NovelToon NovelToon
Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romansa pedesaan / Perjodohan / Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:256.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.

Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.


Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Pagi itu, setelah petugas kepolisian pergi untuk melanjutkan investigasi ke tempat lain, suasana di sekitar gudang itu kembali lengang, menyisakan puing hitam, bau hangus, dan wajah-wajah lelah yang masih bertahan.

Alvar berdiri mematung di depan sisa gudangnya. Tangannya masuk ke saku celana, pandangannya kosong menatap dinding yang gosong. Di tempat itulah dulu ia menata karung-karung bawang dengan rapi, menghitung hasil panen sambil membayangkan masa depan yang kini terasa jauh.

Beberapa karyawan mendekat dengan raut ragu.

“Mas Alvar…” salah satu dari mereka memberanikan diri.

“Kalau boleh tanya … gaji kami gimana, Mas?”

Pertanyaan itu sederhana, tapi berat semua mata tertuju padanya. Alvar menarik napas dalam, lalu menoleh. Tatapannya tegas, suaranya mantap meski dadanya terasa sesak.

“Tenang,” ucapnya.

“Aku bertanggung jawab. Gaji kalian tetap aku bayar. Aku nggak akan lepas tangan.”

Nada itu membuat para karyawan sedikit lega. Beberapa mengangguk, sebagian mengucap terima kasih lirih. Mereka tahu, Alvar bukan tipe orang yang banyak janji, sekali bicara, ia akan mengusahakannya sampai titik terakhir.

Saat Alvar masih berbincang dengan warga desa, sebuah mobil berhenti tak jauh dari sana. Pintu terbuka, dan seorang wanita turun dengan langkah ragu tapi pasti.

Alvar menyadarinya dari sudut matanya, dia menoleh perlahan.

“Mas Alvar,” sapa Hesti lembut.

“Aku dengar soal kebakaran ini. Aku turut bersedih … aku tahu gudang ini berarti banyak buat kamu.”

Alvar mengangguk singkat. “Terima kasih, Dok.”

Untuk sesaat, Alvar memperhatikan wajah Hesti dengan seksama. Wajah yang familiar yang pernah dekat, pernah menjadi bagian dari hidupnya, tapi kini terasa seperti jarak yang tak bisa lagi dijembatani. Ada rasa canggung yang menggantung di udara, bercampur dengan kenangan lama yang seharusnya sudah selesai.

“Apa kamu … baik-baik saja?” tanya Hesti lagi, suaranya pelan, nyaris khawatir.

“Harus baik,” jawab Alvar jujur.

“Orang tuaku, karyawan, dan istriku bergantung padaku.”

Kata istriku meluncur begitu saja dari bibirnya, tegas, tanpa ragu. Hesti menangkapnya, dan senyum di wajahnya sedikit memudar.

“Kamu baru saja menikah,” ucap Hesti akhirnya.

“Semoga … istrimu selalu menguatkan kamu. Setelah mengetahui, keadaanmu seperti ini,"

Alvar mengangguk lagi. Kali ini, matanya menghangat.

“Dia alasanku bertahan.”

Hesti terdiam, tak ada lagi yang bisa ia katakan. Ia hanya mengangguk kecil, lalu pamit dengan alasan ada pasien yang menunggu.

Alvar menatap punggung Hesti yang menjauh, lalu kembali memandang gudang yang terbakar.

Malam sudah turun sempurna ketika Alvar pulang dari warung Mas Danang. Jalan desa lengang, hanya lampu temaram dan suara jangkrik yang menemani langkahnya. Bau asap sisa kebakaran gudang masih terasa samar, seolah belum benar-benar pergi dari udara atau dari kepalanya.

Di tikungan dekat pohon randu, ia melihat Supradi.

Pria itu duduk di atas motornya, mesin masih menyala pelan. Tatapannya lurus ke depan, tapi sudut matanya jelas menangkap keberadaan Alvar.

Alvar berhenti melangkah.

