"Meiji....!" Teriaknya memeluk jenazah putranya.
Pada akhir hidupnya Lily menyadari, semua orang yang ada di sekitarnya adalah pengkhianat. Cinta mereka palsu!
Berakhir dengan kematian tragis.
Karena itu kala mengulangi waktu, dendam seorang ibu yang kehilangan putranya, membuatnya tertawa arogan dan berucap...
"Bukan kamu, tapi aku yang membuangmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pisau
Neiji benar-benar aneh baginya. Prilaku yang bagaikan benar-benar berubah dari sebelum waktu terulang.
Sebelum waktu terulang, pemuda ini bagaikan budak dari ibu dan adiknya. Akan melakukan apapun perintah mereka bagaikan anj*ing peliharaan yang lehernya telah dirantai.
Tapi mengapa? Saat ini benar-benar berbeda, dengan sedikit ancaman saja pemuda ini terlihat begitu kesal?
"Neiji, apa yang akan---" Kalimat Lily terhenti kala Neiji memeluknya.
Kata demi kata yang terucap dari mulutnya terdengar gugup."Lily, aku akan melakukan apapun agar kita bersama. Jadi kamu harus percaya padaku. A...aku tidak akan mematuhi perintah ibu..."
Lily membalas pelukannya dengan ragu. Neiji memang terkadang kita terlihat tidak normal. Tapi hanya pemuda ini yang dapat menjadi jalan kebahagiaan Meiji. Dirinya sadar, lebih tepatnya perlahan menyadarinya.
"Aku percaya padamu." Hanya itulah yang diucapkan oleh Lily membalas pelukannya.
Hal yang cukup membuat Neiji tersenyum. Wanita ini adalah miliknya! Benar miliknya. Tidak seperti dulu dimana dirinya hanya dapat mengaguminya dari jauh.
Mungkin hal yang tidak disadari oleh Lily, sebelum waktu terulang tali pengekang yang paling erat untuk menjerat leher Neiji adalah dirinya dan Meiji. Karena itu setelah Neiji mati, Lily dan Meiji tidak ada gunanya lagi.
"Tapi sekarang...Neiji ingin kita bersama bukan? Apa tidak apa-apa menyakiti ibumu? Tidak menuruti perintahnya?" Tanya Lily mengurai pelukan mereka.
"Ibuku yang menyakitimu duluan. Kamu terlalu baik..." Kalimat tidak normal dari pemuda ini. Terlalu baik? Sebuah kalimat tidak wajar. Mengingat pembandingnya adalah Lisa. Ibu kandung Neiji sendiri.
"Neiji...aku akan---" Kalimat Lily disela.
"Memanfaatkan Silvia untuk bermain-main dengan Rini." Pemuda yang tersenyum bagaikan dapat menebak segalanya. Membelai pipi Lily.
Wajahnya terlihat rusak, akibat penggunaan collondion. Membuatnya bagaikan memiliki banyak bekas luka. Tapi siapa sangka dibaliknya bersembunyi wajah rupawan yang bahkan melebihi Rio atau Dilan sekalipun.
Tapi sifat dan prilakunya tidak dapat ditebak sama sekali.
"Kamu tau isi pikiranku?" Tanyanya pada akhirnya.
"Itu adalah jalan instan dan paling tidak berbahaya. Gerakan pionnnya, biarkan mereka yang bertarung sampai mati. Kita hanya tinggal menonton." Pemuda yang tersenyum ramah. Mencium telapak tangannya.
Sungguh! Pemuda ini begitu berbahaya sejatinya. Tapi, jika ini satu-satunya jalan untuk Meiji, dirinya akan mengambil resiko mencintai Neiji sepenuhnya.
Lagi-lagi bibirnya dinikmati, tapi kali ini begitu menuntut dan brutal. Apa karena takut kehilangannya? Entahlah! Begitu sulit menebak jalan pikiran orang ini.
***
Selalu ada persaingan dalam Harem. Mungkin itulah yang terjadi pada mereka. Dua orang yang saling menatap dan membenci.
Saat ini Silvia masih berada dalam sel tahanan. Hingga salah seorang sipir datang memanggilnya.
Wanita yang memang sudah lama tidak tinggal dengan kedua orang tuanya ini. Telah putus kontak, mengingat kedua orang tuanya hanya petani miskin yang tinggal di kampung.
"Silvia, ada yang ingin bertemu denganmu." Ucap salah seorang petugas kepolisian.
Menghela napas, perlahan wajahnya tersenyum menganggap ini sudah pasti merupakan Dilan. Tidak mungkin orang lain, pria paling tampan dan kaya diantara pria pilihannya. Pacarnya tercinta.
Tapi, kala dirinya dibawa ke ruangan khusus. Wanita itu membulatkan matanya, menatap kedatangan Rini ke tempat ini.
