"Benarkah keberuntungan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan? Dan apakah nasib buruk adalah sinonim mutlak bagi kesengsaraan?
Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki daya hancur yang cukup untuk membuat manusia memalingkan wajah dalam penyangkalan. Secara insting, kita telah terprogram untuk memuja hal-hal baik sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Sebaliknya, saat nasib buruk mengetuk pintu, manusia cenderung mendustakannya—bahkan dengan keras mendoktrin diri bahwa itu adalah 'kesialan' yang tidak seharusnya ada.
Namun, apakah persepsi umum tersebut adalah sebuah kebenaran universal?
Mungkin bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah iya. Namun bagi mereka yang memahami cara kerja semesta, pandangan itu sungguh disayangkan.
Sebab di balik setiap keberuntungan yang kita rayakan, selalu ada harga yang tersembunyi. Dan di balik setiap kesialan yang kita benci, mungkin tersimpan satu-satunya jalan menuju sesuatu yang tidak kita bayangkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Neraka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waktu yang berubah
Namun, semesta tidak suka dicurangi.
Tepat saat moncong mobilnya nyaris menyentuh tanjakan pintu keluar menuju udara bebas, sebuah kilatan cahaya oranye membelah kegelapan basement. Sebuah proyektil rudal dipanggul, RPG dengan hulu ledak meluncur dengan kecepatan yang sangat cepat, mengunci siluet mobilnya sebagai target.
DHARRR!
Dunia Andersen seketika berubah menjadi putih pudar. Ledakan itu menghantam bagian belakang mobil, merobek baja dan kaca seolah-olah itu hanya kertas tipis. Di dalam kabin, suhu melonjak ribuan derajat dalam sekejap mata.
Andersen tidak sempat berteriak. Ia merasakan gelombang panas yang membara menghanguskan setiap inci kulitnya, menguapkan oksigen di paru-parunya, dan menghancurkan setiap sel di tubuhnya sebelum saraf rasa sakitnya sempat mengirimkan sinyal ke otak.
Logam mobil yang membara menjadi peti mati instan bagi mereka bertiga. Itu adalah kematian yang sangat cepat.
Kesialan.
Setiap kali ia mendapatkan 'Keberuntungan' untuk menipu maut, 'Kesialan' terkadang datang kembali dengan skala yang lebih besar dan lebih tak terelakkan. Neraka takdir baru saja menagih hutangnya dengan bunga yang sangat mahal.
Andersen tersentak, paru-parunya meraup oksigen seolah ia baru saja muncul dari permukaan air setelah tenggelam. Ia kembali berdiri di samping mobilnya, jemarinya mencengkeram kain kasar jaket varsity pemberian Nadia.
Detik itu juga, rasa sakit hantu menyerangnya. Betis kanannya berdenyut hebat seolah peluru panas masih bersarang di sana, dan kulitnya terasa perih, dipenuhi sensasi terbakar yang menjalar akibat ledakan rudal yang baru saja menguapkan tubuhnya. Ia terjatuh bertumpu pada lutut, napasnya tersengal di atas lantai semen basement yang dingin.
"Sial... rasa ini benar-benar nyata," bisiknya dengan suara parau.
Dua kali ia mencoba, dan dua kali pula takdir memotong hidupnya dengan cara yang brutal. Andersen menyadari satu hal... Jika ia tetap di sini, variabel "kematian" akan selalu menjadi jalan keluar untuknya saat ini.
Ia merogoh saku dan menarik ponselnya dengan tangan yang masih gemetar. Nada sambung berbunyi.
"Halo? Hmm... siapa ya?" Suara Seila terdengar di seberang telepon, ringan dan sedikit bingung. "Ini Andersen, Aku ingin bertanya kepadamu, Seila... apakah jika ingin memasuki tempat yang kamu maksud, membutuhkan kartu undangan ya?.."
Apa kamu tidak mendapatkannya? Aneh sekali... seharusnya kamu masuk daftar."
Seila terdiam sejenak, lalu terdengar bunyi gemerisik kertas. "Dengar, aku bisa memberikan jaminan untuk membawamu masuk sebagai tamu pribadiku.
Mungkin akan ada sedikit pemeriksaan latar belakang yang menyebalkan, tapi dengan namamu yang ada di dalam jajaran salah satu peringkat masuk ujian sekolah tertinggi, pihak keamanan tidak akan punya alasan untuk menolakmu.
Andersen memejamkan mata sejenak, sambil menghela nafasnya...
"Terima kasih, Seila. "Oh ya, kamu sekarang di mana? Aku baru saja melewati pintu akses dari parkiran basement," tanya Seila memotong suara Andersen melalui telepon, suaranya terdengar lebih dekat dari sebelumnya.
"Kebetulan, aku juga sedang di sana," jawab Andersen singkat. Ia mematikan ponselnya dan berjalan menuju pintu masuk mal yang terhubung dengan area parkir.
Tak lama, Seila muncul dari balik pintu kaca otomatis. Ia melambaikan tangan dengan riang, kontras sekali dengan suasana parkiran yang remang-remang. Di kedua tangannya, ia membawa dua gelas minuman dingin. Seila berjalan mendekat dan menyodorkan salah satunya ke arah Andersen.
"Mau?" tanya Seila dengan senyum manis.
