Geun hanya ingin cepat kaya dan hidup nyaman.
Tapi setiap kebohongan kecil dan pertarungan nekat demi uang justru melahirkan legenda baru.
Saat dunia bela diri mulai menyebutnya monster dan iblis, Geun sendiri hanya sibuk mencari kerja dengan bayaran tinggi.
Geun yang awalnya hanyalah pemuda gelandangan yang ingin hidup bebas dan nyaman, namun tanpa sadar meninggalkan jejak yang mengubah dunia bela diri selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drunk Cats, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #30: Reverse Breathing Techniques
Malam itu, bulan menggantung tinggi di langit Provinsi Jiangnan, menyinari Balai Penjaga Jalur Tengah dengan cahaya perak yang dingin.
Di dalam kamar sempit yang kini berbau uang dan minyak urut, Geun duduk bersila di atas tumpukan peti berisi 30.000 lebih tael perak. Di bawah lantai, berserakan tumpukan buku anatomi untuk pemula.
Seharusnya dia bahagia.
Dia kaya raya. Dia punya cukup uang untuk membeli satu desa, menikahi kembang desa, dan hidup ongkang-ongkang kaki sampai tua.
Tapi wajah Geun tidak tersenyum.
Matanya menatap kosong ke dinding, di mana bayangan dirinya terpantul samar oleh cahaya lilin.
"Aku nggak bisa keluar," batin Geun.
Realitas pahit mulai merembes masuk ke dalam euforia kekayaannya.
Dia memang kaya, tapi dia terjebak.
Di luar sana, Kultus Jiangshi misterius sedang memburunya.
Sisa-sisa jaringan Silvercrane pasti menginginkan kepalanya.
Dan yang lebih parah, Dunia Murim itu sendiri.
Geun sadar, dia sudah terlalu dalam mencelupkan kaki ke lumpur ini. Dia punya reputasi. Dia punya musuh. Dan sekarang, dia punya uang banyak.
Di dunia persilatan, orang lemah yang punya banyak uang adalah babi gemuk yang siap disembelih.
"Kalau aku keluar dari Wudang sekarang, aku mungkin akan mati dalam sehari. Uangku bakal dijarah, mayatku bakal dikasih makan anjing atau serangga."
Geun menatap tangannya. Jari-jarinya kasar dan keras seperti besi, tapi dia tahu itu tidak cukup.
Meskipun dirinya terseret secara tidak sengaja dalam kegilaan dunia bela diri, Geun sudah merasakan perbedaan kekuatannya sekarang.
Meskipun tidak pernah belajar bela diri, secara kasar dia tahu kekuatannya sekarang.
Melawan preman pasar? Bisa.
Melawan praktisi bela diri asli seperti Jo Chil-sung atau jalur bela diri tidak umum seperti Corpse Collector? Dia cuma samsak tinju yang keras.
"Aku butuh kekuatan," simpul Geun. "Bukan cuma lempar batu. Aku butuh tenaga yang bisa bikin kepala orang pecah sekali pukul."
Tapi masalahnya satu, dia cacat permanen menurut dunia persilatan.
Dantian-nya retak, Meridian-nya meleleh. Wadah penyimpan energinya bocor.
Tanpa Dantian, dia tidak bisa mengumpulkan Qi. Tanpa Qi, dia tidak bisa mengolah energi internal dan naik ranah seperti seniman bela diri sungguhan. Dia mentok.
Geun mendengus kesal. Dia teringat latihan pagi murid-murid Wudang yang sering dia tonton sambil makan ayam.
"Tarik napas... Tahan di pusar... Murnikan... Buang kotoran..." Geun menirukan instruksi pelatih Wudang dengan nada mengejek.
Di mata Geun, proses itu terlihat konyol.
Mereka menghirup energi alam yang besar, tapi menyaringnya sampai tinggal tetesan kecil yang "murni" untuk disimpan di pusar.
Itu seperti menimba air laut pakai sendok teh.
Lambat.
Terlalu bersih.
Terlalu aman.
"Kenapa harus disimpan di pusar?" pikir Geun, dahinya berkerut. "Katanya Dantian itu wadah. Kalau wadahnya pecah, kenapa airnya harus dibuang?"
Logika gembelnya mulai bekerja.
Kalau kamu punya ember bocor, kamu tidak perlu menampung air di ember itu.
Siramkan airnya langsung ke tanah biar basah. Itulah apa yang ada dipikirannya.
"Kenapa nggak disimpan di daging aja?"
"Kenapa nggak disimpan di tulang?"
"Kenapa harus dimurnikan? Nasi basi aja aku makan meski sakit perut, masa energi alam harus dipilih-pilih?"
Mata Geun menyala merah dalam kegelapan.
Dia melihat partikel-partikel aliran Qi alam yang bertebaran di udara kamarnya, seperti hujan gerimis.
Ada yang biru dingin, ada yang merah panas, ada yang abu-abu kotor.
Murid Wudang hanya mengambil yang biru.
"Sayang kalau dibuang," batin Geun pelit. "Ambil semua."
Geun memejamkan mata.
Dia tidak mengambil posisi meditasi teratai yang anggun.
Dia duduk membungkuk, seperti posisi buang air besar, untuk menekan diafragma-nya.
Dia mulai menarik napas.