"Kenapa kamu kemari? Dimana Dilan!?" Bentaknya.
"Dilan? Dia sedang sibuk mempersiapkan pernikahan kami." Jawab Rini tersenyum tenang. Inilah saatnya mengejek wanita sial ini. Setelah sekian lama dirinya hanya dapat menjadi simpanan Dilan.
Pada akhirnya, Silvia yang merupakan cinta pertama Dilan dan Lily yang merupakan tunangannya dapat disingkirkan dengan mudah olehnya.
"Pernikahan!? Dilan tidak cocok dengan wanita penghibur sepertimu! Ini rencana mu kan!? Kamu yang melakukan ini! Kamu yang merencanakan semuanya." Bentaknya, tidak sabaran. Benar-benar membenci Rini kali ini.
Rini hanya tertawa."Semua milikmu akan ku rebut. Dilan, hartanya, status terhormat sebagai nyonya utama... semuanya hanya milikku."
"Tidak! Semuanya tidak akan menjadi milikmu..." Geram Silvia masih menatap nyalang padanya, mengingat keberadaan dua sipir di tempat ini.
"Buktinya sekarang kamu menggunakan seragam orange. Dan aku berdandan cantik." Sindir Rini, wajahnya tersenyum menghela napas."Terimakasih, sudah mau menjadi kambing hitam. Terimakasih sudah mau memberikan Dilan padaku. Karena pecundang sepertimu, lebih cocok membusuk di penjara."
Silvia memang tidak memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi. Tapi orang ini cukup cerdas, berusaha untuk lebih tenang."Bagaimana kamu bisa melakukan semuanya? Kamu kan hanya sampah."
"Mau tau? Aku tinggal membayar pelayan untuk meletakkan obat ke dalam minuman yang kamu berikan pada Dilan. Ketika tiba saatnya obat akan bereaksi, aku tinggal menghubungimu, mengatakan ada tawaran kerja di luar kota. Selanjutnya, kamu tau bukan, apa yang aku lakukan dengan Dilan?" Rini menghela napas kasar, wanita ini begitu bodoh hingga terjebak. Karena itu dirinya harus menjelaskan pelan-pelan.
"Brengsek!" Geram Silvia.
"Kamu yang brengsek! Kamu begitu dimanjakan oleh Dilan. Sehingga Dilan merahasiakan hubungan kami di hadapan mu. Aku hanya berperan sebagai gundik. Baik dihadapanmu maupun Lily. Seharusnya aku yang pantas bersama Dilan, bukan kamu atau Lily." Rini menghela napas mengeluarkan cermin kecil dari tasnya. Kemudian memperhatikan penampilannya sendiri yang memang sudah cantik jelita. Mereka lebih rendah darinya, baik Silvia maupun Lily.
"Intinya... sekarang kamu sudah kalah. Nikmati saat-saat indah mu di penjara." Rini kembali memasukkan cermin kecilnya ke dalam tas. Kemudian hendak melangkah pergi.
Sebelum terdengar teriakan."Brengsek!"
Sebuah melodi yang indah baginya. Dirinya dijadikan wanita simpanan oleh Dilan. Sekarang baik Lily tunangan aslinya, atau Silvia cinta pertamanya, semuanya kalah. Takluk di bawah telapak kakinya. Wanita yang tidak menyadari Lily sengaja mengalah?
Rasa murka dan penuh dendam ada dalam diri Silvia. Dirinya kembali dijebloskan ke dalam penjara. Bagaimana caranya menyewa pengacara jika seluruh rekeningnya dibekukan oleh Dilan?
Dirinya bukan tidak memiliki uang lagi. Koleksi tas dan perhiasannya ada banyak. Tapi bagaimana caranya menjualnya, sedangkan dirinya berada di penjara. Walaupun hanya beberapa bulan dirinya sama sekali tidak terima.
Hingga...
Seorang pria melangkah memasuki penjara. Lebih tepatnya seorang pengacara. Kala begitu terpuruk, orang itu menatapnya dari balik sel jeruji.
"Apa anda nona Silvia? Perkenalkan saya pengacara Charlie, seseorang menugaskan saya untuk membela nona Silvia." Ucap seorang pengacara bernama penuh senyuman.
Dengan penuh harap Silvia mendekat."Siapa? Apa Dilan?" Tanyanya antusias.
Sang pengacara menggeleng."Orang yang menugaskan saya, menyuruh saya berkata pada anda. Dalam dunia yang keras ini hanya dapat mengandalkan diri sendiri. Anda cukup tangguh... jujur saja orang yang menugaskan saya memiliki dendam pribadi pada saudara Rini."
"Dendam pribadi?" Tanya Silvia.
"Kami akan memberikan anda pisau (bantuan) untuk melawan. Mohon kerjasamanya, karena kita mungkin memiliki musuh yang sama."
lanjut author, semangat