"Duduk di sini." ujarnya sembari menepuk paha kanannya.
Gadis itu tak salah dengar. Pria itu menepuk suatu tempat yakni pahanya sendiri. Dengan ekspresi datar seolah itu tak mengagetkan dan sudah menjadi kebiasaan di sana. Orang-orang di sekelilingnya pun tampak sama. Tak bereaksi, seolah itu hanya salah satu hal biasa dari serangkaian acara. Namun, tidak bagi gadis itu. Bisa-bisanya pria itu bertindak tidak tahu malu seperti ini di hadapan semua orang? Ia benar-benar tak habis pikir!
"Tidak mau."
Reaksi semua orang yang ada di sana sangat terkejut. Semua berbisik, tetapi tidak ada yang berbicara langsung seolah segan dengan sosok yang duduk di kursi paling mewah seperti seorang raja itu.
Pedang mulai mengarah ke leher gadis itu. Bukan dari pria itu, tetapi dari orang-orang yang seperti prajurit ini.
"Beraninya kau." ujar pria itu penuh amarah seolah ini adalah penghinaan terbesar terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan Beracun
Keheningan yang tercipta setelah kain itu jatuh jauh lebih mengerikan daripada keributan mana pun.
Sejenak, ruang sidang kekaisaran seolah membeku. Tidak ada yang berani bergerak. Tidak ada yang berani bersuara. Bahkan napas pun terasa terlalu keras.
Bekas cekikan di leher Bai Ruoxue terlihat jelas di bawah cahaya pagi. Merah keunguan, tidak samar, tidak bisa disamarkan sebagai luka kecil atau iritasi biasa. Itu adalah tanda kekerasan. Tanda ancaman. Tanda bahwa sesuatu yang kotor telah menyentuh tubuh seorang selir kekaisaran.
Tubuh selir seharusnya suci dan bersih. Hanya kaisar yang dapat menyentuhnya. Atau, tubuh yang kotor sudah tak bisa mendapatkan gelar selir lagi. Karena sudah tak pantas.
Dan semua orang melihatnya.
Para menteri yang belum sepenuhnya meninggalkan ruang sidang berhenti di tempat. Beberapa dari mereka menunduk lebih dalam, pura-pura tidak melihat, namun sudut mata mereka mengamati dengan saksama. Ada pula yang refleks menelan ludah, menyadari bahwa apa pun yang terjadi setelah ini bukanlah sesuatu yang boleh mereka saksikan—namun juga bukan sesuatu yang bisa mereka lupakan.
Para selir yang berdiri tidak jauh dari sana saling bertukar pandang.
Kejutan.
Kecurigaan.
Dan—di sebagian mata—kepuasan tersembunyi.
Bisikan mulai muncul. Pelan, tertahan, namun menyebar cepat seperti racun.
“Apa itu…?”
“Bekas tangan…?”
“Bagaimana mungkin… di istana?”
Ibu suri yang duduk di tempat terhormat mengernyitkan dahi. Wajahnya tetap tenang, namun sorot matanya mengeras. Ia telah hidup cukup lama di istana untuk tahu bahwa tanda di leher itu bukan perkara kecil. Itu bisa menjadi skandal. Bisa menjadi alat. Bisa menjadi senjata.
Dan di antara semua tatapan itu, Mei Yuxin berdiri diam.
Wajahnya tidak menunjukkan emosi berlebihan. Tidak terkejut secara berlebihan. Tidak pula panik. Namun jika diperhatikan lebih saksama, ada kilatan tajam di matanya—kilatan yang hanya muncul ketika ia melihat kesempatan.
Tangannya yang tadi mengepal kini perlahan mengendur.
Jadi ini rahasiamu, Bai Ruoxue…
Di dalam dadanya, sesuatu bergetar. Bukan empati. Bukan simpati. Melainkan rasa puas yang dingin.
Li Chenghan masih berdiri di hadapan Bai Ruoxue, tangannya telah ditarik kembali, namun tubuhnya tetap condong sedikit ke depan. Matanya terpaku pada leher itu, lalu kembali ke wajah Bai Ruoxue yang pucat.
“Siapa yang melakukannya?” tanyanya pelan.
Nada suaranya rendah, namun berbahaya. Tidak ada amarah yang meledak-ledak. Yang ada justru ketenangan yang menakutkan—ketenangan seseorang yang sedang menahan sesuatu yang besar.
Bai Ruoxue tidak menjawab.
Bukan karena tidak mau.
Melainkan karena ia tidak tahu bagaimana caranya. Ia juga tidak tahu. Ia tidak tahu apapun.
Jika ia berbicara, ia membuka pintu ke jurang yang lebih dalam. Jika ia diam, ia dicurigai. Setiap pilihan terasa salah.
Keheningan itu dimanfaatkan.
“Yang Mulia,” suara Mei Yuxin terdengar lembut, nyaris penuh kepedulian. Ia melangkah maju setengah langkah, cukup dekat untuk terlihat terlibat, namun tidak cukup dekat untuk terlihat agresif.
“Maafkan saya jika lancang,” lanjutnya, nada suaranya terukur dengan sempurna, “namun ini terjadi di hadapan umum. Bukankah lebih baik jika Selir Xue beristirahat terlebih dahulu?”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara yang lebih lirih, seolah benar-benar memikirkan kebaikan Bai Ruoxue.
