NovelToon NovelToon
Jodoh Sang Letnan

Jodoh Sang Letnan

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:82.4k
Nilai: 5
Nama Author: Deyulia

Ikuti saya di:
FB Lina Zascia Amandia
IG deyulia2022

Setelah hatinya lega dan move on dari mantan kekasih yang bahagia dinikahi abang kandungnya sendiri. Letnan Satu Erlaga Patikelana kembali menyimpan rasa pada seorang gadis berhijab sederhana yang ia temui di sebuah pujasera.

Ramah dan cantik, itu kesan pertama yang Erlaga rasakan saat pertama kali bertemu dengan gadis itu. Namun, ketika hatinya mulai menyimpan rasa, tiba-tiba sang mama membawa kabar kalau Erlaga akan dikenalkan pada seorang gadis anak dari leting sang papa. Sayangnya, Erlaga menolak. Dia hanya ingin mendapatkan jodoh hasil pencariannya.

Apakah Erlaga pada akhirnya menerima perjodohan itu, atau malah justru berjodoh dengan gadis yang ia temui di pujasera?

Yuk, kepoin kisahnya di "Jodoh Sang Letnan"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 Toga dan Perpisahan di Batas Negeri

     ​Hari yang paling mendebarkan dalam hidup Syafina akhirnya tiba. Ia mengenakan kemeja putih bersih, rok hitam, blazer dan pashmina senada.

     Syafina berdiri di depan aula fakultas. Di tangannya, terselip draf skripsi yang sudah ia perjuangkan dengan cucuran keringat dan air mata, juga bimbingan dari Syapala dan dukungan tanpa henti dari Erlaga.

     ​"Fina, fokus. Kamu sudah menguasai materinya," bisik Syafina pada dirinya sendiri.

     ​Selama dua jam di dalam ruang sidang, Syafina dibombardir pertanyaan oleh tiga dosen penguji. Namun, setiap kali ia merasa buntu, ia teringat wajah Erlaga yang menemaninya begadang malam itu. Ia juga teringat dukungan Syapala yang membedah teori psikologi bersamanya. Dengan tenang dan lugas, Syafina menjawab satu per satu pertanyaan tersebut.

     ​Hingga akhirnya, pintu ruang sidang terbuka. Dosen pembimbingnya tersenyum. "Selamat, Syafina. Kamu lulus dengan nilai A. Silakan keluar dan temui keluargamu."

     ​Lutut Syafina lemas karena lega. Begitu ia melangkah keluar, ia mencari sosok pria yang paling ia rindukan kehadirannya. Namun, Erlaga tidak ada di sana. Hanya ada Syapala yang berdiri membawa buket bunga besar bersama Arkala dan si kecil Arkana.

     ​"Mbak Pala? Bang Arka? Kak Laga mana?" tanya Syafina, matanya mencari-cari ke seluruh penjuru koridor kampus. Tapi, yang ia cari tidak terlihat.

     ​Syapala memeluk Syafina erat. "Selamat ya, Dek! Sarjana Psikologi sekarang! Erlaga... tadi katanya ada urusan mendadak di markas. Tapi dia titip ini." Syapala menyerahkan sebuah kotak beludru merah kecil.

     ​Syafina membuka kotak itu. Isinya sebuah kalung emas dengan liontin mungil berbentuk peluru perak, mirip dengan gantungan liontin pemberian Erlaga dulu. Di dalamnya ada secarik kertas kecil, "Selamat, Sayang. Sudah Sarjana sekarang. Pulanglah, Kakak menunggumu di rumah. Ada kejutan."

     ​Syafina pulang dengan perasaan campur aduk. Bahagia karena lulus, namun ada firasat aneh yang menggelitik hatinya. Mengapa Erlaga tidak bisa datang? Padahal suaminya itu sudah berjanji akan menjadi orang pertama yang mengalungkan bunga, saat ia lulus.

     ​Begitu sampai di halaman rumah pribadi mereka, Syafina melihat mobil Erlaga sudah terparkir. Ia berlari masuk ke dalam rumah.

     ​"Kak? Kak Laga?"

     ​Syafina terpaku di ambang pintu ruang tengah. Ruangan itu sudah dihias dengan balon-balon sederhana dan spanduk bertuliskan 'Happy Graduation, My Brave Wife'.

     Di tengah ruangan, Erlaga berdiri tegak. Namun, ia tidak mengenakan pakaian santai. Ia mengenakan seragam PDL loreng lengkap, dengan baret di kepala dan ransel besar, carrier tempur, yang sudah bersandar di dekat sofa.

     ​Jantung Syafina seakan berhenti berdetak. Ia tahu arti ransel besar itu.

     ​"Kak... ini apa?" Suara Syafina bergetar.

     ​Erlaga berjalan mendekat, ia memeluk Syafina sangat erat, seolah ingin menyatukan detak jantung mereka. "Selamat atas kelulusannya, Sayang. Kakak bangga sekali sama kamu."

