Tak pernah mendapatkan cinta dari siapapun termasuk ibu kandungnya, Cinderella Anesya seorang gadis yang biasa di sapa Ella itu berharap ada setitik cinta dari tunangannya.
Sayangnya pria yang menjadi tunangannya itu tak pernah menganggapnya ada dan lebih cenderung pada adik tirinya yang selama ini selalu di sayang oleh keluarganya.
Merasa ketulusannya di khianati, Ella akhirnya menerima pinangan pria yang selama ini diam-diam mencintainya..
Akankah hidupnya berubah setelah bersama pria itu? Atau justru sebaliknya??
•••••
"Berjanjilah untuk selalu mencintaiku.." Cinderella Anesya
"Aku akan selalu mencintaimu, Baik sekarang, Nanti dan selamanya.." Davin Anggara Sanjaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurangan Hendra
"Anak kamu itu sekarang berani kurang ajar ya.. " Dewi mendekat kemudian memberikan secangkir kopi untuk suaminya.
"Mungkin aja Ella lagi capek Mas.. Jadi maklumi aja.." Sahut Dewi. Hendra menatap tak suka pada istrinya.
"Maklum gimana? Kamu itu tahu sendiri, Dia berani melawan aku tadi.. Harusnya dia itu tahu bersyukur! Kalo bukan karena aku dia tidak akan bisa hidup nyaman. Kalo bukan aku, Siapa?Anakmu itu tidak di pedulikan oleh ayahnya sendiri.." Dewi tidak menjawab, Wanita itu memang lebih menyayangi Lentera daripada Ella.
Setiap menatap wajah putri sulungnya, Dewi selalu ingat dengan wajah Amran. Pasalnya wajah mantan suaminya itu menurun kepada Ella. Dan yang membuat Dewi semakin kesal, Amran yang tak pernah tanggung jawab terhadap putrinya. Itu setahu Dewi, Tidak tahu saja kalau mantan suaminya itu selalu mengirimkan uang pada Ella selama ini.
"Ya, Mau gimana lagi Mas.. Ella kan masih tanggung jawab kita. Kalau dia sudah menikah dia bukan tanggung jawab kita lagi.." Hendra berdecak kesal. Pria itu mengotak atik benda pipihnya, Tak lama raut wajah hendra berubah.
"Ada apa mas?" Hendra tak menjawab dan segera beranjak dari duduknya kemudian pergi ke kamarnya.
"Mas Hendra mau kemana? " Tanya Dewi, Dia mengejar suaminya lalu melihat suaminya berpakaian dengan rapi.
"Aku mau keluar sebentar.." Kata pria itu.
"Mau kemana?" Hendra tersenyum..
"Mau melihat keadaan cafe bentar.." Tanpa rasa curiga, Dewi percaya saja pada suaminya.
Sebelum mereka pindah ke kota ini, Usaha toko milik Hendra pria itu jual. Dan sekarang pria itu punya usaha cafe yang di warisi oleh ibunya atau nenek Tami. Itulah pemasukan keluarga Hendra sekarang.
Kuliah Lentera pun Hendra serahkan pada Ella. Pria itu selalu mengungkit tentang kehidupan Ella yang pria itu berikan selama ini.
Masih beruntung Ella bekerja sebagai sekretaris. Meski sejujurnya Ella sudah tak betah bekerja disana.
"Ya udah Mas, Kamu hati-hati ya. " Hendra mengangguk, Pria itupun masuk mobil kemudian pergi ke tempat tujuannya.
Hendra pergi ATM, Tangannya meraih sebuah kartu yang dia sembunyikan selama ini. Sebuah kartu rahasia milik Dewi yang Hendra pegang. Namun pria itu berkata kalau kartu itu telah mati atau kadaluarsa karena tak pernah di pakai.
Seperti kata tadi, Kalau rasa cintanya yang begitu besar Dewi selalu percaya dengan apa saja yang di katakan oleh Hendra.
Dengan terburu-buru Hendra memasukan kartu ATM tersebut ke dalam mesin. Jari telunjuknya sangat lincah mengeklik pada layar mesin uang itu.
Kini Hendra melihat jumlah saldo. Mata pria itu seketika terbelalak karena tak ada uang yang masuk hari ini.
"Rp. 0? Bukankah sekarang waktu tanggalnya?" Hendra meraih benda pipihnya, Biasanya setiap tanggal dua puluh lima selalu ada uang masuk ke rekening tersebut. Tapi hari ini, Tak ada notifikasi masuk. Maka dari itu Hendra langsung mengecek ke mesin ATM secara langsung. Dan memang benar, Tak ada uang yang ayah Ella kirimkan. Biasanya saat pria itu mentransfer uang, Hendra langsung menarik tunai kemudian di pindahkan ke rekening miliknya agar tidak ada orang yang curiga.
"Biasanya dia selalu mengirimkan uang dengan jumlah yang banyak.. Tapi kenapa sekarang tidak? " Hendra kembali mengecek sekali lagi, Ia ingin memastikan apakah benar uang itu tidak ada.
