Di balik rak-rak kayu ek yang menjulang tinggi, Genevieve Isolde Clara adalah cahaya yang tak pernah padam. Sebagai pustakawan, ia dikenal karena senyumnya yang merekah bagi siapa saja dan keramahannya yang membuat siapa pun merasa diterima. Namun, keceriaan itu hanyalah tirai tipis yang menutupi luka batin yang sangat dalam. Genevieve adalah ahli dalam berpura-pura—ia membalut rasa sakitnya dengan tawa, memastikan dunia melihatnya sebagai gadis yang paling bahagia, meski hatinya perlahan hancur dalam kesunyian.
Kehidupan Genevieve yang penuh kepura-puraan terusik ketika Valerius Theodore Lucien muncul. Valerius adalah seorang pria dengan aura bangsawan kuno, pucat, dan memiliki tatapan yang seolah bisa menembus waktu—ia adalah seorang vampir yang telah hidup berabad-abad. Sejak pertama kali melihat Genevieve, Valerius merasakan sesuatu yang janggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Akhir dari Kesabaran Sang Puan
Sinar matahari pagi yang masuk melalui celah jendela loteng tidak membawa kehangatan bagi Genevieve.
Ia bangun dengan perasaan lelah yang luar biasa, seolah jiwanya baru saja melewati peperangan panjang. Setelah merapikan diri, ia turun ke bawah dengan langkah waspada, bersiap menghadapi Valerius atau sisa-sisa jamuan makan malam semalam.
Namun, lantai bawah kosong melompong.
Meja jamuan mewah itu telah lenyap tanpa bekas. Tidak ada aroma daging panggang, tidak ada lilin perak, bahkan botol anggur yang tumpah pun tidak meninggalkan noda sedikit pun di lantai marmer. Semuanya kembali seperti semula—berdebu dan sunyi.
Genevieve mendengus sinis. "Sihir yang murahan," gumamnya.
Ia membuka pintu depan perpustakaan dengan kasar, berharap udara segar bisa mengusir sisa-sisa kehadiran Valerius. Namun, saat ia berbalik untuk menyapu lantai, ia melihat sosok itu lagi. Valerius tidak lagi duduk di kursi, ia berdiri di depan rak buku sejarah, membelakangi Genevieve. Bahunya yang lebar tampak tegang.
Genevieve meletakkan sapunya dengan hentakan keras. "Belum cukup juga?"
Valerius berbalik perlahan. Wajahnya tidak lagi menunjukkan seringai kemenangan atau tatapan posesif. Ekspresinya kini datar, namun matanya yang sehitam jelaga menatap Genevieve dengan kekecewaan yang mendalam.
"Aku datang untuk memberikanmu kebebasan yang sesungguhnya, Genevieve," ucap Valerius, suaranya terdengar hampa.
"Kebebasanmu adalah racun!" potong Genevieve tajam. Ia melangkah mendekat, jarinya menunjuk tepat ke dada Valerius. "Kau pikir dengan menghapus keluargaku dan memberiku kemewahan semalam, aku akan luluh? Kau salah besar. Kehadiranmu di sini adalah polusi bagi hidupku."
Valerius terdiam. Kata-kata itu seolah-olah lebih tajam dari pasak perak mana pun yang pernah menyentuh kulitnya.
"Aku mau kau pergi," lanjut Genevieve, suaranya merendah namun penuh penekanan. "Bukan hanya dari perpustakaan ini, tapi dari hidupku.
Jangan pernah muncul lagi di hadapanku, jangan pernah mengikutiku, dan jangan pernah menyentuh satu pun hal yang berkaitan denganku. Keluar dari sini, Valerius. Sekarang juga."
Keheningan yang berat menyelimuti mereka selama beberapa detik. Valerius menatap wajah Genevieve, mencari setitik keraguan di mata gadis itu, namun ia hanya menemukan kebencian yang murni.
"Kau benar-benar menginginkan itu?" tanya Valerius pelan.
"Kau ingin aku menghilang sepenuhnya?"
"Lebih dari apa pun," jawab Genevieve tanpa ragu.
Valerius mengangguk pelan, sebuah gerakan yang tampak sangat kaku. Ia mundur satu langkah, memasuki bayangan rak buku yang gelap. Suhu di ruangan itu turun drastis untuk sesaat, membuat napas Genevieve menguap.
"Sesuai keinginanmu, Puan," bisik Valerius. "Tapi ingatlah satu hal: kegelapan yang selama ini menjagamu akan pergi bersamaku. Semoga duniamu yang 'normal' itu seindah yang kau bayangkan."
