itu karna gak sengaja, Abid. Kamu yang narik aku."
"Maka dari itu aku tanggung jawab."
Itu semua berawal dari Azzura yang berniat untuk mengagetkan Ayza tapi ia tidak tau bahwa itu Abidzar terjadilah mereka jatuh bersamaan dengan posisi tak pantas.
***
"aku kaya orang udah gak waras mau setuju aja nikah sama kamu!"
***
"Jadi kamu sudah tau apa tugas istri yang sesungguhnya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersama Kamu adalah Impian Pernikahanku
Teman-teman Abidzar dari kampus mulai berdatangan. Ia memang tidak mengundang banyak orang—hanya lingkaran terdekatnya saja. Evan, Reza, dan tiga teman lainnya. Suasana langsung cair, obrolan khas lelaki pun mengalir begitu saja.
Hingga Evan menepuk bahu Abidzar pelan. “El, itu siapa?” bisiknya sambil menunjuk ke satu arah. “Cantik banget.”
Abidzar langsung melirik tajam. “Jaga pandangan, Van.”
“Iya, iya, maaf,” Evan terkekeh. “Tapi serius, penasaran. Itu siapa?”
Abidzar mengikuti arah pandang Evan. Begitu sadar siapa yang dimaksud, refleks ia melayangkan tinju pelan ke perut sahabatnya itu. “Itu adik gue!”
Evan meringis sambil tertawa kecil. “Heheh, sorry. Gue gak tau.”
“Makanya jangan macem-macem.”
Evan malah makin usil. “Yaudah, kalo misalnya… misalnya gue mau deketin dia gimana?”
Abidzar menyipitkan mata, lalu menyeringai tipis. “Ada syaratnya.”
Evan langsung antusias. “Apa?”
“Hafal minimal sepuluh juz Al-Qur’an,” jawab Abidzar santai tapi serius. “Paham dasar fikih, akhlak, pelajari kitab-kitab, hadits. Jaga adab, jaga pandangan, dan yang paling penting—niatnya lurus.”
Evan langsung mengangkat kedua tangan. “Oke, cukup! Gue gak jadi!”
Reza tertawa keras. “Baru dengar syarat, langsung mundur.”
Abidzar melirik Evan sambil tersenyum tipis. “Kenapa? Katanya penasaran.”
Evan menghela napas pasrah. “Ya… gue kan bukan calon ulama, El.”
Abidzar menepuk bahu Evan pelan. “Bukan soal jadi ulama atau enggak,” ujarnya tenang. “Tapi kalo mau dekat sama perempuan dari keluarga gue, lo harus siap tanggung jawab. Kalau belum siap, cukup hormati. Itu aja.”
Evan mengangguk pelan, kali ini benar-benar paham.
***
Hingga menjelang azan magrib, rangkaian acara pun resmi berakhir. Para tamu satu per satu berpamitan, meninggalkan ndalem dengan wajah puas dan hati hangat. Beberapa santri bersama para abdi ndalem masih sibuk merapikan tikar, kursi, dan perlengkapan sederhana yang sejak pagi menemani kebersamaan hari itu.
Setelah membantu sebisanya, Arsyila, Ustadz Athar, dan Azzam bersiap pamit. Mereka akan pulang malam itu juga dan esok kembali ke Jakarta.
Azzura kembali memeluk kedua orang tuanya. Pelukannya kali ini lebih lama, lebih erat—seolah ingin menyimpan rasa aman itu lebih lama lagi.
“Umma…” suara Azzura bergetar.
Arsyila mengusap punggung putrinya lembut. “Iya, sayang. Jaga diri kamu baik-baik ya."
Ustadz Athar menatap putrinya dengan mata teduh, lalu berkata pelan namun penuh makna,
“Zura, pernikahan itu bukan tentang siapa yang paling benar, tapi siapa yang paling mau mengalah. Bukan tentang siapa yang paling kuat, tapi siapa yang mau saling menguatkan.”
