Kisah ini tidak menawarkan jawaban tentang apakah Great Reset benar-benar dirancang oleh elite global. Yang dihadirkan justru sesuatu yang lebih mengganggu: bagaimana bahasa, teknologi, dan kebijakan modern membentuk kepatuhan tanpa paksaan, membuat pilihan terasa semakin sempit, dan menjadikan penyesuaian sebagai satu-satunya cara untuk tetap dianggap “normal”.
Kita yang Tidak Pernah Diundang bukan dongeng tentang konspirasi besar, melainkan tentang manusia-manusia biasa yang hidup di dalamnya… tanpa sadar, tanpa persetujuan, dan tanpa kepastian apakah kesadaran akan menyelamatkan atau justru menyulitkan.
Sebuah kontemplasi gelap-reflektif tentang sistem yang tidak memaksa, dunia yang terlalu tertib, dan pertanyaan sederhana yang terus menghantui:
…jika semuanya sudah diputuskan, apa arti menjadi manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hidup di Luar Sistem
Kusuma bangun sebelum matahari benar-benar naik.
Bukan karena ingin, tapi karena tubuhnya tidak bisa tidur lebih lama. Kasur tipis di penginapan murah itu terlalu panas, terlalu keras, terlalu jujur. Ia duduk di tepi ranjang, menatap lantai semen yang dingin, merokok tanpa benar-benar menikmati rasanya.
Hari keempat.
Empat hari sejak barangnya “menunggu verifikasi”.
Empat hari tanpa kepastian, tanpa jawaban yang berubah, tanpa arah yang bisa ia rencanakan. Kusuma bukan orang yang butuh peta hidup, tapi ia butuh gerak. Diam terlalu lama membuat kepalanya bising.
Ia mandi cepat, mengenakan kaus kusam, celana panjang yang sama sejak dua hari lalu. Rambutnya masih acak-acakan. Matanya merah, bukan karena kurang tidur saja, tapi karena terlalu banyak waktu untuk berpikir.
Motor touring-nya terparkir di luar, tertutup debu tipis. Biasanya, motor itu adalah perpanjangan tubuhnya, tempat ia merasa utuh. Pagi ini, motor itu terasa seperti beban: pengingat bahwa ia bisa pergi ke mana saja, tapi tidak tahu ke mana harus pergi.
Ia menyalakan mesin. Suaranya tetap sama, berat dan stabil. Setidaknya ada satu hal di dunia yang masih bekerja tanpa minta izin.
Kusuma melaju pelan menuju kantor distribusi. Ia sudah hafal rute itu. Lubang jalan. Warung kecil di sudut. Spanduk pudar tentang program nasional yang tidak pernah ia pahami sepenuhnya.
Di kepalanya, kalimat petugas hari pertama kembali terngiang:
“Data Mas nggak kebaca.”
Ia masih belum tahu apa artinya. Tapi ia tahu dampaknya.
Di kantor, suasana tidak berubah. AC menyala. Antrian pendek. Layar-layar menyala dengan grafik dan tabel. Semua terlihat berjalan.
Petugas yang sama menyambutnya. Kali ini wajahnya lebih kaku.
“Mas, masih sama ya?”
Kusuma mengangguk. Ia tidak bertanya lagi. Ia sudah belajar bahwa bertanya tidak mempercepat apa pun.
Petugas itu mengetik, menunggu, lalu menggeleng pelan. “Belum ada pembaruan, Mas.”
“Kalau saya nunggu sampai kapan?” tanya Kusuma akhirnya.
Petugas itu ragu. “Kami juga nunggu pusat, Mas.”
Kata itu lagi.
Pusat.
Kusuma menatap layar di meja pelayanan. Simbol abu-abu itu masih ada. Tidak berubah. Tidak berkedip. Seperti status jiwa yang dibekukan.
“Kalau saya cari kerja lain sementara?” tanyanya.
Petugas itu menoleh cepat, seperti tidak siap dengan pertanyaan itu. “Selama status ini, Mas… akses Mas terbatas.”
“Terbatas ke apa?”
Petugas itu menelan ludah. “Ke beberapa layanan.”
“Yang mana?”
“Pengiriman. Pembayaran. Verifikasi.”
Kusuma tertawa pendek. Kali ini pahit. “Berarti ke hidup saya.”
Petugas itu tidak tertawa. Ia menunduk, mengetik sesuatu yang tidak Kusuma lihat.
Kusuma melangkah keluar. Matahari sudah naik, panas mulai menggigit kulit. Ia berdiri di bawah kanopi, menyalakan rokok dengan tangan sedikit gemetar.
Ia membuka ponsel. Random sepi. Tapi ada pesan pribadi dari Wawan semalam. Ia membaca ulang.
“Maafin gue, Sum. Gue sering pake kata iman buat nutup rasa takut gue sendiri.”
Kusuma tidak membalas. Bukan karena marah. Tapi karena ia tidak tahu harus membalas apa. Permintaan maaf tidak mengubah status abu-abu di layar.
