Bagian I: Era Sang Ratu dan Awal Dinasti Kisah bermula dari Queen Elara, seorang wanita tangguh yang membangun fondasi kekuasaan Alexandra Group. Ia menikah dengan Adrian Alistair, pria dingin dan strategis. Dari persatuan ini, lahir dua pasang anak yang menjadi pilar keluarga: si kembar Natalie dan Nathan. Natalie tumbuh sebagai gadis yang tampak lugu namun memiliki sifat "bar-bar" yang terpendam, sementara Nathan menjadi eksekutor tangguh penjaga kehormatan keluarga.
Bagian II: Penyamaran Sang Pangeran Italia Masa muda Natalie Alistair diwarnai oleh kehadiran seorang pengawal misterius bernama Julian, yang sebenarnya adalah Giuliano de Medici, pewaris takhta mafia dan perbankan Italia yang sedang menyamar. Di tengah ancaman rival seperti Jonah dan Justin Moretti, cinta mereka tumbuh dalam gairah yang terjaga.
Bagian III: Dua Pewaris dan Rahasia Kelam Natalie dan Giuliano dikaruniai dua anak: Leonardo dan Alessandra. Leonardo tumbuh menjadi putra mahkota yang sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Jakarta tidak pernah menjadi kota yang sama sejak Alessandra menginjakkan kakinya di sana. Kegelapan yang ia bawa bukan lagi sekadar rahasia keluarga, melainkan racun yang mulai melumpuhkan sistem saraf dinasti Alistair juga Medici. Namun, di tengah semua skema pembalasan dendamnya, ada satu variabel yang mengganggu logika dingin Alessandra, Arkan.
Arkan tidak bisa pergi. Meski ia tahu Sandra, atau Alessandra adalah seorang predator, ia tetap mencarinya. Arkan merasa bertanggung jawab untuk menyembuhkan apa yang ia anggap sebagai kerusakan jiwa, tanpa menyadari bahwa Alessandra tidak rusak, dia memang terlahir sebagai badai.
"Pulanglah, Arkan," bisik Alessandra saat mereka bertemu di sebuah gedung terbengkalai di kawasan industri.
"Kau seperti laron yang mendekati api. Kau akan terbakar sebelum sempat menyentuhku."
"Aku tidak takut terbakar, Sandra," jawab Arkan, matanya memancarkan keputusasaan yang dalam. "Aku melihat manusia di balik mata itu. Aku melihat gadis yang hanya ingin diakui."
Alessandra tertawa, sebuah tawa kering yang menggema. "Kau tidak melihat manusia, Arkan. Kau hanya melihat pantulan dirimu yang naif. Aku tidak butuh pengakuan. Aku butuh kehancuran."
Di tengah pelariannya, Alessandra tidak sadar bahwa pengikut Justin Moretti dan Ambar yang masih berada di Jakarta sedang mengincar nyawanya. Mereka melihat Alessandra sebagai titik lemah keluarga Alistair-Medici yang bisa mereka gunakan untuk menghancurkan Adrian.
Mereka menculik Arkan. Mereka tahu Arkan adalah satu-satunya orang yang memiliki akses emosional pada Alessandra. Mereka ingin memancing Alessandra masuk ke dalam sebuah perangkap di puncak sebuah menara kaca yang masih dalam tahap konstruksi.
Alessandra tiba di lokasi sendirian. Ia tidak memanggil Leonardo atau tim keamanan Medici. Baginya, ini adalah masalah harga diri. Di puncak gedung lantai 20 yang terbuka, ia melihat Arkan terikat di kursi, dikelilingi oleh sepuluh pria bersenjata.
"Lepaskan dia," ucap Alessandra tenang, tangannya tersembunyi di balik jubah hitamnya.
"Setelah kau menyerahkan semua akses kode enkripsi bank Medici, Putri Terbuang!" teriak pemimpin kelompok tersebut.
Arkan menatap Alessandra dengan tatapan penuh luka. "Jangan lakukan itu, Sandra! Pergilah!"
Alessandra tidak menyerahkan kode. Ia justru melepaskan gas syaraf kecil dari pergelangan tangannya. Dalam hitungan detik, kekacauan pecah. Alessandra bergerak seperti bayangan, menebas musuh-musuhnya dengan pisau bedah perak andalannya. Gerakannya begitu artistik dan mematikan, sebuah tarian kematian yang mengerikan.
Namun, di tengah pertempuran, pemimpin kelompok itu yang sudah sekarat menarik tuas detonator yang terhubung ke penyangga tempat Arkan terikat.