Azzura mengangguk, matanya mulai berkaca-kaca.
“Kalau suatu hari kamu lelah,” lanjut Athar, “ingat, rumah itu tempat pulang, bukan tempat bertanding. Jangan simpan kecewa terlalu lama. Bicarakan. Doakan. Dan jangan pernah libatkan orang ketiga dalam masalah rumah tanggamu—cukup kalian berdua dan Allah.”
Abidzar yang berdiri di samping Azzura menunduk hormat. “Iya, Abi. Insya Allah.”
Arsyila kemudian memegang wajah putrinya dengan penuh kasih. “Zura, umma titip satu hal. Jangan pernah berhenti jadi dirimu sendiri. Jangan mengecil demi terlihat patuh, jangan membesar demi terlihat kuat.”
Ia tersenyum lembut.
“Dan kalau suatu hari kamu menangis, pastikan suamimu yang pertama tau. Jangan biasakan memendam sendirian.”
Azzura akhirnya tak kuasa menahan air matanya. “Iya, Umma…”
Arsyila menoleh ke Abidzar. “Abidzar, Umma titip anak Umma. Dia cerewet, sensitif, kadang kekanak-kanakan. Tapi hatinya tulus. Kalau dia marah, peluk. Kalau dia diam, dekati. Jangan biarkan dia merasa sendirian dalam pernikahan. Dan kalau dia salah, tolong ingatkan dan beri tau dia baik-baik."
Abidzar menjawab mantap, “Insya Allah, Umma. Saya jaga sebaik yang saya bisa.”
Azzam menepuk pundak adiknya pelan. “Bahagia ya, Zura. Jangan lupa, abang selalu ada.”
Azzura tersenyum di sela air mata. “Iya, Bang.”
Setelah pelukan terakhir, mereka pun berpamitan. Mobil perlahan menjauh, meninggalkan Azzura yang kini berdiri di sisi suaminya—bukan lagi sebagai putri kecil yang pulang ke rumah orang tua, melainkan sebagai istri yang sedang memulai rumah tangganya sendiri.
***
Usai salat Isya dan makan malam, seluruh tamu telah berpamitan. Rangkaian acara pun benar-benar selesai. Tikar, kursi, dan peralatan sederhana telah dirapikan. Ndalem kembali tenang, menyisakan keheningan yang hangat setelah hari panjang penuh kebersamaan.
Satu per satu anggota keluarga masuk ke kamar masing-masing.
Di kamar mereka, Abidzar duduk di tepi ranjang. Pandangannya tak lepas dari Azzura yang sedang membersihkan riasan di depan meja rias. Gerakan Azzura pelan dan tenang, sesekali ia menatap wajahnya sendiri di cermin, menghapus sisa lipstik dan bedak yang sejak siang menempel di kulitnya.
Namun tatapan Abidzar terasa berbeda.
Bukan tatapan kagum yang biasa. Ada jeda yang terlalu lama, ada diam yang terlalu dalam.
Azzura yang menyadari hal itu akhirnya bersuara, tanpa menoleh.
“Kenapa dari tadi ngeliatin aku kayak gitu sih, Mas?”
Abidzar tersenyum kecil. “Oh, enggak kok. Mas cuma mau ngeliatin kamu aja.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada lembut, “Memangnya ada yang salah? Seorang suami mandangin istrinya sendiri. Apalagi hari ini… kamu cantik, cantik, cantik banget.”
Azzura memicingkan mata, tak sepenuhnya percaya. Ia menatap Abidzar melalui pantulan cermin meja rias. Tatapan itu membuatnya yakin—Abidzar tidak sedang bercanda.
Laki-laki itu tidak sekadar menatap.
Ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang ingin ia sampaikan, tapi masih ia simpan. Ragu. Menimbang. Seolah kata-kata yang akan keluar bukan hal ringan.
