Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.
Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.
Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
"Emmm, eh Mas anu ..." ucap Kiara gugup saat mendengar suara ketukan dari luar kamarnya.
Tak lama, suara bibi terdengar lembut dari balik pintu, memberi tahu bahwa makan malam sudah siap dan Tuan serta Nyonya menunggu di bawah.
“Sebentar ya, Bi,” sahut Kiara dari dalam kamar. Setelah itu, langkah kaki bibi pun menjauh.
Kiara menoleh ke arah Alvar, lalu mendorong dada pria itu pelan.
“Mandi dulu. Habis itu kita makan bareng.”
Alvar mengangguk, senyumnya mengembang. Ia menerima handuk yang disodorkan Kiara, lalu melangkah ke kamar mandi. Namun, baru beberapa langkah, pandangannya tak sengaja tertuju pada jemuran kecil di sudut kamar mandi, jemuran khusus pakaian dalam.
Alvar terkekeh. “Warna-warni juga ya,” godanya santai. “Ada pink, merah, kuning … hitam juga.”
Kiara yang baru menyadari itu langsung membeku. Wajahnya seketika memerah. “Mas! Jangan dilihatin. Kamu fokus mandi aja,” protesnya sambil menunduk malu.
Alvar hanya tertawa kecil dari balik pintu kamar mandi, lalu menutupnya perlahan dan mulai mandi, sementara Kiara masih berdiri di tempat dengan jantung berdebar dan pipi yang terasa panas.
Alvar tertawa kecil dari balik pintu kamar mandi, suaranya terdengar ringan dan menggoda.
“Ya ampun, istriku ini ternyata penuh warna,” ujarnya santai.
“Mas Alvar!” Kiara menutup wajahnya dengan kedua tangan, malu setengah mati. “Fokus mandi aja, jangan aneh-aneh.”
“Iya, iya,” jawab Alvar sambil terkekeh. “Aku mandi. Tapi jujur ya … lucu.”
Kiara mendengus kesal, tapi sudut bibirnya justru terangkat tanpa sadar. Begitu suara air mengalir lebih deras, ia menarik napas panjang, menepuk-nepuk pipinya sendiri yang masih terasa panas.
Dia merapikan tempat tidur sekadarnya, lalu membereskan bingkai foto di meja belajar, satu per satu ia balik menghadap bawah.
Beberapa menit kemudian, Alvar keluar dari kamar mandi dengan rambut masih basah, handuk melingkar di leher. Tatapannya langsung menemukan Kiara yang sedang berdiri di dekat jendela.
“Kita turun?” tanya Alvar lembut.
Kiara mengangguk. “Iya, Papa pasti sudah nunggu.”
Saat mereka melangkah keluar kamar, Alvar spontan meraih tangan Kiara.
Tiba di meja makan, Kiara dan Alvar langsung duduk berdampingan. Suasana ruang makan terasa hangat, meski ada kecanggungan tipis yang belum sepenuhnya menghilang. Pelayan yang sudah siap melayani Alvar melangkah mendekat, namun sebelum sempat berbicara, Tuan Rahmat mengangkat tangan memberi isyarat.
“Kiara saja,” katanya tegas namun tenang. “Layani suamimu, Kiara.”
Kiara terkejut sejenak, dia menoleh ke arah papanya, lalu ke Alvar. Ada ragu yang singgah di wajahnya, tapi tatapan Rahmat membuatnya tak membantah. Perlahan, Kiara bangkit dari kursinya.
Ia mengambil piring Alvar, menyendokkan nasi dan lauk dengan gerakan hati-hati. Alvar memperhatikannya tanpa berkata apa-apa, sorot matanya lembut, nyaris tak percaya melihat Kiara melakukan itu untuknya. Saat Kiara meletakkan piring di hadapannya, jemari mereka sempat bersentuhan singkat.
Kiara buru-buru menarik tangannya, duduk kembali dengan wajah sedikit menunduk. Alvar tersenyum kecil, ada rasa hangat yang menyelinap ke dadanya, bukan karena dilayani, tapi karena Kiara mau melakukannya.
Melati memperhatikan dari seberang meja, helaan napasnya perlahan mengendur. Rahmat sendiri tampak puas, lalu mulai menyantap makanannya, makan malam berjalan dengan lancar.
Beberapa waktu kemudian, mereka kembali ke kamar. Kiara langsung membuka lemari dan mengambil selimut baru, lalu menggelarnya di ranjang miliknya juga.
“Mas tidur di sini saja,” ucapnya pelan sambil menyerahkan selimut itu.
Alvar menerima, tapi pandangannya justru beralih ke meja belajar. Dia melangkah mendekat, matanya menyapu permukaan meja yang kini tampak kosong. Tak ada lagi bingkai foto yang tadi membuat dadanya sesak.
“Kemana foto-foto itu?” tanyanya, suaranya datar tapi jelas ada rasa ingin tahu.
Kiara berdiri di belakangnya. “Sudah aku buang,” jawabnya singkat. Tidak ada penjelasan panjang, seolah masa lalu itu memang ingin ia tutup rapat.
Alvar menoleh, menatap Kiara cukup lama, lalu tersenyum tipis. Dia kembali ke arah ranjang, namun saat Kiara menyodorkan selimut dengan jarak aman, Alvar justru berucap santai, “Kalau begitu … apa kita perlu bikin foto pernikahan juga?”
