Yura, 23 tahun, adalah seorang wanita cerdas, cantik, dan tulus. Setelah kehilangan ayahnya yang selalu menjadi inspirasinya, Yura memutuskan untuk mewujudkan mimpi lama mereka membuka toko kue Prancis yang pernah ayahnya impikan.
Namun, langkahnya tak semulus yang ia kira. Di dunia bisnis, ia bertemu Arkan, CEO tajir, dingin, dan terlalu posesif. Pria yang selama ini menutup hati dari semua wanita tiba-tiba tertarik pada Yura bukan karena bisnis, tapi karena ketulusan dan keberanian yang jarang ia temui.
Pertemuan pertama mereka di restoran biasa berubah menjadi serangkaian kejadian tak terduga: mulai dari pertolongan Yura pada orang tua dan ibu hamil, hingga pertemuan bisnis yang membuat batas profesional mereka teruji.
Bisnis, mimpi, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu, ketika Yura harus memilih antara menjaga mimpinya, menghadapi masa lalunya, dan… menghadapi seorang pria yang mulai terlalu ingin memilikinya.
Apakah Yura akan menyerah pada bisnis dan mimpi ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Retakan Pertama di Dinding Pertahanan
Hari-hari berikutnya, Arkan mulai datang lagi.
Tapi tidak seperti sebelumnya.
Tidak ada paksaan. Tidak ada tatapan mengintimidasi. Tidak ada ancaman tersembunyi.
Ia hanya… datang.
Membeli kopi. Duduk di sudut. Diam.
Kadang ia membaca koran. Kadang ia hanya menatap keluar jendela.
Dan Yura… tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
Hari Ketiga Percobaan Ngobrol
Sore itu, toko sepi. Hanya ada Arkan yang duduk di meja sudut dengan secangkir kopi yang nyaris dingin.
Yura sedang mengelap meja kasir, sesekali melirik ke arah Arkan dengan waspada.
Kenapa dia datang lagi?
Kenapa dia tidak bicara apa-apa?
Apa dia… benar-benar berubah? Atau ini cuma strategi baru?
Arkan mengangkat kepala, menatap Yura sekilas.
"Kuenya enak," katanya tiba-tiba.
Yura terkejut, lalu menatapnya dengan ekspresi datar. "...Terima kasih."
Lalu ia kembali mengelap meja, mengabaikan Arkan.
Arkan terdiam lama. Ia tidak terbiasa diabaikan seperti ini tapi ia… mencoba.
"Kau… sudah lama bekerja di sini?" tanya Arkan lagi, berusaha terdengar casual.
Yura tidak menoleh. "Beberapa bulan."
"Senang?"
"Lebih senang daripada di kantor lama."
Nada suaranya dingin. Tegas. Memberi sinyal: Aku tidak mau ngobrol denganmu.
Arkan mengangguk pelan, lalu kembali menatap kopinya.
Ia mencoba lagi.
"Aku… tidak pandai ngobrol santai," ucapnya pelan, hampir seperti mengakui kelemahan.
Yura berhenti sejenak, tapi tetap tidak menoleh.
"Aku tahu," jawabnya singkat.
Arkan tertawa kecil pendek, hampa. "Aku lebih terbiasa… berbicara soal angka. Kontrak. Strategi bisnis."
Yura masih diam.
Arkan menarik napas. "Tapi… aku ingin belajar."
Kali ini, Yura menoleh. Tatapannya tajam, penuh kecurigaan. "Belajar… untuk apa?"
Arkan menatapnya lurus. "Agar aku bisa… bicara denganmu."
Yura menatapnya lama.
Lalu ia memalingkan wajah, kembali mengelap meja. "Aku tidak butuh obrolan dari orang yang pernah memaksaku masuk mobil."
Kalimat itu menusuk.
Arkan menunduk. Tangannya mengepal di atas meja. "Aku tahu," katanya pelan. "Dan aku… menyesal."
Yura tidak menjawab.
Keheningan jatuh lagi.
Dan Arkan… hanya duduk di sana. Diam. Tidak memaksa.
Hari Kelima Arkan Bercerita Tentang Masa Lalunya
Sore itu, Arkan datang lagi.
Kali ini ia membawa Botol Minum bergambar Spider-Man sesuatu yang aneh untuk dilihat di tangan seorang CEO.
Ia duduk di tempat yang sama, memesan kopi yang sama.
Yura melayaninya tanpa banyak bicara.
Tapi kali ini… Arkan tidak langsung diam.