     ​Syafina melepaskan pelukan itu, menatap mata Erlaga yang terlihat berkaca-kaca namun tetap tegas. "Kakak mau pergi? Ke mana? Berapa lama?"

     ​Erlaga menghela napas berat, ia menggenggam kedua tangan Syafina. "Perintah operasi, baru saja turun siang tadi. Kakak ditunjuk menjadi Komandan Satgas Pamtas (Pengamanan Perbatasan) di Kalimantan Utara, perbatasan Malaysia. Tugasnya... sembilan bulan, Sayang."

     ​"Sembilan bulan?" Syafina luruh ke lantai. Air matanya yang tadi tertahan karena kebahagiaan lulus sidang, kini tumpah karena kenyataan pahit. "Kak, kita baru saja menikah. Sembilan bulan itu lama sekali. Di sana pasti susah sinyal, kan?"

     ​Erlaga berlutut di depan istrinya, menyeka air mata yang membasahi pipi Syafina. "Maafkan Kakak, Sayang. Ini tugas negara. Kakak berangkat malam ini juga. Truk pengangkut personel sudah menunggu di markas."

     ​Suasana rumah yang seharusnya penuh tawa perayaan lulus sidang, mendadak berubah menjadi hening yang menyayat. Erlaga membantu Syafina berdiri, membawanya ke kamar untuk menghabiskan waktu beberapa jam yang tersisa.

     ​Syafina tidak ingin melepaskan pegangannya dari seragam loreng Erlaga. Ia memeluk suaminya dari belakang saat Erlaga sedang mengecek kembali logistik di dalam tasnya.

     ​"Sembilan bulan tanpa Kakak... Fina nggak tahu harus gimana," isak Syafina di punggung Erlaga.

     ​Erlaga berbalik, menarik Syafina ke dalam dekapan yang sangat posesif. Ia menciumi seluruh wajah istrinya, seolah ingin menyimpan memori tentang aroma dan tekstur kulit Syafina di dalam ingatannya selama bertugas di tengah hutan nanti.

     ​"Kamu sudah jadi Sarjana sekarang. Kamu wanita hebat, istri perwira yang tangguh. Mbak Pala dan Bang Arka akan sering menemanimu. Bi Imas juga akan tetap di sini," ujar Erlaga dengan suara serak. "Jaga diri baik-baik, jangan telat makan. Doakan Kakak pulang dengan selamat, tidak kurang satu apapun."

     Syafina menumpahkan tangisnya sampai ia merasa sesak di dadanya hilang. Namun, hatinya tetap mencelos, ia akan merasa hampa menunggu kembalinya Erlaga sampai tugasnya selesai.

     "Sudah, Sayang. Kakak tahu kamu pasti kuat."

     ​Erlaga membawa Syafina ke pembaringan. Malam itu, mereka tidak merayakan kelulusan dengan pesta pora, melainkan dengan penyatuan yang penuh haru dan air mata. Setiap sentuhan Erlaga terasa seperti sebuah janji bahwa ia akan kembali. Erlaga seolah ingin menanamkan eksistensinya begitu dalam di rahim dan hati Syafina sebelum ia menghilang di rimba Kalimantan.

     ​"Kakak sayang kamu, Syafina. Sangat sayang," bisik Erlaga di sela napasnya yang memburu.

     Air mata Syafina kembali luruh, ia tidak kuat dengan perpisahan ini. Perpisahan yang baginya sangat mendadak ketika pernikahan mereka masih terbilang baru.

     ​Pukul dua dini hari, Syafina mengantar Erlaga ke markas batalyon. Di sana, ratusan prajurit sudah berbaris rapi di bawah lampu tembak yang remang-remang. Suasana sangat mencekam ketika melewati pilar-pilar bergambar relief prajurit memanggul senjata. Isak tangis para istri dan keluarga prajurit lain terdengar di kejauhan.

     ​Arkala dan Syapala juga ada di sana untuk melepas Erlaga. Syapala memeluk Syafina, memberikan kekuatan.

     ​"Adik-adik... lapor!" seru seorang bintara.

     ​Erlaga menatap Syafina untuk terakhir kalinya sebelum ia naik ke atas truk militer. Ia memberikan hormat militer yang paling sempurna kepada istrinya, penghormatan tertinggi dari seorang prajurit untuk wanita yang menjaga hatinya di rumah.

     ​"Kakak berangkat, Sayang. Tunggu Kakak!" seru Erlaga dari atas truk.

     ​Syafina hanya bisa melambaikan tangan dengan air mata yang terus mengalir deras. Truk-truk besar itu perlahan mulai bergerak, keluar dari gerbang markas menuju bandara. Debu jalanan tersisa, menyisakan kekosongan yang luar biasa di hati Syafina.