Sebelum Kiara sempat menjawab, tangan Alvar meraih pergelangan tangannya. Tarikannya tidak keras, tapi cukup membuat Kiara kehilangan keseimbangan. Tubuh Kiara terjatuh ke depan, tepat di hadapan Alvar yang sudah duduk.
“Mas—” Kiara refleks hendak bangkit, namun terhenti.
Alvar mengangkat tangannya, menyibak helai rambut Kiara yang menutupi matanya. Kiara memalingkan wajahnya, pipinya memanas, jantungnya berdetak tidak karuan. Namun, Alvar tidak membiarkannya menjauh. Dua jarinya menyentuh dagu Kiara dengan lembut, mengarahkannya kembali hingga pandangan mereka bertemu.
Tatapan Alvar dalam, serius, namun hangat. Tak ada paksaan di sana hanya keinginan untuk dilihat, diakui.
“Kiara,” ucapnya pelan, membuat napas Kiara tercekat.
Alvar menunduk perlahan, memberi Kiara waktu, namun saat jarak itu tertutup, ciumannya jatuh lembut di bibir Kiara. Bukan ciuman yang tergesa, melainkan hangat dan penuh perasaan, seolah ia ingin memastikan Kiara benar-benar ada di sana bersamanya.
Tangannya mengatur posisi Kiara dengan hati-hati, hingga tubuh Kiara kini berada di atas tempat tidur, sementara Alvar menyangga tubuhnya di atas, menjaga jarak agar Kiara tidak merasa terhimpit. Ciuman itu berlanjut, semakin dalam, semakin jujur, membuat Kiara tanpa sadar ikut terbawa suasana. Jantungnya berdegup cepat, napasnya tak lagi teratur.
Alvar berhenti sejenak, kening mereka saling bersentuhan. Dengan suara rendah, nyaris berbisik di telinga Kiara, ia mengucapkan kata-kata lembut, tentang betapa ia menginginkan Kiara, betapa ia menghargainya.
“Aku nggak akan lanjut kalau kamu nggak mau,” ucapnya pelan.
“Bilang saja, biar aku berhenti.”
Kiara tak langsung menjawab.
Saat Alvar hendak menarik diri, dua tangan Kiara justru menahan pinggangnya. Sentuhan itu ringan, namun cukup membuat Alvar mengerti jawabannya. Dia menghembuskan napas lega, lalu kembali mendekat.
Ciumannya berpindah ke pipi, kening, lalu menyusuri leher Kiara dengan lembut, seakan ingin menghafal setiap bagiannya. Malam itu dipenuhi keheningan yang hangat, bukan sekadar hasrat, melainkan perasaan yang akhirnya saling mengakui.
Tangan Alvar bergerak perlahan mematikan lampu tidur, menyisakan cahaya temaram dari lampu langit-langit. Kamar itu terasa mengecil, seolah hanya ada mereka berdua dan detak jantung yang saling menyusul.
Kiara memejamkan mata. Setiap sentuhan Alvar membuat tubuhnya bergetar, bukan karena takut, tapi karena rasa asing yang hangat. Dia tak pernah tahu bahwa disentuh dengan cara seperti ini bisa terasa begitu membahagiakan. Ada rasa aman, ada ketenangan, seakan selama ini hatinya yang lelah akhirnya diberi tempat untuk beristirahat.
“Mas…” napas Kiara tertahan, suaranya nyaris tak terdengar.
Alvar berhenti seketika, dahi mereka bersentuhan.
“Aku di sini,” katanya lembut, sabar. “Dengar napasmu aja aku sudah tahu kamu gugup.”
Sentuhan berikutnya lebih pelan, lebih hati-hati. Dan justru di sanalah Kiara merasakan sesuatu yang membuat dadanya sesak, bahagia yang sederhana, tapi begitu penuh. Dia menggenggam kain baju Alvar, seolah takut pria itu menghilang jika ia melepasnya.
“Aku … nggak pernah merasa begini,” bisik Kiara jujur. Suaranya bergetar, matanya terasa panas.
“Aku pikir aku sudah mati rasa.”
Alvar mengusap rambut Kiara, menenangkan.
“Kalau begitu,” katanya lirih, “biar malam ini aku yang jaga perasaan kamu.”
Setiap kali Kiara memohon dengan suara kecil agar Alvar lebih pelan, pria itu menurut tanpa ragu. Tidak ada paksaan, tidak ada ego hanya kesabaran dan keinginan untuk membuat Kiara merasa dicintai sepenuhnya.
Air mata Kiara jatuh, bukan karena sakit, melainkan karena bahagia yang terlalu penuh. Ia tak menyangka, pria yang awalnya terasa asing kini menjadi tempat paling aman untuk ia bersandar.
“Mas Alvar…” Kiara membuka mata, menatapnya. “Terima kasih … sudah sabar sama aku.”
Alvar tersenyum kecil, lalu mencium keningnya dengan penuh perasaan.
“Aku akan selalu sabar,” ucapnya. “Selama itu kamu.”
"Aah, Mas..." Kiara menutup mulut dengan lengannya, keduanya matanya terpejam. Alvar memindahkan lengan itu dan menggenggamnya erat.
Malam itu bukan tentang seberapa dekat tubuh mereka berada. Tetapi, seberapa nikmatnya yang Kiara rasakan sebesar itulah cinta Alvar pada istrinya.
Manteman ayo ramaikan novel temanku, ceritanya bagus dan bikin kalian tertarik untuk lanjut sampai end!!
outhor nih selalu aja g suka liat alvar seneng