NovelToon NovelToon
Dikira Musibah, Nyatanya Berkah.

Dikira Musibah, Nyatanya Berkah.

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / One Night Stand / Cinta setelah menikah
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: cucu@suliani

Mutiara mengira kalau dikhianati oleh kekasihnya adalah hal yang terburuk di dalam hidupnya, musibah yang akan membuat di hidupnya terpuruk. Namun, ternyata hal itu merupakan berkah di dalam hidupnya.

"Kenapa kamu tega, Fajar? Kenapa aku hanya dijadikan lelucon saja di dalam hubungan kita ini?"

Bagaimana kehidupan Mutiara selanjutnya?

Kuy baca, jangan lupa kasih komen yang baik jika suka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DMNB 29

Abidzar kini sudah berada di ruang keluarga bersama dengan Anjar dan juga Cia, dia menatap kedua orang tuanya itu dengan tatapan penuh pertanyaan.

"Coba jelaskan? Sebenarnya apa maksud dari ucapan yang kalian katakan?" tanya Abidzar dengan sangat penasaran.

Bukannya menjawab, Cia malah menangis. Hal itu membuat Abidzar menatap ayahnya dengan tajam, dia kembali curiga kalau ayahnya pernah main gila.

"Kalau Ayah pernah berselingkuh dan memiliki anak di luar nikah, katakan saja Bun. Biar aku yang menghukum ayah."

Anjar langsung melotot mendengar apa yang dikatakan oleh putranya. "Enak saja! Mana ada begitu, Ayah sudah katakan kalau Ayah adalah lelaki setia. Ayah tidak pernah berselingkuh, ataupun memiliki anak dari wanita lain sebelum menikah."

"Lalu, kenapa bisa ada wanita yang mirip banget dengan Ayah? Bahkan usianya aku rasa lebih tua dariku," ujar Abidzar penuh protes.

"Makanya dengerin dulu cerita Ayah sama Bunda, jangan nyelak terus. Apalagi nuduh-nuduh gak jelas!"

"Iya iya, makanya buruan ceritain. Sebenarnya ada apa?"

Anjar sebenarnya merasa enggan menceritakan hal yang terjadi di masa lalu, karena menyimpan kenangan buruk sekali. Hal yang membuat istrinya depresi sampai satu tahun lamanya.

"Sebenarnya sebelum memiliki kamu, kami sudah memiliki putri bernama Liora. Tapi, dia diculik saat berusia 2 bulan.''

"Lalu, kenapa kalian tidak pernah bercerita kepadaku?"

"Karena dulu penculikannya sangat dramatis, hal itu membuat ibu kamu trauma sampai 1 tahun Lamanya. Makanya Ayah tidak pernah mengungkit hal ini, walaupun tak Ayah pungkiri kalau Ayah sering mencari keberadaan kakak kamu."

"Apakah ada ciri-ciri fisik dari kakak kandung perempuan aku itu?"

"Tidak ada, hanya saja Ayah dulu membelikan liontin yang sama dengan kamu. Sama juga dengan yang ibumu pakai, kalau liontin itu terkena air, maka nama kalian akan muncul pada liontin itu."

"Begitu ya? Kalau begitu bagaimana kalau kita langsung tanyakan saja kepada perempuan itu tentang liontin tersebut?"

"Jangan gegabah, kita tidak boleh melakukan hal itu. Kita harus mencari tahu hal ini dengan detail, jangan sampai salah orang."

"Ya udah terserah Ayah, tapi aku mau tahu bagaimana ceritanya kakakku bisa diculik saat itu."

"Baiklah, Ayah akan ceritakan. Malam itu---"

Mata Anjar menerawang jauh, mengingat apa yang terjadi dua puluh lima tahun yang lalu.

Malam itu, aspal basah sisa hujan mencerminkan lampu mobil yang berpendar gelisah. Harusnya ini menjadi kepulangan yang hangat.

Akhir dari perjalanan panjang mengenalkan Liora pada saudara Anjar di kampung halamannya. Namun, beberapa kilometer sebelum gerbang kediaman Pramudya, dunia mereka terasa runtuh.

​Suara deru mesin mobil Anjar tiba-tiba tenggelam oleh pekikan rem yang memilukan. Tiga motor besar melintang, menutup jalan layaknya jeruji besi.

​"Sayang, kenapa berhenti mendadak? Bagaimana kalau aku dan baby Liora kenapa-kenapa?"

Suara Cia bergetar. Ia mendekap Liora lebih erat. Bayi dua bulan itu menggeliat kecil dalam bedongan katunnya, dia tidak sadar bahwa maut sedang mengincar ketiganya.

​"Ada perampok, Sayang! Jangan keluar apa pun yang terjadi!"

Anjar menjawab dengan suaranya yang gelisah, tangannya mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih.

Nyalinya ciut juga saat melihat empat orang preman yang ada di hadapannya, ada yang membawa balok, parang, cerulit dan juga belati.

​BRAKK!

​Kaca samping pengemudi hancur berkeping-keping. Sebuah balok kayu merangsek masuk, disusul tangan kasar yang menarik kerah baju Anjar.

​"Keluar, Bangsatt! Atau kami bakar mobil ini dengan kalian di dalamnya!"

​Belum sempat Anjar menjawab, dia diseret keluar. Tubuhnya menghantam aspal yang dingin. Sepatu lars menghujam perutnya berkali-kali. Di dalam mobil, jeritan Cia pecah saat pintu penumpang dibuka paksa.

​"Tolong! Jangan! Ambil apa saja, tapi tolong jangan anakku!" Cia memohon, suaranya serak karena ketakutan yang mencekik.

​Salah satu preman yang memiliki codet di wajahnya mempas Liora dengan kasar. "Bayi cantik. Pasti mahal harganya jika dijual di pasar gelap," seringainya.