Azzura menutup botol pembersih wajahnya, lalu berbalik perlahan menghadap suaminya. Dan tanpa aba-aba Azzura duduk di pangkuan suaminya.
"Zuya, kamu ngapain?" Abidzar jelas kaget dengan apa yang istrinya lakukan dan dengan spontan meletakkan tangannya di pinggul sang istri untuk menahan tubuh Azzura agar tidak jatuh.
Belum cukup sampai disitu, Azzura memegang kedua pipi Abidzar, lalu menatap dalam-dalam mata suaminya itu.
"Sekarang bilang sama aku, Mas pengen ngomong apa? Jangan kira aku gak tau ya, dari semalam loh, Mas itu kaya mau ngomong sama aku tapi kaya ragu. Aku tau Mas sedang memikirkan sesuatu, sekarang bilang sama aku, apa yang lagi mas pikirin?"
"O-oke aku bakalan ngomong. Tapi kamu bisa turun dulu gak? kita bisa bicara dengan posisi yang lebih baik."
"Kenapa? Apa yang salah dengan posisi seperti ini? Mas masih bisa tetep bicara kok." Lalu Azzura mengalungkan kedua tangannya ke leher Abidzar.
"Tapi, sayang..."
“Tapi apa lagi, Mas?” Azzura mendekat.
“Ayo… Mas pengin ngomong apa? Aku sudah siap dengarnya.”
Abidzar mengembuskan napas panjang, pasrah. Dadanya naik turun ketika ia menarik napas dalam-dalam, seolah menyiapkan keberanian untuk membuka isi hatinya.
“Aku mau nanya satu hal dulu sama kamu,” ucapnya pelan. “Kenapa kamu bikin acara resepsi kita cuma seperti syukuran? Kenapa kamu gak mewujudkan wedding dream kamu?”
Azzura terdiam.
“Apa kamu gak yakin kalau Mas mampu?” lanjut Abidzar, jujur. “Mas pikir kamu sama Umi bakal bikin acara yang besar, mewah… tapi ternyata semuanya sederhana. Bahkan Mas dengar sendiri ada beberapa orang yang berbisik, mereka gak nyangka acara kita akan sesederhana ini.”
Nada suaranya merendah.
“Mas minta maaf kalau kamu merasa Mas gak bisa mewujudkan impian kamu. Mas ingat betul, dulu waktu kamu kecil ketika melihat pernikahan Tante Dania dan Om Bayu, kamu pengen pesta pernikahan yang megah. Gaun yang cantik, elegan, seperti princess. Gedung besar. Dan—”
“Mas, bisa stop nggak?” potong Azzura cepat.
Ia meraih kedua pipi Abidzar, memaksa suaminya menatap lurus ke matanya. “Sekarang gantian aku yang ngomong, boleh?”
Abidzar mengangguk pelan.
“Mas,” Azzura menarik napas, jujur tanpa ragu,
“menikah dengan kamu dulu bukan bagian dari rencana hidupku.”
Abidzar menelan ludah, tapi tak memotong.
“Aku memang punya wedding dream,” lanjut Azzura. “Aku pengen gaun cantik seperti putri. Menikah di gedung megah. Menikah dengan laki-laki yang dewasa, mapan, seperti Abi dulu menikahi Umma.”
Ia tersenyum kecil, lalu menggeleng.
“Tapi pelan-pelan aku belajar dari Abi dan Umma… pernikahan yang berdiri di atas kemewahan duniawi itu artinya apa Mas? Itu semua akan kalah dengan keberkahan dan doa-doa dari para ulama, Kyai, serta orang-orang yang hadir disana."
Azzura menatapnya penuh ketulusan. “Aku ingin menikah dengan laki-laki yang bertanggung jawab. Yang dewasa. Yang bisa mengayomi aku—yang masih labil dan kekanak-kanakan ini. Aku ingin menikah dengan cinta laki-laki yang perasaannya lebih besar daripada egonya.”