"Yura," panggilnya pelan.
Yura menoleh waspada, tapi tidak menghindar.
"Boleh aku… cerita sesuatu?"
Yura menatapnya dengan ekspresi datar. "Aku tidak tertarik."
Arkan mengangguk pelan. "Aku tahu. Tapi… aku tetap ingin cerita."
Yura tidak menjawab. Ia kembali ke belakang kasir, sibuk dengan pekerjaannya.
Tapi Arkan… tetap bicara.
"Orang tuaku… meninggal saat aku masih kecil."
Suaranya pelan. Tidak dramatis. Hanya… jujur.
Yura berhenti sejenak, tangannya masih memegang gelas yang baru ia cuci.
Ia tidak menoleh. Tapi… ia mendengarkan.
Arkan menatap cangkir kopinya, seolah berbicara pada dirinya sendiri.
"Ayahku… meninggal karena kecelakaan kerja. Ibuku… tidak lama setelah itu. Sakit. Dan aku… masih terlalu muda untuk mengerti apa yang terjadi."
Yura meletakkan gelas pelan. Ia berbalik perlahan menatap Arkan. Untuk pertama kalinya… ia melihat ekspresi lain di wajah pria itu.
Bukan dingin. Bukan mengancam.
Hanya… kosong.
Arkan tersenyum tipis pahit.
"Aku dibesarkan oleh paman. Tapi dia tidak peduli padaku. Dia hanya peduli pada bisnis yang ditinggalkan ayahku. Jadi aku belajar… kalau aku ingin bertahan, aku harus lebih kuat dari siapa pun. Aku harus… mengendalikan segalanya."
Ia mengangkat kepala, menatap Yura.
"Karena setiap kali aku kehilangan kendali… aku kehilangan orang yang penting."
Yura terdiam.
Sesuatu di dadanya… bergetar.
Bukan simpati. Bukan juga pemaafan.
Tapi… pemahaman.
Ia mengerti kenapa Arkan seperti itu.
Kenapa pria itu begitu posesif. Kenapa ia begitu takut kehilangan.
Tapi itu tidak membenarkan apa yang ia lakukan.
"Aku mengerti kau punya masa lalu yang berat," kata Yura pelan. "Tapi itu bukan alasan untuk memaksa orang lain masuk ke hidupmu."
Arkan mengangguk pelan. "Aku tahu."
Ia menatap Yura dengan tatapan yang berbeda bukan obsesi, bukan ancaman.
Hanya… kelelahan.
"Aku tidak pandai mencintai, Yura," katanya pelan. "Aku hanya pandai… tidak mau kehilangan."
Yura menatapnya lama.
Untuk pertama kalinya… ia melihat Arkan bukan sebagai ancaman.
Tapi sebagai… manusia yang patah.
Dan itu… membuatnya bingung.
Setelah Arkan Pergi
Malam itu, setelah Arkan pergi, Yura duduk sendirian di toko yang sudah tutup. Ia menatap cangkir kopi yang ditinggalkan Arkan masih setengah penuh.
Pikirannya penuh.
Dia kehilangan orang tuanya…
Dia tumbuh tanpa kasih sayang…
Dia… sendirian.
Yura menggelengkan kepala keras.
"Bukan urusanku," gumamnya pelan. "Aku tidak boleh merasa kasihan padanya."
Tapi… kenapa dadanya terasa berat?
Kenapa ia tidak bisa berhenti memikirkan ekspresi kosong di wajah Arkan tadi?
Ia menarik napas panjang, lalu menutup toko.
Tapi satu hal mulai jelas:
Dinding pertahanan yang ia bangun… mulai retak.
Perlahan. Tapi pasti.
Di Mobil Arkan Setelah Pulang dari Toko
Arkan duduk di kursi belakang mobilnya, menatap kosong ke luar jendela.
Bagas duduk di depan, sesekali melirik dari kaca spion.
"Pak… bagaimana tadi?" tanya Bagas hati-hati.
Arkan diam lama.
Lalu ia tersenyum tipis pahit.
"Dia mendengarkan," katanya pelan. "Untuk pertama kalinya… dia benar-benar mendengarkan."
Bagas tersenyum kecil. "Itu… kemajuan, Pak."
Arkan mengangguk pelan.
Tapi di dalam hatinya… ia tahu satu hal: Ia tidak bohong tadi. Semua yang ia ceritakan… benar.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Ia merasa… sedikit lebih ringan. Karena ada seseorang yang mendengarkan. Bahkan jika orang itu… masih takut padanya.