Dunia telah berubah menjadi permainan maut.
Gerbang dimensi terbuka, monster meluap ke bumi, dan manusia terpilih membangkitkan kekuatan luar biasa yang disebut "Hunter". Namun, Kenzo tidak seberuntung itu. Dia hanyalah seorang Cleaner—pemulung mayat monster kelas rendah yang direndahkan dan dianggap sampah masyarakat.
Nasibnya berubah saat ia dikhianati dan dibiarkan mati di dalam Dungeon level tinggi oleh timnya sendiri. Di ambang maut, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem God Level Extraction Diaktifkan!]
[Target: Black Shadow Wolf (Grade A). Ekstraksi Berhasil!]
[Anda Mendapatkan Skill: Kecepatan Bayangan!]
Siapa sangka, pemulung yang dulunya diinjak-injak kini bisa mencuri bakat, kekuatan, hingga ingatan dari makhluk apa pun yang ia sentuh.
Satu per satu Hunter pengkhianat ia jatuhkan. Satu per satu monster penguasa ia jadikan batu loncatan. Dari pembersih sisa pertempuran, Kenzo bangkit menjadi predator puncak yang akan mengekstrak seluruh dunia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GEMA SANG PENGUASA DAN TIM BAYANGAN
Jakarta baru saja melewati malam yang paling berdarah dalam satu dekade, tapi pagi harinya, kota ini tetap bangun dengan nafas yang sesak karena polusi.
Di layar layar videotron raksasa Sudirman, wajah Jenderal Wirya yang hancur menjadi topik utama. Dunia Hunter-Net sedang meledak.
Istilah "The Nameless Sovereign" menjadi tren nomor satu, sebuah nama yang merujuk pada hantu yang merobohkan Naga Perak sendirian.
Namun, di bawah sebuah toko loak yang bau apek di pinggiran Jakarta Timur, Kenzo sedang duduk santai di atas tumpukan ban bekas. Di tangannya, pedang hitam yang baru saja mendapatkan mangsa peringkat Rank S nya sedang berdenyut, memancarkan hawa dingin yang membuat ruangan itu seolah membeku.
“Rekan, detak jantungmu masih stabil meski seluruh dunia sedang mencarimu. Kau benar-benar psikopat yang berbakat,” suara sistem bergema di kepala Kenzo, kali ini dengan nada yang lebih sinis.
“Diem lo. Gue lagi fokus nyerna Mana si Wirya,” batin Kenzo.
“Terserah. Tapi aku harus mengingatkanmu, kapasitas Mana mu sekarang sudah di level 1.200. Kau sudah bukan lagi 'cleaner' yang memunguti sampah. Kau adalah sampah yang sekarang punya taring.”
"Kenzo mesum! Berhenti bengong atau gue colok mata lo!" teriakan Elara memecah hening.
Kenzo membuka mata, kilatan emas di pupilnya meredup perlahan. Di depannya, Elara berdiri dengan tangan di pinggang. Kaos putihnya yang agak kedodoran tidak bisa menyembunyikan lekuk tubuhnya yang membuat Kenzo sulit fokus pada layar tablet yang disodorkan gadis itu.
"Lihat ini, bajingan!" Elara membanting tablet ke paha Kenzo. "Klan 'The Black Sun' dari Jepang dan 'Iron Blood' dari Korea udah mendarat di Soetta. Mereka nggak dateng buat liburan ke Bali, Ken. Mereka bawa tim pembersih internasional. Lo udah dianggap virus yang harus dihapus dari peta Asia Tenggara."
Kenzo melirik foto foto satelit di layar. Wajahnya tetap datar. "Baguslah. Gue nggak perlu capek capek bolak balik ke luar negeri buat nyari mangsa."
"Sombong banget lo!" Elara duduk di kursi putarnya, mengacak acak rambut pirang pucatnya yang berantakan. "Gue bisa bantu lo retas satelit, tapi gue nggak bisa nahan peluru kalau mereka nemuin tempat ini. Lo butuh orang lapangan, Ken. Lo butuh dinding yang bisa nahan serangan pas lo lagi asik 'makan'."