     ​Syafina menggenggam liontin peluru perak di lehernya. Sembilan bulan ke depan akan menjadi ujian kemandirian yang sesungguhnya. Ia baru saja menyandang gelar sarjana, namun kini ia harus belajar gelar yang lebih berat, menjadi istri prajurit yang setia dalam penantian.

     ​"Fina tunggu, Kak. Semoga Kakak selamat dan sehat. Pulanglah sebagai pemenang," bisik Syafina pada angin malam, mencoba meredam getir di dalam hatinya.

Gak apa-apa ya sedih dulu. Resiko istri batalyon.

1
Ryan Dynaz
👍💜
Lina Zascia Amandia: Mksh Kak... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Amang Awang
nahkan kejadian! siap-siap dech itu orok ogah sama bapaknya🤭
Amang Awang
maka dari itu saya tidak mau jadi istri seorang abdi negara, serem soalnya, waktu itu saya masih SMP kakak saya suaminya seorang abdi negara, dan abang ipar saya harus satgas di Timika selama 1½ tahun waktu itu kakak saya hamil kalau gk salam 6bulan, waktu abang ipar saya pulang satgas yang tergolong luar dari waktu yang ditentukan jadi 2tahun gitu penugasannya, ponakan saya malah gk mau sama bapaknya karena gk kenal, lebih mau sama saya dan sampai sekarang anak udah SD kelas 1 masih ogah dekat sama bapaknya, malah lebih dekat sama pacar saya
Lina Zascia Amandia: Sudah tuntutan negara Kak. Dan memang seorang istri tentara harus siap mental jika ditinggal jauh2 sama suaminya. Kalo yg gak siap, bisa2 tidak bisa menahan rindu. Hhehehe....
total 3 replies
Yanti Gunawan
Terimakasih banyak" othor sayang😍 tetap semangattt membuat karya baru 😍
Lina Zascia Amandia: Mksh Kak... 🥰🥰🥰🥰
total 3 replies
Ariany Sudjana
selalu suka dengan cerita kehidupan tentara, karena saya juga anak tentara, jadi ingat masa kecil dulu. ditunggu karya selanjutnya yah kak 😄
Lina Zascia Amandia: Wahhh... makasih banyak ya Kak udah suka karya2 saya khususnya genre aparat. Senang sekali karya saya dibaca Reader yg ternyata anak seorang Tentara. Sukses sllu buat Kaka...
total 1 replies
eny agustina
dari semua cerita sang abdi negara yang yang gak.sampai punya anak cerita kapten yoga.namun semua berakhir bahagia makasih ceritanya sangat bagus ku baca dari anak tersembunyi sang kapten 😍😍😍😍
eny agustina: 😍😍😍😍😍😍
total 2 replies
Marya Dina
kak gk spill
gmana kabar dista ma keponakan itu.udh berubah belum
Marya Dina: ok d tunggu kak
total 4 replies
Marya Dina
d tunggu karya apik mu thor.ttp semangatt
semoga sukses,,dan trimaksih udh menghadirkan karya apik
Esther
Bahagia selalu Erlaga sekeluarga😍
Terima kasih thor
Lina Zascia Amandia: Sama2 Kak.. 🥰🥰🥰
total 1 replies
Nar Sih
yah...kok udah habis kak pdhl msih blm puas bca nya ,semagat kak ending yg bagus banget 👍pelabuhan terahir nya erlga cuma fina dan syaga 🥰🥰
Lina Zascia Amandia: Iya Kak.... sudah bahagia.... nantikan kisah terbarunya ya... masih mencari idenya tapi. 🤦‍♀️
total 1 replies
darsih
d tunggu kelanjutan nya ya ka kosah selanjut nya
Lina Zascia Amandia: Makasih.... nantikan ya Kak...
total 1 replies
Ebhot Dinni
ceritanya bagus
Lina Zascia Amandia: Makasih byk Kak... nantikan kisah selanjutnya ya... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Nar Sih
semakin di bikin baper nih sama laga dan fina yg tmbh romantis☺️🥰
Lina Zascia Amandia: Iya Kak... smg terhibur....
total 1 replies
Ayudya
makasi kak atas semua karya mu.tak tunggu karya baru mu dengan komplik yg ringan dan kocak🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Lina Zascia Amandia: Sama2 Kak. Nantikan kisah terbaru ya.
total 1 replies
Supryatin 123
akhir yg bahagia ❤️❤️❤️d tunggu bonchapnya 🤭🤭🤭n d tunggu juga karya barunya 💪💪❤️❤️j
Supryatin 123: sama2 thor selamat berpuasa
total 2 replies
Arin
/Heart/
Pitria Pipih
selalu settia menunggu karya barunya 😍
Lina Zascia Amandia: Mksh Kak... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Kasandra Kasandra
lanjut karya baru kk
Patrick Khan
aku suka 😍😍😍
Patrick Khan
Yaaaaa udah tamat.. q tunggu karyabr nya kak😍😍😍trimakasih
Patrick Khan: lope lope😍😍😍😍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!