NovelToon NovelToon
A Story'Of Us

A Story'Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Cintapertama
Popularitas:7
Nilai: 5
Nama Author: ilwa nuryansyah

menceritakan seorang siswi bernama Aria putri siswi dingin dan Sasha arka siswi berandalan, menceritakan keseharian mereka di sekolah dan teman baru di tahun terakhir sekolah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 35

Sore hari itu, langit berubah warna menjadi jingga kemerahan yang pekat.

Sasha berjalan menuju gerbang rumahnya dengan raut wajah yang sangat masam.

Ponselnya menempel di telinga, dan ia sedang terlibat perdebatan sengit dengan Raka di seberang telepon.

"Aku sudah bilang tidak mau, Raka! Kenapa aku harus jadi penanggung jawab keamanan lagi?!" seru Sasha, suaranya bergema di sepanjang trotoar.

Dari seberang telepon, suara Raka terdengar tenang namun tidak bisa dibantah.

*"Sasha, dengarkan dulu. Hasil rapat besar dengan kepala sekolah kemarin memutuskan perubahan skema. Karena ini tahun terakhir bagi kelas tiga, festival olahraga akan digabung dengan festival budaya agar lebih meriah sebagai kenang-kenangan terakhir."*

Sasha mendengus. "Lalu apa hubungannya denganku?"

*"Festival akan berlangsung tiga hari,"* lanjut Raka tanpa memedulikan protes Sasha. *"Hari pertama dan kedua diisi dengan kompetisi olahraga antar kelas. Hari terakhir adalah festival budaya dengan stan makanan dan pertunjukan, lalu akan ditutup dengan pesta kembang api di malam hari. Skala acaranya dua kali lipat lebih besar dari biasanya. Sekolah butuh orang yang ditakuti untuk menjaga ketertiban, dan orang itu adalah kau."*

"Cari saja orang lain! Aku mau menikmati kembang api, bukan menjaga gerbang!"

*"Terima kasih atas kerja samanya, Sasha. Aku sudah memasukkan namamu ke surat keputusan. Sampai jumpa besok,"* ucap Raka datar sebelum memutuskan sambungan telepon secara sepihak.

"Woi! Raka! Sialan kau!" Sasha mengumpat keras-keras sambil menatap layar ponselnya yang sudah gelap. "Kalkulator berjalan itu benar-benar tahu cara membuatku darah tinggi!"

Langkah Sasha terhenti tepat di depan gerbang rumahnya.

Ia mengernyitkan dahi saat melihat mobil Range Rover milik Kyoko terparkir manis di halaman. "Wanita itu... apa dia sudah jatuh miskin sampai menumpang tinggal di sini?" gumam Sasha sinis.

Saat Sasha hendak melangkah masuk ke pintu utama, Kyoko muncul dari balik pilar dengan ekspresi yang tidak biasa.

Tidak ada senyum menggoda atau nada bicara yang genit. Ia tampak ragu, bahkan sedikit gelisah.

"Sasha, kau sudah pulang?" tanya Kyoko pelan.

"Kenapa kau masih di sini? Pergi sana ke hotel atau ke mana pun," usir Sasha kasar.

Kyoko menarik napas panjang, lalu mencoba mendekat. "Ayo pergi makan malam keluar. Aku yang traktir. Kita pergi ke restoran mana pun yang kau mau, yang paling mahal sekalipun."

Sasha menyipitkan mata, merasa ada yang tidak beres. "Tidak mau. Aku lelah."

Kyoko tidak menyerah. Ia mencoba membujuk lagi dengan nada mendesak. "Ayolah, Sasha-chan.

Aku sudah memesan tempat. Anggap saja ini sebagai permintaan maafku karena tadi sudah menggoda teman-temanmu. Lagipula, aku ingin bicara sesuatu yang penting padamu... secara pribadi."

"Bicara saja di sini. Aku tidak butuh makanan mahalamu," sahut Sasha dingin sambil meraih gagang pintu.

"Sasha, kumohon sekali ini saja. Kita bisa belanja setelah makan, aku akan membelikanmu jaket kulit yang kau incar itu, bagaimana?" Kyoko terus merayu, namun Sasha tetap bergeming. Ia mendorong pintu rumahnya dengan kasar.

"Sudah kukatakan tidak—"

Ucapan Sasha terputus di udara. Tubuhnya mendadak kaku.

Sebuah suara lembut namun berwibawa terdengar dari arah ruang tamu, sebuah suara yang sudah 15 tahun tidak pernah ia dengar secara langsung, namun getarannya masih terekam jelas di ingatannya.

"Sudah lima belas tahun berlalu, ya... Kau sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat besar dan cantik sekarang, Sasha."

Sasha perlahan memutar kepalanya ke arah sumber suara.

Di sana, duduk seorang wanita anggun yang usianya sebaya dengan ayahnya.

Wanita itu mengenakan pakaian kelas atas yang sangat elegan, menatap Sasha dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kerinduan dan rasa bersalah.

Jantung Sasha seakan berhenti berdetak. Napasnya tercekat di tenggorokan. "Ibu...?" bisiknya lirih, hampir tak terdengar.

Wanita itu berdiri perlahan, menatap putri yang ia tinggalkan belasan tahun lalu dengan senyum tipis yang gemetar.

Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu, menghancurkan pertahanan Sasha yang biasanya sekeras baja dalam sekejap mata.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!