"TIDAK!" teriak Alessandra.
Ledakan kecil namun kuat menghancurkan penyangga kursi tersebut. Arkan yang terikat tidak bisa menyelamatkan diri. Ia terlempar dari tepi gedung lantai 20.
Alessandra berlari secepat kilat, berhasil menangkap tangan Arkan di saat-saat terakhir. Arkan tergantung di udara, hanya tertahan oleh cengkeraman tangan Alessandra yang mungil namun kuat.
"Pegang tanganku, Arkan! Jangan lepaskan!" teriak Alessandra. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada emosi murni di wajahnya, ketakutan akan kehilangan.
Arkan menatap Alessandra. Darah mengalir dari luka di kepalanya. Ia melihat Alessandra berjuang menariknya, namun ia juga melihat struktur bangunan di atas mereka mulai runtuh akibat ledakan. Jika Alessandra terus memegangnya, mereka berdua akan jatuh.
"Sandra... Alessandra..." bisik Arkan dengan suara lemah. "Kau pernah bilang kau ingin membedahku agar aku tetap bersamamu selamanya... tapi jangan hari ini."
"Diam! Aku akan menarikmu naik!"
"Aku mencintaimu, Sandra. Seandainya saja kita bertemu di dunia yang berbeda," Arkan tersenyum tulus, senyuman terakhir yang penuh kedamaian.
Dengan sisa tenaganya, Arkan melepaskan cengkeraman tangannya sendiri. Ia membiarkan gravitasi mengambil alih. Alessandra berteriak histeris, sebuah teriakan yang belum pernah terdengar dari mulutnya sejak ia lahir.
Ia melihat tubuh Arkan jatuh menembus kegelapan malam Jakarta, menghantam atap beton di bawah sana dengan suara yang menghancurkan hati.
Arkan meninggal seketika. Matanya tetap terbuka, menatap langit Jakarta yang kelam.
Kematian Arkan menjadi pemicu yang merusak sisa-sisa kemanusiaan di dalam diri Alessandra.
Jika sebelumnya ia membunuh karena dorongan psikopatnya, kini ia memiliki alasan lain, balas dendam.
Leonardo dan Adrian tiba di lokasi beberapa menit kemudian, hanya untuk menemukan Alessandra berdiri di tepi gedung yang hancur, wajahnya terpercik darah musuh-musuhnya, menatap ke bawah ke arah jasad Arkan.
Natalie mencoba mendekat, namun Alessandra menoleh dengan tatapan yang membuat sang Ratu mundur ketakutan. Mata Alessandra bukan lagi cokelat keemasan, matanya kini tampak hitam pekat tanpa dasar.
"Kalian menyembunyikanku karena takut aku akan menjadi monster," suara Alessandra terdengar dingin, tanpa emosi sedikit pun. "Kalian benar. Dan sekarang, monster itu telah kehilangan satu-satunya hal yang menahannya untuk tidak menghancurkan kalian semua."
"Sandra, tolong..." tangis Natalie.
"Namaku Alessandra de Medici-Alistair," ucapnya lantang. "Dan mulai malam ini, Jakarta, Roma, dan setiap inci kerajaan kalian akan menjadi pemakaman bagi siapa saja yang menghalangi jalanku."
Arkan dimakamkan secara rahasia. Tidak ada nisan yang mencantumkan namanya di makam keluarga Alistair, karena secara resmi ia tidak pernah ada dalam lingkaran mereka.
Sejak malam itu, Alessandra menghilang sepenuhnya. Namun, bisnis keluarga Alistair mulai mengalami serangan sistematis. Satu per satu musuh lama mereka ditemukan tewas dalam kondisi yang identik dengan cara "artistik" Alessandra. Ia menjadi hantu yang menghantui bursa saham dan lorong-lorong kekuasaan.
Di sebuah ruangan gelap di pinggiran Jakarta, Alessandra duduk menatap sebuah kotak kaca kecil. Di dalamnya terdapat lencana detektif milik Arkan yang telah ia bersihkan dari darah.
"Kau aman di sini, Arkan," bisiknya sambil membelai kaca tersebut. "Dunia ini tidak pantas untukmu. Tapi mereka akan membayar setiap tetes darahmu dengan kehancuran kerajaan mereka."
Dinasti Alistair-Medici kini menyadari satu hal yang terlambat, Mereka tidak hanya melahirkan seorang psikopat, mereka telah menciptakan musuh yang paling mematikan bagi diri mereka sendiri. Dan Arkan adalah korban pertama dari perang yang baru saja dimulai.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
happy reading😍😍😍