​Dua preman lainnya dengan mata yang lapar dan menjijikkan menyudutkan Cia ke kursi belakang. Baju Cia dirobek dengan suara yang memuakkan.

Tubuh bagian atas Cia sudah terbuka, menampilkan kedua dada besar Cia yang sangat menggoda.

"Waah! Santapan enak," ujar preman itu sambil menjulurkan lidahnya.

Cia merasa takut sampai mual, apalagi ketika tangan kasar preman itu mulai mengusap wajahnya. Cia menangis ketakutan, dia berusaha meminta tolong kepada suaminya.

"Sayang! Tolong!"

Tangisan Cia melambangkan rintihan jiwa yang hancur. ​Mendengar jeritan istrinya, adrenalin Anjar meledak, melampaui rasa sakit tulang rusuknya yang retak.

"Jangan sentuh istriku!" teriak Anjar.

Dengan gerakan kalap, ia meraih potongan kaca tajam di aspal, dia menusukkannya ke kaki preman yang memukulinya, lalu merebut balok kayu itu.

​BUGH!

BUGH!

​Anjar mengamuk. Ia menghantam dua pria yang sedang mencoba menindih istrinya hingga mereka terjungkal keluar dari mobil.

Ia berdiri di pintu mobil yang terbuka, napasnya memburu, darah mengucur dari pelipisnya.

Cia meringkuk di sudut kursi dengan tubuh yang gemetar hebat. Tubuh bagian atasnya polos, sedangkan celana yang Cia pakai sudah tak berbentuk, matanya kosong karena trauma yang instan.

​"Pergi, Setan! Pergi!" teriak Anjar kalap.

​Namun, kemenangan itu terasa hambar saat mesin motor di kejauhan menderu kencang.

​"SAYANG! LIORA MANA?!"

Cia berteriak, suaranya pecah saat menyadari gendongannya kosong.

​Anjar menoleh ke arah jalan. Di sana, di bawah lampu jalan yang remang, si preman dengan codet di wajahnya sudah menaiki motor. Tangannya mendekap selimut kecil yang dia kenal, Liora ada di sana.

​"TIDAK! KEMBALIKAN!"

Anjar berlari sekuat tenaga, tetapi kakinya yang cedera membuatnya tersungkur.

"Jangan ambil anakku!" teriak Anjar yang disambut tawa kedua preman itu.

Tawa preman itu menggema, lalu menghilang ditelan kegelapan malam.

​Hening mendadak mencekam. Hanya suara isak tangis Cia yang terdengar di tengah jalanan sepi, meratapi kekosongan di pelukannya.

Liora pergi dibawa oleh kedua preman dalam kegelapan, sedangkan kedua preman lainnya hampir tak sadarkan diri karena dipukuli secara membabi buta oleh Anjar.

"Astaghfirullah! Siapa pelakunya, Yah? Kenapa sangat tega?"

"Pesaing bisnis kita," jawab Anjar.

"Kurang ajar sekali, kalau begitu kita harus cepat cari tahu tentang kakak. Kita bawa dia pulang," ujar Abidzar.

"Ya," jawab Anjar.

"Bagaimana dengan pesaing bisnis Ayah?"

"Mereka sudah mendapatkan ganjarannya, tetapi sayangnya kakak kamu tidak ditemukan. Bunda kamu sampai depresi 1 tahun, makanya Ayah tidak pernah membahas hal ini lagi."

"Maaf Ayah, Bunda. Aku janji akan mencari tahu kebenarannya, kalau dia kakakku, aku janji akan buat dia bisa berkumpul kembali dengan kita."

1
stela aza
itu pas lagi ngmng di rekam g tue ,,, bisa jadi bukti akurat kalau di rekam
isnaini naini
nah kan ...fjr yg mnghrp kmatian arkan...
stela aza
kenapa g ngawasin si anak pungut udh tau curiga aturan harus bisa lebih hati2 lagi sama si pungut itu ,,, gemes bgt deh ,,, gunakan uangmu biar tau pelaku sebenarnya,,, kurang keren si Arkan ,,,, g kaya CEO2 lain yg tokcer ,, ceritanya trus pinter ya g ketulungan
stela aza
bodoh bgt sie Arkan masa g inget abis di kasih makan sama anak pungut langsung begitu keadaannya masa g g curiga sie ,,, bodohnya g ketulungan,,,🤦
stela aza
kayanya anak pungut yg hilang kendali
isnaini naini
siapa dlng nya thor...fajar ta...emang dsr anak pungut tk tau diri
stela aza
emang di rumah s Arkan g ada cctv lama2 s fajar nggilani ,,, aturan mutiara ngmng sama Arkan kalau dia mau di lecehin sama anak pungutnya biar fajar di kasih pelajaran syukuy2 kasih tau kalau dia cuma anak pungut biar stok terapi 🤦
Wiwi Sukaesih
tenang Arkan it bapak mertua kamu 😁
stela aza
akhirnya bentar lagi ketemu keluarganya
stela aza
dasar bodoh
isnaini naini
nah itu tau...baru nyadar pak..yg km pilih batu kali...
isnaini naini
ksihn amat alice..preman aj gak doyan ...
isnaini naini
jngn2 alice main sm porter kereta...krna gk thn...
Anita Rahayu
Buat alice di penjara da di siksa di sel yg penghuninya korban pelakor thor pasti kena mental👍👍👍👍
isnaini naini
telat pak nyeselnya....
evi solina
pernikahan kok di buat mainan dosa loh
evi solina
move on itu harus elegan bikin goyang perusahaan nya, bukan dgn cara mabok
evi solina
mundu mut harga diri injak kok mau aja, laki pengecut begitu
evi solina
laki pecundang jgn di percaya
sakura
....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!