Tanda tangani ini, dan semua hutangmu dianggap lunas," ucap Minghua Zhang sambil melemparkan kontrak pernikahan ke atas meja yang penuh puntung rokok. Chen Song menatap angka di kertas itu, lalu menatap wajah dingin Luna di pojok ruangan. Baginya, ini bukan pernikahan, ini adalah tiket keluar dari neraka—yang tanpa ia sadari, justru akan membawanya ke neraka jenis baru.
Chen Song adalah seorang pria dari kelas menengah ke bawah yang memiliki kecanduan judi yang parah. Dalam sebuah permainan berisiko tinggi di kasino bawah tanah, ia kehilangan segalanya. Ternyata, lawan mainnya adalah seorang kolektor hutang kejam yang bekerja untuk relasi bisnis keluarga Zhang. Chen Song berhutang dalam jumlah yang mustahil ia bayar miliaran yuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon richard ariadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keluar dari makam
Setelah penyatuan energi yang mengguncang dimensi tersebut, Chen Song melangkah keluar dari kawah lava dengan wibawa yang jauh berbeda. Jubahnya yang semula hancur kini berganti menjadi jubah energi semi-transparan; sisi kanannya membara dengan api hitam yang tenang, sementara sisi kirinya mengeluarkan uap es ungu yang dingin.
Luna Zhang berjalan di belakangnya, wajahnya tampak lelah namun matanya memancarkan kebanggaan. Ia telah berhasil menjadi jangkar bagi suaminya dalam melewati maut.
Di depan gerbang, Trio Oe masih sibuk menahan pasukan Garda Api dengan taktik mereka yang makin ngawur. Oe Shan Tung sedang mencoba menggunakan jurus "Gajah Duduk" untuk menyumbat lorong, sementara Oe Asu sibuk menyiramkan air sabun agar pasukan musuh tidak bisa berdiri tegak.
Oe Lu Tung (Berteriak sambil mengayunkan kapak) "Woi! Cepat keluar! Sabun si Asu sudah habis! Kalau mereka sampai masuk, kita bakal digoreng hidup-hidup!"
Tiba-tiba, suhu di lorong itu berubah drastis. Setengah dinding lorong membeku, dan setengahnya lagi meleleh menjadi cairan logam. Hakim Zhor dan pasukannya yang sedang merangkak maju langsung terhenti karena ngeri melihat sosok Chen Song yang keluar dari kabut uap.
Chen Song (Suaranya kini memiliki gema ganda: dingin dan membara) "Klan Oe, mundur. Biarkan aku yang menutup pintu ini selamanya."
Dengan satu lambaian tangan, Chen Song melepaskan gelombang Api Es. Pasukan Garda Api terlempar mundur sejauh ratusan meter, bukan karena ledakan, tapi karena tekanan energi yang tak tertahankan.
Melihat kekuatan gila Chen Song, Trio Oe langsung mengambil langkah seribu bersama Chen Song dan Luna, menyelinap melalui jalan pintas rahasia hingga akhirnya sampai di markas mereka, kedai Lubang Tikus.
Sesampainya di sana, mereka langsung mengunci pintu dan turun ke ruang bawah tanah yang dipenuhi dengan peta dan botol tuak.
Oe Lu Tung: (Menuangkan tuak dengan tangan gemetar karena semangat) "Gila! Benar-benar gila! Nak Song, kau tadi terlihat seperti monster setengah matang! Setengah beku, setengah terbakar. Aku hampir saja mengira kau itu es krim goreng!"
Oe Asu (Sambil membersihkan sisa saus tiram di belatinya) "Bos, jangan bicara soal makanan. Lihat matanya! Satu merah, satu biru. Kalau dia kedip, aku takut satu kota ini bakal kena musim salju dan kemarau sekaligus!"
Oe Shan Tung (Sambil mengurut perutnya yang memar) "Tuan Chen, terima kasih. Pasokan energi pemerintah Ghudik di area Kawah Abadi sudah mati total. Kota ini sedang gempar. Mereka pikir ada sabotase nuklir."