Ia melaju tanpa tujuan jelas. Jalanan Papua panjang dan keras. Truk-truk besar lewat membawa muatan yang mungkin akan sampai, mungkin tidak. Kusuma berhenti di pinggir jalan, mematikan mesin.
Ia duduk di atas motor, menatap ke depan.
Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa tidak dibutuhkan.
Bukan oleh orang. Oleh sistem.
Ia teringat pekerjaan lamanya, berpindah-pindah kota, tidur di mana saja, makan seadanya. Dulu hidupnya tidak pernah rapi, tapi selalu bergerak. Sekarang hidupnya rapi di layar, tapi tubuhnya berhenti.
Ia membuka aplikasi kerja. Status akunnya berubah:
Dalam Peninjauan.
Tidak ada tombol protes. Tidak ada nomor kontak. Hanya kalimat itu.
Peninjauan.
Kusuma memejamkan mata. Kata itu terdengar halus, tapi rasanya seperti digantung.
Ia membuka catatan pengeluaran. Uang di rekeningnya tidak banyak. Ia menghitung cepat. Dua minggu, mungkin tiga. Setelah itu, ia harus memilih: pulang dengan tangan kosong, atau bertahan dengan cara yang tidak ia rencanakan.
Pikirannya melayang ke Malang. Ke Papua yang tidak pernah benar-benar ia pahami tapi ia jalani. Ke jalan-jalan panjang yang sekarang terasa lebih sempit.
Ponselnya berbunyi. Pesan dari Ari.
Ari:
Lo masih di sana?
Kusuma membalas singkat.
Kusuma:
Masih.
Tapi kayak nggak ada.
Ia menutup ponsel, menyimpan ke saku jaket. Angin panas menyapu wajahnya. Kusuma menyalakan mesin lagi.
Ia tidak tahu ke mana ia akan pergi hari ini. Yang ia tahu hanya satu:
…selama sistem tidak memutuskan apa pun, hidupnya akan terus berada di jeda. Dan jeda, jika terlalu lama, bisa berubah menjadi penghapusan yang sopan.
Siang itu panasnya tidak wajar.
Bukan panas yang membakar cepat lalu selesai, tapi panas yang menempel di kulit dan tidak mau pergi. Kusuma berhenti di sebuah warung kecil di pinggir jalan, memarkir motor di bawah pohon yang daunnya jarang. Bayangan yang jatuh di tanah putus-putus, seperti hidupnya belakangan ini… ada, tapi tidak utuh.
Ia duduk di bangku kayu, memesan air dingin. Tangannya kotor, kuku-kukunya menghitam oleh debu dan oli. Ia menatap telapak tangannya sendiri, mencoba mengingat kapan terakhir kali tangan ini terasa berguna.
Empat hari tidak bekerja.
Angka itu terdengar kecil bagi orang lain. Bagi Kusuma, itu sudah terlalu lama. Hidupnya selama ini tidak dibangun dari tabungan atau rencana jangka panjang, tapi dari pergerakan. Dari kepercayaan bahwa selama tubuhnya mau bergerak, dunia akan memberi ruang. Kepercayaan itu kini goyah.
Pemilik warung menaruh gelas plastik di depannya. Airnya dingin, mengembun. Kusuma meminumnya pelan. Dingin itu hanya bertahan sebentar sebelum panas kembali mengambil alih.
Ia membuka ponsel, memeriksa rekening. Angkanya masih sama seperti tadi pagi. Tidak ada uang masuk. Tidak ada notifikasi. Ia menghitung lagi, kali ini lebih lambat, lebih jujur. Sisa uang itu bukan nol, tapi juga bukan aman. Dua minggu. Mungkin tiga jika ia berhemat. Setelah itu, ia harus memilih.
Pilihan selalu terdengar seperti kebebasan. Tapi sekarang, pilihan terasa seperti jebakan yang disamarkan.
Ia menyalakan rokok. Asap naik lurus sebentar, lalu buyar oleh angin. Kusuma memperhatikan asap itu sampai hilang. Ia teringat kalimat Wijaya tentang orang-orang yang tidak dihapus, hanya tidak dicatat. Dulu kalimat itu terdengar akademis. Sekarang, kalimat itu terasa personal.
Ponselnya berbunyi. Bukan dari Random. Dari nomor yang tidak ia simpan.
“Mas Kusuma?” suara di seberang terdengar netral. Bukan ramah, bukan dingin.
“Iya.”
“Kami dari pihak platform mitra. Terkait status akun Mas yang sedang dalam peninjauan.”
Jantung Kusuma berdetak lebih cepat. Ia berdiri tanpa sadar, menjauh dari warung.
“Iya,” katanya. “Gimana, Pak?”
“Ada beberapa ketidaksesuaian data, Mas. Sementara, akun Mas kami nonaktifkan sampai proses selesai.”
“Nonaktif itu maksudnya…?”
“Mas tidak bisa menerima order dulu.”
“Berapa lama?”
“Tidak bisa ditentukan, Mas.”
Kalimat itu kembali. Tidak bisa ditentukan. Kusuma tertawa kecil, refleks yang tidak ia rencanakan.
“Kalau saya butuh makan?” tanyanya, suaranya datar.