Dalam sekejap, sosok itu memudar seperti asap yang tertiup angin. Aura dingin yang mencekam mendadak hilang, digantikan oleh kehangatan sinar matahari yang kembali normal. Perpustakaan itu terasa jauh lebih luas sekarang, namun juga... sangat kosong.
Keheningan yang menyambut Genevieve pagi itu terasa berbeda. Biasanya, meski Valerius tidak menampakkan diri, ada energi yang berdenyut di udara—sesuatu yang membuat perpustakaan terasa "hidup". Namun kini, tempat itu terasa seperti bangunan tua yang mati.
Genevieve menyapu lantai, merapikan meja, dan menyusun kembali kursi-kursi. Ia menunggu jam dinding berdentang menunjukkan pukul sembilan, waktu di mana biasanya beberapa orang tua akan datang untuk membaca koran pagi.
Satu jam berlalu. Tidak ada yang datang.
Dua jam. Pintu kayu besar itu tetap tertutup rapat.
Genevieve berdiri di depan jendela, menatap jalanan di luar. Orang-orang lewat begitu saja tanpa melirik ke arah perpustakaan.
Seolah-olah bangunan itu telah menjadi transparan bagi mereka. Ia teringat ucapan Valerius kemarin tentang bagaimana ia "menjaga" tempat ini. Apakah selama ini orang-orang datang karena pengaruh Valerius? Atau apakah sekarang mereka menjauh karena perlindungan itu hilang?
"Mungkin mereka memang sudah bosan dengan buku," gumam Genevieve, mencoba menghibur dirinya sendiri.
Ia duduk di meja sirkulasi, membuka sebuah novel klasik, namun matanya terus beralih ke arah jam.
Kesunyian ini mulai terasa memekakkan telinga. Tidak ada suara langkah kaki pelan, tidak ada aroma mawar, tidak ada hawa dingin yang biasanya membuatnya waspada.
Genevieve mendesah pelan, memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan pintu yang tak kunjung terbuka bagi pengunjung.
Jika dunia memutuskan untuk melupakan buku hari ini, maka ia akan menggunakan waktu itu untuk dirinya sendiri.
Ia menyalakan kompor kecil di ruang belakang, mengaduk bubuk cokelat ke dalam susu panas hingga aromanya yang manis dan menenangkan memenuhi ruangan.
Dengan cangkir hangat di tangannya, ia berjalan menuju kursi malas di dekat jendela besar—tempat favoritnya yang kini terasa jauh lebih luas tanpa bayangan pria tinggi yang biasanya mengawasi dari kegelapan.
Ia membuka sebuah novel romance klasik yang sampulnya sudah mulai menguning. Judulnya bercerita tentang cinta yang tak sampai, tentang dua jiwa yang dipisahkan oleh takdir dan waktu.
Slurp.
Cokelat panas itu mengalir di tenggorokannya, namun entah mengapa rasanya tidak semanis biasanya. Genevieve mencoba fokus pada baris-baris kalimat yang puitis di hadapannya. Ia membaca tentang sang pahlawan wanita yang meratapi kepergian kekasihnya, tentang bagaimana rumah yang megah terasa seperti penjara yang sepi saat suara langkah kaki sang kekasih tak lagi terdengar.
"Sangat melankolis," bisik Genevieve pada dirinya sendiri.
Tanpa sadar, jemarinya meraba lehernya sendiri—titik di mana bibir dingin Valerius sempat menyentuhnya kemarin. Ia segera menarik tangannya kembali dengan perasaan kesal. Kenapa ia harus mengingat monster itu saat membaca cerita cinta seperti ini?
Halaman demi halaman ia balik. Cerita itu semakin menyedihkan. Sang pria dalam buku itu akhirnya menghilang demi keselamatan wanita yang dicintainya, meninggalkan wanita itu dalam kedamaian yang hampa.
Genevieve merasakan matanya sedikit memanas. Bukan karena ia merasa bersalah telah mengusir Valerius, pikirnya, tapi karena penulis novel ini sangat ahli dalam memainkan emosi pembaca.
Lonceng kecil di atas pintu perpustakaan tetap membisu. Di luar, langit mulai berubah menjadi abu-abu mendung, seolah alam mendukung suasana hati novel yang sedang ia baca.
Genevieve meringkuk di kursinya, memeluk cangkir cokelatnya yang mulai mendingin.
Ia mendapatkan apa yang ia inginkan: ketenangan, tanpa gangguan, tanpa Valerius. Tapi di tengah keheningan yang sempurna ini, novel sedih itu seolah menjadi cermin yang mengejeknya—bahwa terkadang, kebebasan adalah bentuk lain dari kesepian yang paling sunyi.
keren
cerita nya manis