Chen Song (Duduk di kursi kayu, perlahan menstabilkan auranya) "Itu hanya peringatan kecil. Terima kasih atas bantuan kalian. Tanpa pengalihan isu 'konyol' kalian di depan gerbang, aku mungkin tidak akan punya cukup waktu untuk menjinakkan Bara Song."
Luna Zhang (Tersenyum tipis sambil memijat bahu Chen Song) "Tuan Oe, kami butuh peta itu sekarang. Kami tidak bisa lama-lama di Ghudik. Song Yan pasti sudah mengirimkan armada bayangan setelah merasakan hilangnya koneksi energi Bara Song."
Oe Lu Tung mengeluarkan sebuah gulungan kulit tua yang berbau apek namun memancarkan cahaya kuning keemasan.
Oe Lu Tung"Ini dia. Peta Transit 10 Negara Rahasia. Tujuan kalian berikutnya adalah Negara chika sarenteng atau lebih populer negara angin Melayang, tempat Leluhur Angin Song bersemayam. Tapi hati-hati, di sana kau tidak akan bisa mengandalkan kekuatan fisik. Kau harus bisa 'terbang' tanpa sayap."
Oe Asu "Dan satu saran dariku, Tuan Chen... Kalau bertemu leluhur berikutnya, coba pakai jurus kentut kami. Siapa tahu mereka langsung menyerah tanpa perlu bertarung tarik-menarik energi!"
Chen Song (Terkekeh pelan) "Akan kupikirkan, Asu. Tapi untuk sekarang, biarkan kami beristirahat satu jam sebelum berangkat."
Di luar markas, lampu-lampu kota Ghudik mulai berkedip dan mati secara bergantian. Kota yang biasanya hiruk-pikuk kini sunyi dan mencekam. Di tengah kegelapan itu, Chen Song menatap telapak tangannya. Tato api hitam dan es biru mulai menyatu, membentuk lambang klan Song yang baru.
Keputusan Chen Song untuk membawa Trio Oe bukan tanpa alasan. Kehadiran mereka memberikan keseimbangan yang unik Chen Song sebagai kekuatan penghancur, Luna sebagai penyeimbang spiritual, dan Trio Oe sebagai kekacauan tak terduga yang bisa mengelabui logika musuh manapun.
Sebelum meninggalkan markas "Lubang Tikus", roh Bara Song yang kini bersemayam di dalam jiwa Chen Song memberikan "hadiah" sebagai bentuk apresiasi atas hiburan konyol yang mereka berikan di depan gerbang makam.
Chen Song memanggil Trio Oe untuk berdiri di depannya. Ia menyentuh senjata mereka dengan tangan kanannya yang masih membara.
Untuk Oe Lu Tung Kapak raksasanya kini memiliki ukiran Api Hitam Abadi. "Kapak ini tidak akan pernah tumpul, dan setiap tebasannya akan meninggalkan luka bakar yang tak bisa disembuhkan medis biasa," ucap Chen Song.
Untuk Oe Asu Belati kembarnya kini bisa memancarkan Asap Fatamorgana. Asu bisa menghilang dalam kabut panas yang menyesakkan indra penciuman musuh.
Untuk Oe Shan Tung Tubuhnya mendapatkan Kulit Obsidian. Fisiknya kini sekeras batu kawah, hampir mustahil untuk ditembus peluru laser sekalipun.
Oe Lu Tung (Mengayunkan kapaknya yang sekarang berasap hitam) "Waduh! Kapakku sekarang bisa buat manggang sate sambil bertarung! Terima kasih, Mbah Bara!"
Oe Asu (Menghilang dan muncul di balik punggung Shan Tung) "Hehe, sekarang aku bisa kentut tanpa terlihat pelakunya! Ini benar-benar hadiah dewa!"
Mereka berlima berjalan menuju pelabuhan udara rahasia Ghudik Sarenteng. Pemandangan mereka sangat unik dua bangsawan sakti diikuti oleh tiga preman konyol yang membawa karung perbekalan (yang isinya lebih banyak tuak dan camilan daripada senjata).