Kenzo berdiri, berjalan mendekati Elara. Dia meletakkan tangannya di sandaran kursi Elara, mengurung gadis itu di antara tubuhnya. Bau vanila dan keringat dari tubuh Elara menyerang indra penciuman Kenzo.
"Jadi, lo mau gue nyari peliharaan baru?" bisik Kenzo, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Elara.
"B-bukan peliharaan, bego! Rekan kerja!" Elara mencoba mendorong dada Kenzo, tapi tangannya malah tertahan di sana, merasakan detak jantung Kenzo yang kuat dan stabil.
"Lo butuh Valeria." ucap elara.
Kenzo menaikkan alisnya. "Siapa dia? Cantik nggak?"
"Lebih dari sekadar cantik. Dia itu monster," jawab Elara, nafasnya mulai tidak beraturan karena Kenzo mulai mencium aroma rambut di dekat telinganya.
"Eks-Kapten tim elit Asosiasi. Setahun lalu dia dikhianatin di Gate Merah, seluruh timnya mati, dan dia dijadiin kambing hitam. Sekarang dia cuma jadi tukang pukul di bar kumuh."
Kenzo tersenyum nakal. Dia menunduk, mendaratkan kecupan yang sedikit menuntut di leher Elara, membuat gadis itu mengeluarkan lenguhan kecil yang tertahan. Tangannya merayap pelan di pinggang Elara. "Gue bakal temuin dia. Tapi sebelum itu... kasih gue bekel yang cukup buat perjalanan."
"Kenzo... b-berhenti sekarang atau gue hapus seluruh data lo!" ancam Elara lemah, meski dia malah menarik kerah hoodie Kenzo agar lebih dekat.
Kenzo terkekeh, mencium kening Elara sekali lagi sebelum melepaskannya. "Simpen sisanya buat nanti malam, cantik. Gue pergi dulu."
Bar itu bernama The Rusty Nail. Tempatnya gelap, pengap, dan penuh dengan Hunter kelas teri yang sudah kehilangan harga diri. Di sudut terjauh, seorang wanita dengan rambut pendek berantakan dan bekas luka bakar yang merayap di lengan kirinya sedang menatap gelas vodkanya dengan mata kosong. Valeria.
Dua Hunter bertubuh seperti beruang mendekati mejanya. "Hei, Kapten Gagal. Kudengar lo lagi butuh duit buat bayar utang minum? Gimana kalau main ke kamar atas sama kita?"
Valeria bahkan tidak berkedip. "Pergi sebelum gue ganti usus lo jadi tali jemuran."
"Halah, sombong banget—"
KRAKK!
Dalam satu gerakan yang nyaris tak terlihat mata, Valeria menghantamkan botol vodka ke kepala pria itu, lalu memutar lengannya hingga terdengar suara tulang yang remuk. Pria satunya mencoba mencabut belati, tapi Valeria sudah mencengkeram wajahnya dan membantingnya ke meja hingga hancur berkeping keping.
"Gue bilang... pergi," desis Valeria, suaranya sedingin es.
Saat dua preman itu lari tunggang langgang, sebuah kehadiran yang sangat berat terasa di belakang Valeria. Bukan sekadar aura, tapi seperti ada tekanan fisik yang membuat oksigen di sekitarnya mendadak hilang.
"Valeria. Kapten tanpa pasukan yang lebih suka mabok daripada bales dendam," suara Kenzo bergema dari balik tudung hoodienya.
Valeria membeku sejenak, lalu berbalik perlahan. Tangannya mengepal, Mana peraknya mulai berpendar tipis. "Siapa lo? Anjing Asosiasi yang dikirim buat beresin sisa sampah?"
Kenzo duduk di kursi kosong di depan Valeria. Dia mengeluarkan sebuah Inti Mana peringkat Rank A yang murni dan menaruhnya di meja. Benda itu bersinar biru cerah, kontras dengan kegelapan bar yang kotor itu.