Abidzar terdiam.
“Kamu tahu gak?” lanjut Azzura, suaranya lembut.
“Standar laki-laki buat aku itu minimal seperti Abi. Dan kamu tahu sendiri bagaimana Abi memperlakukan Ummaku. Dan tanpa aku sadari… semua itu ada di kamu, Mas.”
Ia menghela napas pelan.
“Awalnya aku menikah sama kamu karena keadaan. Tapi sekarang…” Azzura tersenyum.
“Semua impian pernikahanku terwujud oleh kamu.”
Abidzar menatapnya tak berkedip.
“Aku tau kamu mampu,” sambung Azzura. “Tapi kenapa aku memilih sederhana? Karena kalau kita terlalu mewah, kita gak akan dapat suasana seperti hari ini.”
Matanya berkaca-kaca.
“Kamu lihat kan? Orang tua kita menikmati kebersamaan itu. Para sahabat Umma tertawa lepas. Kakek Yai bahagia di usianya yang sekarang, melihat cucunya menikah, didatangi para kyai dan ulama. Itu… itu pernikahan impianku, Mas.”
Abidzar terdiam lama, mencerna setiap kata.
“Jadi maksud kamu…” suaranya hampir berbisik.
“Iya,” Azzura mengangguk mantap.
“Kamu sudah mewujudkan semua wedding dream aku. Aku gak perlu jadi ratu sehari atau pesta mewah yang hanya menyenangkan orang lain.”
Ia menggenggam tangan suaminya.
“Cukup sederhana seperti tadi. Terima kasih, Mas, sudah memberi aku kesempatan untuk merasakan pernikahan impianku. Terima kasih juga karena dulu kamu memaksaku menikah dengan kamu.”
Azzura tersenyum kecil.
“Sekarang aku tau… itu adalah anugerah terindah dalam hidupku.”
Hening.
“Jadi,” lanjutnya pelan, “mari kita wujudkan impian pernikahanku yang lainnya. Bersama. Bagaimana?”
Abidzar tak sanggup menahan dirinya lagi.
Ia meraih tengkuk Azzura, menariknya lembut, lalu mengecup kening istrinya penuh rasa syukur. Bibirnya menempel lama, seolah seluruh bahagia hidupnya terkumpul di sana.
Tak ada kata yang mampu menggambarkan perasaannya.
Tak ada kalimat yang cukup untuk menjelaskan betapa utuh hatinya saat ini.
Mengetahui bahwa menikah dengannya adalah anugerah terindah dalam hidup Azzura—itu adalah kalimat paling romantis yang pernah ia dengar.
“Mas…” Azzura berbisik pelan.
Namun Abidzar tak juga menjauh. Bibirnya masih di kening istrinya, sementara dari bibirnya meluncur gumaman lirih, berulang-ulang—
“Terima kasih… terima kasih… terima kasih, ya Allah.”
"Jadi tolong jangan berpikiran bahwa kamu tidak mampu. Kamu mampu, Mas, buktinya kamu selalu menuruti keinginan aku setiap aku meminta apapun."
Abidzar memandangi wajah istrinya itu, salah satu hal di dunia ini yang tidak akan pernah bosan ia pandang.
Azzura berdehem. "Kenapa? Kok mandang akunya begitu banget sih Mas?" Azzura salah tingkah ditatap seperti itu. Tatapan Abidzar selalu membuat jantungnya berdetak tak karuan. Ia tidak pernah terbiasa di tatap seperti itu, sesering apapun Abidzar melakukannya, tetap saja perasaan Azzura masih saja tidak terbiasa.
Abidzar menahan senyum. Tau kalau istrinya salah tingkah di tatap begitu lama.
"Mas kaget, sejak kapan kamu pandai berkata romantis seperti tadi, mana lembut pula."