"Terima kasih," jawab Andersen dingin. Ia menerima minuman itu, namun pikirannya masih terbagi—matanya terus mengawasi sudut-sudut parkiran, mencari tanda-tanda kehadiran pasukan yang menghancurkannya di garis waktu sebelumnya.
"Oh ya, kamu ke sini naik apa?" tanya Seila pelan. Matanya melirik ke deretan mobil, berharap Andersen tidak datang dengan kendaraan umum.
"Mobil ayah. Kebetulan beliau sedang tidak di rumah," jawab Andersen, tetap dengan nada datar.
Mendengar itu, wajah Seila sedikit merona. Ia memainkan sedotan di minumannya sebelum memberanikan diri bertanya, "Oh, begitu ya? Kalau... kalau aku boleh menumpang pulang nanti bagaimana?"
Seila berdehem kecil, mencoba mencari alasan agar tidak terlihat terlalu berani. "Soalnya mobil ayahku sedang di bengkel pekan ini. Jadi aku harus pesan taksi daring kalau tidak ada tumpangan. Jika memungkinkan, Andersen..."
Proses masuk ternyata jauh lebih mulus dari yang Andersen bayangkan. Seila hanya perlu menunjukkan kartu undangan eksklusifnya dan memberikan sedikit penjelasan kepada petugas keamanan tentang identitas Andersen sebagai pendampingnya. Tanpa banyak tanya, para penjaga yang diwaktu sebelumnya menghina kini membungkuk hormat dan mempersilakan mereka lewat.
Sangat mudah ternyata. Mengapa aku tidak terpikirkan hal ini sejak awal? batin Andersen.
Namun, begitu berada di dalam, kemegahan itu tidak lantas membuat mereka nyaman. Baik Andersen maupun Seila memilih untuk memisahkan diri dari kerumunan para elit yang sedang tertawa sambil memegang gelas sampanye.
Mereka berdua duduk di sebuah sudut yang agak terpencil, hanya menatap keramaian dari kejauhan tanpa menyapa satu orang pun.
"Seperti yang kuduga..." gumam Andersen nyaris tak terdengar. Matanya yang tajam menangkap pergerakan aneh yang terlihat di penjuru ruangan. Para penjaga berpakaian jas hitam secara serentak bergerak menuju pintu keluar.
Di tengah keadaan yang seperti ini, dua sosok wanita mendekat ke arah meja mereka. Fina dan Sang Bangsawan Inggris mengambil tempat duduk tepat di sebelah Andersen dan Seila. Suasana di meja itu mendadak menjadi berat. Seila dan gadis bangsawan sempat melakukan kontak mata beberapa kali. Sebuah adu pandang antara rasa penasaran yang tercipta di kedua gadis ini.
"Maaf, apakah aku boleh berbicara sebentar dengan pria di sebelahmu ini, Nona?" tanya gadis Bangsawan kepada Seila.
Seila tersentak, sedikit tidak rela waktu pribadinya dengan Andersen terganggu. "Oh, maaf... ada urusan apa ya?" tanya Seila berusaha mempertahankan posisinya di samping Andersen.
Fina segera mencondongkan tubuh, berbisik dengan nada tegas namun rendah ke arah Seila. "Nona, harap jaga sikap Anda. Anda sedang berhadapan dengan salah satu anggota keluarga bangsawan Inggris."
Mendengar identitas asli gadis di hadapannya, wajah Seila seketika memerah padam. Rasa malu dan terkejut menghantamnya secara bersamaan. Ia segera berdiri, membungkuk berkali-kali untuk meminta maaf atas ketidaktahuannya, lalu bergegas pergi meninggalkan meja itu dengan langkah kikuk.
Sang Putri kemudian memberikan isyarat kecil kepada Fina. Tanpa suara, Fina pun mundur dan menjauh, menyisakan ruang privat bagi Sang Putri dan Andersen.
"Seperti yang baru saja temanku bilang, aku adalah salah satu bangsawan Inggris. Namaku Margarette," ucap sang Putri dengan nada yang tenang. Ia menatap lekat mata Andersen, seolah sedang membaca sesuatu yang tertulis di sana.
"Maaf, aku belum sempat memberi tahukan namaku saat kita bertemu di parkiran tadi..."
Andersen mengerutkan kening. "Apa maksudmu? Aku tidak memahaminya," sahut pria itu dengan nada kebingungan. "Kita tidak pernah bertemu di parkiran. Aku baru saja sampai di aula ini bersama gadis yang sedang duduk disebelahku tadi."
Margarette tersenyum tipis, sebuah senyum yang menyimpan rahasia. "Aku memiliki kemampuan untuk melihat masa depan, Andersen.
Ia memajukan tubuhnya, merendahkan suara agar tidak terdengar oleh tamu lain. "Sebelum aku menginjakkan kaki di sini, aku melihat sebuah Adegan:
kita bertemu di parkiran basement. Di sana, aku menunjukmu sebagai kesatriaku untuk melindungiku dari serangan. Namun, penglihatan itu tiba-tiba terputus, seolah-olah masa depan itu... dihapus."
Margarette menjeda sejenak, membuat napas Andersen tertahan.
"Yang menarik adalah, setelah masa depan di parkiran itu lenyap, aku langsung mendapatkan benang takdir yang baru. Di mana kita bertemu di sini, di meja ini juga. Artinya...
" Margarette menatap Andersen dengan tatapan tajam yang menembus jiwa. "...kamu melakukan sesuatu yang mengubah takdir kita berdua, bukan?"