"Nama gue Kenzo. Dan gue nggak tertarik sama sampah," kata Kenzo sambil menatap langsung ke mata Valeria yang penuh dengan kebencian. "Gue dateng buat nawarin posisi. Bukan jadi bawahan gue, tapi jadi pedang pertama gue."
Valeria menatap Inti Mana itu, lalu kembali ke mata Kenzo yang berkilat emas. "Kenapa gue harus percaya sama bocah kayak lo?"
"Karena gue adalah orang yang bakal ngeratain Asosiasi yang udah bikin lo kayak gini," sahut Kenzo santai. "Ikut gue, dan lo bakal dapet semua kekuatan yang lo butuhin buat liat mereka sujud di kaki lo. Kalau lo tetep di sini, lo cuma bakal mati pelan pelan karena alkohol murah."
Valeria terdiam cukup lama. Dia melihat kegelapan yang sama di mata Kenzo kegelapan milik seseorang yang sudah pernah dibuang dan bangkit kembali dari neraka. Dia mengambil Inti Mana itu, lalu mengangguk singkat.
“Rekan, kau baru saja mendapatkan seekor anjing penjaga yang sangat galak. Aku mencium aroma kesetiaan... atau mungkin dia hanya lapar?” suara sistem menyindir.
“Diem lo, mesin cerewet.” gumam Kenzo.
Malam harinya, di bunker safehouse, suasana menjadi sangat tegang. Elara berdiri di depan barisan monitor, sementara Valeria berdiri di pojok ruangan dengan zirah hitam baru yang disiapkan Elara.
"Oke, dengerin," Kenzo memulai, suaranya penuh otoritas. Dia sekarang memakai setelan hitam dengan Mask of The Nameless yang menyatu di wajahnya. "Tim 'Black Sun' Jepang lagi sembunyi di hotel Grand Jakarta. Mereka bawa alat 'Extraction Device' ilegal. Dan Gue mau alat itu."
"Gue yang buka jalan di depan," kata Valeria sambil mengasah belati peraknya. "Gue bakal bikin kekacauan yang bikin mereka lupa caranya napas."
"Bagus," Kenzo menoleh ke Elara. "Lacak semua jalur keluar. Jangan sampe ada satu pun dari mereka yang lolos lewat lift atau tangga darurat."
Elara mengangguk, jarinya menari di atas keyboard. "Satu menit sebelum kalian masuk, gue bakal matiin seluruh sistem keamanan hotel. Tapi inget, pemimpin mereka, Takagi, itu peringkat Rank A+ puncak. Dia punya skill manipulasi bayangan."
Kenzo menyeringai, sebuah ekspresi yang tampak mengerikan di balik topengnya. "Manipulasi bayangan? Lucu banget njir. Dia nggak tau kalau gue adalah bayangan itu sendiri."
“Rekan, misi ini memiliki peluang kematian sebesar 15%. Mau aku aktifkan mode 'Auto Pilot'?”
“Kaga perlu njir. Gue mau ngerasain sendiri gimana rasanya nyabut nyawa orang Jepang itu.”
Kenzo berjalan menuju pintu keluar, diikuti oleh Valeria yang auranya kini mulai membara.
Di luar, hujan deras mengguyur Jakarta, seolah-olah langit sedang menyiapkan pemakaman massal bagi mereka yang berani mengusik wilayah sang Sovereign.
Kenzo berhenti sejenak, menoleh ke arah Elara yang masih menatap layar monitor dengan cemas. "Elara cantik... siapin sampanye yang paling mahal. Malam ini, Jakarta bakal punya penguasa baru yang sesungguhnya."
Kenzo melompat ke atas motornya, menderu membelah badai menuju jantung kota. Perburuan global telah resmi dibuka, dan bagi Kenzo, mangsa internasional memiliki rasa yang jauh lebih nikmat daripada mangsa lokal.
"Ayo, Valeria. Kita tunjukin sama mereka... gimana cara main di Jakarta," desis Kenzo.