Luna Zhang
"Song, apakah kau yakin membawa mereka? Aku takut mereka akan membuat kita gila sebelum kita sampai ke makam berikutnya."
Chen Song
(Tersenyum tipis)
"Justru itu tujuannya, Luna. Musuh kita di Dunia Rahasia terlalu kaku. Mereka terbiasa dengan strategi perang yang elegan. Mereka tidak akan siap menghadapi kegilaan klan Oe."
Oe Shan Tung
(Sambil menggendong tas besar berisi panci dan penggorengan)
"Nyonya Luna jangan khawatir! Kami ini serba guna. Butuh benteng? Pakai perutku. Butuh mata-mata? Pakai si Asu. Butuh koki yang bisa membelah gunung? Itu Bos Lu Tung!"
Oe Lu Tung
"Betul! Lagipula, di Ghudik kami sudah jadi buronan nomor satu. Kalau tetap di sini, kami cuma jadi pajangan di tiang gantungan. Mending ikut kalian, siapa tahu di Negara angin Melayang nanti ada bidadari yang suka pria berkapak!"
Mereka tiba di sebuah tebing tinggi di pinggiran Ghudik. Untuk menuju Negara angin Melayang, mereka harus menaiki Paus Angkasa—makhluk raksasa yang berenang di lautan awan yang hanya muncul setiap gerhana kecil.
Oe Asu
(Melihat ke bawah jurang)
"Eh, Bos... kita beneran mau naik ikan terbang raksasa itu? Aku punya mabuk laut, tapi kalau mabuk awan gimana?"
Chen Song
"Diamlah, Asu. Tahan napasmu. Saat kita naik, tekanan udaranya akan menghancurkan paru-paru manusia biasa. Luna, aktifkan Kubah Es Transparan."
Saat mereka mulai melompat ke punggung Paus Angkasa yang melintas, tiba-tiba langit di atas mereka terbelah. Tiga kapal perang milik Song Yan dari Pulau Rahasia muncul dari balik awan. Rupanya, Song Yan tidak hanya mengandalkan pemerintah Ghudik; dia mengirimkan armada pribadinya.
Oe Lu Tung
(Menyingsingkan lengan baju)
"Baru juga mau berangkat sudah ada yang mau minta tiket. Asu! Siapkan saus tirammu! Shan Tung, pasang posisi 'Kura-kura Melayang'!"
Chen Song
(Matanya berkilat merah dan biru)
"Luna, jaga Paus ini agar tetap stabil. Biar aku dan Trio Oe yang mengurus serangga-serangga ini."
Pertempuran di atas punggung Paus Angkasa berubah menjadi kiamat kecil di langit. Kapal induk milik Song Yan mendekat, dan untuk pertama kalinya, sang penguasa Pulau Rahasia itu turun langsung ke medan laga. lebih tepatnya para cucu lawan cucu eh keponakan lawan keponakan hmm anak lawan anak". gimana sih nulisnya..!?!??.
Song Yan muncul dengan jubah emas yang memancarkan aura Dewa Matahari Palsu. Kekuatannya jauh melampaui Fei Kang dia adalah puncak dari kultivasi klan Song selama ratusan tahun.
Song Yan
"Kau pikir dengan mencuri dua esensi leluhur kau bisa melampauiku, Chen Song? Kau hanyalah anak pungut yang bermain dengan api dan es!"
Song Yan melepaskan teknik "Sembilan Matahari Terik". Sembilan bola api raksasa menekan Chen Song dari segala arah. Meskipun Chen Song menggunakan perpaduan api Bara Song dan es Mei Song, kekuatan Song Yan yang didorong oleh artefak curian dari Pulau Rahasia terlalu masif.
Blar! Chen Song terhempas ke punggung Paus Angkasa. Tubuhnya penuh luka bakar, darah mengucur dari sudut bibirnya, dan mata merah-birunya mulai meredup.