"Sial!!" Hendra menggusar rambutnya kasar. Selama dua puluh tahun baru kali ini Amran tidak mentransfer uang.
Ya, Seperti itulah yang selama ini Hendra lakukan. Pria itu diam-diam membuat curang. Curang terhadap Dewi Dan yang paling terutama curang terhadap putri tirinya, Ella.
Selama dua puluh tahun lamanya, Amran tidak pernah telat mengirimkan uang nafkah untuk Putrinya. Sayangnya pria yang notabene nya adalah ayah kandung Ella itu tak pernah datang untuk menemui Putrinya.
Dulu pernah Amran datang ke alamat rumahnya yang lama. Akan tetapi bukan putrinya yang di temui nya melainkan orang lain. Karena pada saat itu Dewi sudah pindah ke kota ini. Entah kemana pria itu sekarang, Yang pasti sampai saat ini Ella tetap menunggu kedatangan ayahnya.
Namun setelah itu, Amran hilang kabar. Tak ada satu orang pun yang tahu keberadaan pria itu. Hal itu tentu saja membuat Hendra senang bukan main. Bahkan Hendra berharap pria itu telah ma-ti. Kalau sampai pria itu datang, Bisa-bisanya rahasia yang ia simpan selama dua puluh tahun lamanya akan terbongkar.
Tapi kalau pria itu tiada, Siapa yang akan mengirimkan uang lagi..
Bahkan jika di hitung uang yang di kirimkan oleh Amran bisa mencapai Milyaran. Pasalnya uang bulanan milik Ella bukan jumlah yang sedikit. Dan setelah uang tersebut di ambil oleh Hendra dan di pindahkan ke rekening miliknya, Dengan tanpa perasaan Hendra menggunakannya untuk biaya Lentera. Untuk biaya sekolah elit nya, Bahkan memenuhi gaya hedon gadis itu, Tak lupa selalu membeli barang yang Lentera inginkan.
"Akan lebih baik kalau aku pergi ke kantornya saja. Siapa tahu ada kesalahan dari pihak bank. Sepertinya aku harus cepat, Jangan sampai ada yang tahu.. Rahasia yang selama ini aku simpan harus tetap tersimpan rapat." Hendra pun segera keluar dari sana kemudian menuju ke kantor resmi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bapak punya apk nya?
"Punya..
"Bapak sudah mengeceknya di apli-kasi pak?
"E, Saya sudah mengeceknya. Tapi saya kira takut Apk nya yang eror makanya saya datang kesini untuk cek secara langsung.." Ucap Hendra beralasan. Padahal sebenarnya tujuan dia datang kesini untuk memastikan lebih dalam lagi apakah benar Amran bulan ini tidak mengirimkan uang untuk Ella.
"Baik pak, Bapak silahkan duduk dulu untuk menunggu. Saya akan mengecek apakah nama dengan nomor rekening tersebut mentransfer uang atau tidak bulan ini.." Hendra mengangguk, Dia duduk menunggu antrean yang kebetulan tidak terlalu ramai.
Setelah cukup menunggu, Nama Hendra pun di panggil. Pria itu langsung berdiri.
"Bagaimana?
"Untuk bulan ini memang tidak ada mengiriman dari nomor rekening yang beratas namakan Amran Syahid pak.. Mungkin bapak bisa hubungi yang bersangkutan untuk kembali memastikan.." Jelas petugas kantor resmi keuangan tersebut. Mendengar penjelasan pegawai tersebut Akhirnya Hendra pamit untuk pergi.
Tanpa pria itu sadari, Seorang wanita seusia Ella menatap kepergian Hendra hingga pria paruh baya itu hilang di balik mobilnya yang melaju..
"Itu kan Ayah Ella? Ngapain dia kesini.." Gumamnya, Teman satu kelas Ella itupun mendekat ke arah temannya yang tadi.
"Sstt...
"Hmm..
"Bapak tadi? Ngapain?" Bisiknya..
Temannya itu pun mulai menjelaskan apa yang di lakukan Hendra dan tujuannya. Jelas saja wanita yang bernama Wulan itu terkejut.
"Ngecek?
"Iya.. Siapa orang biasa mentransfer uang itu?" Tanya Wulan dengan rasa penasarannya. Pasalnya baru kali ini Wulan melihat ayah tiri temannya itu datang ke kantor ini.
Temannya yang tadi langsung menunjukkan nama dan nomor rekeningnya. Wulan membaca nama sang pengirim yang biasa masuk ke rekening yang kemungkinan di pegang oleh Hendra.
"Amran Syahid? Kayak gak asing itu nama ya.. Tapi siapa?
"Udah dulu ya Lan.. Aku mau istirahat dulu.." Wulan mengangguk, Dia merasa tak asing dengan pria yang bernama Amran itu.
"Amran? Siapa ya??" Sejenak Wulan terdiam mengingat nama itu hingga??
"Ya Allah.. Itukan nama Ayah kandung Ella..??" Wulan harus menghubungi Ella nanti, Sepertinya ini memang tidak ada yang beres..
•
•
•
TBC