Miranda menikah selama 2 tahun berbakti pada suami
membantu suami keluar dari kebangkrutan
sayang sekali setelah sukses suaminya selingkuh
bagaimana kehidupan miranda selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MIA 16
“Aku lagi benerin lampu, Bi,” jawab Miranda sambil menatap wanita gemuk itu dari atas kursi plastik.
“Padahal mah tunggu saja Mang Narno, Neng. Walau Neng bisa, tetap saja tidak pantas,” ucap Bi Mirna sambil memegangi kaki kursi yang dinaiki Miranda agar tidak goyah.
Miranda turun perlahan. Ia menatap Bi Mirna, lalu berkata lirih, “Terima kasih, Bi.”
“Sama-sama, Neng,” jawab Bi Mirna. Wajah wanita itu tampak sembap, matanya kemerahan seperti baru saja menangis.
“Bibi habis menangis?” tanya Miranda pelan.
Bi Mirna memalingkan wajah. “Tadi kelilipan air hujan, Neng,” katanya tanpa menoleh.
“Baiklah kalau begitu,” ujar Miranda, lalu melangkah ke ujung dapur dan meletakkan kursi.
Ia segera mengecek ponselnya. Enam titik kamera sudah terhubung dengan baik. Gambar dari kamar Anton, kamar Rizki, kamar Saras, kamar Raka, dapur, dan ruang tengah tampil jelas di layar. Miranda menarik napas panjang. Dua minggu ke depan ia harus mengisi ulang baterai kamera itu. Ia berharap sebelum waktu itu habis, ia sudah mendapatkan cukup bukti.
Walau dari Nabil ia sudah menerima foto dan video yang kuat, Miranda masih gelisah. Beberapa gambar memperlihatkan Rizki dan Melisa berciuman di parkiran hotel. Ada pula video mereka masuk ke sebuah klub malam, tertawa mesra seolah dunia hanya milik berdua. Bukti itu sudah cukup menghancurkan hatinya.
Namun satu pertanyaan terus mengganggunya.
Sejak kapan Nabil mengawasi Rizki?
Dan mengapa seolah Nabil sudah lama tahu hubungan terlarang itu?
Miranda melangkah menuju kamar Amora. Di sana, Nadia sedang menimang bayi itu dengan penuh kesabaran. Amora tertawa kecil, jemarinya mencengkeram ujung jilbab Nadia. Di sudut ruangan berdiri Anton, memandang cucunya dengan wajah lembut.
Dalam hati Miranda bergumam, sejak kapan ayah mertuanya pulang?
Ia melirik jam tangan. Pukul 16.05.
Sepertinya Anton pulang tepat saat ia memasang kamera di dapur.
Dan satu hal lagi membuat Miranda heran. Sejak Nadia menjadi pengasuh, Anton semakin sering berada di kamar Amora. Tatapannya kepada Nadia pun terasa berbeda, terlalu lama, terlalu dalam, seolah ada niat yang disembunyikan.
“Ayah sudah pulang?” tanya Miranda sambil mendekat.
“Iya, baru saja. Kangen sama Amora,” jawab Anton ringan.
“Ayah mau susu?” tawar Miranda, mencoba bersikap wajar.
“Tidak usah. Ayah sudah kenyang,” jawab Anton.
Tatapan Anton beralih ke wajah Miranda. Seolah ada sesuatu yang hendak ia sampaikan, namun ragu mengucapkannya.
“Miranda,” panggilnya akhirnya.
“Ya, Yah, ada apa?” tanya Miranda.
“Tadi ayah bertemu Pak Karman Wijaya. Ayah menanyakan soal kontrak kerja sama. Dia bilang, asal kamu setuju, dia juga setuju,” ucap Anton pelan.
Miranda tertegun. “Saya tidak mendengar hal itu, Yah.”
“Intinya begini,” lanjut Anton, suaranya lebih tegas. “Asal kamu dan Rizki mau bertemu langsung dengannya, kontrak itu bisa segera ditandatangani.”
“baiklah yah tinggal atur jadwal saja bertemu dengan pak karman aku ga tahu jadwal mas rizki sekarang”
Miranda mengatakan hal itu hanya untuk menguji reaksi Anton. Beberapa hari terakhir ia selalu dimarahi hanya karena tidak tahu jadwal kepulangan ayah mertuanya. Sekarang ia ingin melihat, apakah Anton akan kembali marah atau justru bersikap lunak.
Ternyata reaksinya berbeda.
“oh gampang biar ayah telpon rizki agar mengatur jadwal pertemuan dengan karnam wijaya secepatnya” ucap anton
Miranda menahan senyum. Ia menunduk sopan, pura-pura tidak melihat perubahan sikap itu. Beberapa menit kemudian, setelah membicarakan hal-hal ringan, Anton keluar dari kamar Amora.