“Keadaannya tampak… tidak stabil.”
Beberapa selir mengangguk kecil, seakan menyetujui. Beberapa lainnya menatap Mei Yuxin dengan tatapan waspada. Mereka tahu—kata-kata itu terdengar baik, namun maknanya berlapis.
Tidak stabil.
Kata yang berbahaya bagi seorang selir.
Li Chenghan menoleh ke arah Mei Yuxin. Tatapannya tajam, seakan mencoba membaca niat di balik wajah yang tampak lembut itu.
“Menurutmu,” katanya perlahan, “apa yang seharusnya kulakukan?”
Pertanyaan itu sederhana. Namun semua orang tahu, itu bukan pertanyaan biasa. Itu adalah ujian.
Mei Yuxin menunduk hormat. Bibirnya melengkung tipis, nyaris tak terlihat.
“Saya hanya memikirkan nama baik istana, Yang Mulia,” jawabnya. “Jika kabar ini menyebar tanpa kejelasan, akan muncul banyak spekulasi. Terutama… tentang keamanan di dalam istana.”
Kata keamanan diucapkan dengan tekanan halus.
Beberapa menteri yang masih ada di ruangan saling bertukar pandang. Mereka menangkap maksud itu dengan cepat. Jika seorang selir bisa diserang—atau apa pun yang terjadi padanya—di dalam istana, maka itu bukan hanya masalah pribadi.
Itu masalah kekaisaran.
Ibu suri akhirnya berbicara.
“Yang Mulia,” suaranya tenang namun penuh wibawa. “Ini bukan tempat yang pantas untuk pembahasan lebih lanjut. Namun tanda di tubuh Selir Xue tidak bisa diabaikan.”
Ia menatap Bai Ruoxue lama, seolah menimbang sesuatu.
“Gadis ini… selalu tenang. Jika ia sampai terluka seperti ini, maka ada sesuatu yang serius terjadi.”
Bai Ruoxue menggenggam tangannya sendiri. Kukunya menekan telapak, mencoba menahan gemetar yang semakin sulit dikendalikan.
Tatapan-tatapan itu terlalu banyak.
Terlalu tajam.
Ia merasa seperti sedang ditelanjangi, bukan secara fisik, melainkan secara sosial.
Namun, ini bukanlah perbuatan dirinya. Ia sama sekali tak tahu apa-apa. Ia benci situasi ini. Situasi di mana dirinya tak bisa berkata-kata dan menjadi pihak yang dipojokkan.
Li Chenghan menarik napas panjang.
“Semua yang tidak berkepentingan,” katanya dingin, “keluar.”
Perintah itu jatuh seperti palu.
Para menteri segera membungkuk dan pergi. Beberapa selir tampak enggan, namun tetap mundur sesuai etika. Namun sebelum pergi, tak sedikit yang melirik Bai Ruoxue sekali lagi—tatapan penuh rasa ingin tahu yang kelak akan berubah menjadi gosip.
Mei Yuxin berjalan paling belakang.
Saat melewati Bai Ruoxue, ia berhenti sejenak.
Sangat singkat.
Nyaris tak terlihat.
Namun cukup untuk membuat Bai Ruoxue mendengar bisikan pelan di telinganya.
“Hati-hati, Selir Xue.” ucapnya lembut. “Istana tidak pernah memaafkan kelemahan.”
Lalu ia pergi, langkahnya anggun, wajahnya kembali tenang. Kepuasan terpancar di wajahnya. Bahkan, para selir lain pun melihat hal tersebut. Mei Yuxin tidak berusaha menyembunyikannya. Ia ingin tahu, bahwa sebentar lagi nama Bai Ruoxue akan menghilang di istina ini. Dan, dirinyalah yang akan menjadi pendamping kaisar yang sempurna.
Namun di balik ketenangan itu, pikirannya bergerak cepat.
Bekas cekikan.
Keheningan Bai Ruoxue.
Reaksi kaisar.
Semua potongan itu membentuk satu kesimpulan yang membuat Mei Yuxin tersenyum kecil dalam hati.
Entah siapa yang menyentuhmu, pikirnya, tapi mulai hari ini, aku yang akan menentukan bagaimana ceritanya menyebar.
Ruang sidang kini jauh lebih sepi.
Bai Ruoxue masih berdiri di tempatnya, merasa lututnya hampir menyerah. Li Chenghan menatapnya lama, tatapan yang kini tidak hanya dipenuhi amarah atau kecurigaan—melainkan sesuatu yang lebih rumit.
Perlindungan.
Dan posesif.
Namun Bai Ruoxue tidak melihat itu.
Yang ia rasakan hanyalah satu hal—
Mulai hari ini, ia bukan lagi hanya seorang selir yang pendiam.
Ia adalah pusat perhatian.
Pusat kecurigaan.
Dan bidak dalam permainan yang jauh lebih kejam dari yang ia bayangkan.
Dan, ia sama sekali tidak tahu bagaimana harus melangkah di dunia yang asing ini.
sedangkan sang raja menaruh hati,yg tak bisa dia ungkapkan karna rasa gengsi