Wajah Azzura bersemu merah. Ia memukul dada suaminya pelan. "Mas..." Azzura mengerang protes. Kalau tau Abidzar akan meledeknya, ia tidak akan lepas kontrol untuk mengungkapkan perasaannya secara terang-terangan tadi.
Abidzar hanya tertawa melihat ekspresi menggemaskan istrinya dan tanpa aba-aba mendaratkan kecupan kecil di bibirnya beberapa kali lalu beralih mengiggit kecil pipi tembem Azzura yang terlalu menggemaskan baginya itu.
"Mas... Kamu ngapain sih. Ini pipi bukan makanan." Protes Azzura.
"Maaf, mas gak bisa nahan buat gak gigit. Makanya, jadi orang jangan terlalu menggemaskan, bisa?"
Abidzar tidak bisa menahan tawa melihat ekspresi istrinya. Azzura selalu bisa membuat Abidzar tertawa bahkan ketika istrinya itu tidak melakukan apapun sama sekali.
"Ya udah nih aku balas." Bukan Azzura namanya jika ia tidak bisa membalas serangan suaminya itu. Ia menunduk lantas menyerang suaminya dengan memberikan gigitan kecil di leher suaminya.
"Sayang, aku sebenernya gak keberatan di gigit kayak gini. Tapi kamu harus bisa bertanggung jawab setelahnya." Bisik Abidzar di telinga Azzura dengan nada yang serak.
Azzura tau kemana arah pembicaraan suaminya itu. Ia pun lantas menjauhkan diri dari Abidzar dan mengambil ancang-ancang untuk kabur. Tapi dengan sigap, Abidzar mengunci pergerakan Azzura dengan melingkarkan lengannya di sekeliling pinggang istrinya itu, membuat Azzura tetap berada di pangkuannya.
"Jangan coba-coba kabur. Kamu yang lebih dulu menyerahkan diri. Jadi sudah sepantasnya kamu bertanggung jawab atas tindakan kamu, sayang."
"Tapi mas... Kamu tau kan aku masih tidak bisa."
"Istriku, Zuya yang cantik, bohong itu dosa loh. Aku tau kemarin adalah hari terakhir kamu. Aku punya jadwalnya di ponselku." Ucap Abidzar dengan seringai kemenangan.
"Mas, kamu benar-benar...."
Azzura tidak habis pikir, kenapa bisa suaminya punya jadwal menstruasinya.
"Kenapa? Aku suami kamu. Masalah paling pribadi kamu pun aku harus berhak tau. Aku suami kamu, Zuya. Justru ini tuh sebagai pengingat untuk aku juga. Biasanya, mood wanita lebih buruk saat tamu bulanannya datang. Jadi jadwal itu sebagai pengingat untuk aku, agar aku taun kapan harus lebih menjaga sikap di hadapan kamu, kapan aku harus berusaha keras untuk tidak membuat kamu kesal."
"Tapi kamu memang selalu nyebelin, Mas."
"Tapi kamu sayang kan? Jadi, istriku sayang, tolong jangan siksa aku lagi ya. Sudah cukup lebih dari seminggu itu."
Terserah suaminya saja lah. Azzura pasrah.
zuya lnh mirip umi hafiza saat awl hamil
ya allah semoga kluarga kcil ini sllu dlm lindnganMu.amiin
AUra ga bisa ngerjain lg nih suami nya uda tau klo ngidam nya pira2 😀😀😀
zuya srpemikiran dgn umma arsyila dlm wktu dnyatakan hamil,smoga slmat pei debay lhir,apapun kdpnnya cobaan yg akn ada smoga psangan muda ini bisa sling mlngkapi st sm lain
jd ortu apa lgi dlm usia muda pasti bnyak rintangan,insyallah dgn adanya kluarga dan org" skitar yg mndukung dan mnemani smua akn brjln sesui hrpn
dasar zura polos banget
mksih kay kmu tuh mski dingin tp positif thinking👍👍👍
lanjut dong kk🥰🥰