“bagaimana mba?” tanya Nadia begitu mereka tinggal berdua.
Miranda paham maksud pertanyaan itu. Ia mengangguk pelan.
“sudah aku pasang semua,” ucap Miranda, “tenang saja aman semua.”
Nadia tersenyum lega, lalu mengacungkan jempol. “ok mba semangat ya, kalau memang dia selingkuh tinggalkan saja,” ucap Nadia penuh dukungan.
“pastilah,” jawab Miranda tanpa ragu.
Raut wajah Nadia tampak cerah, seolah ikut bersemangat melihat keberanian Miranda.
Miranda keluar dari kamar Amora dan menuju kamarnya sendiri. Ia kembali membuka ponsel, mengecek satu per satu kamera yang baru terpasang. Semua titik berjalan normal. Gambar dari kamar Anton, kamar Rizki, kamar Saras, kamar Raka, dapur, dan ruang tengah terlihat jelas.
Hanya satu yang membuatnya menyesal.
Kamar Amora.
Di sana belum ada kamera.
Miranda menghela napas pelan. Sepertinya ia harus kembali membeli satu kamera lagi. Entah firasat apa yang mendorongnya merasa kamar itu justru penting.
Waktu berjalan perlahan. Sore tiba tanpa kejadian berarti. Miranda sengaja tidak lagi menanyakan jam kepulangan Rizki. Ia sudah terlalu lelah berdebat soal itu. Kalau mau, ia bisa menghadapi Rizki dengan cara apa pun, lembut atau keras, bahkan di atas ring sekalipun.
Magrib datang. Nadia pamit pulang. Seperti biasa, Miranda melaksanakan salat magrib di kamar Amora. Setiap waktu magrib, Amora selalu terbangun, minta ditemani bermain sampai akhirnya tertidur kembali di pelukannya.
“neng di panggil pak anton,” ucap Bi Mirna dari depan pintu.
Miranda tersenyum. Ia meletakkan Amora ke dalam boks bayi, membetulkan selimutnya, lalu keluar mengikuti Bi Mirna.
Di meja makan sudah berkumpul Anton, Rizki, dan Raka. Saras juga ada di sana. Satu kursi kosong tersedia untuk Miranda. Biasanya kursi itu selalu diduduki Saras, lalu ia sibuk melayani Rizki tanpa malu.
Wajah Rizki tampak masam. Bekas memar di pipinya memang mulai memudar, tetapi Miranda yakin dendam itu belum hilang dari hatinya.
“makan dulu miranda jangan terlalu lelah mengurus amora,” ucap Anton dengan suara lembut.
Miranda hampir tertawa. Begitu cepat wajah itu berubah. Demi sebuah kontrak dengan Karman Wijaya, Anton mendadak menjadi ayah mertua yang manis.
“baik yah,” jawab Miranda.
Ia duduk tenang, mengambil nasi, sayur asam, ayam goreng, dan sambal. Semua makan dalam diam. Sesekali Miranda melirik Saras yang tampak gusar. Sesekali ia menatap Rizki.
Setiap melihat wajah suaminya, dadanya panas. Ingin rasanya menampar lagi lelaki itu. Bisa-bisanya ia mengkhianatinya dengan Melisa, saudara angkatnya sendiri. Selama ini Miranda mengira selingkuhan Rizki adalah Saras.
Kini semuanya terasa lebih pahit.
Dalam hati Miranda bergumam, selama ini kalian ke mana saja. Saat Rizki jatuh, kalian menghilang. Begitu dia sukses, kalian datang mendekat. Kalian memang mata duitan.
Setelah makan selesai, Anton membersihkan tenggorokannya.
“miranda,” ucap Anton, “rizki sudah membuat jadwal pertemuan dengan pak karman besok.”
Miranda tertegun. Dalam hatinya ia tertawa getir.
Rubah tua itu memang cepat membaca peluang.
“baik yah,,besok aku ikit mas rizki,” jawab Miranda.
Sebenarnya ia ingin menolak. Ia ingin lepas dari semua urusan keluarga Sanjaya. Namun terngiang kembali ucapan Nabil, penuhi dulu semua keinginan mereka, baru kamu akan tahu sifat asli mereka.
Karena itu Miranda memilih mengangguk.
Ia sudah mulai memahami satu hal.
Kebaikan keluarga ini bukan lahir dari hati, melainkan dari kebutuhan.
Jika seseorang berguna, mereka akan dirangkul.
Jika tidak lagi berguna, mereka akan disingkirkan tanpa ampun.