Bagi Arkanza Malik, sentuhan wanita adalah racun yang mematikan. CEO dingin ini mengidap penyakit aneh yang membuatnya sesak napas dan kulitnya terbakar setiap kali kulitnya bersentuhan dengan lawan jenis. Namun, sebuah insiden di lorong hotel mengubah segalanya.
Aira, gadis miskin yang kabur dari kejaran rentenir setelah menghantam kepala pria yang ingin melecehkannya, tanpa sengaja jatuh ke pelukan Arkanza. Bibir mereka bertemu dalam kegelapan. Arkanza yang seharusnya mati karena alergi, justru merasakan napasnya kembali. Gadis kumal ini adalah satu-satunya penawar racunnya!
"Aku sudah melunasi hutang ayahmu. Sebagai gantinya, kau harus menjadi istriku dan biarkan aku menyentuhmu kapan pun aku membutuhkannya."
Aira terjebak. Menjadi "obat hidup" bagi CEO kejam yang tidak punya hati. Di antara kontrak miliaran rupiah dan intrik perebutan harta, mampukah Aira bertahan tanpa harus menyerahkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Sisa Trauma di Balik Awan
Di dalam kabin jet pribadi yang mewah dan sunyi, Arkanza bersandar di bahu Aira. Meskipun ada masker oksigen di sampingnya, ia lebih memilih untuk membenamkan wajahnya di ceruk leher Aira, menghirup aroma gadis itu yang baginya jauh lebih murni dari oksigen manapun.
"Arkan... berhentilah. Reno dan pramugari bisa melihat kita," bisik Aira sambil mencoba menggeser duduknya yang terasa terlalu sesak karena Arkanza terus menempel.
"Biarkan saja. Aku sedang sakit, ingat?" gumam Arkanza, suaranya parau. Ia menarik tangan Aira dan menciumi jemarinya satu per satu tanpa henti. "Hanya dengan begini paru-paruku tidak terasa terbakar."
"Anda hanya memanfaatkan keadaan karena sedang lemas," protes Aira pelan, meski ia tidak benar-benar menolak.
Arkanza mendongak, menatap Aira dengan mata yang sayu namun penuh obsesi. "Memang. Aku akan memanfaatkan setiap detik untuk memilikimu. Kau tidak tahu betapa gelapnya duniaku saat api itu memisahkan kita tadi."
"Arkan, sekarang fokuslah pada Ibu Anda. Anda akan menemuinya setelah lima belas tahun," ucap Aira mencoba mengalihkan pembicaraan.
Wajah Arkanza mendadak berubah mendung. Genggamannya pada tangan Aira mengeras. "Aira... kau tahu kenapa aku sangat membenci diriku sendiri?"
Aira terdiam, menatap mata Arkanza yang mulai berkaca-kaca.
"Hari itu... Ibu sedang berada di sebuah kafe. Dia mengirimiku pesan bahwa dia melihat Ayah bersama wanita lain dan seorang anak laki-laki—Dion. Ibu hancur. Tapi aku... aku yang masih kecil justru merengek di telepon," Arkanza menarik napas panjang yang terasa berat. "Aku menangis, memintanya cepat pulang karena aku takut sendirian. Aku berteriak padanya agar mengebut... dan beberapa menit kemudian, teleponnya mati."
"Arkan, itu bukan salahmu. Kau masih kecil..."
"Tidak! Jika aku tidak egois, jika aku tidak memintanya buru-buru, mungkin dia akan lebih tenang saat menyetir. Aku merasa... akulah yang membunuhnya dengan kemanjaanku." Arkanza menyembunyikan wajahnya di telapak tangan Aira, bahunya bergetar hebat. "Lima belas tahun aku hidup dengan pikiran bahwa suaraku adalah hal terakhir yang membuatnya celaka."
Aira memeluk kepala Arkanza, mengusap rambutnya dengan lembut. "Sekarang Tuhan memberimu kesempatan kedua. Dia masih hidup, Arkan. Kau bisa meminta maaf padanya."
Rumah Sakit Mount Elizabeth – Singapore
Langkah kaki Arkanza gemetar saat menyusuri lorong ICU yang steril dan sunyi. Begitu sampai di depan pintu kaca kamar nomor 001, ia berhenti. Tubuhnya mematung.
"Tuan, Anda baik-baik saja?" tanya Reno cemas melihat wajah tuannya yang sangat pucat.
"Aku... aku tidak sanggup melihatnya," bisik Arkanza. Tangannya yang memegang gagang pintu berkeringat dingin.
Aira menggenggam tangan Arkanza, memberikan kekuatan. "Aku di sini. Kita masuk bersama."
Saat pintu terbuka, bau antiseptik yang tajam menyambut mereka. Di atas ranjang, seorang wanita cantik dengan rambut yang memutih di beberapa bagian terbaring kaku. Berbagai mesin penunjang hidup berbunyi tit... tit... tit... dengan irama yang statis.
Arkanza melangkah mendekat, lututnya lemas hingga ia jatuh berlutut di samping ranjang. "Ibu..."
Suaranya pecah. Tangis yang ia tahan selama belasan tahun akhirnya tumpah. Ia mencium tangan ibunya yang dingin dan kurus. "Maafkan Arkan, Bu... Maafkan Arkan yang sudah egois hari itu... Bangunlah, Arkan mohon..."
Aira berdiri di sisi lain ranjang. Ia merasa ada dorongan aneh untuk menyentuh tangan wanita itu. Begitu jemari Aira bersentuhan dengan kulit Ibu Arkanza, sebuah keajaiban terjadi.
Monitor jantung yang tadinya berdetak lambat, tiba-tiba melonjak cepat. Kelopak mata wanita itu bergerak-gerak liar.
"Arkan, lihat!" seru Aira.
Arkanza mendongak dengan air mata yang masih mengalir. Perlahan, mata wanita itu terbuka. Ia tampak bingung, menatap langit-langit putih, lalu matanya beralih ke arah Aira yang berdiri tepat di hadapannya.
"R-Riana...?" bisik wanita itu dengan suara yang sangat tipis, hampir tak terdengar.
Aira tertegun. "Riana? Itu... itu nama mendiang ibu saya, Nyonya."
Mata wanita itu berkaca-kaca, ia menatap wajah Aira dengan saksama seolah sedang melihat hantu dari masa lalu. "Kau... sangat mirip dengan ibumu... Riana sahabatku..."
Arkanza terpaku. "Ibu? Kau mengenal ibu Aira?"
Wanita itu perlahan mengalihkan pandangannya pada Arkanza. Sebuah senyum lemah muncul di bibirnya yang pucat. "Arkan... putraku... kau sudah besar."
Wanita itu kembali menatap Aira, lalu meraih tangan Aira dan menempelkannya ke dadanya sendiri. "Riana... kau benar... anakmu yang akan... menyelamatkan anakku..."
...****************...
Ternyata, Aira memiliki kemiripan wajah yang luar biasa dengan ibunya, Riana, yang dulu adalah sahabat sekaligus asisten pribadi Ibu Arkanza. Ibu Arkanza seolah sudah meramalkan sesuatu di masa lalu sebelum kecelakaan itu terjadi.