"Duduk di sini." ujarnya sembari menepuk paha kanannya.
Gadis itu tak salah dengar. Pria itu menepuk suatu tempat yakni pahanya sendiri. Dengan ekspresi datar seolah itu tak mengagetkan dan sudah menjadi kebiasaan di sana. Orang-orang di sekelilingnya pun tampak sama. Tak bereaksi, seolah itu hanya salah satu hal biasa dari serangkaian acara. Namun, tidak bagi gadis itu. Bisa-bisanya pria itu bertindak tidak tahu malu seperti ini di hadapan semua orang? Ia benar-benar tak habis pikir!
"Tidak mau."
Reaksi semua orang yang ada di sana sangat terkejut. Semua berbisik, tetapi tidak ada yang berbicara langsung seolah segan dengan sosok yang duduk di kursi paling mewah seperti seorang raja itu.
Pedang mulai mengarah ke leher gadis itu. Bukan dari pria itu, tetapi dari orang-orang yang seperti prajurit ini.
"Beraninya kau." ujar pria itu penuh amarah seolah ini adalah penghinaan terbesar terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kilas Balik: Saudara tiri di balik pintu gudang
Gudang itu selalu gelap.
Bukan karena benar-benar tanpa cahaya, melainkan karena cahaya yang masuk terlalu malas untuk bertahan lama. Jendela kecil di bagian atas hanya membiarkan seberkas sinar jatuh miring ke lantai, memotong debu-debu yang melayang seperti abu.
Bai Ruoxue masuk dengan langkah hati-hati.
Gudang ini jarang dipakai. Rak-raknya tinggi, kayunya tua, dan bau kertas lembap bercampur dengan aroma kayu lapuk. Tempat seperti ini cocok untuk hal-hal yang dilupakan—dan justru karena itulah ia datang ke sini.
Ia mencari buku.
Buku-buku lama yang tidak dianggap penting oleh keluarga ini. Buku yang tidak akan dirindukan siapa pun jika hilang. Ia sudah pernah menemukan satu dua naskah pelajaran di sudut gudang, terselip di balik peti usang. Hari ini, ia berharap bisa menemukan lebih banyak.
Tangannya menyusuri rak terendah. Debu menempel di jari-jarinya. Ia tidak peduli.
Namun sebelum ia sempat menarik satu buku pun, suara langkah terdengar dari arah belakang.
Bukan langkah pengawal.
Terlalu ringan. Terlalu santai.
Jantung Bai Ruoxue berdegup lebih cepat.
Ia menoleh.
Dua sosok berdiri di dekat pintu masuk gudang.
Udara di sekitarnya seolah langsung berubah. Bau lembap kini bercampur sesuatu yang membuat tengkuknya dingin.
“Astaga…” salah satu dari mereka terkekeh pelan.
Bai Ruoxue refleks membalikkan badan.
Langkahnya cepat, terlalu cepat. Ia tahu—ia tidak boleh terlihat panik. Tapi tubuhnya mengkhianatinya. Nafasnya mulai tidak teratur.
“Ternyata kau sangat cantik,” suara itu terdengar lagi, lebih dekat. Bukan nada memuji dari seorang kakak, tetapi nada aneh lelaki liar.
Ada nada puas di sana. Nada orang yang merasa sedang menemukan sesuatu yang menyenangkan.
“Iya, kan?” sahut yang lain. “Aku sudah pernah bilang waktu itu.”
Mereka tidak bergerak tergesa-gesa. Tidak perlu. Gudang ini terpencil. Sunyi. Tidak ada siapa pun yang akan masuk tanpa alasan. Ini adalah gudang lama. Tak banyak pelayan maupun pengawal datang ke sini.
Dua pasang mata itu menyusurinya perlahan.
Bukan menatap wajah. Bukan menilai siapa dia. Melainkan menilai sesuatu. Seperti orang menaksir barang.
Bai Ruoxue mundur selangkah.
Lalu dua langkah.
Rak kayu di belakangnya menghentikan geraknya. Ia merasakan punggungnya menyentuh permukaan kasar itu.
“Apa yang kalian lakukan di sini?” suaranya terdengar lebih tenang dari yang ia rasakan. Tapi sebenarnya, ketakutan menyebar dari seluruh tubuhnya. Tangannya yang memegang rak belakang itu gemetar melihat kedua saudara tirinya itu ada di gudang ini. Merasa tak aman dengan kehadiran mereka yang jelas tidak untuk tujuan baik.
Salah satu dari mereka memiringkan kepala. “Hm?”
“Ngapain ya kita ke sini?” yang lain pura-pura berpikir. Seolah tengah memikirkan pertanyaan yang sulit dan belum menemukan jawabannya.
Mereka saling berpandangan, lalu tersenyum kecil.
“Mungkin…”
“Karena dirimu?”
Kata itu jatuh ringan, seolah tidak berbahaya. Tetapi bagi Bai Ruoxue, itu adalah kalimat paling berbahaya yang pernah ia dengar. Jantungnya berdegup semakin kencang dan tubuhnya merinding seketika.