Bukan tarikan halus lewat hidung.
Dia membuka mulutnya sedikit, menghisap udara dengan rakus seperti orang tenggelam yang baru muncul ke permukaan.
HWHUUUUUUUP!
Udara masuk. Qi alam yang liar masuk. Debu masuk.
Geun tidak mengarahkannya ke pusarnya, tidak ke arah Dantian-nya.
Begitu energi itu masuk ke paru-paru, Geun melakukan sesuatu yang berlawanan dengan semua kitab bela diri ortodoks.
Dia tidak membuang napas.
Dia menahannya.
Dan dia melakukan kontraksi balik.
Dia ngeden. Dia mengencangkan otot-otot nya.
Dia menekan otot dadanya, otot perutnya, dan otot punggungnya secara bersamaan ke arah luar.
Dia menciptakan tekanan internal yang masif, memaksa udara dan energi di paru-parunya untuk mencari jalan keluar lain selain tenggorokan.
"Menyebar!" perintah Geun dalam hati. "Masuk ke daging! Masuk ke selah-selah tulang! Jangan ada yang lolos!"
Qi alam yang liar itu, karena tidak punya jalan keluar, dipaksa merembes menembus dinding paru-paru, masuk ke aliran darah.
Rasanya sakit bukan main.
Seperti ada ribuan jarum yang disuntikkan dari dalam dada ke seluruh tubuh.
Geun menahan rasa sakit luar biasa.
Geun menggeram tertahan, giginya beradu kencang.
Keringat dingin sebesar biji jagung muncul di pelipisnya.
Kulitnya memerah, lalu menggelap menjadi agak keunguan karena tekanan darah tinggi.
Tapi Geun tidak berhenti.
Dia terus menekan. Mendorong.
Energi liar itu mengalir ke otot bisepnya, membuatnya berkedut keras.
Mengalir ke tulang pahanya, membuatnya terasa panas seperti dipanggang.
Mengalir ke kulitnya, membuat pori-porinya menutup rapat dan mengeras.
Di matanya, Geun melihat tubuhnya bukan lagi sebagai wadah dengan satu pusat Dantian.
Dia melihat seluruh tubuhnya perlahan menjadi Dantian raksasa.
Setiap serat otot menjadi gudang penyimpanan kecil.
Setiap ruas tulang menjadi baterai cadangan.
Ini kasar.
Ini merusak metabolisme.
Ini menghancurkan sel-sel lemah dan menggantinya dengan sel-sel rakus yang bermutasi.
Jantungnya ingin berhenti berdetak, namun Geun mengkontraksikan otot-otot jantungnya, dan memompa jantungnya secara manual.
KRAK!
Terdengar suara sandaran kayu dipan tempat Geun bersandar retak, padahal dia hanya menekannya sedikit dengan punggung.
Geun akhirnya menghembuskan napas.
HAAHHH...
Napas yang keluar bukan udara bersih.
Itu adalah uap panas berwarna kelabu, sisa pembakaran kotoran dari dalam tubuhnya yang hangus.
Geun membuka mata.
Dunia terlihat lebih tajam.
Telinganya mendengar suara detak jantung penjaga di gerbang depan yang jaraknya ratusan meter.
Dia melihat tangannya. Urat-urat di punggung tangannya menonjol tebal, berwarna gelap.
Dia mengambil sebuah koin perak dari tumpukan hartanya.
Biasanya, dia butuh usaha keras untuk membengkokkannya.
Sekarang, dia memencetnya dengan jempol dan telunjuk.
Seperti memencet tanah liat.
Koin perak itu gepeng, cap wajah kaisarnya hilang tak berbekas.
"Gila..." bisik Geun, suaranya terdengar lebih berat dan parau dari sebelumnya.
Dia merasakan lonjakan tenaga yang luar biasa.
Tapi bersamaan dengan itu, dia merasakan sesuatu yang lain.
Perutnya melilit perih.
Lapar.
Bukan lapar biasa. Ini lapar yang buas. Tubuhnya menuntut bahan bakar untuk menggantikan sel-sel yang terbakar oleh teknik pernapasan yang baru saja dia ciptakan.
"Lapar..." gumam Geun. Matanya liar mencari makanan. "Daging... butuh daging..."
Dia menyambar sisa tulang ayam di meja dan menggigitnya sampai hancur, menelannya bersama sumsumnya. Namun masih kurang.
Tanpa dia sadari, dia baru saja menciptakan teknik terlarang yang kelak akan ditakuti seluruh Murim.
Reverse Breathing Techniques.
Sebuah teknik yang mengubah tubuh manusia menjadi tungku pembakaran energi yang tidak efisien tapi menghasilkan output tenaga monster.
Geun berdiri. Kakinya yang dulu terasa berat kini terasa sangat ringan dan menapak kokoh, lantai kayu di bawahnya berderit ngeri menahan bobot tubuhnya yang terasa bertambah berat.
Dia melihat ke luar jendela, ke arah bulan.
"Persetan dengan Dantian," desis Geun, meremas koin perak yang sudah gepeng itu sampai menjadi bola kecil.
Malam itu, Geun tidur dengan perut keroncongan tapi dengan senyum menyeringai.
"Ah, sial! tael perak penyek ini masih laku, kan?"