“Prad,” sapa Alvar, suaranya datar, berusaha tetap tenang.

Supradi melirik, senyum miring terbit di sudut bibirnya.

“Oh … Tuan Kota pulang malam juga sekarang?”

Alvar mengabaikan nada itu. Ia melangkah mendekat, menjaga jarak aman.

“Aku cuma mau tanya,” katanya pelan.

“Sejak kebakaran itu, kamu sering mondar-mandir depan rumah orang tuaku. Ada perlu apa?”

Supradi terkekeh kecil. “Kenapa? Rumah itu sekarang pakai CCTV juga?”

“Aku serius,” Alvar menatapnya lurus. “Gudang itu satu-satunya sumber penghidupan keluarga kami.”

Wajah Supradi berubah, senyumnya memudar, digantikan sorot mata yang tajam.

“Kamu nuduh aku?” suaranya meninggi setengah nada.

“Aku nggak nuduh,” jawab Alvar cepat.

“Aku cuma nanya.”

“Gaya bicaramu itu nuduh!” bentak Supradi. Ia turun dari motor, langkahnya maju satu kali. “Mentang-mentang kamu sekarang orang kota, suami orang kaya, seenaknya tanya orang!”

Alvar menahan napas, dadanya naik turun, tapi suaranya tetap dijaga.

“Kalau kamu nggak ada hubungannya, harusnya kamu tenang.”

Kalimat itu seperti api yang disiram bensin.

Supradi tertawa pendek, kasar.

“Untuk apa aku bakar gudangmu? Hah?” Ia mendekat lebih jauh.

“Apa untungnya buat aku?”

“Kalau memang nggak ada, jelasin baik-baik,” ucap Alvar.

“Kenapa kamu ancam aku soal Hesti? Kenapa kamu keliatan nggak suka aku balik ke desa?”

Nama itu membuat wajah Supradi mengeras. Dalam sekejap, tangannya mencengkeram kerah kemeja Alvar, menariknya kasar hingga tubuh Alvar terdorong ke belakang.

“Jaga mulutmu!” geram Supradi tepat di depan wajahnya.

“Kamu nggak punya bukti apa-apa, tapi berani-beraninya nyeret namaku!”

Alvar mencengkeram pergelangan tangan Supradi, menahan tarikannya. Tatapan mereka bertabrakan, panas, penuh dendam lama yang tak terucap.

“Aku cuma mau kebenaran,” kata Alvar rendah.

“Kalau bukan kamu, aku harap kamu nggak keberatan aku cari tahu.”

Supradi melepas kerah Alvar dengan dorongan keras.

"Kalau kamu terlibat sama kebakaran gudang itu, aku nggak akan lepaskan kamu! Pradi!" teriak Alvar yang tak bisa lagi menahan emosinya.

“Hati-hati,” katanya dingin.

“Orang yang kebanyakan tahu biasanya hidupnya nggak lama tenang.”

Mesin motor digeber keras. Supradi pergi meninggalkan debu dan amarah di belakangnya. Alvar berdiri kaku di tempatnya, napasnya berat, tangannya mengepal.

Keesokan paginya.

Gara-gara masalah di desa, Alvar tanpa sadar menjauh dari Kiara. Sudah hampir seminggu ia berada di rumah orang tuanya, tapi tak satu pun malam ia benar-benar menghubungi istrinya. Ponselnya selalu berdering, nama Kiara muncul berkali-kali namun layar itu hanya kembali gelap tanpa pernah disentuh.

Pagi itu, embun masih menggantung di dedaunan ketika Alvar bersiap pergi ke sawah. Ia memasukkan dompet ke saku, meraih topi caping, lalu berhenti sejenak saat suara ibunya terdengar dari belakang.

“Var.”

Alvar menoleh, Sulastri berdiri di ambang pintu kamar, menatap ponsel yang tergeletak di atas lemari kecil.

“Sejak semalam itu ponselmu berdering terus,” ujar Sulastri, nadanya tertahan tapi jelas penuh tanya.