Namun tangan itu—bergerak.
Jari-jari kasar menyentuh pipinya, mengangkat dagunya sedikit, terlalu berani, terlalu dekat. Membiarkan jemarinya menari-nari di permukaan kulit gadis itu.
“Lepas!” sentak Bai Ruoxue.
Ia menepis tangan itu dengan sekuat tenaga.
“Oh?” pria itu tampak terkejut, lalu tertawa pelan. “Kau jual mahal juga, ya?”
“Kau pikir kau siapa?” yang lain menyeringai. “Tidak apa-apa. Kakak akan dengan senang hati meladenimu.”
Perut Bai Ruoxue mual.
Bukan karena kata-kata itu saja, melainkan karena cara mereka mengatakannya. Seolah apa yang terjadi di sini bukan kejahatan. Seolah ini hanya permainan kecil yang bisa ditutup dengan tawa. Seolah Bai Ruoxue hanyalah mainan mereka.
Ia mencoba bergerak ke samping.
Namun satu langkah saja sudah cukup untuk membuat mereka menghalanginya.
Dua tubuh.
Dua bayangan.
Menutup jalan keluar.
Tangan lain menyentuh lengannya. Menarik kainnya tanpa izin. Terlalu dekat. Terlalu nyata.
“Jangan sentuh aku!” suaranya bergetar kini. Ia mendorong. Menampar. Menepis.
Namun tenaga mereka tidak sebanding.
Ia lebih kecil. Lebih ringan. Dan mereka tahu itu.
Tubuhnya terdorong kembali ke rak. Bahunya terbentur kayu keras. Rasa sakit menjalar cepat, tapi tidak cukup untuk mengalahkan ketakutan yang membanjiri dadanya.
Kain pakaiannya bergeser, lengannya terbuka. Udara dingin menyentuh kulitnya.
Air mata mengalir tanpa bisa ia tahan.
Ia melawan. Dengan tangan. Dengan kaki. Dengan segala sisa keberanian yang ia punya.
Namun yang paling menyakitkan bukan sentuhan itu. Melainkan kesadaran yang datang perlahan dan kejam.
Ia tidak bisa berteriak.
Jika ia berteriak, orang-orang akan datang. Dan jika orang-orang datang—dua laki-laki ini akan tetap baik-baik saja.
Mereka akan tertawa. Mereka akan menyangkal. Mereka punya nama. Punya perlindungan.
Dan ia?
Ia akan jadi masalah. Ia akan jadi noda. Ia akan jadi aib.
Reputasi.
Kata itu kembali menghantam pikirannya seperti palu.
Tangisnya semakin keras, namun suaranya tetap terkurung di tenggorokan. Ia menggigit bibirnya sampai terasa asin. Tubuhnya gemetar, bukan karena dingin—melainkan karena takut.
Kalau tidak ada yang datang…
Kalau tidak ada yang mendengar…
Ia menutup mata.
Berharap.
Bukan pada keadilan.
Bukan pada manusia.
Melainkan pada keajaiban.
Dan entah doa macam apa yang terkabul—suara langkah terdengar dari kejauhan.
Berat dan teratur.
Pengawal.
Dua tubuh di depannya langsung menegang.
“Cepat,” desis salah satu dari mereka.
Mereka menjauh seketika. Mundur cepat, menyelinap di antara rak, lalu keluar melalui pintu samping gudang tanpa menoleh lagi.
Keheningan jatuh begitu saja.
Bai Ruoxue terjatuh ke lantai. Lututnya membentur keras. Tapi ia tidak peduli.
Tangannya gemetar saat menarik kembali kain pakaiannya yang bergeser. Ia menutupi lengannya. Merapikan rambutnya yang kusut dengan gerakan terburu-buru, seolah takut ada yang melihat sisa-sisa kejadian barusan.
Air matanya terus jatuh.
Napasnya tersengal.
Ia duduk di sana beberapa saat, memeluk dirinya sendiri, hingga suara langkah pengawal semakin dekat lalu menjauh lagi—tanpa pernah masuk ke gudang.
Ia sendirian.
Pelan-pelan, ia berdiri. Masih gemetar. Masih basah oleh air mata.
Namun saat ia mengangkat wajahnya—matanya berubah.
Tidak lagi penuh ketakutan.
Melainkan tajam.
Ada sesuatu yang lahir di sana. Sesuatu yang dingin, gelap, dan tidak akan mudah padam.
Ia mengepalkan tangan. Ia mengerti sekarang.
Dunia ini tidak akan melindunginya. Air mata tidak akan menyelamatkannya.
Diam hanya akan mengundang luka berikutnya.
Ia membenci mereka.
Namun lebih dari itu—ia membenci sistem yang membuat mereka yakin bisa melakukan semua itu tanpa konsekuensi.
Dan sejak hari itu, satu hal terkunci rapat di dalam hatinya:
Bai Ruoxue tidak akan pernah lagi menjadi mangsa.
sedangkan sang raja menaruh hati,yg tak bisa dia ungkapkan karna rasa gengsi