Oe Lu Tung "SONG! Bangun! Jangan mati dulu, cicilan paylater kuvbelum kau bayar!"
Oe Asu (Mencoba menyerang Song Yan dari belakang) "Makan ini, tua bangka—"
Hanya dengan satu kibasan tangan, Trio Oe terpental jauh. Song Yan melangkah mendekat, siap memberikan serangan terakhir ke jantung Chen Song.
Melihat Chen Song hampir tewas, Luna Zhang yang sedari tadi menahan diri, merasakan sesuatu pecah di dalam jiwanya. Kemarahan dan cinta yang murni memicu reaksi berantai pada tanda lahir berbentuk teratai di tengkuknya.
Chen Song (Berbisik dengan sisa tenaga) "Luna... maafkan aku... aku harus melakukannya. PEMBUKA SEGEL PERMAISURI LANGIT ABADI!"
Chen Song mengirimkan sisa energi es-apinya bukan ke arah musuh, melainkan ke pusat energi di jantung Luna. Ternyata, selama ini Luna bukan sekadar kultivator es biasa dia adalah wadah dari Segel Tua yang disembunyikan oleh leluhur pertama klan zhang sebagai "Kartu As" terakhir.
Langit yang tadinya panas mendadak membeku secara absolut. Paus Angkasa berhenti bergerak, waktu seolah berhenti. Rambut Luna yang hitam berubah menjadi perak berkilauan, dan matanya berubah menjadi ungu gelap yang hampa.
Luna Zhang (Suaranya bukan lagi suaranya, melainkan gema dari ribuan tahun lalu)
"Siapa... yang berani menyentuh... belahan jiwaku?"
Song Yan (Gemetar hebat, wajahnya pucat pasi) "K-kekuatan ini... ini bukan dari bumi! Ini adalah Segel Kehampaan! Bagaimana mungkin wanita ini—"
Luna hanya mengangkat satu jari. Sebuah lingkaran sihir kuno muncul di bawah kaki Song Yan.
Luna Zhang "Mati."
Seketika, sembilan matahari milik Song Yan pecah menjadi butiran salju. Lengan kanan Song Yan hancur menjadi debu dalam sekejap tanpa ada darah yang menetes—langsung terhapus dari eksistensi.
Song Yan (Berteriak kesakitan, mencoba lari kembali ke kapalnya) "Ini belum selesai! Kau tidak bisa menahan kekuatan itu lama-lama! Tubuhmu akan hancur, Luna Zhang!"
Dengan satu lambaian tangan lagi, Luna menghancurkan kapal induk Song Yan seolah itu hanya terbuat dari kertas. Song Yan melarikan diri menggunakan jimat teleportasi darurat, menghilang dengan luka jiwa yang tidak akan pernah sembuh.
Setelah Song Yan menghilang, aura dewi Luna memudar. Ia jatuh pingsan ke pelukan Chen Song yang masih babak belur. Suasana yang tadinya mencekam kembali pecah oleh kehadiran Trio Oe.
Oe Asu (Keluar dari bawah sirip Paus sambil gemetar) "Bos... Nyonya Luna tadi... dia barusan menghapus satu armada cuma pakai satu jari? Aku... aku janji tidak akan pernah berani telat masak buat dia lagi."
Oe Shan Tung (Sambil memegangi kepalanya yang pening) "Tuan Chen, istrimu itu sebenarnya manusia atau bencana alam?"
Oe Lu Tung (Mendekat dengan hati-hati) "Nak Song, kau beruntung dia mencintaimu. Kalau dia marah padamu, kurasa bukan cuma kau yang hilang, tapi silsilah keluargamu dari kakek sampai cucu bakal terhapus dari sejarah."
Chen Song (Sambil mendekap Luna, tersenyum pahit) "Itulah alasan kenapa aku selalu mengalah padanya, Lu Tung. Segel itu... adalah harga yang harus dibayar. Sekarang kita harus segera sampai ke Negara Langit sebelum musuh lain menyadari bahwa 'Permaisuri' telah bangun."