“Ibu tahu itu Kiara.”

Alvar menghela napas pelan. Tangannya meremas tali jam tangan di pergelangan.

“Aku nggak menjauh, Bu,” katanya akhirnya. “Aku cuma … lagi butuh tenang.”

Sulastri melangkah mendekat wajahnya menegang.

“Kamu mau tenang di sini,” katanya tajam, “tapi istrimu di Jakarta gelisah. Kamu pikir dia nggak kepikiran?”

Alvar terdiam.

“Dia istrimu, Var,” lanjut Sulastri, kini suaranya meninggi.

“Kalau ada orang lain mendekatinya gimana? Kamu nggak mikir sampai ke situ?” Bentakan itu menghantam tepat di dadanya.

Alvar menunduk, rahangnya mengeras. Napasnya berat, seperti ada beban besar menekan paru-parunya. Ia tahu ibunya benar. Ia tahu Kiara pasti menunggu kabar, mungkin menatap layar ponselnya dengan perasaan yang sama seperti saat ia berdiri sekarang bingung, cemas, dan sendirian.

Sulastri menatap anaknya dengan frustrasi. Kerutan di wajahnya semakin dalam. Ia melihat jelas kegusaran di raut Alvar, lelaki itu kelelahan, bukan hanya oleh masalah uang dan gudang yang terbakar, tapi juga oleh ketakutan kehilangan sesuatu yang baru saja ia miliki.

“Aku cuma nggak mau kamu menyesal,” ujar Sulastri lebih pelan, namun menusuk. “Kamu baru mulai hidupmu, Var.”

Alvar mengangguk pelan.

“Aku akan bicara sama Kiara setelah pulang dari sawah, Bu,” katanya lirih, seolah meyakinkan diri sendiri.

Dia meraih kunci motor, melangkah keluar rumah tanpa menoleh lagi. Mesin motor menyala, memecah kesunyian pagi.

Matahari sudah naik cukup tinggi ketika Alvar kembali dari sawah. Debu tipis menempel di celana dan sepatunya, keringat membasahi tengkuk. Kepalanya masih penuh, tentang gudang, tentang karyawan, tentang Kiara yang entah bagaimana keadaannya di Jakarta.

Belum sempat ia masuk ke rumah, suara itu memanggilnya.

“Alvar.”

Dia menoleh, Hesti berdiri tak jauh dari pagar, mengenakan pakaian kerjanya dan tas kecil di bahunya. Wajahnya tampak lega begitu melihat Alvar menatapnya.

“Ada apa, Dok?” tanya Alvar singkat dan panggilannya kini formal.

“Aku mau ke puskesmas,” jawab Hesti cepat, lalu tersenyum kecil.

“Bisa antar aku? Motor aku lagi dipakai adik, mobil dinas di pukesmas."

Alvar nyaris menolak. Bibirnya sudah terbuka, alasan sudah hampir keluar. Tapi ingatannya terhenti pada satu hal yaitu Supradi.

Ia butuh informasi dan Hesti, sebagai orang yang lama tinggal di desa, mungkin tahu lebih banyak dari yang ia duga. Apalagi Supradi mantan suami Hesti.

"Iya,” jawab Alvar akhirnya. “Naik aja.”

Wajah Hesti langsung berbinar. Tanpa menunggu lama, ia melangkah mendekat dan naik ke atas motor Alvar. Tangannya berpegangan di sisi jok, menjaga jarak, tapi tetap saja, kedekatan itu terasa janggal bagi Alvar.

Motor melaju meninggalkan halaman rumah.

Di tikungan kecil dekat sawah, Siti baru saja naik ke jalan utama. Langkahnya terhenti saat matanya menangkap pemandangan itu Alvar, di atas motor, dengan Hesti dibonceng di belakangnya.

Tatapan Siti mengeras, bibirnya terkatup rapat. Ada rasa tak nyaman yang menyelinap di dadanya, bukan cemburu yang meledak-ledak, melainkan kekecewaan yang sunyi.