Di seberang sana, jeda. Bukan jeda empati. Jeda prosedural.
“Kami sarankan Mas menunggu hasil verifikasi.”
Telepon terputus.
Kusuma berdiri lama, ponsel masih menempel di telinganya yang panas. Ia menurunkannya perlahan, menatap layar gelap. Tidak ada amarah yang meledak. Yang ada hanya kekosongan yang perlahan mengisi dada.
Ia kembali duduk. Pemilik warung melirik sekilas, lalu pura-pura sibuk. Dunia tidak berhenti hanya karena satu orang kehilangan akses.
Kusuma menyalakan motor, melaju tanpa tujuan jelas. Jalanan terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap kilometer terasa seperti pertanyaan yang tidak dijawab.
Di kepalanya, muncul opsi-opsi yang selama ini ia hindari.
Pulang.
Minta bantuan.
Kerja apa saja, di luar sistem.
Ia tidak suka opsi terakhir itu. Bukan karena gengsi, tapi karena risiko. Dunia di luar sistem selalu ada, tapi tidak pernah aman. Namun, untuk pertama kalinya, sistem juga tidak aman.
Ia berhenti di pinggir jalan, mematikan mesin. Angin panas menerpa wajahnya. Kusuma menurunkan helm, meletakkannya di tanah.
Ia menatap jalan kosong di depannya.
Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar sendirian, bukan karena tidak punya teman, tapi karena tidak ada entitas yang mengakuinya sedang ada.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Random. Dari Doli.
Doli:
Sum,
gue nemu beberapa pola di dokumen yang gue edit.
Ini bukan kebetulan.
Tapi gue belum bisa bantu banyak.
Kusuma membaca pesan itu tanpa emosi. Ia menghargai kejujuran Doli. Tapi pola tidak membayar makan.
Pesan masuk lagi. Dari Yanto.
Yanto:
Kalau lo butuh apa-apa, bilang.
Serius.
Kusuma mengetik, lalu berhenti. Menghapus. Mengetik lagi.
Ia tidak ingin jadi beban. Ia juga tidak ingin pura-pura kuat.
Akhirnya ia menulis:
Kusuma:
Gue mungkin harus ambil kerjaan di luar sistem.
Sementara.
Pesan itu terkirim. Ia tahu, kalimat itu akan dibaca dengan cara berbeda oleh masing-masing orang. Ari akan khawatir. Wawan akan berdoa. Yanto akan marah. Wijaya akan mencatat.
Kusuma berdiri, mengenakan helm. Ia melaju ke arah pelabuhan kecil. Bukan karena ia punya rencana, tapi karena pelabuhan selalu menjadi tempat di mana orang-orang yang tidak tercatat berkumpul. Buruh harian. Nelayan. Pekerja angkut yang dibayar tunai.
Ia turun dari motor, berjalan menyusuri deretan truk dan kapal kecil. Bau solar dan laut bercampur. Ia mendekati seorang mandor, menanyakan apakah ada kerja angkut.
Mandor itu menatapnya, menilai cepat. “Ada. Bayarannya harian. Tunai.”
“Pakai data?” tanya Kusuma.
Mandor itu tertawa. “Kalau mau nanya data, kerjaan ini bukan buat kamu.”
Kusuma mengangguk.
Ia mengangkat karung demi karung, punggungnya menegang, keringat mengalir deras. Tangannya perih. Tapi ada satu hal yang kembali ia rasakan: gerak. Tubuhnya bekerja. Dunia merespons. Tidak lewat layar, tidak lewat status, tapi lewat berat yang nyata.
Sore menjelang. Kusuma duduk di pinggir dermaga, menerima uang tunai yang kusut. Jumlahnya tidak besar, tapi cukup untuk makan dan tidur malam ini.
Ia menatap uang itu lama.
Ada rasa lega kecil. Tapi juga rasa takut yang lebih besar:
bagaimana jika dunia mulai mendorongnya semakin jauh dari sistem, dan suatu hari, ia tidak bisa kembali?
Ia membuka ponsel, mengirim satu pesan ke Random.
Kusuma:
Gue dapet kerja harian.
Bukan lewat aplikasi.
Bukan lewat sistem.
Beberapa detik kemudian, balasan masuk dari Ari.
Ari:
Hati-hati.
Dan jangan lupa:
lo tetap ada, meski mereka nggak nyatet.
Kusuma tersenyum tipis di balik helmnya. Ia menyalakan motor, melaju kembali ke penginapan.
Malam itu, tubuhnya lelah, tapi kepalanya lebih tenang dari hari-hari sebelumnya. Ia tahu, keputusan hari ini bukan solusi. Hanya penundaan. Tapi penundaan yang ia pilih sendiri.
Malam pun bergulir.
Dengan seorang manusia yang memilih tetap hidup di celah, bukan karena ingin melawan, tetapi karena dunia yang rapi tidak lagi memberinya ruang.
Dan Kusuma tahu, sekali seseorang belajar hidup tanpa tercatat, jalan kembali ke sistem tidak pernah sepenuhnya sama.