“Harusnya kamu jaga jarak,” gumamnya lirih, entah ditujukan pada siapa. Siti lalu melangkah pergi meninggalkan jalan itu, tak lama muncul Supradi dengan motornya.

Sementara itu, di atas motor, Hesti tampak ceria, bahkan terlalu ceria.

“Kamu kelihatan capek,” katanya sambil sedikit condong ke depan agar suaranya terdengar.

“Gudang itu pasti bikin pikiran kamu berat.”

“Iya,” jawab Alvar datar.

“Makanya aku mau tanya.”

Hesti terdiam sejenak.

“Tanya apa?”

“Supradi,” ucap Alvar tanpa basa-basi.

“Kamu kenal dia lama, dan dia mantan suamimu. Dia punya masalah apa sama keluargaku?”

Motor tetap melaju, tapi Hesti menegang. Jeda singkat itu sudah cukup untuk membuat Alvar sadar ada sesuatu yang Hesti tahu.

“Di desa ini,” kata Hesti akhirnya, pelan, “dendam lama itu jarang benar-benar mati, Var.”

Alvar mengencangkan rahangnya, mereka tiba di depan pukesmas.

"Kalau kamu tahu sesuatu tentang Supradi aku mohon beritahu aku." kata Alvar.

"Kamu curiga sama dia?" tanya Hesti, Alvar tak menjawab tetapi mengangguk.

1
Ariany Sudjana
tetap semangat yah dokter Alvar, Dan tunjukkan kamu jadi dokter yang kompeten dan berintegritas. tapi harus selalu waspada yah, banyak dokter senior yang tidak suka sama kamu
suryani duriah
yg senior hrsnya bangga sama yg masih muda tapi kompeten ini malah iri😔
dyah EkaPratiwi
dr Bram tambah iri ini sama alvar
Teh Euis Tea
dr bram sepertinya iri sm alvar nih
Rokhyati Mamih
begitulah profesi kalau kita maju dan bertanggung jawab justru ada aja yang menjegal 💪💪💪💪 buat Alvar
tiara
semangat Alvar tapi tetap waspada ya
Nar Sih
dr bram iri dgn mu alvar ,tetap hti,,dan waspada org yg ngk suka slalu cri jln buat jatuhin lawan nya ,semagatt akvar💪😊
Hendra Yana
lanjut
Oma Gavin
dokter bram sengaja menjebak alvar dan ingin menjatuhkan tapi sayangnya alvar berhasil operasi dgn sukses
Nar Sih
sabarr ya alvar ,org baik pasti bnyk ujian
Esther
pasienmu itu dokter Bram, jangan pura2 lupa ya
Esther
malah saling tuduh, tangani dulu pasiennya itu lho
tiara
bukannya cepat ditangani malah ribut ini para dokter senior, semoga masalahnya dapat segera diatasi ya
Aditya hp/ bunda Lia
ini para senior malah saling tuduh pasien udah kritis pula dasar gak ngotak ntar Alvar yang tangani dia jadi tambah harum namanya kalian lebih sirik lagi ....
Siti Amyati
ujian buat alvar smoga cepat kembali seperti semula ,emang pingin sukses banyak rintangan apalagi penyakit hati bikin daeting
Narti Narti
maa baru mampir kak🤭🤭🤭
Nar Sih
semoga kebahagiaan yg seperti ini terus berjalan di rmh tangga mu ya alvar kiara ,dan gk ada ujian yg berat lgi😊
Gadis misterius
Bermacam2 tipe orang yg ada dialam semesta ini, slah satunya yg iri dengki meliht orang lain bahagia mlah panas ada orang yg melihatt orang lain bahagia ikut bahagia jd hati2 krn manusia seperti yg iri dengki
Esther
pasien terakhir, pasien istimewa ya Alvar
Esther
antrian pasien langsung pindah ke dokter baru Alvar.
pasti dokter lama ada yang iri dengki, hati2 Alvar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!